Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kesepakatan yang Tidak Sederhana
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan sebuah kartu nama. “Beliau bersedia membantu seluruh kebutuhan pengobatan adik Anda.”
Alisha menerima kartu nama itu dengan ragu.
“Bukan sebagai pinjaman,” lanjut pria tersebut. “Dan Anda gak perlu mengembalikannya.”
Jantung Alisha berdegup lebih cepat. “Lalu apa yang harus saya lakukan?”
Laki-laki tersebut menatapnya tenang. “Sebagai gantinya, majikan saya ingin menawarkan sebuah perjanjian pribadi pada Anda.”
Mata Alisha menyipit memerhatikan gerak bibir dan ekspresi orang di depannya. “Perjanjian seperti apa?”
“Jenis perjanjian yang gak bisa dijelaskan melalui percakapan singkat di depan pintu.”
Kecurigaan Alisha semakin besar.
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah map tipis dari dalam tasnya. “Semua persyaratan, hak, dan imbalannya sudah tertulis di dalam.”
Alisha memandang map tersebut. “Imbalannya?”
“Cukup besar untuk mengubah keadaan Anda dan adik Anda.”
Alisha tidak segera mengambilnya. Pikirannya kembali pada tagihan rumah sakit yang belum dibayar, tabungan yang semakin menipis, dan rumah yang mungkin sebentar lagi harus ia relakan.
Tangannya perlahan terulur.
Namun sebelum map itu berpindah ke tangannya, pria tersebut berkata, “Saya sarankan Nona membaca sampai selesai sebelum memberikan jawaban.”
Alisha menerima map itu dan membuka halaman pertama.
Satu kalimat di bagian atas langsung membuat tubuhnya menegang.
PERJANJIAN MENJADI PENDAMPING PRIBADI TUAN ARES SUDIBYO.
“Sebaiknya Nona Alisha pelajari isi perjanjian ini dengan tenang. Gak perlu ngasih jawaban sekarang.”
Alisha mengangkat wajahnya.
Namun sebelum sempat bertanya, pria itu melanjutkan, “Jika ada bagian yang ingin ditanyakan atau Nona Alisha berminat menerima tawaran ini, silakan hubungi saya melalui kartu nama yang tadi saya kasih.”
Ia menundukkan kepala dengan sopan. “Saya permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu berbalik dan melangkah pergi.
Alisha masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti orang tersebut hingga menghilang di ujung lorong.
Setelah menutup pintu, ia kembali menatap map di tangannya. Sebuah tawaran yang datang terlalu tiba-tiba. Dan terlalu besar untuk diabaikan.
Alisha menarik napas, lalu kembali menundukkan pandangan pada dokumen di hadapannya. Ia mulai membaca setiap pasal dengan teliti.
Pihak kedua, yaitu dirinya, bersedia menjadi pendamping pribadi Ares Sudibyo selama masa perjanjian berlangsung. Ia berkewajiban mendampingi Ares dalam kegiatan tertentu yang membutuhkan kehadiran pribadi, dengan waktu yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan pihak pertama.
Alisha mengerutkan kening. “Pendamping pribadi?”
Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Tidak ada penjelasan mengenai bentuk pendampingan yang dimaksud. Tidak disebutkan kegiatan apa yang harus ia lakukan, kapan ia harus mendampingi, ataupun sejauh apa kewajibannya terhadap Ares.
Apa ia hanya diminta menemani Ares menghadiri acara tertentu?
Menemaninya dalam perjalanan?
Atau justru ada sesuatu yang jauh lebih pribadi?
Alisha berhenti sejenak. Istilah yang digunakan dalam kontrak itu terasa terlalu luas. Seolah-olah sengaja dibuat tanpa penjelasan rinci agar dapat mencakup berbagai hal yang nantinya mungkin diminta kepadanya.
Kalau tugasnya memang sederhana, mengapa tidak dituliskan dengan jelas?
Ia menggerakkan jarinya ke halaman berikutnya. Berharap ada penjelasan lebih rinci mengenai kewajibannya di bagian lain.
Beberapa pasal berikutnya justru membuatnya sedikit terkejut.
Pekerjaan profesional Alisha tidak akan diganggu. Ia tetap diperbolehkan menjalankan pekerjaannya di perusahaan tempatnya bekerja, dan pihak pertama tidak memiliki hak untuk menghalangi atau mengubah pekerjaannya tanpa persetujuan dirinya.
