Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi itu, ruang belajar keluarga Lin sudah dipenuhi berbagai perlengkapan, meja rendah dengan kertas, kuas, dan tinta, sebuah guqin tersandar di sudut ruangan, kecapi bersenar tujuh yang biasa dimainkan kaum terpelajar untuk menenangkan hati.
Guru Wen, seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi dan sikap tegas, berdiri di depan ruangan, tangannya terlipat di depan dada. Reputasinya sebagai guru etiket terbaik di ibu kota bukan tanpa alasan, dia pernah mengajar beberapa putri bangsawan yang kini menjadi istri pejabat tinggi.
Lin Zhaoyi duduk di sisi ruangan, siap membantu jika diperlukan, meski dalam hatinya dia sudah menyiapkan diri untuk pagi yang panjang dan melelahkan.
"Nona Yuxin," Guru Wen membuka dengan nada formal, "sebelum kita mulai, saya perlu tahu sejauh mana pengetahuan Anda. Mari kita mulai dengan yang paling dasar. Bagaimana cara duduk yang benar di hadapan tamu kehormatan?"
Yuxin duduk tenang, punggungnya tegak sempurna, kedua tangan terlipat rapi di pangkuan, lututnya sejajar tanpa celah yang tidak pantas. "Punggung tegak tanpa bersandar, pandangan tidak boleh mengembara, dan jarak antara lutut harus cukup sempit untuk menunjukkan kesopanan, tapi tidak terlalu rapat hingga terlihat kaku."
Guru Wen mengangkat alis, sedikit terkejut dengan jawaban yang begitu tepat dan lancar. "Bagus. Sekarang, bagaimana urutan mengangkat cangkir teh di hadapan tamu yang lebih tua?"
"Tangan kanan mengangkat cangkir, tangan kiri menopang alasnya," jawab Yuxin tanpa ragu. "Cangkir diangkat sedikit di atas dada, bukan sejajar mulut secara langsung, sebagai tanda hormat sebelum diminum. Setelah itu, cangkir diletakkan kembali tanpa suara, tidak dihentakkan."
Lin Zhaoyi, yang sejak tadi diam memperhatikan dari sudut ruangan, mulai mengerutkan kening. Dia ingat betul, semalam sebelum sesi ini dimulai, dia sempat berpikir akan menghabiskan berhari-hari mengajari adiknya dari nol.
Guru Wen melanjutkan, kali ini nadanya sedikit lebih menantang. "Bagaimana dengan tata cara memberi hormat pada seorang pangeran, dibandingkan pada seorang menteri?"
"Untuk menteri, cukup membungkuk dari pinggang dengan sudut tiga puluh derajat, tangan kanan menutup tangan kiri di depan dada," Yuxin menjelaskan. "Untuk pangeran, tambahkan sedikit tekukan lutut, kepala menunduk lebih dalam, dan tidak boleh menatap wajahnya langsung sampai dipersilakan."
Ruangan itu sunyi sesaat. Guru Wen menatap Yuxin lama, mencoba mencari celah keraguan di balik jawaban itu, tapi tidak menemukan apa-apa selain ketenangan yang meyakinkan.
"Nona Yuxin," ucapnya akhirnya, suaranya berubah lebih hati-hati, "boleh saya tanya, di mana Anda mempelajari semua ini? Setahu saya, Anda baru beberapa hari kembali ke keluarga Lin."
Yuxin sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam ini sejak awal. "Keluarga yang membesarkanku memang bukan keluarga bangsawan, Guru Wen. Tapi mereka sering menerima tamu-tamu penting untuk urusan dagang, dan aku selalu diminta mengamati dari kejauhan, mempelajari bagaimana orang-orang berkelas bersikap. Aku juga sering membaca kitab-kitab tata krama yang dipinjamkan tetangga, hanya untuk mengisi waktu luang."
Alasan itu terdengar masuk akal, cukup sederhana untuk tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh, meski jauh dari kenyataan sesungguhnya, bahwa semua ilmu ini sudah tertanam dalam dirinya sejak kehidupan sebelumnya, dari bertahun-tahun mengamati etika istana sebagai calon istri yang dipersiapkan untuk mendampingi Putra Mahkota, sebelum semuanya hancur oleh fitnah.
Lin Zhaoyi akhirnya angkat bicara, suaranya masih menyimpan keheranan yang belum sepenuhnya reda. "Kau bahkan belum pernah aku ajari satu kalipun soal ini, Yuxin."
"Aku hanya beruntung punya ingatan yang cukup baik, Kak," jawab Yuxin, tersenyum tipis.
Guru Wen menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil, campuran antara lega dan sedikit kagum. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan ke bagian yang lebih rumit. Bagaimana dengan permainan guqin? Bisakah Anda memainkan sesuatu?"
Dia mengisyaratkan pada alat musik di sudut ruangan.
Yuxin menatap guqin itu sejenak, jarinya sudah gatal untuk menyentuh senar-senarnya, mengingat kembali lagu-lagu yang dulu sering dia mainkan untuk menghibur diri di malam-malam sunyi sebelum ajalnya tiba.
Dia bangkit dan melangkah mendekati alat musik itu, duduk dengan posisi yang sempurna, kedua tangan terangkat siap memetik senar pertama.
