NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam semakin larut ketika Satoshi Katagiri akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Lili.

Tangannya yang semula terangkat perlahan turun. Ia berdiri selama beberapa detik, menatap pintu kayu di hadapannya dengan pikiran yang tidak menentu. Ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakannya kepada perempuan itu, tetapi tidak satu pun berhasil melewati bibirnya.

Pada akhirnya, Satoshi berbalik dan berjalan menuju ruang tengah.

Rumah besar itu begitu sunyi. Lampu-lampu di sepanjang lorong menyala redup, sementara suara langkah kakinya terdengar jelas di atas lantai marmer. Tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan, dan tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya.

Biasanya, Satoshi tidak pernah memedulikan kesunyian rumah tersebut. Ia bahkan sengaja menciptakan keadaan seperti ini sejak hari pertama pernikahannya dengan Lili.

Para pembantu dan tukang kebun selalu diperintahkan pulang setiap malam. Ia tidak ingin keberadaan mereka mengganggu kebebasannya membawa perempuan lain ke rumah. Dengan begitu, ia merasa dapat melakukan apa pun tanpa perlu khawatir seseorang akan melihat atau membicarakan perbuatannya.

Namun, malam ini, keputusan yang dahulu dianggapnya menguntungkan justru menjadi masalah.

Perutnya tiba-tiba berbunyi.

Satoshi berhenti berjalan.

Ia mengerutkan kening, kemudian meletakkan sebelah tangan di perutnya.

Lapar.

Ia baru menyadari bahwa dirinya belum makan malam. Pertemuan bisnis yang berlangsung hingga sore hari, ditambah kegelisahan yang terus mengganggu pikirannya sejak melihat Lili bersama Tyson, membuatnya melupakan waktu makan.

Biasanya, ia cukup menekan tombol panggilan untuk meminta seseorang menyiapkan makanan. Akan tetapi, tidak ada pembantu di rumah itu pada malam hari.

Satoshi berjalan menuju dapur.

Ia membuka lemari pendingin, berharap menemukan sesuatu yang bisa langsung dimakannya. Beberapa bahan makanan tersusun rapi di dalamnya, tetapi ia tidak tahu harus mengolahnya menjadi apa.

Ia mengambil sebuah wadah, memeriksa isinya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Setelah beberapa menit, ia menutup lemari pendingin dengan kesal.

“Bagaimana mungkin rumah sebesar ini tidak menyediakan makanan siap santap?” gumamnya.

Kalimat itu terdengar konyol bahkan bagi dirinya sendiri.

Rumah tersebut tidak pernah kekurangan makanan. Selama tiga tahun, Lili selalu memastikan persediaan dapur cukup walau uang dapur selalu diberikan pada asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Katagiri , yaitu Anna. Ia memasak hampir setiap hari, meskipun tidak pernah mengetahui apakah suaminya akan pulang untuk makan atau justru menghabiskan malam bersama perempuan lain.

Satoshi mengusap wajahnya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa banyak hal yang dilakukan Lili tanpa pernah dimintanya secara langsung.

Perempuan itu selalu menyiapkan segala sesuatu, lalu menghilang ke sudut rumah ketika tidak dibutuhkan.

Ia tidak pernah bertanya bagaimana Satoshi menghabiskan uangnya. Ia tidak pernah menuntut hadiah mahal. Ia bahkan tidak pernah meminta agar suaminya membawanya menghadiri acara sosial.

Lili hanya memasak, membantu asisten rumah tangga membersihkan rumah, dan menunggunya.

Dan Satoshi menganggap semua itu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan seorang istri.

Kini, ketika ia membutuhkan sesuatu yang begitu sederhana, ia baru menyadari bahwa tidak ada seorang pun di rumah itu yang dapat membantunya.

Kecuali Lili.

Satoshi berdiri di tengah dapur sambil memandangi jam dinding.

Hampir tengah malam.

Ia sebenarnya bisa memesan makanan dari restoran mewah yang masih melayani pelanggan. Namun, entah mengapa, ia justru teringat pada masakan rumahan yang dahulu selalu dibuat Lili.

Ia teringat aroma sup hangat yang terkadang memenuhi rumah ketika pulang pada malam hari. Ia juga teringat kotak-kotak bekal yang selalu diletakkan istrinya di atas meja, namun tak pernah ia sentuh sedikit pun.

Satoshi menghela napas panjang.

Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya merindukan perhatian tersebut.

Namun, rasa lapar yang semakin mengganggu membuatnya akhirnya mengambil keputusan.

Ia akan meminta bantuan Lili.

Bukan sebagai seorang suami yang memerintah istrinya, melainkan sebagai seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan.

Pikiran itu terasa begitu asing.

Selama tiga tahun, ia tidak pernah meminta sesuatu kepada Lili dengan baik-baik. Bahkan ketika menginginkan sesuatu, ia lebih sering menggunakan nada dingin atau perintah singkat.

