NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Namun hal yang mengejutkan terjadi pada Astiana.

Isi kepala Miranda Adibrata benar-benar kosong dan hening bagaikan dasar lautan.

Tidak ada suara kepanikan, tidak ada rencana licik, dan tidak ada emosi yang meledak-ledak.

"Gila, pikiran wanita ini tertutup sangat rapat oleh ketenangannya sendiri."

Astiana membatin dengan sedikit rasa takjub dan waspada yang meningkat drastis.

Hanya orang yang sudah membunuh empati dan emosinya yang bisa memiliki pikiran sebening ini.

"Ada penyusup yang masuk ke lantai VIP club semalam, Nyonya."

Astiana mulai menyusun kebohongan berdasarkan fakta yang memang terjadi semalam.

"Penyusup itu mengacaukan ruangan dan membuat keributan dengan penjaga keamanan."

"Tuan Kusuma sedang mengurus polisi dan membersihkan jejak agar tidak ada berita buruk yang naik ke media massa."

Miranda mendengarkan penjelasan itu dengan ekspresi wajah yang tidak berubah.

Dia perlahan membuka map laporan keuangan itu dan membalik halamannya satu per satu.

Srek srek.

Mata Miranda menyapu deretan angka di kertas itu dengan sangat cepat dan akurat.

Astiana berdiri tegak di depan meja menanti reaksi Miranda terhadap dokumen palsu tersebut.

"Raka bilang dokumen ini sempurna, tapi aku tidak boleh meremehkan ketelitian wanita ini."

Astiana mempersiapkan tenaga dalamnya di otot kaki jika sewaktu-waktu dia harus kabur dari ruangan ini.

"Angka pemasukan dari bisnis kasino di pelabuhan ini turun sepuluh persen dari bulan lalu."

Miranda tiba-tiba berbicara sambil menunjuk salah satu baris tabel di kertas itu.

"Kusuma bilang alasannya karena ada biaya renovasi tambahan, apakah itu benar."

Astiana sama sekali tidak tahu isi detail dari dokumen palsu buatan peretas Raka.

Namun dia tidak boleh menunjukkan keraguan sedetik pun di depan Miranda.

"Benar, Nyonya, ada perbaikan pada sistem keamanan kamera yang memakan banyak biaya bulan ini."

Astiana menjawab spontan dengan karangan bebas yang terdengar masuk akal.

Miranda menutup map itu dan meletakkannya kembali ke atas meja.

Plak.

Ruangan itu mendadak hening dan tegang selama beberapa menit.

Miranda menatap wajah Astiana dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik yang menusuk tulang.

"Gadis ini punya mata yang sangat berani dan postur tubuh yang terlalu kaku untuk seorang kurir dokumen."

Akhirnya, secuil suara hati Miranda berhasil tertangkap oleh telinga Astiana.

"Bentuk rahang dan hidungnya juga terlihat sangat tidak asing."

Jantung Astiana kembali berdebar mendengar wanita ini mulai menyadari kemiripan wajah mereka.

"Siapa namamu, anak muda."

Miranda bertanya secara langsung memecah keheningan di antara mereka.

"Nama saya Astiana, Nyonya Besar."

Astiana memutuskan untuk menggunakan nama aslinya karena nama itu tidak terdaftar di sistem negara.

"Astiana."

Miranda mengulang nama itu dengan nada yang sangat pelan dan penuh misteri.

"Nama yang sangat sederhana, tidak cocok dengan sorot matamu yang penuh rahasia."

Miranda perlahan berdiri dari kursinya dan berjalan memutari meja kerja raksasanya.

Tap tap tap.

Langkah kaki Miranda mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter saja.

Astiana bisa mencium aroma parfum mahal yang sangat pekat menguar dari tubuh Miranda.

"Kau berbohong padaku, Astiana."

Suara Miranda mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.

Astiana tidak mundur sedikit pun dan tetap membalas tatapan Miranda dengan berani.

"Apa maksud Anda, Nyonya Besar, saya mengatakan yang sebenarnya."

