Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Tubuh Naga Darah dan Seni Pengamatan
Halaman Latihan Belakang — Pagi Hari
Fajar baru saja menyentuh puncak Gunung Awan ketika Lu Mingseng tiba di halaman latihan belakang.
Tempat itu jarang dikunjungi murid biasa. Berbeda dengan lapangan utama yang dipenuhi suara benturan pedang dan teriakan garang para instruktur, halaman belakang dikelilingi tebing batu terjal serta pepohonan tua yang rindang. Di tengahnya berdiri beberapa pilar batu hitam, patung binatang buas dari perunggu, serta sebuah kolam dangkal berisi air dingin.
Mingseng meletakkan pedang kayunya di samping batu besar. "Senior, mengapa kita berlatih di sini?"
Suara penjaga Balai Penempaan Darah segera terdengar dari dalam kesadarannya. 'Karena porsi latihanmu sebelumnya terlalu lembut.'
Mingseng terdiam sesaat. "Terlalu lembut?"
'Kau sudah resmi melangkah ke ranah Pengumpulan Qi Tahap Awal,' tegas sang penjaga. 'Tubuhmu juga telah ditempa oleh esensi Bunga Darah Roh dan leburan api di dalam balai. Jika kau terus mengayun pedang kayu seperti murid biasa, kau hanya membuang-buang waktu!'
Lelaki tua itu menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin, 'Tapi jangan salah paham. Aku tidak menyuruhmu merusak batas wadah fisikmu. Jika kau merobek fondasimu sendiri karena rakus akan kekuatan, aku akan membiarkanmu menanggung akibatnya.'
Mingseng mengusap wajahnya yang penuh bekas luka. "Setiap kali Senior bilang tidak ingin aku terluka, cara bicara Anda justru membuatku merasa akan mati sebentar lagi."
'Kalau begitu, anggap saja aku sedang mempersiapkanmu menghadapi kenyataan dunia kultivasi yang kejam,' desis sang penjaga.
Di dimensi batinnya, Kaisar Keabadian tertawa kecil. 'Sudahlah, Mingseng, berhentilah mengeluh. Hari ini kau akan mempelajari sesuatu yang benar-benar berbeda.'
Mingseng segera menata posisinya, menajamkan fokus. "Teknik baru, Guru?"
'Benar,' Kaisar Abadi menjelaskan. 'Penguasaan Qi-mu baru dimulai, namun keunggulan murnimu ada pada ketahanan fisik. Kita harus memadukan kekuatan fisik itu tanpa membuatmu bergantung sepenuhnya pada tenaga mentah.'
Penjaga kuno menyambung dengan suara berat dan bergema. 'Aku akan mengajarkanmu pondasi tingkat pertama dari seni perang peradabanku: Teknik Tubuh Naga Darah!'
Mata Mingseng berbinar seketika. "Teknik penempaan tubuh?!"
'Jangan terlalu senang dulu,' cemooh sang penjaga. 'Pada tahap awal ini, teknik ini tidak akan membuat kulitmu kebal dari tebasan pedang tajam. Latihan ini mengajarkanmu memusatkan seluruh daya ledak otot, kepadatan tulang, dan pola napas ke dalam satu titik fokus tanpa membuang tenaga percuma.'
Mingseng mengepalkan kedua tangannya hingga berbunyi krek. "Kalau begitu, kapan kita mulai?"
'Sekarang!'
Latihan Penempaan Fisik
Sang penjaga langsung mendiktekan prinsip dasar Teknik Tubuh Naga Darah.
Kedua kaki harus mencengkeram bumi bagai akar pohon tua. Pinggang menjadi poros putaran utama. Bahu dan lengan dilarang melesat mendahului titik keseimbangan tubuh. Napas ditahan sepersekian detik saat dorongan daya meledak, lalu diembuskan kuat pada akhir ayunan.
Secara teori, gerakannya tampak teramat sederhana. Namun saat Mingseng mencobanya secara langsung—
TAK!
Pukulan pertamanya mengenai pilar batu tanpa menghasilkan getaran berarti. Pukulan keduanya bahkan membuat tulang pergelangan tangannya berdenyut nyeri.
'Berhenti!' bentak penjaga kuno. 'Kau memukul menggunakan tenaga lengan, bukan mengalirkan seluruh bobot tubuhmu!'
