Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertanyaan jebakan
Ketegangan di aula perjamuan makan malam semakin memuncak. Kakek Tirta akhirnya berdeham keras, mengetukkan tongkat nya ke lantai marmer untuk meredakan situasi sebelum kedua cucunya benar-benar saling baku hantam di depan meja makan.
"Cukup, Gavin! Duduk di kursimu dan hargai kakak sepupumu," perintah Kakek Tirta dengan nada suara yang berwibawa dan tidak menerima bantahan. "Ini malam penyambutan cucu menantuku, bukan tempat untuk berdebat."
Gavin mengangkat kedua tangannya ke udara dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Baik, Kakek. Maafkan saya. Saya hanya terlalu bersemangat," ujarnya santai sebelum menduduki kursi kosong yang berada tepat di seberang Naura.
Adrian menarik napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya yang sempat tersulut. Dia menoleh ke arah Naura, lalu dengan gerakan lembut namun tetap posesif, dia menuntun Naura untuk kembali duduk di kursinya. Tangan kekar Adrian tidak langsung dilepaskan; dia tetap menggenggam jemari dingin Naura di bawah meja makan, seolah-olah memberikan kekuatan sekaligus peringatan agar Naura tetap tenang.
Pelayan mulai menyajikan hidangan utama. Suasana yang tadinya beku perlahan mulai mencair dengan obrolan basa-basi dari paman dan bibi Adrian mengenai perkembangan bisnis properti. Namun, sepasang mata Gavin tidak pernah benar-benar lepas dari Naura. Pria licik itu sedang mencari celah, sekecil apa pun, untuk membuktikan bahwa pernikahan mendadak ini hanyalah bualan Adrian demi mengamankan posisi tahta Mahendra Group.
Saat hidangan penutup disajikan, Gavin kembali membuka suara. Kali ini dengan nada yang jauh lebih bersahabat namun justru terasa lebih berbahaya.
"Oh ya, Kak Adrian, Naura... aku benar-benar penasaran dengan kisah cinta kalian," ucap Gavin sambil memutar-mutar gelas kristal berisi anggur merah di jarinya. "Pernikahan kalian terjadi begitu cepat, bahkan tanpa ada kabar pertunangan sebelumnya. Sebagai keluarga, kami tentu ingin tahu, di mana sebenarnya kalian pertama kali bertemu? Dan berapa lama kalian sudah saling mengenal sebelum akhirnya memutuskan menikah?"
Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Naura yang hendak menyuap hidangan penutupnya langsung terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertanyaan jebakan yang paling dia takuti. Mereka baru bertemu tiga hari yang lalu di ruang kerja rumah sakit, dan tidak ada sejarah percintaan manis di antara mereka. Jika dia salah menjawab, sandiwara ini akan terbongkar malam ini juga di hadapan Kakek Tirta.
Naura melirik Adrian lewat sudut matanya, memberi sinyal kepanikan yang tersembunyi. Namun, Adrian tampak sangat tenang. Pria itu meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Gavin dengan pandangan meremehkan.
"Kami bertemu di sebuah pameran seni privat di Paris satu tahun yang lalu," jawab Adrian dengan lancar tanpa keraguan sedikit pun, seolah cerita itu adalah fakta yang nyata. "Naura sedang memperhatikan salah satu lukisan klasik, dan di sanalah aku pertama kali terpikat oleh pesonanya yang berbeda dari wanita lain. Kami memilih untuk menjaga hubungan kami tetap privat dari media karena Naura menyukai kehidupan yang tenang. Dan kurasa, itu bukan urusanmu, Gavin."
Gavin menaikkan satu alisnya, tampak tidak puas dengan jawaban Adrian yang terlalu sempurna. Dia lalu mengalihkan pandangannya lurus ke arah Naura.
"Oh, di Paris? Sungguh romantis," sahut Gavin dengan nada sarkastik. "Kalau begitu, boleh aku tahu lukisan apa yang sedang kau lihat saat itu, Naura? Kakak sepupuku ini sangat pemilih dalam hal seni, aku ingin tahu selera seni seperti apa yang bisa menarik perhatian seorang Adrian Mahendra."