"Kusuma tidak pernah menggunakan kurir wanita untuk urusan dokumen rahasia."

Miranda mengangkat tangan kanannya dan dengan gerakan yang sangat cepat mencengkeram kerah jas Astiana.

Sret.

Gerakan wanita paruh baya ini ternyata sangat lincah tidak seperti wanita pada umumnya.

"Dan dokumen yang kau bawa ini memakai jenis font huruf yang berbeda dengan yang selalu dipakai oleh kantorku."

Miranda membongkar kebohongan kecil dari dokumen peretas Raka yang luput dari perhatian.

Ternyata Raka dan timnya telah melakukan kesalahan fatal pada detail yang sangat remeh.

"Katakan padaku siapa yang mengirimmu ke sini, sebelum penjagaku mencabut kuku jarimu satu per satu."

Miranda mengancam dengan wajah yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Astiana.

Di saat yang sama, pintu ganda ruangan itu terbuka dengan kasar dari luar.

Brak.

Empat orang penjaga elit berjas hitam masuk sambil mengacungkan pistol peredam suara ke arah Astiana.

"Jangan bergerak atau kepala Anda akan hancur."

Salah satu penjaga memberikan peringatan keras sambil membidik tepat ke pelipis Astiana.

Astiana melirik ke arah empat moncong pistol itu dengan tatapan mata yang masih sangat datar.

Dia sama sekali tidak panik karena dia sengaja membiarkan dirinya ditangkap.

"Saya datang kemari bukan untuk urusan perusahaan cangkang Anda yang membosankan itu, Nyonya Miranda."

Astiana berbicara dengan nada suara yang perlahan diubah menjadi sangat berat dan serius.

Miranda sedikit terkejut karena gadis ini berani menyebut nama aslinya secara langsung.

"Lancang sekali mulutmu, dari mana kau tahu namaku."

Miranda semakin mengencangkan cengkeramannya pada kerah jas Astiana.

Astiana tersenyum miring lalu dengan satu sentakan kecil dari tenaga dalamnya, dia menepis tangan Miranda.

Puk.

Cengkeraman Miranda terlepas begitu saja seolah baru saja tersengat aliran listrik.

"Jangan sentuh saya jika Anda tidak ingin tangan Anda patah, Nyonya."

Astiana merapikan kembali kerah jasnya dengan sangat santai di bawah todongan empat senjata api.

"Tembak kakinya sekarang juga."

Miranda berteriak memberikan perintah eksekusi tanpa ampun pada para penjaganya.

"Baik, Nyonya."

Syuut syuut.

Dua tembakan peluru berperedam suara melesat membelah udara ruangan kerja tersebut.

Namun Astiana jauh lebih cepat dari kecepatan peluru murahan tersebut.

Dia memiringkan tubuhnya ke samping dan membiarkan dua peluru panas itu menghantam lantai kayu.

Trak trak.

Sebelum penjaga itu bisa menarik pelatuk untuk kedua kalinya, Astiana sudah melesat maju.

Wushhh.

Gerakan Astiana terlihat seperti ilusi bayangan hitam di mata para penjaga biasa itu.

Brak.

Astiana menendang meja kayu di dekatnya hingga melayang dan menghantam dua penjaga pertama.

"Argh."

Kedua penjaga itu terlempar ke dinding dan pistol mereka terlepas dari genggaman.

Penjaga ketiga mencoba membidik dari arah belakang namun Astiana langsung berputar.

Dia melemparkan koper besi miliknya tepat ke wajah penjaga ketiga layaknya sebuah bumerang.

Bugh.

Penjaga ketiga langsung pingsan seketika dengan hidung yang patah dan berdarah.

Tinggal tersisa satu penjaga terakhir yang kini tangannya gemetar hebat memegang pistol.

Astiana berjalan pelan mendekati penjaga terakhir itu tanpa mempedulikan senjatanya sama sekali.

"Tembak terus dasar bodoh, kenapa kau diam saja."

Miranda berteriak histeris melihat pasukan elitnya ditumbangkan dalam hitungan detik.