Setidaknya, bagian itu masih masuk akal. Ia melanjutkan membaca.
Kompensasi bulanan: Rp50.000.000.
Mata Alisha langsung membesar. “Lima puluh juta?”
Ia memastikan kembali angka tersebut. Nominal itu berkali-kali lipat dari gaji yang selama ini ia terima sebagai seorang staf. Bahkan jika ditambah dengan penghasilan tambahan yang sesekali ia dapatkan, jumlah itu tetap terasa seperti sesuatu yang berada di luar jangkauannya.
Lima puluh juta setiap bulan. Hanya untuk menjadi pendamping pribadi Ares Sudibyo.
Tangannya membalik halaman berikutnya. Ada ketentuan lain yang membuat napasnya tertahan.
Selama Alisha menjalankan perjanjian sebagai pendamping Ares Sudibyo, seluruh biaya pengobatan Raka akan ditanggung oleh pihak pertama.
Bukan sekadar biaya pemeriksaan. Rawat inap, obat-obatan, tindakan medis, pemeriksaan lanjutan, hingga kebutuhan pengobatan lain yang berkaitan dengan penyakit Raka akan ditanggung sesuai rekomendasi dokter.
Alisha membaca bagian itu lebih lama. Selama ini, biaya pengobatan Raka selalu menjadi hal yang paling membuatnya takut. Ia sudah menghabiskan hampir seluruh tabungan dan menjual berbagai aset peninggalan orang tua mereka. Namun seseorang kini menawarkan untuk menanggung semuanya.
Ia melanjutkan ke pasal berikutnya.
Pihak pertama juga akan membantu mencarikan donor sumsum tulang yang sesuai bagi Raka melalui fasilitas medis dan jaringan yang diperlukan.
Jari Alisha berhenti di atas kertas.
Donor. Selama ini, kata itu selalu menjadi sesuatu yang ia harapkan sekaligus takut pikirkan. Ia tahu kondisi Raka membutuhkan penanganan panjang, tetapi menemukan donor yang cocok bukan perkara mudah.
Dalam kontrak ini, seseorang bahkan menjanjikan akan membantu mencarikannya.
Alisha menelan ludah dan melanjutkan membaca.
Selama perjanjian masih berlangsung, apabila Raka belum menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatannya, pihak pertama tetap berkewajiban menanggung biaya pengobatan tersebut sesuai ketentuan yang tercantum dalam perjanjian.
Alisha menahan napas. Jadi selama ia tetap menjadi pendamping, pengobatan Raka tidak akan dihentikan hanya karena masalah biaya.
Semakin jauh ia membaca, semakin banyak kemudahan yang ditawarkan. Namun ketika sampai pada bagian akhir, langkah matanya mendadak terhenti. Ada satu pasal yang membuatnya kembali mengernyit.
Selama masa perjanjian berlangsung, pihak kedua tidak diperkenankan menjalin hubungan romantis, hubungan intim, maupun kedekatan pribadi yang berpotensi mengarah pada hubungan tersebut dengan pria lain tanpa persetujuan pihak pertama.
Alisha terpaku. Matanya menelusuri setiap kata dalam kalimat itu. Jika dirinya hanya diminta menjadi pendamping pribadi, bukankah seharusnya urusan dengan siapa ia berteman atau berhubungan bukan bagian dari kesepakatan?
Sorot matanya berubah penuh kewaspadaan. Ia menutup map itu perlahan.
“Ini terlalu menguntungkan aku. Nggak mungkin gak ada harganya.”
Alisha menatap map itu cukup lama. Apa sebenarnya yang diinginkan Ares Sudibyo darinya? Dan kenapa harus dirinya, seseorang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali?
.
...✨“Ketika hidup mempersempit pilihan, sebuah tawaran yang terlalu baik untuk ditolak bisa menjadi harapan sekaligus jebakan. Karena itu, sebelum menerima pertolongan, kita harus tahu apa yang sebenarnya diminta sebagai gantinya.”✨...
.
To be continued
Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.
Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.
Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.
Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.
Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.
Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.
Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.
Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.
Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.
Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.
Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.
Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.
Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.
Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.
Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.
Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.
Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.
Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.
Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.
Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Merasa dirinya nggak apa-apa, Ares menolak untuk duduk. Dia mencoba melangkah, tapi kepalanya berdenyut.
Ares terlalu memaksakan diri dengan kondisi yang parah begitu.
Akhirnya Reki yang akan menjemput Alisha.