Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Petaka
Aroma tanah basah setelah hujan sore masih tercium di sekitar rumah Aira Kirana. Di dalam sanggar tua peninggalan kakeknya, suara alat tenun kayu yang sejak tadi berderit perlahan berhenti.
Aira mengusap peluh di dahinya, lalu memeriksa kain tenun di hadapannya. Motif Giri Senja dengan perpaduan warna nila dan tembaga itu belum selesai dikerjakan.
Ia menghela napas. Seindah apa pun kain yang dihasilkannya, belum tentu uang penjualannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga malam ini.
"Mbak Aira..."
Aira menoleh ke arah pintu penghubung rumah dan sanggar. Ratih, adiknya yang berusia empat belas tahun, berdiri di sana dengan wajah pucat. Seragam SMP yang dikenakannya tampak kusam dan sedikit kesempitan.
"Kenapa, Tih? Ibu sudah bangun?" tanya Aira.
Ratih mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu mual-mual lagi, Mbak. Tadi sempat muntah air. Katanya dadanya sesak banget, terus..." Ratih berhenti sebentar. "Ibu nanya kapan jadwal cuci darah berikutnya."
Aira terdiam.
Cuci darah.
Sejak ibunya didiagnosis menderita gagal ginjal kronis stadium akhir setahun lalu, pengobatan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ibunya harus menjalani hemodialisis setidaknya dua kali seminggu di RSUD kota. Besok pagi adalah jadwal berikutnya.
Namun, uang di dalam kaleng biskuit yang disimpan di bawah tempat tidur Aira hanya tersisa lima puluh ribu rupiah.
"Mbak yang urus Ibu. Kamu mandi dulu, terus ajak Bima sama Maya belajar, ya," katanya sambil menepuk bahu Ratih.
Ratih mengangguk, lalu beranjak pergi.
Aira segera masuk ke kamar utama yang remang-remang. Bau minyak angin dan obat-obatan langsung menyambutnya.
Ibunya terbaring lemah di atas ranjang besi tua. Tubuh wanita paruh baya itu semakin kurus, kulitnya kering dan sedikit kekuningan. Penampilannya jauh berbeda dibandingkan sebelum sakit.
"Aira..." panggil ibunya dengan suara serak.
"Iya, Bu. Aira di sini."
Aira duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.
"Ayahmu... belum pulang?"
Aira menghela napas pendek. Ia berusaha bersikap biasa agar ibunya tidak semakin khawatir.
"Ayah masih ada urusan di luar, Bu. Katanya ada pesanan bahan tenun baru di kota."
Kebohongan itu terpaksa keluar dari mulutnya.
"Ibu jangan mikirin Ayah dulu, ya. Yang penting Ibu istirahat. Besok pagi kita ke rumah sakit."
Ibunya menatap Aira dengan mata sayu. Rasa bersalah tampak jelas di wajahnya.
"Uangnya masih ada, Nduk? Kalau memang tidak ada, tidak usah besok. Minggu depan saja..."
"Ada, Bu. Uangnya cukup, kok. Masih ada simpanan dari hasil penjualan selendang minggu lalu."
Aira menjawab tanpa ragu. Ia bahkan sempat tersenyum untuk meyakinkan ibunya.
Padahal, tabungannya sudah habis untuk membeli kantong darah dan obat-obatan yang tidak ditanggung asuransi kesehatan pemerintah bulan lalu.
"Ibu tidur, ya. Aira buatkan teh hangat."
Ibunya mengangguk pelan. Setelah memastikan sang ibu kembali terlelap karena kelelahan, Aira meninggalkan kamar.
Langkahnya terhenti di dekat pintu.
Besok pagi, ia harus membawa ibunya ke rumah sakit. Namun, ia bahkan tidak tahu harus mencari uang dari mana.
Belum sempat menemukan jalan keluar, suara sepeda motor tua terdengar dari halaman. Mesinnya mengeluarkan suara kasar sebelum akhirnya mati.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka.
