NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 18

"Aku menolak pulang hari ini."

Mendengar penolakan itu, Exel mengerutkan dahi. Raut wajahnya bercampur antara bingung dan khawatir. "Maksud Bos? Kalau kita nggak pulang sekarang, keamanan Bos di kota ini nggak terjamin seratus persen. Apalagi mafia lokal dan Keluarga Z mulai curiga dengan pergerakan pasukan kita semalam."

"Keamananku nggak pernah jadi masalah, Exel." Theodore menatap lurus ke mata komandannya dengan sorot tajam. "Yang jadi masalah adalah Yevone. Kalau aku menghilang hari ini dan pulang ke markas besar, Keluarga Mahendra dan si brengsek Zico itu bakal langsung mencabik-cabik istriku. Aku nggak akan pergi sebelum ngelihat mereka semua berlutut ngemis di bawah kaki Yevone."

"Lalu apa perintah Anda, Bos? Kami punya seratus pasukan elit yang siap ratakan rumah mereka sekarang juga." Exel menyeringai, tangannya tanpa sadar meraba gagang pistol di balik jaketnya.

"Jangan pakai cara barbar. Itu terlalu cepat dan nggak menyiksa." Theodore memutar-mutar kantong kresek berisi sayurnya dengan santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Mereka merasa jadi dewa di kota ini karena harta dan kekuasaan, kan? Maka kita hancurkan mereka lewat jalur yang paling mereka banggakan itu."

"Jadi... kita main perang finansial?" Exel menaikkan sebelah alisnya.

"Tepat." Theodore mengangguk tegas. "Dengarkan titahku, Exel."

Exel langsung menegakkan tubuhnya. Sikap sempurna ala militer otomatis ia ambil. Wajahnya menegang, siap menerima perintah absolut dari sang atasan.

"Pindahkan lima puluh persen aset likuid Aegis Corp ke kota ini, paling lambat besok pagi." Theodore berucap dengan nada datar, seolah ia baru saja menyuruh Exel memindahkan kursi di ruang tamu.

Mata Exel terbelalak lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Rahangnya jatuh.

"L-lima puluh persen, Bos?! Bos sadar kan, lima puluh persen aset likuid kita itu nilainya ribuan triliun? Uang segitu jangankan buat beli kota kecil ini, buat beli separuh negara ini beserta isinya juga masih kembalian banyak!" Exel berseru tertahan, syok mendengar nominal gila yang baru saja diucapkan tuannya.

"Kamu berani membantah perintahku?" Theodore menyipitkan matanya, hawa dingin seketika kembali menguar.

"S-siap, tidak, Bos! Sama sekali tidak!" Exel buru-buru menunduk, keringat dingin kembali menetes di pelipisnya. "Tapi aliran dana sebesar itu masuk ke bank lokal dalam semalam pasti bakal mancing perhatian bank sentral dan pemerintah. Belum lagi, anjing-anjing pengkhianat di markas lama pasti bakal nyium pergerakan dana ini."

"Justru itu tujuannya." Theodore tersenyum sinis, senyum iblis yang selalu membuat musuh-musuhnya kencing di celana. "Biarkan pengkhianat itu tahu. Biarkan mereka mikir aku lagi ngebangun kekuatan baru di sini. Pancing mereka keluar dari sarangnya dan datang ke kota ini. Nanti kita bantai mereka semua sekaligus di panggung yang sama."

Exel terdiam sejenak. Otak strategis sang Dewa Perang memang tidak pernah tumpul. Ia akhirnya menyeringai buas, darahnya kembali mendidih oleh rasa semangat yang luar biasa.

"Rencana yang sempurna, Bos. Saya akan hubungi bankir bawah tanah kita di Swiss sekarang juga. Atas nama siapa dana ini akan dicairkan?" Exel bertanya penuh semangat.

"Buka perusahaan investasi baru atas namamu. Jadikan Aegis Corp cabang lokal. Beli dan akuisisi semua perusahaan bayangan, properti, dan bank yang jadi tempat Keluarga Z serta Keluarga Mahendra berutang." Theodore memberikan instruksi dengan cepat dan mematikan. "Pojokkan mereka pelan-pelan sampai mereka sadar nggak ada lagi udara buat napas."

"Laksanakan, Tuan Besar!" Exel memberi hormat dengan tegas. "Lalu Bos sendiri gimana? Bos mau ikut ke hotel tempat kami menginap? Fasilitas VVIP udah siap buat Bos istirahat."

Theodore melirik jam tangan plastik murahan di pergelangan tangan kirinya. Matanya tiba-tiba sedikit melebar.

"Waduh, udah jam sembilan. Istriku bisa telat bawa bekal makan siangnya kalau bayam ini nggak segera dimasak." Theodore menepuk jidatnya pelan, wajahnya terlihat sedikit panik. "Aku harus buru-buru pulang. Ibu mertuaku bisa ngamuk lempar panci kalau tahu aku kelamaan nongkrong di pasar."

Exel melongo. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Pria yang sedetik lalu baru saja memberikan perintah untuk memindahkan ribuan triliun rupiah demi menghancurkan ekonomi satu kota, kini sedang panik ketakutan diomeli ibu mertuanya gara-gara telat masak sayur bayam?

"Bos... Bos serius?" Exel bertanya dengan suara bergetar tak percaya, merasa otaknya korslet melihat kontras yang luar biasa ini.

"Kelihatannya aku lagi bercanda?" Theodore menghela napas, lalu menepuk pundak Exel. "Kerjakan tugasmu dengan rapi. Kalau ada hal mendesak, hubungi nomor rahasia yang biasa lewat Leo. Dan ingat, jangan pernah hubungi aku pas lagi jam makan malam keluarga, ngerti?"

"S-siap, ngerti, Bos." Exel mengangguk kaku, masih berusaha mencerna ironi yang menyilaukan di depannya.

Theodore berbalik, bersiap meninggalkan gang berbau limbah ikan tersebut. Namun sebelum melangkah jauh, ia menoleh sedikit ke arah belakang.

"Satu lagi, Exel." Theodore bersuara.

"Siap, Bos?" Exel langsung tegap.

"Senang rasanya bisa lihat muka jelekmu lagi." Theodore tersenyum hangat, senyum yang tulus dari seorang sahabat seperjuangan, sebelum akhirnya ia berjalan cepat menyusuri lorong menuju jalan raya, menyatu kembali dengan keramaian pasar ibu-ibu.

Exel berdiri mematung di tempatnya. Hatinya terasa penuh dan lega. Ia menyeringai lebar, menatap punggung tuannya yang perlahan menghilang di ujung jalan.

"Saya juga senang Bos masih hidup," gumam Exel pelan.

Ia kemudian merogoh ponsel satelit terenkripsi dari saku jaket kulitnya. Raut wajahnya berubah total, kembali menjadi sosok komandan bertangan besi yang tak kenal ampun.

"Halo, Leo. Buka jalur aman ke Bankir Swiss. Kita punya kerjaan besar pagi ini." Exel memberi perintah dengan suara berat nan mengancam. "Siapkan infrastruktur pencairan dana. Pindahkan lima puluh persen kekayaan likuid Aegis ke kota ini sekarang juga. Kita bakal bikin tsunami duit besok pagi."

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!