Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Tak Pernah Terbuka
Hujan turun rintik-rintik sepanjang siang, seolah langit ikut menangis bersama perasaanku yang berantakan. Aku duduk di dekat jendela, mataku terus menatap jalanan yang basah dan sepi. Setiap kali ada bayangan bergerak di kejauhan, jantungku berdebar kencang, berharap itu dia. Tapi selalu sia-sia. Orion belum datang. Bahkan tidak ada bisikan pelan yang menyapaku dari balik kegelapan. Keheningan ini lebih menakutkan daripada sekadar bahaya yang terlihat.
Pintu kamarku diketuk pelan. "Masuk, Din."
Dinda masuk dengan nampan berisi teh hangat dan dua potong roti bakar. Dia meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur, lalu duduk di tepi tempat tidurku sambil menghela napas panjang.
"Kau belum makan sejak tadi pagi, Aruna. Aku tahu perasaanmu berat, tapi kau harus tetap jaga dirimu. Kalau kau sakit, siapa yang akan menyambut Orion saat dia kembali nanti?"
Aku tersenyum tipis, mengambil cangkir teh itu ke tanganku. Uapnya terasa hangat di wajahku. "Kau selalu tahu cara membuatku merasa bersalah sekaligus ditenangkan pada saat yang sama."
"Itulah tugas sahabat. Menjadi suara akal sehat saat akalmu sedang berlibur ke mana-mana." Dinda menatapku lekat-lekat, lalu suaranya melembut. "Kau yakin tidak mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi di tepi sungai kemarin? Kau terlihat seperti melihat hantu saat kita berlari pulang."
Aku diam sejenak, memutar cangkir teh di tanganku. "Aku melihat Valdris. Dia ada di sana, Din. Menonton kami. Seolah dia tahu persis ke mana kami akan pergi, kapan kami akan sampai di sana. Dan yang paling membuatku takut... dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri di sana, tersenyum. Seolah semua ini hanyalah permainan baginya."
Dinda terdiam, menatap ke jendela yang diguyur hujan. "Itu yang membuatku gelisah juga. Kalau dia ingin menyakiti kalian, dia sudah punya banyak kesempatan. Jadi apa yang sebenarnya dia cari? Dia tidak terlihat seperti orang yang hanya ingin main-main."
"Kata Orion... dia ingin membuat Orion kelelahan sampai tak berdaya. Perlahan, tanpa perlu mengangkat pedang. Dan aku... aku seperti umpan baginya. Selama aku ada di sini, selama aku bergerak di duniku, aku memancarkan cahaya yang menarik mereka. Dan setiap kali Orion datang menjagaku, dia semakin melemah." Air mataku jatuh tanpa izin. "Aku justru beban baginya, Din. Semakin aku mencintainya, semakin cepat aku menghancurkannya."
Dinda langsung memegang kedua bahuku, menatapku tajam namun lembut. "Jangan pernah bicara begitu. Kau tidak memaksanya memilih. Dia datang atas kemauannya sendiri. Dan kalau kau benar-benar beban, dia tidak akan bertahan ribuan tahun hanya untuk menunggumu. Pikirkan itu baik-baik, Aruna. Cinta bukan berarti kita harus selalu melindungi orang yang kita cintai dari segala hal. Kadang cinta berarti kita berjuang bersama, bahkan saat kita tidak bisa menyelesaikan masalah itu sendirian."
Kata-katanya menembus lurus ke hatiku. Aku mengusap wajahku kasar, lalu tersenyum tulus padanya. "Terima kasih. Entah apa yang akan kulakukan tanpamu."
"Pasti akan hancur berantakan, itu sudah pasti." Dinda tertawa pelan, lalu berdiri. "Sekarang habiskan rotinya. Aku akan pergi sebentar ke ruang baca kakekmu. Tadi aku ingat, kakekmu pernah menulis sesuatu di buku hariannya tentang 'ruang yang terlindungi'. Mungkin ada tempat di rumah ini yang bisa kita gunakan untuk menyembunyikan cahayamu sementara waktu."
