NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 27

Satu detik setelah teriakan Marko menggema, lorong sempit itu meledak dalam kekacauan.

Preman bertato naga dari barisan belakang menjadi orang pertama yang merangsek maju. Ia mengayunkan pipa besi padat sepanjang satu meter dengan sekuat tenaga, mengincar pelipis kiri Theodore. Suara angin terbelah menderu nyaring saat besi dingin itu meluncur kencang.

Theodore tidak bergeming dari pijakannya. Ia sama sekali tidak mengangkat tangan untuk menangkis atau membalikkan badan untuk menghindar. Saat ujung pipa besi itu hanya berjarak lima sentimeter dari kepalanya, Theodore hanya memiringkan lehernya sedikit ke kanan dengan gerakan yang sangat minim dan efisien.

Brak!

Pipa besi tebal itu menghantam dinding bata ruko tua di belakang Theodore dengan benturan keras. Bunga api memercik terang di kegelapan, menyisakan tumpukan debu semen yang berhamburan. Pria bertato naga itu terperanjat kaget, tangannya kebas mendadak akibat getaran hebat dari benturan besi dengan tembok. Belum sempat ia menarik kembali senjatanya, preman kedua di sebelahnya sudah melompat sambil mengayunkan balok kayu tebal berpaku ke arah dada Theodore.

Lagi-lagi, Theodore hanya menggeser tumit kakinya beberapa sentimeter ke belakang. Gerakannya begitu luwes dan tenang, membuat ayunan balok kayu berpaku itu melesat luput hampa di udara kosong. Pemilik balok kayu terhuyung jatuh ke depan gara-gara kehilangan keseimbangan dari momentum ayunannya sendiri.

"Maju bersamaan, goblok! Jangan satu-satu!" teriak Marko penuh emosi dari jarak tiga langkah.

Marko mencengkeram erat pisau taktisnya, menancapkan kuda-kuda kakinya ke aspal, lalu meluncurkan tusukan cepat dan mematikan lurus mengincar leher Theodore. Di saat yang sama, tiga preman di belakang Theodore mengayunkan rantai besi dan pisau pemotong daging untuk mengunci semua sudut menghindar.

Ancaman maut mengepung dari empat arah mata angin secara bersamaan. Dalam hitungan sepersekian detik, pisau Marko sudah berada tepat di depan jakun Theodore.

Namun, di titik kritis antara hidup dan mati itu, Theodore tidak melayangkan satu pun pukulan. Ia tidak meluncurkan tendangan balasan, juga tidak mematahkan leher Marko seperti yang biasa ia lakukan di medan tempur.

Theodore hanya mengangkat pandangan matanya secara penuh. Ia membuka mata hitamnya yang selama ini selalu ia redupkan di rumah keluarga Mahendra, lalu menatap lurus tepat ke dalam manik mata Marko.

Seketika itu juga, dunia di sekitar mereka seolah-olah berhenti berputar.

Aura membunuh yang terkumpul dari tumpukan ribuan nyawa musuh di medan perang global—aura yang selama tiga tahun ini terkunci rapat di balik sosok suami penurut—mendadak meledak keluar dari tubuh Theodore tanpa suara. Tidak ada angin kencang, tidak ada kejutan fisik, namun tekanan mental yang terpancar dari tatapan mata Theodore terasa begitu tebal, pekat, dan menyesakkan, seolah-olah sebuah gunung batu raksasa baru saja dijatuhkan tepat di atas dada mereka semua.

Marko yang tadinya menusukkan pisaunya dengan penuh semangat membunuh, mendadak membeku di tempat.

Ujung pisau taktisnya terhenti pasrah hanya dua sentimeter di depan kulit leher Theodore. Tangan kanan Marko yang memegang pisau gemetar hebat secara tak terkontrol. Saraf-saraf di otaknya secara mendadak kehilangan kendali atas otot-otot tubuhnya sendiri.