Tekanan kini sepenuhnya berpindah ke pundak Naura. Peluh dingin mulai membasahi punggungnya. Naura tahu sedikit tentang seni karena dia menyukai desain pakaian, namun dia tidak tahu lukisan apa yang disukai Adrian. Dia harus berpikir cepat. Jika dia tidak menjawab, Gavin akan langsung tahu bahwa mereka berbohong.
Naura menarik napas dalam-dalam, menatap balik mata licik Gavin dengan binar mata yang tegas, menolak untuk terlihat lemah.
"Itu adalah lukisan 'The Starry Night' karya Vincent van Gogh, Gavin," jawab Naura dengan suara yang terdengar tenang dan meyakinkan. Dia memajukan tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah Adrian dengan senyuman termanis yang bisa dia berikan. "Tapi sejujurnya, bukan lukisannya yang membuat momen itu spesial. Melainkan bagaimana Tuan... maksudku, bagaimana Adrian menghampiriku dan menjelaskan makna malam bertabur bintang itu dengan begitu mendalam. Di mata orang lain dia mungkin dingin, tapi bagiku, dia pria yang sangat hangat."
Adrian sempat tertegun selama satu detik mendengar jawaban cerdas dan berani dari Naura. Pria itu menatap mata jernih Naura, dan untuk pertama kalinya, ada kilat kekaguman yang tulus terpancar dari mata elang sang CEO. Naura tidak hanya menyelamatkan sandiwara mereka, tapi dia juga melakukannya dengan sangat anggun.
Adrian langsung menyambut akting Naura dengan sempurna. Dia mengangkat tangan Naura yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut di depan semua orang, membuat pipi Naura mendadak bersemu merah, kali ini bukan karena akting, melainkan karena terkejut.
"Ya, dan malam itu adalah malam terbaik dalam hidupku," tambah Adrian, suaranya terdengar begitu tulus hingga membuat Gavin mengepalkan tangannya di bawah meja karena kesal karena rencananya gagal total.
Kakek Tirta tertawa terkekeh melihat kemesraan cucunya. "Sudah, sudah, Gavin. Jangan menginterogasi kakak iparmu lagi. Kau hanya iri karena belum bisa menemukan wanita sebaik Naura untuk kau bawa ke rumah ini."
"Tentu saja tidak, Kakek. Saya hanya ikut bahagia untuk mereka," jawab Gavin dengan senyum yang dipaksakan, meskipun matanya berkilat penuh amarah dan dendam. Dia tahu dia kalah di ronde pertama, namun dia bersumpah tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan menyelidiki latar belakang Naura Ayu sampai ke akar-akarnya.
Perjamuan makan malam akhirnya selesai dengan kemenangan di tangan Adrian dan Naura. Saat mereka berpamitan untuk pulang, Kakek Tirta memeluk Naura dengan hangat dan membisikkan pesan agar Naura menjaga Adrian dengan baik.
Begitu mereka kembali ke dalam mobil mewah yang membawa mereka pulang, keheningan kembali melanda. Namun, atmosfernya tidak lagi sedingin sebelumnya. Naura bersandar di kursi mobil, menghela napas lega yang sangat panjang seolah-olah dia baru saja lolos dari hukuman mati.
"Kerja bagus," sebuah suara bariton memecah keheningan.
Naura menoleh dan melihat Adrian sedang menatapnya. Ekspresi wajah pria itu sudah kembali datar, namun tidak ada lagi nada meremehkan di suaranya.
"Terima kasih atas jawabanmu tadi di meja makan. Kau cukup cerdas untuk seorang gadis amatir," lanjut Adrian, memberikan pujian yang terdengar kaku namun tulus.
Naura tersenyum tipis, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela luar yang menampilkan lampu-lampu kota. "Saya hanya melakukan apa yang ada di dalam kontrak, Tuan Adrian. Saya tidak mau Ibu saya kehilangan perawatannya hanya karena saya membuat kesalahan."
Adrian tidak membalas lagi, namun matanya terus memperhatikan wajah samping Naura yang diterangi cahaya lampu jalanan dari luar jendela. Ada sesuatu yang mulai bergeser di dalam hati sang CEO berdarah dingin itu, sebuah perasaan asing yang perlahan mulai mengikis dinding es yang selama ini membentengi hatinya.