Mata aku terbelalak. "Kau serius? Kakek punya tempat seperti itu?"
"Itulah yang ingin kucari tahu. Tunggu di sini, ya. Aku akan memanggilmu kalau aku menemukan sesuatu."
Setelah Dinda keluar, aku berjalan perlahan ke lemari tua di sudut kamar. Aku mengeluarkan kotak kayu tempat aku menyimpan barang-barang peninggalan kakekku. Di sana ada jam saku yang sudah berkarat, pena bulu yang sudah kering tintanya, dan satu buku catatan kecil yang sampulnya terbuat dari kulit kasar. Aku belum pernah membukanya sebelumnya. Kakek berpesan agar aku tidak membukanya sampai aku "benar-benar siap memahami apa yang tertulis di dalamnya".
Tanganku gemetar saat aku membuka halaman pertamanya. Tulisan kakekku rapi namun sedikit miring, ditulis dengan tinta yang sudah mulai memudar:
"Cahaya tanpa pelindung adalah nyawa yang tergantung di ujung benang. Tapi pelindung yang berdiri sendirian... ia akan patah sebelum matahari terbenam. Rumah ini memiliki dua sayap: satu untuk terang, satu untuk gelap. Keduanya harus berdiri bersama, atau keduanya akan runtuk."
Hatiku berdebar kencang. Aku membalik halaman demi halaman, dan di halaman terakhir, ada peta kasar yang menggambarkan rumahku sendiri — dengan satu ruangan yang ditandai silang besar di bagian paling belakang rumah, di bawah gudang tua yang sudah lama tak kusentuh. Ruangan itu tidak pernah ada dalam ingatanku.
"Dinda!" seruku, berlari keluar kamar menuju ruang baca. "Dinda, lihat ini!"
Dinda berdiri dari tumpukan buku yang sedang ia teliti, matanya membelalak saat melihat peta di tanganku. "Itu... aku pernah mendengar kakekmu berbicara sendiri tentang ruangan di bawah gudang. Dia menyebutnya 'tempat pertemuan dua dunia'. Tapi aku kira itu hanya omong kosong orang tua yang terlalu banyak membaca buku kuno."
"Jadi itu nyata? Ada pintu tersembunyi di bawah gudang?"
"Kita cek sekarang juga. Tapi hati-hati, Aruna. Kakekmu juga menulis di sini: 'Ruangan itu bukan tempat untuk bersembunyi dari bahaya, tapi tempat untuk menghadapi kebenaran.' Apa pun yang ada di sana... mungkin tidak semua hal yang menyenangkan."
Kami berdua berjalan menuju gudang tua di bagian belakang rumah. Ruangan itu berdebu tebal, berbau kayu lapuk dan daun kering yang menumpuk. Cahaya sore yang redup masuk lewat celah-celah papan dinding. Di tengah ruangan, ada lantai batu yang terlihat berbeda dari yang lain — lebih tua, lebih gelap, dengan ukiran lingkaran yang di dalamnya terdapat bintang berujung delapan.
"Ini dia," bisikku, berlutut di lantai itu. "Tapi bagaimana cara membukanya? Tidak ada gagang, tidak ada kunci."
Dinda menunjuk tulisan kecil di pinggir ukiran yang hampir tak terlihat. "Lihat di sini: 'Hanya cahaya yang tak takut pada bayangan yang boleh membukanya'. Aruna... ini pasti untukmu."
Aku menarik napas dalam-dalam, meletakkan kedua telapak tanganku tepat di tengah lingkaran itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya memejamkan mata, membayangkan Orion berdiri di sampingku, memberiku kekuatan. Aku membisikkan namanya pelan, seolah dia ada di sana mendengarku.
Tiba-tiba, lantai batu itu bergetar pelan. Cahaya perak lembut memancar dari celah-celah ukiran, lalu perlahan bergeser ke samping, menurun membentuk tangga batu yang menuju ke bawah. Udara hangat namun segar naik dari bawah sana — bukan bau lembap seperti yang kukira, melainkan bau lilin yang menyala dan kayu cendana.
