NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mendengar pertanyaan itu, Arhan tidak menatapnya.

"Di dalam novel itu, gadisnya diceritakan sakit enggak, Han?"

Sendok di tangan Anya masih berhenti di udara. Kepalanya masih bersandar di bahu Arhan.

Arhan menatap layar laptopnya yang masih menyala. Tiga paragraf pendek tentang gadis periang yang menyukai bunga.

"Enggak, An," jawab Arhan dengan suara pelan, matanya tetap menatap layar. "Di novel ini gadisnya sehat. Tidak pernah sakit. Tidak pernah minum obat."

Anya menarik kepalanya perlahan dari bahu Arhan dan kembali duduk tegak di kursinya. Ia menatap vas kecil berisi lily putih yang sendirian di tengah meja.

"Enak ya, Han," kata Anya. "Enak ya jadi gadis di dalam novel kamu itu. Aku iri sama dia."

Kalimat itu pelan, tapi bagi Arhan rasanya seperti dipukul.

"Dia periang, cantik, lembut dan bahagia. Tidak sakit," lanjut Anya sambil menyendok buburnya lagi dengan gerakan lebih lambat. "Tidak seperti aku."

Arhan yang akan memakan bubur langsung terdiam. Sendoknya sudah terisi bubur, sudah diangkat setengah jalan ke mulutnya, tapi berhenti di udara. Ia meletakkan sendoknya kembali ke dalam mangkuk dengan pelan.

Hujan di luar masih turun, rintiknya mengenai genteng.

Anya melirik Arhan yang diam.

"Kenapa diam, Han?"

Arhan menghela napas pelan, lalu akhirnya berani menatap Anya.

"Tapi ada satu hal yang tidak dipunya gadis itu, An," kata Arhan.

"Apa?" tanya Anya.

"Di dalam novel itu tidak ada karakter pria yang mendampingi gadis itu," jawab Arhan. "Dia merawat bunga sendirian. Dia makan sendirian. Bahagia sendirian."

Arhan menggeser kursinya lebih dekat.

"Sedangkan kamu, kamu punya aku. Kamu punya Arhan di sini."

Anya sedikit terheran. Alisnya sedikit terangkat.

"Kenapa tidak ada karakter prianya, Han?" tanya Anya. "Kenapa tidak kamu tulis ada pria yang menemani dia? Bukannya akan lebih bagus kalau ada yang menemani?"

Arhan tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak tadi pagi.

"Karena prianya sudah direbut sama kamu, An," jawab Arhan.

Anya mengerutkan keningnya.

"Maksudnya?"

"Pria yang seharusnya menemani gadis itu sudah ada di sini," kata Arhan sambil menunjuk dirinya sendiri. "Sudah jadi milik kamu. Jadi aku tidak bisa tulis dia di novel."

Anya terdiam beberapa detik, lalu mengerti. Ia tersenyum, senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Ada tawa kecil yang keluar dari bibirnya.

"Arhan bisa aja," kata Anya sambil menggeleng pelan. "Jadi aku yang merebut tokohnya ya?"

"Iya," jawab Arhan. "Kamu pencuri paling cantik. Jadi kamu tidak boleh iri sama dia."

Anya melanjutkan makannya dengan lebih lahap. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan. Bubur tanpa kacang itu perlahan habis di mangkuknya. Arhan pun ikut makan, meski buburnya sudah agak dingin dan mengental karena lama didiamkan.

Hujan masih deras. Suara rintiknya sekarang lebih keras.

Setelah bubur mereka habis, Anya terlihat mengantuk. Matanya mulai berat, kepalanya mulai terkantuk-kantuk di meja makan.

"An, ngantuk ya? Mau tidur di kamar?" tanya Arhan.

Anya menggeleng pelan.

"Aku mau di sini aja, Han. Di dapur. Dengar hujan. Temenin aku di sini aja."

Arhan mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Ia menggeser kursi sofa kecil yang ada di ruang tamu, sofa empuk tempat Anya biasa duduk. Dengan tenaga, ia membawa kursi sofa itu ke dapur, meletakkannya di dekat jendela, tidak jauh dari meja makan dengan tiga vas bunga.