Kini, ia harus mengetuk pintu kamar perempuan itu dan meminta bantuan.

Satoshi berjalan kembali menuju gudang kamar Lily.

Setiap langkah terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Ketika tiba di depan kamar Lili, ia berhenti. Ia menatap pintu tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengangkat tangan.

Tok.

Tok.

Dua ketukan terdengar pelan.

Tidak ada jawaban.

Satoshi menelan ludah, kemudian mengetuk sekali lagi.

“Lili?”

Suaranya terdengar lebih rendah daripada biasanya.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam kamar.

Pintu terbuka perlahan.

Lili muncul di baliknya dengan mengenakan gaun tidur berlengan pendek. Rambut hitam panjangnya tergerai melewati bahu, sementara wajahnya tampak bersih tanpa riasan. Cahaya lampu tidur yang redup dari dalam kamar menyentuh wajahnya, memberikan kesan lembut pada garis-garis wajahnya.

Untuk beberapa detik, Satoshi lupa alasan kedatangannya.

Ia hanya berdiri mematung, memandangi perempuan yang selama ini tinggal di rumahnya tanpa pernah benar-benar ia perhatikan.

Lili tampak cantik.

Bukan kecantikan yang sengaja ditampilkan di hadapan orang banyak, melainkan kecantikan sederhana yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan dan kesedihannya.

Namun, ketika Lili menyadari siapa yang berdiri di depan pintunya, ekspresinya berubah waspada.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Panggilan itu kembali menusuk telinganya.

Tuan.

Satoshi menarik napas perlahan.

“Aku … ingin meminta bantuanmu.”

Lili tampak terkejut.

Ia bahkan sempat mengira dirinya salah mendengar.

“Bantuan apa, Tuan?”

Satoshi mengalihkan pandangan sejenak, merasa kesulitan mengucapkan kalimat sederhana yang selama ini tidak pernah menjadi masalah baginya.

“Aku belum makan malam.”

Lili berkedip.

Ia memandang Satoshi beberapa saat, seolah-olah sedang memastikan bahwa pria di hadapannya benar-benar sedang berbicara kepadanya dengan nada memohon.

“Kalau begitu, Tuan bisa memesan makanan.”

“Tidak ada makanan yang siap dimakan.”

“Di dapur masih ada bahan makanan.”

“Aku tidak tahu cara memasaknya.”

Jawaban tersebut membuat Lili terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia mendengar Satoshi mengakui ketidakmampuannya tanpa menyalahkan orang lain.

Namun, rasa terkejut itu segera berganti menjadi kehati-hatian.

“Lalu, apa yang Tuan inginkan dari saya?”

Satoshi menatapnya kembali.

“Bisakah kau membuatkan sesuatu untuk kumakan?”

Lili tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Seorang istri mungkin akan menganggapnya sebagai permintaan biasa dari suaminya. Namun, bagi Lili, permintaan tersebut terasa asing setelah tiga tahun hidup bersama seorang pria yang bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih atas makanan yang dibuatnya.

Ia teringat berapa banyak pagi yang dihabiskannya di dapur. Ia teringat perjalanan menuju kantor Satoshi, menahan panas matahari sambil membawa bekal yang kemudian diberikan kepada orang lain.

Ia juga teringat hari-hari ketika dirinya menangis sendirian setelah menyaksikan suaminya bersama perempuan lain.

Dan sekarang, pria yang sama berdiri di depan pintunya, meminta dibuatkan makanan.

“Tuan bisa meminta pembantu menyiapkannya besok pagi,” jawab Lili akhirnya.

“Aku membutuhkannya sekarang.”

Lili menunduk sejenak.

Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak. Ia tidak ingin kembali pada kebiasaan lama, ketika setiap kebutuhan Satoshi menjadi tanggung jawabnya sementara perasaannya sendiri tidak pernah diperhitungkan.

Namun, ia juga tidak ingin bertengkar malam itu.

“Baik, Tuan. Saya akan membuatkan sesuatu.”

Satoshi merasakan kelegaan yang aneh.

Ia tidak tahu mengapa jawaban sederhana itu membuat suasana hatinya membaik. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang terasa panjang, Lili bersedia melakukan sesuatu untuknya tanpa harus dibentak terlebih dahulu.

“Terima kasih,” ucapnya spontan.

Lili mengangkat wajah.

Kali ini, keterkejutannya jauh lebih besar.

Satoshi Katagiri baru saja mengucapkan terima kasih kepadanya.

Dua kata yang selama tiga tahun hampir tidak pernah didengarnya dari mulut pria tersebut.

Namun, alih-alih tersenyum bahagia seperti dahulu, Lili hanya mengangguk kecil.

“Saya akan segera menyiapkannya.”

Beberapa menit kemudian, Lili keluar dari dapur membawa semangkuk sup hangat, nasi, dan beberapa lauk sederhana.

Satoshi telah duduk di meja makan ketika perempuan itu meletakkan makanan di hadapannya.

