Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertentangan
“Sudah berapa kali Ayah mengatakan bahwa keluarga kita punya rencana untukmu?”
Deon diam.
“Putri sahabat Ayah dari Jepang itu sudah lama dipersiapkan untuk menjadi pasanganmu.”
“Justru itu. Karena Aku tidak mau.”
Jawabannya tegas. “Kamu selalu membangkang!”
“Aku hanya tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai.”
Ibunya terlihat semakin marah.
“Lalu perempuan pilihanmu itu?”
Deon menatap ibunya.
“Dia istriku.”
“Deon!”
“Aku datang bukan untuk meminta izin.” Ruangan seketika sunyi. “Aku datang untuk memberitahu kalian bahwa aku sudah menikah. Tidak perlu lagi aku di jodohkan, masih ada Leon yang selalu ayah banggakan."
Ayahnya menatap putranya dengan kecewa.
“Jadi sekarang kamu bahkan tidak menganggap orang tuamu?”
Deon menarik napas. “Aku tetap menghormati kalian.”
“halah, menghormati macam apa, dengan kelakuanmu yang begitu."
Deon terdiam. Sejak masih SMK, ia memang memilih tinggal bersama Oma Shu Fen.
Bukan karena membenci orang tuanya. Ia hanya ingin menjauh dari kehidupan keluarga yang terlalu mengatur. Terutama sejak rencana perjodohan dengan putri sahabat ayahnya dari Jepang mulai dibicarakan.
Deon tidak pernah menginginkan pernikahan seperti itu. Ia ingin menentukan sendiri siapa perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Dan kini… Ia sudah mendapatkannya, Meski Nara belum mencintainya. Meski pernikahan mereka terjadi karena keadaan. Namun bagi Deon, Nara tetap perempuan yang selama bertahun-tahun ia tunggu.
“Aku minta maaf, dan sekarang aku sudah menikah,” ucap Deon. “Dan aku tidak akan menceraikannya hanya karena kalian tidak menyukainya.”
Ibunya menatap Deon dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu benar-benar memilih meninggalkan keluarga demi perempuan itu?”
Deon menggeleng.
“Aku tidak meninggalkan keluarga, ibu.”Ia mengambil helmnya. “Aku hanya memilih hidupku sendiri, ayah dan mamah terlalu mengaturku, sementara Leon bebas memilih hidupnya.”
Tanpa menunggu jawaban, Deon berbalik dan berjalan keluar.
Namun sebelum pintu tertutup, suara ayahnya terdengar keras. “Kalau begitu jangan berharap keluarga ini menerima istrimu dengan mudah!”
Langkah Deon terhenti, Ia menoleh sebentar.
Tatapannya dingin.
“Tidak apa-apa, ayah memang egois.”
Kemudian ia pergi.
Di luar, Deon kembali mengenakan helmnya, Ia menatap langit sebentar, ada air mata yang tiba-tiba keluar di ujung matanya.
Deon segera menyeka, Pikirannya kembali kepada Nara. Ia tahu jalan di depan mereka tidak akan mudah. Namun satu hal sudah pasti. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan rumah tangga yang baru saja ia mulai.
Sementara di dalam mall, Nara sama sekali tidak mengetahui bahwa pada pagi yang sama, suaminya baru saja berhadapan dengan keluarganya sendiri.
Dan lebih mengejutkan lagi… Perjodohan yang selama ini Deon tolak ternyata belum benar-benar berakhir.
...
Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, Deon tidak langsung kembali ke kantor pribadinya yang tak semua orang tau.
Motor yang dikendarainya justru berhenti di sebuah kafe yang cukup tenang di pusat kota.
Tempat itu tidak terlalu ramai. Di sudut ruangan terdapat sebuah meja yang biasa digunakan Deon untuk bekerja. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun sudah menunggunya.
“Pagi, Pak Deon.”
Deon hanya mengangguk.
“Duduk.”
Pria itu adalah asistennya, Raka. Salah satu dari sedikit orang yang mengetahui identitas Deon sebenarnya.
Raka memperhatikan wajah atasannya. “Bapak baik-baik saja?”
Deon membuka laptop.
“Tidak apa-apa.”
Jawaban singkat. Namun Raka tahu, Deon sedang tidak baik-baik saja.
