Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - NAMA YANG SAMA
Lin bangun sebelum lonceng fajar. Roti yang disimpannya semalam terasa keras di pinggir, tetapi masih bisa dimakan. Ia mengunyahnya sambil berjalan menuju gerbang barat, tempat Bai berjanji berkumpul dengan rombongan pengawal.
Kabut tipis mengambang di atas jalan. Para pedagang menyalakan lentera, dan beberapa gerobak sudah menunggu giliran melewati pintu kota. Lin mengenali Bai dari sarung pedangnya yang terikat rapi. Pemuda itu berdiri di samping gerobak kain, sementara dua orang dewasa memeriksa roda dan tali muatan.
Salah satu pengawal senior bertubuh lebar, dengan bekas luka melintang di dagu. Ia berbicara singkat dan tidak tampak tertarik pada obrolan Bai. Pengawal yang lain lebih tua, berjanggut kelabu, dan terus mengamati jalan di luar gerbang.
Bai melihat Lin lalu mengangkat tangan yang tidak terluka. “Kau datang juga.”
“Aku ingin memastikan kau benar-benar mengikuti perintah dan tidak kabur latihan.”
“Kalau begitu kau boleh menyaksikan sejarah.” Bai menepuk sarung pedangnya, tetapi tidak menariknya. “Aku berdiri diam selama hampir seperempat jam.”
“Sudah pantas ditulis di buku catatan.”
“Jangan lupa menyebutkan bahwa aku tampak tenang.”
Sebelum Lin menjawab, pengawal berjanggut kelabu memberi isyarat agar semua orang mendekat. Mereka membahas susunan perjalanan: gerobak di tengah, pengawal senior di depan dan belakang, Bai di sisi kiri dekat roda belakang. Ia diminta menjaga jarak dari muatan dan tidak meninggalkan posisi tanpa perintah.
Bai mendengarkan. Ia sempat membuka mulut ketika pengawal bercap luka mengoreksi cara ia berdiri, tetapi kemudian menutupnya dan menggeser kaki sesuai arahan.
“Tidak ada yang perlu dibuktikan pagi ini,” kata Lin pelan.
“Aku tahu.” Bai memandang gerbang yang mulai dibuka. “Aneh, ya? Biasanya aku ingin segera melakukan sesuatu. Hari ini tugasku justru memperhatikan.”
“Itu tetap sesuatu.”
Bai mengangguk. Ketika gerobak bergerak, ia tidak menoleh lebih dari sekali. Ia mengikuti posisi yang diberikan dan membiarkan kedua pengawal senior menentukan kecepatan. Lin berdiri sampai rombongan itu melewati gerbang dan menghilang di antara bangunan luar.
Di benaknya, ia mengingat Bai sebagai pendekar yang selalu maju lebih dulu. Kini temannya sedang belajar menahan langkah. Mungkin itu juga bentuk kekuatan—bukan kekuatan yang bisa diperiksa lewat pedang, melainkan pilihan untuk tidak membiarkan kebiasaan lama mengendalikan diri.
Toko Mo baru dibuka saat Lin kembali. Majikannya sudah menata beberapa keranjang di lantai, dan melihat Lin masuk tanpa bertanya alasan keterlambatan.
“Bai berangkat?”
“Sudah melewati gerbang.”
“Bagus. Perjalanan lebih aman kalau semua orang tahu tempatnya.” Mo menyerahkan sekeping uang dan secarik daftar. “Kita perlu mengganti beberapa stok. Pergi ke kios kering milik Shen di pasar timur. Beli bunga abu dan akar pahit dalam jumlah yang tertulis. Untuk daun sisik hujan, lihat dulu barangnya. Jangan beli kalau kau tidak yakin itu tanaman yang dimaksud.”
Lin membaca daftar. Bunga abu dan akar pahit pernah ia lihat di rak toko. Daun sisik hujan masih hanya nama dan keterangan tempat tumbuh.
“Uang belanjanya?”
Mo memberikan kantong kecil terpisah dari keping upah Lin. “Ini uang toko. Catat berapa yang dipakai dan minta Shen menandai daftar. Jangan mencampurnya dengan uangmu.”
Lin mengikat kantong itu ke bagian dalam jubah. Tugasnya sederhana, namun untuk pertama kalinya ia diberi uang toko untuk dibelanjakan sendiri.
Pasar timur sudah ramai. Pedagang ikan memanggil pelanggan, penjual kain membuka gulungan warna-warni, dan beberapa pemilik gerobak menawarkan sayur dari desa sekitar. Kios Shen berada di ujung deretan bahan kering. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul sedang memeriksa karung.
“Mo menyuruhmu?” tanyanya sebelum Lin sempat menyebut nama.
“Ya. Saya Lin.”
“Shen. Kudengar kau menimbang stoknya kemarin.” Ia melirik daftar di tangannya. “Bunga abu dua liang, akar pahit satu jin. Daun sisik hujan… kau membawa contoh?”
“Tidak. Saya belum pernah melihatnya.”
Shen menyandarkan siku di meja. “Mo biasanya mengirim orang yang sudah tahu apa yang dicari.”
“Dia menyuruh saya melihat dulu dan tidak membeli kalau tidak yakin.”
Jawaban itu membuat Shen menatapnya sejenak, seolah mencari apakah Lin sedang mengelak. Kemudian perempuan itu mengeluarkan dua bundel daun dari laci. Keduanya berwarna kelabu kehijauan dengan urat yang menyerupai sisik halus.
“Yang ini disebut sisik hujan oleh pemasok utara,” kata Shen, menunjuk bundel pertama. “Yang satu lagi dari lembah, namanya sama. Orang menggunakannya untuk ramuan luar.”