Herman, ayah Aira, masuk dengan tergesa-gesa. Pakaiannya kusut, matanya merah, dan bau alkohol tercium samar dari tubuhnya.
"Ayah?" Aira menatapnya. "Dari mana saja, Yah? Ibu dari tadi menanyakan Ayah! Besok Ibu harus cuci darah!"
Herman tidak menjawab. Wajahnya pucat dan napasnya memburu. Ia justru mengunci pintu depan dengan tangan gemetar, kemudian menoleh kepada Aira.
"Mana uangmu, Ra? Ada uang kas sanggar tidak? Duit penjualan kain kemarin mana?!" bentaknya sambil mencengkeram kedua bahu putrinya.
Aira meringis kesakitan.
"Uang apa, Yah?! Tidak ada uang! Uang kemarin sudah dipakai buat beli obat Ibu!" Ia berusaha melepaskan diri. "Ayah sebenarnya dari mana? Jangan bilang Ayah main judi lagi di warung Pak Wawan?!"
"Bukan urusanmu!" bentak Herman.
Ia melepaskan Aira, lalu bergegas menuju lemari kecil di sudut ruangan. Isinya diacak-acak hingga tumpukan kertas dan benang berserakan di lantai.
"Duit! Aku butuh duit malam ini juga! Kalau tidak, kita habis, Ra! Kita habis!"
"Ayah kenapa, sih?!" Aira berusaha mengecilkan suaranya agar tidak membangunkan ibu dan mengganggu adik-adiknya. "Uang buat makan besok pagi saja tidak ada, Yah! Kenapa Ayah malah mencari uang buat judi?!"
Herman mendadak berhenti. Ia berbalik dengan wajah ketakutan.
"Bukan buat judi, Aira..." bisiknya.
Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu menunduk.
"Sertifikat tanah rumah ini sama sanggar tenun kakekmu... sudah Ayah jaminkan ke Pak Sukarma."
Aira terdiam.
"Apa... Ayah bilang?"
Herman menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah khilaf, Ra. Ayah tergiur judi. Awalnya Ayah pikir bisa menang besar buat bayar utang, tapi malah habis semuanya." Suaranya bergetar. "Pak Sukarma kasih bunga berlipat. Utang Ayah sekarang sudah seratus lima puluh juta!"
Ia berlutut di hadapan Aira.
"Malam ini tenggat waktunya, Ra. Pak Sukarma bilang kalau besok pagi Ayah tidak bayar bunganya saja, sepuluh juta, dia bakal bawa orang-orangnya buat menyita rumah ini dan mengusir kita!"
Aira mematung.
Rumah ini.
Sanggar peninggalan almarhum kakeknya.
Tempat adik-adiknya berlindung dan tempat ibunya beristirahat ketika sakit.
Semuanya terancam hilang karena utang ayahnya.
"Ayah gila..." lirih Aira.
Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Ayah benar-benar gila! Ibu lagi sakit parah di dalam, Yah! Besok Ibu harus cuci darah! Dan Ayah malah menggadaikan rumah ini?!"
Herman tidak menjawab. Ia hanya tertunduk di hadapan putrinya.
Aira mengepalkan tangan. Ia marah dan kecewa, tetapi rasa takut kehilangan rumah membuat dadanya semakin sesak.
Apa yang akan terjadi kepada mereka jika benar-benar diusir?
Belum sempat Aira mengatakan apa pun, suara benturan keras terdengar dari arah pagar besi.
Brak! Brak! Brak!
Aira tersentak.
Dari luar, beberapa pria bertubuh besar berteriak memanggil nama Herman. Makian kasar mereka terdengar hingga ke dalam rumah.
"Herman! Keluar kamu, keparat!"
Wajah Herman seketika pucat. Ia menoleh ke arah pintu dengan tubuh gemetar.
Langkah kaki terdengar semakin dekat ke teras.
Aira memegangi dadanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ketika pintu itu terbuka.
Malam baru saja dimulai, tetapi masalah keluarganya seolah tidak ada habisnya.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