Deon membuka sebuah folder yang berisi laporan operasional mall. Beberapa detik kemudian, layar laptopnya menampilkan rekaman CCTV dari berbagai sudut mall.
Ia melihat karyawan yang sedang bekerja.
Kasir, petugas keamanan, pengunjung. Kemudian pandangannya berhenti pada salah satu layar.
Nara.
Perempuan itu sedang berdiri di area lantai dua, memeriksa laporan dari salah satu toko.
Deon terdiam.
Dari layar kecil itu, ia bisa melihat Nara sedang berbicara dengan beberapa karyawan. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir.
Deon tersenyum tipis, Setidaknya Nara baik-baik saja. Raka memperhatikan layar tersebut.
“Bapak masih memantau, mba Nara?”
Raka belum tahu, Deon telah menikah. Yang ia tahu Deon kerap memperhatikan wanita itu. Sementara Deon tidak menjawab. Tangannya justru berhenti di atas keyboard.
Bayangan pertengkarannya dengan ayah dan ibunya kembali muncul. Jangan berharap keluarga ini menerima istrimu dengan mudah!
Kalimat itu masih terdengar jelas di kepalanya.
Deon menunduk,Untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Ia bukan tidak menyayangi orang tuanya.
Justru karena itulah perkataan mereka terasa begitu menyakitkan. Sejak kecil ia selalu dibandingkan dengan Leon.
Leon lebih penurut, Leon lebih mudah diarahkan, Leon dianggap mampu meneruskan apa yang diinginkan keluarga.
Sementara dirinya?
Selalu dianggap pembangkang.
Deon mengusap wajahnya, Matanya mulai terasa panas. Namun ia segera menahannya. Tidak boleh menangis, Bukan di sini. Bukan di depan orang lain.
Raka pura-pura sibuk membuka berkas. Ia tahu atasannya sedang berusaha menahan sesuatu.
Deon kembali menatap layar. Nara tersenyum kepada seorang karyawan. Senyum itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Setidaknya aku punya alasan untuk pulang.
Ia menarik napas panjang.
“Raka.”
“Iya, Pak?”
“Pastikan tidak ada yang mengganggu Nara.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Deon menutup laptop. Namun sebelum berdiri, ia sempat kembali melihat layar CCTV itu sekali lagi.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Jangan sampai dia tahu aku memperhatikannya.”
Raka tersenyum tipis.
“Bapak benar-benar sudah jatuh cinta.”
Deon menatapnya.
“Kerja.”
Raka tertawa kecil.
“Baik, Pak.”
***
Di sisi lain, Nara sedang sibuk menjalankan pekerjaannya. Setelah beberapa hari penuh kekacauan, kembali bekerja membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Namun sahabatnya tidak membiarkannya bekerja dengan damai.
“Ra.”
Nara menoleh.
“Apa?”
Sahabatnya menyandarkan tubuh di meja.
“Aku masih tidak percaya.”
“Tidak percaya apa lagi?”
“Kamu.”
Nara mengernyit. “Aku kenapa?”
“Kemarin ditinggal calon suami di hari pernikahan.”
Nara langsung menghela napas. “Jangan mulai.”
“Belum selesai!”
Sahabatnya justru semakin bersemangat.
“Terus sekarang malah dapat suami baru yang lebih ganteng!”
Nara langsung menutup mulut sahabatnya dengan tangannya.
“Diam!”
Sahabatnya tertawa di balik tangan Nara. Nara melepaskannya.
“Kamu itu kalau ngomong tidak pernah mikir.”
“Tapi benar, kan?”
Nara menggeleng. “Sudah. Aku tidak mau membahas pernikahan terus.”
Sahabatnya akhirnya sedikit serius. “Tapi kamu bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Nara terdiam.
Ia sendiri tidak tahu. Pernikahannya dengan Deon memang tidak dimulai dengan cinta. Namun Deon selalu memperlakukannya dengan baik.
Tidak memaksa, menuntut, Bahkan tidur satu ranjang pun mereka masih menjaga jarak.
“Aku belum tahu,” jawab Nara jujur.
Sahabatnya mengangguk pelan. “Setidaknya dia baik?”
Nara tersenyum kecil.
“Iya, baik si.”
Kemudian wajah Nara berubah murung.
“Tapi ada satu hal yang membuatku kesal.”
“Apa?”
Nara menceritakan pesan dari ibu Arka.