Kami saling berpandangan, lalu melangkah turun satu per satu. Di bawah sana ada ruangan berbentuk bulat, diterangi lampu-lampu gantung yang menyala pelan seolah tahu ada yang datang. Di dinding-dindingnya terlukis pemandangan yang menakjubkan — langit malam yang penuh bintang, pohon-pohon yang tumbuh ke atas namun daunnya terbuat dari cahaya, dan di satu sisi dinding, ada lukisan dua sosok yang berdiri membelakangi penonton — satu bersinar terang, satu lagi tertutup bayangan, tapi tangan mereka saling bergenggam erat.
"Luar biasa..." bisikku, melangkah masuk ke tengah ruangan.
Di meja batu di tengah ruangan, ada sebuah buku tebal yang terbuka di halaman tertentu. Di sampingnya, sebuah kotak kecil berukir naga dan bintang. Tapi yang membuat kakiku terasa lemas adalah tulisan yang baru saja ditulis dengan tinta yang masih terlihat segar, di halaman yang terbuka itu:
"Kau sudah menemukan tempat ini, Aruna. Aku tahu kau akan datang. Sekarang dengarkan baik-baik: Valdris tidak hanya menginginkan cahayamu. Dia ingin mematahkan keseimbangan yang dijaga keluargamu selama berabad-abad. Orion bukan musuhmu. Tapi dia juga belum sepenuhnya sekutumu. Ada rahasia yang dia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri — sebuah kutukan yang akan terbangun saat cintanya padamu mencapai puncaknya. Kau harus menemukan bintang yang jatuh sebelum bulan purnama ketiga muncul di langit. Hanya itu yang bisa menyelamatkan kalian berdua."
Tidak ada nama di bawah tulisan itu. Tapi tulisan tangan itu... persis seperti tulisan kakekku.
"Dinda..." suaraku bergetar. "Kakek tahu aku akan ke sini. Dia menyiapkan semua ini untukku. Tapi apa maksudnya? Kutukan yang terbangun karena cinta? Bagaimana mungkin cinta bisa menjadi bahaya terbesar bagi kami?"
Dinda diam memandang tulisan itu, wajahnya pucat. "Aku tidak tahu, Aruna. Tapi satu hal yang kutahu... semakin banyak yang kita temukan, semakin aku yakin bahwa cerita kalian ini jauh lebih besar dari sekadar dua orang yang saling mencintai. Kalian adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya dari yang pernah kalian bayangkan."
Aku berjalan ke dinding tempat lukisan dua sosok itu berdiri. Aku menyentuh sosok yang tertutup bayangan, dan di bawah jariku, bayangan itu berubah sedikit — menampakkan sepasang mata yang kukenal sangat baik. Mata Orion.
"Di mana pun kau sekarang... tunggulah aku," bisikku pelan ke lukisan itu. "Aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita. Bahkan kutukan itu sendiri."
Saat aku berbalik hendak keluar, sesuatu jatuh dari halaman buku itu ke lantai batu. Sebuah kunci perak yang ujungnya berbentuk bintang lima sudut. Dan di sampingnya, secarik kertas kecil yang bertuliskan:
"Hati-hati, Aruna. Musuh terbesarmu bukanlah yang kau lihat dari luar. Tapi yang tumbuh perlahan di antara kepercayaan dan cinta kalian berdua."
Di atas tangga, di pintu masuk yang baru saja kami lewati, terdengar suara langkah kaki yang berat dan lambat. Bukan langkah Dinda. Bukan langkahku.
Suara itu berhenti di ujung tangga. Lalu terdengar suara yang samar-samar, seperti angin yang berbicara lewat mulut orang lain:
"Kau sudah menemukan tempatnya. Bagus sekali. Sekarang pertempuran sejati baru saja dimulai."
Kemudian hening kembali. Hanya suara napas kami berdua yang terdengar di ruangan itu.
Bersambung ke Bab 37? 🖤