Lelaki tua itu memberi petunjuk dengan kesabaran yang langka. 'Bayangkan tubuhmu adalah sebuah busur panah. Jika hanya talinya yang ditarik tanpa tumpuan kayu yang kokoh, anak panah tak akan melesat jauh. Kekuatan harus berakar dari telapak kaki, terdorong lewat pinggang, lalu meledak melewati bahu menuju kepalan tangan!'
Mingseng mencerna setiap kata itu. Ia kembali mengambil kuda-kuda.
Kali ini, ia tidak terburu-buru melepaskan tinju. Ia membetulkan tumpuan lututnya, meresapi pijakan kakinya di atas tanah, lalu memutar pinggangnya perlahan seraya mengalirkan dorongan itu ke lengannya.
DUUM!
Pilar batu hitam di hadapannya bergetar hebat. Sebuah garis retakan tipis menjalar di permukaannya!
Mingseng membelalakkan mata tak percaya. "Berhasil!"
'Baru satu pukulan benar,' jawab penjaga kuno datar. 'Ulangi seratus kali lagi!'
Senyum Mingseng seketika sirna. Namun tanpa membantah, ia kembali mengayunkan tinjunya.
Sepuluh kali... Dua puluh kali... Lima puluh kali...
Ketika mencapai hitungan ke-100, lengannya bergetar hebat dan napasnya memburu kencang. Keringat mengucur deras membasahi tanah, namun tidak ada cedera retak pada tulangnya.
'Cukup,' titah penjaga kuno. 'Kau mulai menangkap intisarinya. Sekarang, padukan dengan aliran Qi-mu.'
Kaisar Abadi menyambung, 'Salurkan tipis-tipis energi spiritual dari meridian pertamamu mengikuti jalur gerak Tubuh Naga Darah. Jangan dipaksa.'
Mingseng memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan pukulan berbalut aliran Qi tipis.
BOOM!
Retakan pada pilar batu mendadak melebar tajam, memuntahkan serpihan batu ke udara!
"Luar biasa..." gumam Mingseng menatap kepalan tangannya sendiri. Perpaduan tenaga fisik Teknik Tubuh Naga Darah dan dorongan Qi menghasilkan daya hancur yang jauh melampaui perkiraannya.
Ajaran Pengamatan dari Sang Wanita Misterius
Saat matahari mulai merambat naik, siluet wanita misterius itu kembali mengapung samar di samping Mingseng.
"Latihan fisiknya cukup untuk pagi ini," ucap sang wanita dengan suara lembut.
Mingseng menyeka keringatnya dan membungkuk hormat. "Senior, apakah Anda juga punya teknik yang ingin diajarkan?"
Wanita itu menatap Mingseng tenang. "Aku tidak akan mengajarimu teknik memukul lainnya... Aku akan mengajarimu cara melihat."
"Melihat?" Dahi Mingseng berkerut bingung.
Wanita itu menunjuk ke arah sebatang pohon tua di tepi pelataran. "Perhatikan pohon itu. Bukan batangnya, dan bukan pula daunnya. Perhatikan bagaimana angin menyentuh dedaunan, bagaimana ranting bergetar sebelum daun bergoyang, dan bagaimana akar yang tak terlihat menjaga batangnya tetap kokoh."
Mingseng terdiam, menatap pohon itu dalam keheningan.
Awalnya ia hanya melihat daun yang berkibar biasa. Namun setelah memfokuskan batinnya, ia menyadari pergerakan kecil pada ranting selalu mendahului kibasan daun.
"Manusia pun sama," lanjut wanita misterius itu. "Sebelum lawan melancarkan tebasan, tubuh mereka selalu memberi tanda. Bahu menegang, tumpuan kaki bergeser, atau napas yang tertahan sesaat. Jika kau sanggup membaca tanda-tanda gaib itu, kau bisa menentukan hasil pertempuran sebelum pedang musuh bergerak."
Mingseng tertegun. Ia menyadari ajaran ini adalah tingkat tertinggi dari insting bertarung!
"Terima kasih atas bimbingannya, Senior," puji Mingseng tulus.
Wanita itu tersenyum tipis nan anggun. "Praktikkanlah di lapangan."