Penjaga itu mencoba menekan pelatuknya namun Astiana lebih dulu mencengkeram laras pistol itu.

Krak.

Dengan kekuatan tenaga dalam yang dialirkan ke telapak tangan, Astiana meremukkan moncong pistol baja itu hingga bengkok.

Mata penjaga itu hampir melompat keluar melihat senjata api miliknya dihancurkan dengan tangan kosong.

Astiana menepuk bahu penjaga itu dengan pelan.

Bruk.

Penjaga terakhir itu langsung kehilangan kesadaran karena tekanan pada titik saraf di bahunya.

Ruang kerja mewah itu kini dipenuhi oleh tubuh-tubuh penjaga yang berserakan tidak berdaya.

Astiana kembali berdiri tegap dan menoleh ke arah Miranda yang kini menatapnya dengan penuh kengerian.

"Sekarang setelah tidak ada lagi lalat yang mengganggu, kita bisa bicara berdua, Nyonya Miranda."

Astiana berjalan perlahan mendekati meja kerja utama kembali.

Miranda menelan ludahnya namun dia menolak untuk terlihat lemah di depan gadis ini.

"Apa yang kau inginkan dariku, uang, kekuasaan, atau kau adalah pembunuh bayaran."

Miranda bertanya sambil mundur satu langkah menjaga jarak dari Astiana.

"Saya tidak butuh uang kotor Anda sama sekali."

Astiana membuka kancing jas hitamnya perlahan menggunakan satu tangan.

Dia memasukkan tangannya ke dalam kemejanya dan mengeluarkan liontin kristal miliknya.

Sring.

Cahaya hijau kebiruan yang sangat terang dan menyilaukan langsung memenuhi seluruh ruangan kerja tersebut.

Batu kristal itu berkedip dengan ritme yang sangat cepat bagaikan jantung yang sedang berdebar kencang.

Mata Miranda Adibrata langsung membelalak maksimal seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu.

Wajah wanita elegan yang selalu dingin itu kini berubah menjadi sepucat kertas.

"Liontin air mata naga."

Suara Miranda bergetar hebat menyebut nama asli dari batu kristal tersebut.

"Benda itu sudah hilang sembilan belas tahun yang lalu saat malam pembantaian itu."

Miranda memegang meja kerjanya erat-erat karena kakinya tiba-tiba terasa sangat lemas tidak bertulang.

"Bagaimana mungkin benda pusaka klan kami bisa ada di tanganmu."

Astiana menggenggam liontin yang masih menyala terang itu dan menatap tepat ke dalam mata Miranda.

"Karena saya adalah bayi yang dibuang pada malam pembantaian itu, Nyonya Miranda Adibrata."

Kalimat mutlak dari Astiana itu meledak bagaikan bom waktu di dalam ruangan tersebut.

"Sekarang katakan padaku, apakah Anda adalah ibu kandungku, atau justru orang yang membuangku ke hutan."

Astiana memberikan pertanyaan yang membuat udara di ruangan itu terasa berhenti mengalir sepenuhnya.

Rahasia besar masa lalu akhirnya terkuak di sarang musuh utamanya siang ini.

1
Was pray
tindakan tanpa perhitungan mu menyeret keluarga kakek darma dalam konflik yg membahayakan keselamatan seluruh keluarga kakek darma jasa mengobati kakek darma bukan menyelamatkan tapi menunda kematian. tiada guna pertolonganmu astiana. karena dihatimu terselip niat terselubung yg resikonya lebih berat
Was pray
kamu masuk kawasan be💪bahaya tanpa memahami dulur jalur evakuasi yg aman dulu astiana, kamu dari awal terlalu banyak merepotkan keluarga darma, jasa kamu mengobati kakek Darna dijadikan pijakan untuk menyelesaikan urusan pribadimu. kamu seorang tabib tapi jiwa mu bukan penyembuh dan penolong, tapi penodong , kamu memang tidak langsung minta imbalan harta. tapi menodong kesetiaan
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!