“Silakan, Tuan.”

Lili hendak kembali ke kamarnya, tetapi Satoshi memanggilnya.

“Lili.”

Perempuan itu berhenti.

“Ya, Tuan?”

“Duduklah sebentar.”

“Saya sudah ingin beristirahat.”

“Aku hanya ingin berbicara.”

Lili memandangnya dengan ragu. Pada akhirnya, ia memilih duduk di kursi yang berjarak satu tempat darinya.

Satoshi mengambil sendok dan mencicipi sup tersebut.

Rasanya sederhana, tetapi hangat. Ada sesuatu dalam rasa itu yang mengingatkannya pada makanan yang dahulu selalu tersedia di rumah utama keluarga Katagiri ketika ia masih kecil.

Ia mengambil suapan kedua.

Kemudian ketiga.

Tanpa sadar, ia mulai makan dengan lebih lahap.

Lili hanya duduk diam, menunggu sampai Satoshi selesai.

“Apakah rasanya tidak enak?” tanya Satoshi ketika menyadari bahwa istrinya terus memperhatikannya tanpa berkata-kata.

“Tidak, Tuan. Saya hanya menunggu apakah Tuan membutuhkan sesuatu lagi.”

Kalimat itu membuat gerakan tangan Satoshi terhenti.

Bahkan ketika diminta duduk, Lili masih menganggap dirinya harus bersiap melayani kebutuhannya.

Satoshi menatap mangkuk di hadapannya.

“Apakah kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Sejak kapan?”

“Tadi sore.”

Satoshi mengerutkan kening.

“Bukankah sekarang sudah hampir tengah malam?”

Lili tidak menjawab.

Ia tidak ingin menjelaskan bahwa dirinya memang terbiasa makan sendirian, terkadang bahkan melupakan waktu makan ketika harus menyelesaikan pekerjaan menulis.

Satoshi meletakkan sendoknya.

“Mulai besok, makanlah tepat waktu.”

Lili menatapnya dengan ekspresi bingung.

“Baik, Tuan.”

Jawaban itu terdengar begitu datar sehingga Satoshi tidak dapat mengetahui apakah Lili benar-benar mendengarkannya atau hanya ingin mengakhiri percakapan.

Ia ingin mengatakan sesuatu lagi.

Ia ingin bertanya tentang pekerjaan apa yang selama ini dikerjakan Lily, tentang rumah yang mungkin sedang dipersiapkannya, atau tentang alasan perempuan itu begitu bertekad meninggalkannya.

Namun, sebelum sempat membuka mulut, Lili berdiri.

“Jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya akan kembali ke kamar.”

Satoshi menatapnya.

“Lili, tunggu.”

Perempuan itu berhenti, tetapi tidak duduk kembali.

Satoshi menelan ludah. Ada pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya, pertanyaan yang membuatnya gelisah setiap kali mengingat Tyson.

“Apakah kau menyukai pria bernama Tyson itu?”

Lili terdiam cukup lama.

Kemudian, ia menjawab dengan suara tenang.

“Tyson adalah orang yang baik kepada saya, Tuan.”

Jawaban itu tidak mengandung pengakuan cinta. Namun, justru karena itulah Satoshi merasa semakin gelisah.

“Jadi, kau menyukainya?”

“Saya tidak pernah mengatakan demikian.”

“Lalu, mengapa kau tersenyum kepadanya?”

Lili menatap Satoshi untuk pertama kalinya malam itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Karena saya merasa nyaman ketika berbicara dengannya.”

Satoshi membeku.

Nyaman.

Sebuah kata sederhana yang selama tiga tahun tidak pernah berhasil ia berikan kepada istrinya sendiri.

Lili membungkuk singkat, lalu berjalan meninggalkan ruang makan.

Satoshi tidak memanggilnya lagi.

Ia hanya duduk di hadapan semangkuk sup yang hampir habis, menatap pintu tempat istrinya menghilang.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa makanan hangat yang baru saja dinikmatinya bukanlah bukti bahwa Lili masih mencintainya.

Perempuan itu hanya membantunya karena ia tidak ingin membiarkan seseorang kelaparan.

Dan mungkin, itulah hal paling menyakitkan yang harus diterimanya.

Lili masih memiliki kebaikan hati.

Namun, kebaikan hati itu tidak lagi berarti bahwa ia bersedia memberikan hatinya kepada Satoshi.

Setibanya dikamarnya, Lili menutup pintu dan bersiap tidur. Besok pagi, ia akan mengurus surat perceraian itu.

Sementara di ruang makan yang sunyi, Satoshi menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia berharap malam tidak segera berakhir.

Sebab, ketika matahari terbit, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang baru saja memasakkan makanan untuknya mungkin akan segera meninggalkan rumah itu untuk selamanya.

Dan kali ini, tidak ada kekayaan, kekuasaan, atau perintah yang dapat menjamin bahwa Lili akan kembali.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!