NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Ipar di Penthouse

Pukul 23.30 WIB, Penthouse Lantai 56.

Ini pertama kalinya penthouse yang dingin seperti museum itu kedatangan dua tamu kecil yang berisik.

Bima, adik Alya yang kelas 5 SD, berlari-lari di ruang tamu marmer sambil memeluk boneka dinosaurus bututnya. Matanya membulat melihat TV yang besarnya se-dinding.

"Wah! TV-nya gede banget, Kak! Kayak bioskop!" teriak Bima.

Dinda, yang sudah kelas 2 SMA, lebih jaim tapi matanya juga tidak bisa bohong. Ia menatap chandelier kristal di atas dengan mulut menganga.

"Kak Alya, ini beneran rumah Kakak sekarang? Serius?" bisik Dinda sambil menarik lengan Alya.

Alya yang masih memakai dress navy dan jas Rafael di bahunya hanya bisa tersenyum kaku. Ia melirik Rafael yang berdiri di dekat bar, melepas dasinya dengan wajah lelah. Menggendong Bima dari RSCM sampai penthouse ternyata cukup menguras tenaga bahkan untuk Rafael.

Rafael menatap Bu Ratna. "Siapkan kamar tamu untuk dua orang. Dan siapkan susu hangat."

Bu Ratna yang sudah bekerja 10 tahun di keluarga Virel dan tidak pernah melihat anak kecil di penthouse itu langsung panik sekaligus senang. "Siap, Tuan!"

Malam itu, Bima menolak tidur di kamar tamu.

"Aku mau tidur sama Kak Alya!" rengek Bima sambil memeluk kaki Alya.

Alya panik. Ranjangnya adalah ranjang kontrak dengan Rafael. Tidak mungkin Bima tidur di sana.

Rafael yang melihat itu, tiba-tiba berjongkok agar sejajar dengan Bima. Tubuhnya yang besar dan tatapan tajamnya biasanya membuat anak kecil takut, tapi Bima malah menatapnya penasaran.

"Kakak Alya tidurnya ngorok," kata Rafael dengan suara serius. "Kalau kamu tidur sama dia, kamu bisa tidak bisa tidur karena berisik."

Bima melongo. "Masa? Kak Alya ngorok?"

"Ngoroknya keras," lanjut Rafael, melirik Alya dengan senyum tipis mengejek. "Makanya kemarin Kakak kasih batas bantal."

Alya memerah. "Rafael!"

Bima langsung tertawa ngakak. "Ya udah aku tidur sama Kakak ganteng aja!"

Rafael terdiam sepersekian detik, lalu ia mengangkat Bima dengan satu tangan ke gendongannya. Bima yang sejak ayahnya sakit tidak pernah digendong figur ayah, langsung memeluk leher Rafael erat.

"Bu Ratna, saya tidur di kamar kerja malam ini. Bima tidur di kamar utama sama kakaknya," perintah Rafael.

Alya terpaku. "Eh? Tapi"

"Itu kamar kamu malam ini. Saya tidak akan di sana," potong Rafael cepat, lalu ia berjalan ke kamar kerjanya.

Malam itu, Alya tidur di ranjang king size itu bersama Dinda dan Bima di kiri kanannya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia tidur nyenyak tanpa takut batas bantal.

Di kamar kerja, Rafael duduk di sofa kulit sambil membuka laptop, tapi matanya tidak fokus pada laporan saham. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa mendengar tawa kecil Alya dan adik-adiknya yang sedang cerita sebelum tidur.

Tawa yang tidak pernah ada di penthouse ini selama 5 tahun.

Pagi harinya, pemandangan yang lebih mengejutkan terjadi.

Di meja makan yang biasanya hanya ada Rafael dengan kopi hitam dan iPad, kini ada Bima yang makan pancake dengan belepotan coklat di mulutnya, dan Dinda yang sibuk foto-foto untuk Instagram story-nya.

"Kak, pancake di sini enak banget! Beda sama bubur ayam depan kontrakan!" seru Bima.

Rafael yang turun dengan kemeja putih yang lengannya digulung, berhenti di tangga. Ia melihat meja makannya yang berantakan. Remah-remah pancake di mana-mana.

Bu Ratna panik. "Maaf, Tuan! Saya"

Rafael mengangkat tangannya, menyuruh Bu Ratna diam. Ia berjalan ke meja, mengambil tisu, dan dengan gerakan yang sangat tidak Rafael banget, ia mengelap mulut Bima yang belepotan.