Lin tidak menyentuh bundel itu. Ia teringat catatan pemasok: tanaman tersebut tumbuh di lereng yang menghadap sungai, setelah hujan pertama. Tapi ia belum tahu apakah keterangan itu membedakan keduanya atau sekadar cerita asal barang.
“Dari mana yang pertama dipetik?” tanyanya.
“Lereng utara, dekat aliran sungai kecil. Yang satunya dari lembah rendah.”
“Apakah pemasoknya mencatat kapan dipetik?”
“Yang pertama datang dua hari sesudah hujan besar. Yang kedua sudah ada di gudang sejak musim lalu.”
Informasi itu cocok dengan catatannya, tetapi belum cukup untuk memastikan kegunaan. Lin meminta izin memeriksa sisi daun dan batangnya. Shen membuka ikatan satu bundel. Daunnya lebih tipis dan memiliki bekas serpihan kecil di sepanjang tepi. Bundel kedua lebih lebar, tetapi sebagian batangnya telah menghitam.
“Daun yang tipis itu?” tanya Lin.
“Yang dari lereng. Aku menjualnya untuk campuran rebusan, tapi tak banyak orang mencari.”
Lin mencatat cirinya di daftar pribadinya. Ia tidak membeli daun itu. Sebaliknya, ia bertanya apakah Shen bisa menyisihkan satu lembar yang rusak untuk dibawa kembali sebagai contoh. Shen menggeleng.
“Barang dagangan bukan sampel gratis.”
“Kalau begitu saya tidak akan mengambilnya.”
Perempuan itu tampak sedikit lebih lunak. “Mo mengajarimu berhati-hati?”
“Dia mengajariku mencatat apa yang saya lihat dan membedakannya dari yang belum saya tahu.”
“Kalau begitu tulis bahwa aku bilang daun lereng itu dijual untuk rebusan. Jangan tulis seolah-olah kau sudah membuktikannya.”
Lin mengangguk dan menambahkan keterangan itu dengan kata-kata Shen. Lalu ia membeli bunga abu dan akar pahit. Ia menimbang ulang masing-masing di timbangan kios, membandingkan dengan jumlah pada daftar, dan meminta Shen menuliskan harga serta asal barang. Bunga abu kurang sedikit dari berat yang dipesan, sehingga Shen menambah satu ikat kecil tanpa menaikkan harga.
“Mo orangnya teliti,” katanya sambil menandai daftar. “Kalau kau datang atas namanya, aku tidak mau berdebat soal selisih yang seharusnya bisa kuperiksa sekarang.”
Lin menerima barang dan menghitung kembali uang toko. Ia masih punya sisa sesuai perhitungannya. Dalam perjalanan pulang, ia melewati penjual jamu yang menawarkan daun sisik hujan dari lembah. Lin berhenti, menanyakan asalnya, lalu menolak saat penjual itu mengklaim kedua jenis daun memiliki khasiat sama tanpa menyebut pernah membandingkannya.
Ia tidak ingin menganggap semua orang berbohong. Namun kesamaan nama belum cukup untuk menyamakan barang.
Mo sedang melayani seorang pelanggan ketika Lin tiba. Lin menunggu di sisi meja, lalu menyerahkan daftar, bahan, dan sisa uang. Ia menjelaskan perbedaan dua bundel daun serta keterangan yang diberikan Shen.
“Kenapa tidak membawa contoh?” tanya Mo.
“Shen tidak bersedia memberikan sampel. Saya tidak membeli karena belum bisa memastikan kegunaan atau cirinya cukup.”
“Dan penjual di jalan?”
“Menyebut dua daun itu sama, tapi tidak memberi dasar perbandingan.”
Mo menimbang bunga abu dan akar pahit. Jumlahnya cocok dengan catatan kios. Ia membaca keterangan yang ditulis Lin, lalu mengembalikan daftar itu.
“Keputusanmu benar. Nama yang sama tidak menjadikan dua barang sama.”
Lin meletakkan uang sisa ke kotak kas. “Saya belum tahu apakah daun lereng itu memang yang dimaksud dalam catatan pemasok.”
“Sekarang kau tahu siapa yang menjualnya dan keterangan apa yang perlu diperiksa. Itu lebih berguna daripada membawa pulang barang yang tak kau pahami.”
Hari itu ia melanjutkan inventaris. Ia menandai perubahan berat yang terlihat dan memperbarui catatan tentang bunga abu, tetapi tak menambah klaim baru. Menjelang sore, Mo memberinya sekeping tembaga sebagai upah biasa. Makanan siang disediakan di toko; Lin menyimpan uang itu untuk tempat tidur malam nanti.
Saat menutup catatan, ia menulis di kolom ingatan bahwa daun sisik hujan adalah bahan dalam satu resep permainan yang pernah ia lihat. Pada kolom pengamatan ia menulis nama dua barang, asal, bentuk, serta keterangan Shen tentang cara penggunaan salah satunya. Di bawahnya ia memberi garis: “Belum terbukti bahwa keduanya bahan yang sama.”
Rombongan Bai masih jauh di jalan barat. Lin tidak tahu apakah mereka telah mencapai pos pertama atau berhenti untuk memeriksa roda. Ia menutup buku dan membayangkan temannya tetap berada di posisi yang ditentukan, memperhatikan jalan alih-alih mengayunkan pedang.
Sebelum tidur, Lin menyadari ia telah melakukan dua hal yang dahulu tidak akan dilakukannya: membiarkan temannya pergi tanpa mengejarnya, dan pulang dari pasar tanpa membeli bahan yang belum ia pahami.
Tak satu pun terasa seperti kemenangan besar. Namun keduanya adalah pilihan yang sengaja dibuat, dan pilihan itu menjadikan hari ini sedikit berbeda dari kemarin.