Mata Marko membelalak lebar hingga urat-urat merah di bola matanya terlihat jelas. Di dalam pupil mata hitam Theodore yang sedalam samudra tanpa dasar, Marko tidak melihat refleksi dirinya sendiri. Yang ia lihat di balik tatapan itu adalah pemandangan neraka yang mengerikan: hamparan lautan darah yang tak bertepi, tumpukan tengkorak manusia yang meninggi hingga menyentuh langit, dan sosok naga hitam raksasa berduri yang sedang menatapnya dari atas takhta tengkorak dengan pandangan yang menganggapnya tak lebih dari sebutir debu kotor.

Insting bertahan hidup paling primal yang tertanam di dalam sel tubuh Marko menjerit histeris. Otaknya berteriak secara liar bahwa pria berkemeja lusuh di hadapannya ini bukanlah seorang manusia biasa. Pria ini adalah malaikat maut, Sang Dewa Perang yang sanggup mencabut nyawa sepuluh orang di lorong ini hanya dengan satu kedipan mata.

Napas Marko mendadak tercekat di tenggorokan. Keringat dingin sebesar biji jagung meletup deras dari seluruh pori-pori kulitnya, membasahi wajah dan kemejanya dalam hitungan detik. Gigi-giginya bergemertak keras, saling beradu menciptakan suara ketukan yang menyedihkan.

"K-kau..." suara Marko keluar parau dan sangat kecil, nyaris menyerupai bisikan orang yang sedang dicekik.

Bukan cuma Marko yang membatu. Sembilan anak buahnya yang berada di sekeliling lorong itu mengalami sensasi horor yang sama persis. Preman yang memegang pipa besi mendadak merasakan lututnya lemas tak bertenaga. Senjata besi yang dipegangnya merosot jatuh dari jemarinya yang mendadak mati rasa.

Ktang!

Suara gema pipa besi yang menghantam aspal basah memecah keheningan yang mencekam di gang buntu tersebut. Suara itu terasa seperti dentang lonceng kematian bagi mereka semua.

Seorang preman berbadan tinggi besar di barisan belakang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut ke atas kubangan air cokelat. Wajahnya yang garang kini pucat pasi seperti kertas, dadanya naik turun dengan liar seolah-olah ia sedang kehabisan oksigen di ruang hampa. Ia memegangi lehernya sendiri sambil terbatuk-batuk ketakutan, sama sekali tak berani mendongak menatap Theodore.

Theodore masih berdiri tegak di posisi awalnya. Kedua tangannya tetap berada di dalam saku celana bahannya yang kusam. Ia menatap Marko yang masih berdiri mematung di depannya dengan pisau melayang di udara.

"Kenapa berhenti?" Theodore bersuara sangat pelan. Suaranya halus, namun gema dari vokal itu menusuk langsung ke dalam pusat syaraf ketakutan Marko. "Pisaumu tinggal dua sentimeter lagi dari leherku. Kenapa tidak kamu teruskan?"

Marko menelan ludah dengan sangat susah payah. Tenggorokannya terasa luar biasa kering dan perih, seolah-olah ia baru saja menelan segumpal pasir panas. Setiap inci dari naluri dalam tubuhnya memeringatkan dengan sangat keras: jika pisaunya maju satu milimeter saja lagi, nyawanya akan melayang sebelum ia sempat mengedipkan mata.

Sensasi mengerikan itu bukan sekadar rasa takut biasa. Ini adalah terror absolut yang melumpuhkan jiwa—sebuah tekanan aura dominasi mutlak yang hanya dimiliki oleh seorang penguasa tertinggi yang sudah berdiri di puncak hierarki kekuatan dunia.

"S-siapa... siapa kau sebenarnya..." bisik Marko dengan bibir yang bergetar hebat. Pisau taktis bermerek mahal di tangannya perlahan-lahan merosot lepas dari cengkeraman jarinya yang gemetar.

Kling!

Pisau itu jatuh membentur batu jalanan, tergeletak tak berdaya di antara ujung sandal jepit karet milik Theodore.