"Makan pelan-pelan," katanya datar, tapi tidak marah.

Dinda yang melihat itu langsung berbisik ke Alya dengan mata berbinar, "Kak... Kak Rafael keren banget. Baik lagi. Kakak beruntung banget dapet suami kayak gitu."

Alya hanya tersenyum, tapi hatinya aneh. Ada rasa hangat melihat Rafael mengelap mulut adiknya.

Setelah sarapan, supir mengantar Dinda dan Bima kembali ke Tebet untuk sekolah. Penthouse kembali sepi.

Alya sedang membantu Bu Ratna merapikan mainan Bima yang tertinggal - sebuah mobil-mobilan kecil di sofa - saat Rafael tiba-tiba bicara dari belakang.

"Adik-adikmu ceria."

Alya kaget dan berbalik. Rafael berdiri sangat dekat.

"Iya, mereka memang begitu. Maaf ya kalau tadi berisik dan berantakan"

"Jangan minta maaf terus," potong Rafael. Ia mengambil mobil-mobilan kecil dari tangan Alya. "Penthouse ini sudah lama tidak berisik seperti itu."

Hening sejenak. Alya memberanikan diri bertanya, "Kenapa kamu tidur di kamar kerja semalam? Kamu bisa tidur di kamar tamu, kan?"

Rafael menatapnya lama. "Karena kalau saya tidur di kamar tamu, Bima akan bangun tengah malam dan cari kamu. Dan kalau dia cari kamu dan melihat saya ada di kamar tamu, dia akan bingung kenapa kakaknya dan suaminya tidur pisah."

Jawaban yang sangat logis. Sangat Rafael.

Alya mengangguk, lalu tanpa sadar berkata, "Kamu ternyata sayang anak kecil ya?"

Rafael terdiam. Wajahnya yang tadi sedikit melunak langsung mengeras lagi. Ia meletakkan mobil-mobilan itu dengan keras di meja.

"Saya tidak sayang siapa-siapa. Saya hanya menjaga investasi. Kalau adik-adikmu sakit karena tidur di lobi RSCM, kamu tidak akan fokus jadi istri saya. Itu merugikan saya."

Lagi-lagi alasan dingin.

Alya langsung menunduk, kecewa. "Oh... iya, paham."

Rafael melihat perubahan wajah Alya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi handphone hitamnya berdering. Wajahnya langsung berubah tegang.

Ia mengangkat telepon itu dan berbicara dengan bahasa Rusia yang tidak Alya mengerti, tapi nadanya marah dan mengancam. Setelah menutup telepon, ia menatap Alya.

"Hari ini kamu tidak usah ke kantor. Temani adik-adikmu di Tebet. Ada urusan bisnis yang harus saya urus di luar kota dua hari."

"Urusan apa?"

"Urusan yang tidak perlu istri kontrak tahu," jawab Rafael dingin, kembali menjadi Mafia Virel. Ia mengambil jasnya dan berjalan ke lift.

Sebelum pintu lift tertutup, Bima yang ternyata tertinggal boneka dinosaurusnya berlari kembali ke penthouse.

"Kak ganteng! Dinosaurusku ketinggalan!"

Rafael yang sudah di dalam lift dengan wajah super tegang karena telepon barusan, langsung berjongkok dan mengambil boneka dinosaurus butut yang disodorkan Bu Ratna, lalu memberikannya pada Bima sambil mengacak rambut Bima pelan.

"Jaga kakakmu," bisiknya pada Bima.

Pintu lift tertutup.

Alya yang melihat dari jauh, memegang dadanya. Jantungnya berdebar kencang.

Di saat itulah Dinda yang belum berangkat karena menunggu ojek online, menyenggol lengan Alya dan berbisik dengan senyum jahil khas anak SMA.

"Kak, tatapan Kakak ke Kak Rafael udah beda lho."

Alya langsung panik. "Maksudnya?"

"Kayak orang jatuh cinta. Padahal Kakak bilang ini cuma kontrak."

Alya terpaku. Kata-kata Dinda seperti menampar Pasal 2 di kontraknya: _Dilarang jatuh cinta._

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua hari menjadi Nyonya Virel, Alya tidak bisa tidur bukan karena takut pada Rafael, tapi karena takut pada perasaannya sendiri. Dan di kamar kerja yang kosong, jas Rafael yang masih ada aroma parfumnya tertinggal di kursi, membuat Alya semakin tidak bisa tidur.

Bersambung...

1
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!