Anya pindah dari kursi kayu ke sofa empuk itu dengan bantuan Arhan. Arhan membantu Anya berbaring dengan posisi setengah duduk, mengambil selimut tipis dari kamar dan menyelimutinya sampai dada.

Dalam hitungan menit, Anya tertidur pulas. Napasnya pelan dan teratur. Tangannya memeluk selimut tipis itu. Wajahnya terlihat damai.

Lalu Arhan kembali menulis naskah novelnya. Ia kembali duduk di kursi kayu di depan meja makan, di depan laptop yang masih menyala.

Ia menatap Anya yang tertidur di sofa sejenak, memastikan selimutnya tidak jatuh, lalu mulai mengetik. Ia melanjutkan paragraf keempat novel Bunga dengan hati-hati. Ia menulis tentang gadis itu yang pagi ini kebunnya terasa tidak sesepi biasanya. Jari-jarinya bergerak pelan agar suara ketikan tidak membangunkan Anya yang tertidur.

Suasana terasa sepi meskipun di luar hujan deras. Dapur itu hanya berisi suara ketikan laptop yang pelan dan suara napas Anya yang teratur dari sofa. Tiga vas bunga di atas meja diam, tidak bergerak. Bau bubur yang sudah habis masih tertinggal samar di udara.

Tiba-tiba saja, saat melihat ke arah Anya untuk memastikan selimutnya tidak jatuh, Arhan terkejut. Sofa yang tadi diduduki Anya, yang tadi ada Anya tertidur dengan selimut tipis, kini kosong. Selimut tipis itu tergeletak berantakan di atas sofa, ujungnya menjuntai sampai menyentuh lantai. Tidak ada Anya di dalamnya.

Anya tidak ada.

Arhan terkejut. Jantungnya langsung berdegup kencang. Laptopnya hampir terjatuh karena ia berdiri terlalu cepat, kursinya berderit keras dan jatuh ke belakang.

"An? Anya?" panggil Arhan dengan suara panik.

Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang masih deras di luar, menghantam genteng.

Lalu ia bergegas ke kamar mandi, membuka pintu kamar mandi dengan cepat. Lampu kamar mandi mati, tidak ada orang di dalam. Lantainya kering dan tidak ada jejak kaki basah.

"An? Kamu di kamar mandi? Anya?"

Tidak ada jawaban.

Lalu ia berlari ke kamar tidur. Pintu kamar tidur ia buka dengan kasar. Kasur dengan seprai biru muda itu rapi, kosong. Tidak ada Anya di sana. Ia membuka lemari, memeriksa kolong tempat tidur dengan panik, tidak ada siapa-siapa.

"Anya? An! Kamu dimana? Jangan bercanda, An!" teriak Arhan, suaranya mulai pecah dan panik. Tenggorokannya tercekat.

Anya tetap tidak ada. Rumah itu sepi, hanya ada Arhan yang berdiri di tengah kamar dengan napas memburu dan mata berkaca-kaca. Suara hujan terdengar semakin keras, seolah mengejek keheningan di dalam rumah.

Dengan langkah gontai dan jantung yang masih berdegup keras, Arhan kembali ke dapur. Napasnya masih tidak teratur. Matanya langsung tertuju pada meja makan.

Arhan menatap vas yang berisi bunga lily putih yang terlihat layu dan mengering. Vas kecil bening yang tadi berisi satu bunga putih yang tegak dan bersih, kini bunganya menunduk lesu. Kelopak putihnya yang tadi segar kini mengering di ujungnya, warnanya berubah menjadi kecoklatan dan keriput. Batangnya yang tadi tegak kini layu dan miring menyentuh bibir vas.

Padahal baru beberapa jam yang lalu Anya sendiri yang memasukkannya dengan hati-hati dengan kedua tangannya yang kurus.

Dan di bawah vas itu, ada genangan kecil air yang tumpah, seperti baru saja tersenggol seseorang yang pergi terburu-buru meninggalkan meja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!