NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murka Sang Penguasa

​Dengan sisa-sisa tenaga yang makin menipis dan napas yang memburu, Kirana berlari cepat membelah gang sempit area tempat kos. Pandangannya beberapa kali kabur akibat efek sisa obat tidur yang masih tersisa di dalam tubuhnya, namun ketakutan serta dorongan kuat untuk menyelamatkan diri membuatnya terus memacu langkah.

​Setibanya di pinggir jalan raya, Kirana langsung menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Dengan tangan gemetar hebat, ia membuka pintu dan melompat masuk ke kabin belakang.

​"Pak... tolong jalan, Pak! Cepat jalan!" bisik Kirana terbata-bata dengan nada panik luar biasa.

​Sopir taksi yang terkejut melihat kondisi penumpang mudanya—baju lusuh berantakan, beberapa kancing atas terlepas, serta tatanan rambut yang acak-acakan—segera menginjak pedal gas membelah jalanan sore kota.

​Di dalam kabin taksi yang dingin, pertahanan diri Kirana yang sedari tadi ia pertahankan akhirnya runtuh total. Ia menyandarkan tubuhnya di sudut jok, memeluk kedua lututnya rapat-rapat, dan meledakkan tangis yang teramat pilu. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Perasaan syok, takut, dan cemas bercampur menjadi satu. Meski ia berhasil meloloskan diri dan mempertahankan kehormatannya, bayangan intrik keji serta situasi mengerikan tadi membuat dadanya terasa sangat sesak dan terhina.

​"Ke mana tujuannya, Mbak?" tanya sopir taksi dengan nada prihatin dari kaca spion depan.

​Dengan suara bergetar dan serak di seling air mata, Kirana menyebutkan alamat lengkap mansion pribadi Rian.

​Setibanya di pelataran mansion Wijaya, Kirana menyodorkan beberapa lembar uang kertas dari tasnya tanpa memedulikan kembalian. Ia membanting pintu taksi lalu berlari menerobos pintu utama mansion. Satpam dan Bi Asih yang melihat Nyonya Muda mereka kembali dalam keadaan kacau balau sempat berteriak kaget, namun Kirana tidak menghentikan langkahnya.

​Ia berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, menghiraukan rasa pusing di kepalanya, lalu menatap pintu ruang kerja Rian yang sedikit terbuka.

​BRUK!

​Kirana mendorong pintu kayu tebal itu hingga terbuka lebar.

​Di dalam ruangan, Rian yang sedang memeriksa dokumen penting di balik meja kerjanya langsung terkejut dan berdiri seketika. Namun, sebelum Rian sempat mencerna situasi, sosok gadis dengan pakaian lusuh dan rambut berantakan itu berlari menubruk tubuh tegapnya.

​Kirana memeluk pinggang Rian dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di dada bidang suaminya. Tubuhnya bergetar hebat dalam tangisan yang pecah.

​"Mas... maafkan aku... hiks... maafkan aku..." bisik Kirana terbata-bata di antara isak tangisnya yang memilukan. "Aku sudah gagal... aku sudah gagal menjadi istrimu, Mas..."

​Rian membeku seketika. Saat merasai getaran ketakutan dari tubuh istrinya dan menghirup aroma keputusasaan yang melingkupi Kirana, raut wajah Rian berubah drastis. Sorot matanya yang biasa tenang mendadak berkilat sangat tajam dan pekat oleh amarah yang membara.

​Tanpa membuang waktu, Rian melingkarkan kedua lengan kokohnya, merengkuh tubuh Kirana yang gemetar dengan sangat erat dan protektif, menyalurkan kehangatan serta rasa aman mutlak untuk melindungi wanita yang amat dicintainya itu.

Dada Rian serasa dihantam godam yang amat berat saat mendengar bisikan pilu yang keluar dari bibir istrinya. Dekapan tangannya di tubuh Kirana semakin mengencang, seolah tak ingin membiarkan sebaris angin pun mengusik wanita di pelukannya.

​"Ada apa, Kirana?!" suara bariton Rian bergema berat, sarat akan kecemasan dan amarah yang mulai menyulut di dasar dadanya. "Katakan padaku, apa yang terjadi?!"

​Kirana terisak makin keras di dada bidang Rian. Jemari tangannya mencengkeram erat kemeja suaminya, menyalurkan seluruh rasa takut dan rasa hina yang berkecamuk di dalam jiwanya.

​"A... aku sudah ternodai, Mas..." bisik Kirana terbata-bata dengan napas tersedak air mata. "Aku dijebak... mereka... mereka menyuruh tiga cowok di tempat kos itu untuk... hiks... untuk menjatuhkanku..."

​Mendengar kata dijebak dan ternodai, raut wajah Rian seketika berubah pekat dan mengerikan. Aura dingin yang mencekat langsung memenuhi seluruh penjuru ruang kerja. Manik matanya berkilat membara oleh murka yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria yang biasanya mampu mengontrol emosi di balik topeng ketenangannya itu kini menjelma menjadi sosok paling berbahaya.

​Rian memegang kedua bahu Kirana dengan lembut namun tegas, sedikit mengurai pelukan mereka untuk menatap lurus ke dalam mata jernih istrinya yang sembap oleh air mata. Ia memeriksa pakaian lusuh Kirana, kancing atas yang terlepas, serta lebam kecil di pergelangan tangannya.

​"Tatap mataku, Kirana," bisik Rian dengan nada suara yang dalam, berat, dan dipenuhi kehangatan mutlak. "Tatap mataku dan dengarkan aku baik-baik."

​Kirana mendongak dengan bibir bergetar, menatap Rian di balik tirai air matanya.

​"Apakah mereka menyentuhmu sampai sejauh itu? Apakah kehormatanmu direbut oleh mereka?" tanya Rian meyakinkan, menahan gemuruh amarah di dadanya agar tidak menakuti Kirana.

​Kirana menggeleng pelan seraya menyapu air matanya dengan punggung tangan. "T-tidak... aku... aku sempat sadar dari obat tidur itu, Mas. Aku melawan... aku menghantam salah satu dari mereka pakai vas bunga dan menendang mereka sampai aku bisa lari..."

​Mendengar ucapan itu, Rian menghembuskan napas panjang. Rasa lega yang teramat sangat menyelimuti dadanya, meski rasa murka atas kelakuan biadab para pelaku tidak berkurang sedikit pun.

​"Kamu tidak ternodai, Kirana. Kamu tidak gagal menjadi istriku," tegas Rian dengan suara mantap, mengusap air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya yang hangat. "Kamu gadis yang sangat berani dan luar biasa tangguh. Kamu berhasil menjaga kehormatanmu dan kembali padaku."

​Kirana menatap Rian tak percaya. Tidak ada tatapan jijik atau kekecewaan di mata suaminya, yang ada hanyalah perlindungan mutlak dan kasih sayang yang tulus.

​Rian kemudian merengkuh kembali tubuh Kirana ke dalam pelukannya, melirik tajam ke arah pintu ruang kerja.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!