NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 26

Di dalam mimpinya, Damian berjalan menyusuri sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga indah. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang tumbuh di sekitar jalan setapak Damian menatap sekelilingnya dengan bingung.

Ehh, tunggu dulu. Vampir bisa mati juga, ya?Ia mengerutkan kening, mencoba memahami keadaan yang sedang dialaminya Ah, sudahlah. Kita lanjutkan saja.

Belum sempat Damian melangkah lebih jauh, seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang menghampirinya. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana dengan senyum lembut di wajahnya. Tanpa banyak bicara, ia duduk tepat di sebelah Damian.

"Kau yang bernama Damian?" tanya wanita itu.

Damian menoleh. Dahinya berkerut saat menatap wanita asing yang duduk di sampingnya.

"Benar. Tapi, siapa Anda?" balas Damian dengan nada waspada.

Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke hamparan bunga di hadapan mereka.

"Kau adalah suami dari anakku."

Damian terdiam sesaat. Ia kembali menatap wanita tersebut, berusaha mengenali wajahnya, tetapi tidak menemukan satu pun ingatan tentang wanita itu.

"Anak Anda?" ulang Damian bingung.

Wanita itu mengangguk pelan.

"Ya. Aku tahu kalian berbeda. Dia manusia, sedangkan kau seorang vampir. Namun, perbedaan itu bukan alasan bagimu untuk menyerah begitu saja."

Damian terdiam. Entah mengapa, suara wanita itu terdengar begitu menenangkan, seolah-olah ia telah mengenalnya sejak lama.

"Tolong jaga anakku, Damian. Kembalilah kepadanya."

Wanita itu menoleh, menatap Damian dengan sorot mata penuh harap.

"Kau tahu, vampir sepertimu memiliki umur yang panjang. Kau tidak seharusnya menyerah semudah ini."

Damian mengepalkan tangannya. Entah mengapa, perkataan wanita itu membuat dadanya terasa sesak.

"Aku tidak mengerti. Apa maksud Anda menyuruhku kembali? Sebenarnya, siapa Anda?" tanyanya lagi.

Wanita itu hanya tersenyum. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pipi Damian, tetapi berhenti tepat sebelum menyentuhnya.

"Masih ada seseorang yang menunggumu, Damian. Seseorang yang kini sedang menangis karena takut kehilanganmu."

Bayangan wajah Emma tiba-tiba melintas di benak Damian.

Emma.

Istrinya.

Wanita yang selama ini selalu ia hadapi dengan sikap dingin, tetapi perlahan-lahan berhasil mengusik hatinya.

Mata Damian membelalak.

"Emma..."

"Ya, dia menunggumu. Jadi, jangan biarkan anakku menangis terlalu lama."

Senyum wanita itu perlahan memudar. Pemandangan taman yang semula indah mulai diselimuti kabut putih.

Damian spontan berdiri.

"Tunggu! Jangan pergi sebelum kau menjelaskan siapa dirimu!"

Namun, wanita itu justru semakin menjauh, ditelan kabut yang kian tebal.

"Damian, kembalilah..."

Suara itu terdengar semakin samar.

"Kembalilah kepada Emma."

...----------------...

"Emma...."

Panggilan lirih itu membuat Emma yang tertidur pulas di sisi ranjang Damian perlahan terbangun. Ia mengangkat kepalanya, lalu mengucek matanya yang masih terasa berat.

"Iya, iya, ini aku," jawab Emma dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

Emma menggenggam tangan suaminya, berharap pria itu akan membalas genggamannya seperti yang selalu ia inginkan.

Namun, Damian kembali terdiam.

Emma mengembuskan napas pelan. Ia mengusap punggung tangan Damian dengan ibu jarinya, kemudian tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Jangan bercanda, deh. Kalau kamu sudah bangun, buka mata kamu, dong. Aku capek tahu nangis terus gara-gara kamu."

Emma menunduk, menyandarkan dahinya pada tangan Damian.

"Aku kangen kamu, vampir galak.... Jadi, cepat bangun, ya?" bisiknya lirih.

"Mami...." panggil Damian sekali lagi dengan suara lirih.

Emma yang masih duduk di sisi ranjang sontak mengangkat kepalanya. Matanya langsung berbinar saat menyadari bibir Damian kembali bergerak.

"Damian? Sayang, kamu sudah sadar?" tanyanya penuh harap.

Namun, Damian masih belum membuka matanya.

"Mami...."

Emma terdiam sejenak, kemudian segera berdiri dan berlari keluar kamar.