Theodore mengambil satu langkah perlahan ke depan.

Hanya satu langkah kecil. Namun bagi sepuluh preman dari kelompok Serigala Hitam itu, langkah sederhana itu terasa seperti bumi sedang terbelah di bawah kaki mereka.

Brak!

Marko tidak sanggup lagi menahan beban intimidasi yang menghimpit badannya. Kaki kekarnya mendadak hilang tumpuan, membuatnya jatuh terduduk secara mengenaskan di atas lumpur dan air selokan yang kotor. Pria berwajah garang dengan tato serigala di lehernya itu merangkak mundur ketakutan menggunakan kedua tangan dan kakinya, persis seperti seekor anjing kurap yang ketakutan setengah mati.

"L-Lari! Lariiii!" jerit Marko tiba-tiba dengan suara melengking histeris yang sama sekali tidak menyerupai suara pimpinan kelompok pembunuh bayaran.

Marko tidak lagi peduli pada uang lima ratus juta rupiah dari Zico. Ia tidak peduli pada harga dirinya, nama besar kelompok Serigala Hitam, atau senjatanya yang tertinggal di lantai. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah satu hal: melarikan diri sejauh mungkin dari monster berwujud manusia yang berdiri di hadapannya.

"Setan! Dia setan! Lari!" teriak preman bertato naga sambil membalikkan badan secara panik.

Suasana di gang buntu itu seketika berubah menjadi arena kepanikan yang konyol dan mengenaskan. Sepuluh preman berbadan kekar yang beberapa menit lalu bersikap sangat arogan dan beringas, kini saling dorong dan saling injak demi menjadi yang pertama keluar dari lorong sempit itu. Balok kayu berpaku, pisau pemotong daging, dan rantai kapal dilemparkan begitu saja ke tanah. Mereka memanjat tembok dan melompati pagar ruko dengan gerakan kacau, melarikan diri menembus kegelapan malam seperti kawanan tikus yang ketakutan melihat kucing raksasa.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, jeritan histeris dan langkah kaki tergesa-gesa mereka menghilang di ujung jalan raya.

Lorong sempit itu kembali sunyi total. Hanya ada suara tetesan air dari pipa besi berkarat yang jatuh membentur kubangan air, serta deretan senjata tajam yang berserakan liar di atas aspal basah.

Theodore tetap berdiri tenang di tengah-tengah gang. Aura membunuh yang amat pekat di tubuhnya perlahan-lahan menyusut kembali, tersembunyi rapat di balik raut wajahnya yang santai dan polos. Ia memutar badannya secara perlahan, berjalan mendekati jendela ruko tua di mana kotak martabak manisnya diletakkan.

Theodore meraih kotak karton itu dengan kedua tangannya. Ia mengelusnya pelan untuk memastikan suhunya.

"Masih hangat," gumam Theodore sambil tersenyum tipis, merasa sangat lega karena makanan kesukaan istrinya tidak rusak atau tercemar debu sedikit pun.

Ia mengibaskan sisa debu yang menempel di ujung celana bahannya, lalu melangkah santai keluar dari gang buntu itu. Theodore berjalan tenang menembus malam yang dingin menuju rumahnya, sama sekali tidak memedulikan jejak kekacauan yang baru saja ditinggalkannya di belakang.

1
Florist
sebenernya penulisanya bagus banget, kata2 mudah dipahami, kosa kata bagus, tanda baca juga bagus. tapi jujur alur cerita terlalu lambat, ada banyak hal yg sering di ulang, dewa perang, aura dingin, penguasa, trilyunan, intinya semua itu hanya untuk menekankan sosok MC yg over power. padahal cukup di selipkan sedikit kata penekanan saja, karna dr awal juga sudah dijelaskan kalau MC ini memang penguasa yg menyamar, dan kami belum lupa tentang siapa MC ini walau sudah 30 bab, kami masih sangat ingan MC ini orang hebat. jadi gak perlu dijelaskan lagi tiap bab.
Purnama
lucu
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!