Ujian Pertahanan di Arena Utama
Sore harinya, Mingseng kembali ke lapangan latihan utama. Instruktur Ma Zhen yang sedang memimpin simulasi tanding langsung memanggilnya.
"Mingseng! Pas sekali kau datang. Hari ini jadwal uji pertahanan," kata Ma Zhen, lalu menunjuk seorang murid berpostur jangkung. "Dia Zhou Kai, murid luar yang sudah mahir teknik pedang dasar. Bertahanlah di hadapannya selama tiga puluh jurus!"
Zhou Kai mencabut pedang kayunya dengan senyum percaya diri. "Kudengar kau mengalahkan Zhang Bo kemarin. Tapi gerakanku jauh lebih cepat darinya, Mingseng!"
"Silakan," balas Mingseng tenang sambil mengangkat pedang kayunya.
"Mulai!" teriak Ma Zhen.
Wus!
Zhou Kai menerjang cepat, mengayunkan pedangnya dalam pola tebasan beruntun dari berbagai sudut.
TAK! TAK! TAK!
Benturan demi benturan membuat lengan Mingseng bergetar. Namun alih-alih panik, Mingseng mengingat instruksi sang wanita misterius. Ia tidak fokus melihat mata pedang Zhou Kai, melainkan membaca pergeseran bahu dan tumpuan kaki lawan.
Pada jurus ke-15, Mingseng sudah membaca habis seluruh alur serangan Zhou Kai!
Ia mulai menghindar dengan pergerakan minimal yang sangat efisien. Pada jurus ke-20, Mingseng hanya perlu memiringkan tubuh sedikit untuk membiarkan tebasan Zhou Kai membelah udara kosong.
Zhou Kai mulai frustrasi dan mempercepat serangannya secara kalap. Namun tepat pada jurus ke-27, akibat terlalu bernafsu, tumpuan kaki Zhou Kai terlalu maju ke depan.
Mingseng bergeser mulus ke sisi buta lawan, lalu menempelkan ujung pedang kayunya di leher Zhou Kai secara perlahan.
TOK!
"Jurus ketiga puluh! Selesai!" seru Ma Zhen terkesima.
Zhou Kai terengah-engah dengan wajah merah padam karena malu. "Bagaimana bisa... kau seolah tahu ke mana pedangku akan bergerak?!"
Ma Zhen melangkah mendekat dengan tatapan kagum. "Luar biasa, Mingseng! Kau tidak cuma bertahan dengan fisik, tapi kau membaca alur serangan musuh sebelum dilancarkan!"
Misteri di Bawah Sinar Rembulan
Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi, Mingseng kembali bermeditasi melatih aliran Tubuh Naga Darah.
Di dalam jiwanya, Kaisar Abadi dan sang penjaga balai kembali melakukan pemindaian rutin.
'Aneh...' gumam Kaisar Abadi bingung. 'Setelah memadukan teknik Tubuh Naga Darah, kendali Qi Mingseng melonjak berkali-kali lipat lebih stabil. Ini kemajuan yang terlampau pesat.'
Sang penjaga balai ikut menyisir meridian Mingseng, namun sekali lagi pindaian mereka membentur kabut abadi yang menutupi delapan meridian lainnya.
Wanita misterius itu menatap mereka bertiga lembut. "Jangan paksa alirannya. Biarkan wadah fisiknya menyesuaikan diri secara alami."
Sementara itu di Aula Utama, Tetua Agung Mo Canglan membaca laporan perkembangan Mingseng yang diserahkan oleh Ma Zhen.
Mo Canglan mengetukkan jarinya di atas meja batu, menatap keluar jendela ke arah langit malam. "Anak ini... terus tumbuh tanpa bisa ditahan. Aku akan tetap mengawasinya dari jauh tanpa mengganggu jalurnya."
Di kamar asramanya, Mingseng mengakhiri meditasinya. Ia melangkah ke dekat jendela, menatap rembulan yang memancar terang di atas Gunung Awan.
Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa sakit, penderitaan, dan penghinaan masa lalu perlahan berganti menjadi kekuatan sejati yang kian solid.
Ia tahu jalan di depannya masih sangat panjang dan penuh bahaya. Namun kini, ia tidak lagi berjalan sebagai pemuda lemah yang bisa diinjak-injak.
Lu Mingseng telah siap mengguncang dunia kultivasi dengan kekuatannya sendiri.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