"MAMIIII! EH,! MAMI DAMIAN MII !!" teriak Emma heboh dari ambang pintu.

Tak lama kemudian, Raina dan Leonardo bergegas masuk ke kamar. Wajah Raina yang semula dipenuhi kecemasan langsung berubah ketika mendengar suara putranya.

"Damian?" panggil Raina sambil menghampiri ranjang.

Ia duduk di sisi putranya, lalu menggenggam tangan Damian dengan mata berkaca-kaca.

"Mami di sini, Sayang. Mami di sini," bisiknya lembut.

"Mami...." gumam Damian sekali lagi.

Air mata Raina akhirnya jatuh. Ia mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Sayang. Ini Mami. Kamu sudah membuat Mami khawatir setengah mati."

Emma yang berdiri di samping Leonardo ikut mengusap air matanya. Setelah berhari-hari menunggu, akhirnya ada tanda bahwa Damian mulai kembali kepada mereka Namun, tiba-tiba Emma mengerutkan kening.

"Lho, tapi kenapa dia cuma manggil Mami? Aku ini istrinya, loh!" gumamnya pelan.

Leonardo melirik menantunya, lalu menggeleng geli."Suamimu baru saja melewati masa kritis, Emma "

"tapi Papi dia cuman sekali memanggil nama ku Papi!" balas Emma spontan.

Raina yang mendengarnya sampai tertawa kecil di sela tangisnya.

"Air...." pinta Damian dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.

Mata pria itu terbuka sedikit demi sedikit. Pandangannya masih kabur, sementara tenggorokannya terasa sangat kering.

"Damian!" seru Raina spontan. Ia segera mendekatkan wajahnya ke arah putranya. "Sayang, kamu sudah sadar?"

Damian mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di dalam kamar.

"Mami...." gumamnya lemah.

"Iya, Sayang. Mami di sini." Raina mengusap rambut putranya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu mau minum? Tunggu sebentar, ya."

Emma yang sedari tadi berdiri di samping ranjang langsung bergerak mengambil segelas air.

"Ini, Damian! Aku ambilkan air."

Namun, saat Emma hendak membantu suaminya minum, Leonardo segera menahan tangannya.

"Pelan-pelan, Emma. Tubuhnya masih sangat lemah. Bantu dia duduk sedikit."

Emma mengangguk cepat. Dengan hati-hati, ia membantu menopang punggung Damian, sementara Raina membenarkan bantal di belakangnya.

"Sedikit saja dulu, Sayang," ucap Raina lembut.

Emma mendekatkan gelas ke bibir Damian. Pria itu meneguk air sedikit demi sedikit sebelum akhirnya mengembuskan napas lega.

"Huh...."

Emma menatapnya lekat-lekat. Air matanya kembali menggenang.

"Dasar vampir galak! Kamu tahu nggak, sih, betapa khawatirnya aku?" omelnya dengan suara bergetar. "Tiga hari kamu nggak bangun! Aku sampai takut kamu nggak bakal bisa ngomelin aku lagi!"

Damian menoleh perlahan ke arah suara itu. Tatapannya yang masih lemah berhenti pada wajah Emma.

"Emma...." panggilnya lirih.

"Iya, ini aku!" jawab Emma cepat.

Damian terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya dengan susah payah.

Emma segera menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat.

"Kamu.... menangis?" tanya Damian pelan saat melihat air mata di pipi istrinya.

Emma langsung mengusap pipinya dengan punggung tangan.

"Nggak! Ini mataku cuma lagi banjir!"

Di tengah kondisinya yang masih lemah, Damian mengernyit tipis.

"Pembohong...."

Emma terbelalak.

"HAH?! Baru juga bangun sudah berani bilang aku pembohong?!"

Raina terkekeh kecil, sementara Leonardo menghela napas lega melihat putranya mulai menunjukkan sifat aslinya.

Damian memejamkan mata sebentar, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Emma.

"Jangan berisik.... Kepalaku sakit."

Emma langsung bungkam.

Beberapa detik kemudian, ia membungkuk mendekati telinga Damian dan berbisik, "Iya, Tuan Vampir Galak. Istirahat sana. Tapi awas kalau kamu bikin aku khawatir lagi!"

Sudut bibir Damian terangkat tipis sebelum ia kembali memejamkan mata.

Kali ini, Emma tidak lagi menangis karena takut kehilangan suaminya. Ia menangis karena akhirnya Damian kembali membuka mata dan mengenalinya.

Bagi Emma, itu sudah lebih dari cukup.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!