Jemarinya menyentuh senar pertama, dan nada yang keluar begitu bersih, begitu tepat, sampai Guru Wen yang sudah bertahun-tahun mengajar guqin pun sedikit terperanjat.
Yuxin memainkan sebuah melodi sederhana namun dalam, iramanya pelan di awal seperti tetesan air yang jatuh satu-satu, lalu perlahan mengalir lebih cepat, seperti sungai kecil yang menemukan jalannya menuruni bukit. Jarinya bergerak lincah di antara senar, tidak ragu sedikit pun, seolah tubuhnya sudah menghafal setiap gerakan itu jauh sebelum pikirannya sempat memerintah.
Lin Zhaoyi, yang sejak tadi menahan napas tanpa sadar, akhirnya menghembuskan napas panjang begitu nada terakhir menghilang di udara.
Guru Wen duduk diam beberapa saat, tangannya sedikit gemetar di pangkuan. "Lagu apa itu, Nona Yuxin? Aku belum pernah mendengarnya."
"Aku menciptakannya sendiri," jawab Yuxin pelan, menurunkan tangannya dari senar. "Dulu, saat merasa sendirian, aku sering memainkan sesuatu untuk menenangkan pikiran. Lama-lama menjadi kebiasaan."
Jawaban itu separuh benar, separuh menyembunyikan kepedihan yang tidak akan pernah dia ceritakan pada siapapun, bahwa lagu itu sama persis dengan yang pernah dia mainkan di malam-malam terakhir sebelum kematiannya, saat dia duduk sendirian di kamar sambil menghitung hari sebelum algojo datang menjemput.
"Luar biasa," gumam Guru Wen, menggeleng pelan seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Aku sudah mengajar banyak putri bangsawan selama bertahun-tahun, Nona Yuxin, tapi jarang sekali aku menemukan seseorang dengan kepekaan nada seperti ini tanpa pernah diajari secara formal."
Guru Wen bangkit, menggeser guqin itu kembali ke sudut ruangan, lalu meletakkan selembar kertas kosong di atas meja rendah, bersama kuas dan tinta yang sudah disiapkan sejak awal.
"Kalau begitu, mari kita coba yang lain," ucapnya, masih memperhatikan Yuxin dengan seksama. "Buatlah sebuah syair, Nona Yuxin. Temanya bebas, tapi harus mengikuti aturan rima dan jumlah karakter yang benar."
Yuxin menatap kertas kosong itu sejenak, lalu mengambil kuas, mencelupkannya ke tinta dengan gerakan yang sudah terlatih sempurna.
Tangannya bergerak pelan namun mantap, menorehkan karakter demi karakter dengan goresan yang rapi dan seimbang, jauh dari kekakuan seorang pemula yang baru belajar memegang kuas.
Lin Zhaoyi mendekat, membaca setiap karakter yang muncul di atas kertas seiring Yuxin menulis. Syair itu berbicara tentang seekor burung yang terkurung dalam sangkar emas, terlihat indah dari luar namun tidak pernah benar-benar bebas, sampai suatu hari sangkar itu retak dan burung itu menemukan jalan keluar, meski sayapnya sudah lama lupa cara terbang.
Ketika Yuxin selesai, dia meletakkan kuasnya perlahan, membiarkan tinta mengering di atas kertas.
Guru Wen mengambil kertas itu, membacanya dalam diam, matanya bergerak pelan dari baris pertama sampai terakhir. Ruangan itu hening cukup lama, hanya suara angin yang menyelinap lewat jendela terdengar jelas.
"Rima ini sempurna," gumam Guru Wen akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Dan maknanya... begitu dalam untuk seseorang yang katanya baru belajar menulis dari mengamati tamu dagang."
Dia mengangkat wajahnya, menatap Yuxin lama. "Nona Yuxin, syair ini bukan sekadar rangkaian kata indah. Ini terasa seperti pengalaman seseorang yang benar-benar merasakan terkurung, bukan sekadar imajinasi."
Lin Zhaoyi berdiri diam di samping Guru Wen, membaca ulang syair itu sekali lagi, alisnya semakin berkerut. "Sangkar emas yang retak," gumamnya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Yuxin, apa maksud syair ini sebenarnya?"
Yuxin menatap kedua orang di depannya, memilih kata-katanya hati-hati. "Mungkin aku hanya menuliskan apa yang kurasakan selama bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah ini, Kak. Terlihat baik-baik saja di luar, tapi selalu merasa terkurung oleh keadaan yang tidak bisa kupilih sendiri."
Jawaban itu cukup masuk akal untuk meredakan kecurigaan, meski tidak sepenuhnya menjelaskan kedalaman rasa yang sebenarnya tertuang dalam setiap karakter itu, rasa dari seseorang yang pernah benar-benar mati terkurung oleh fitnah, sebelum akhirnya menemukan kesempatan kedua untuk terbang.
Guru Wen meletakkan kertas itu perlahan, menghela napas panjang. "Aku sudah mengajar puluhan murid selama bertahun-tahun, Nona Yuxin. Tapi jarang sekali aku menemukan seseorang yang bisa menulis dengan kedalaman emosi seperti ini, apalagi dalam usia semuda dirimu."
"Kau benar-benar penuh kejutan, Yuxin," ucap Lin Zhaoyi pelan, matanya masih menyimpan tanya yang belum terjawab sepenuhnya. Tapi kali ini, dia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, membiarkan misteri itu tetap tersimpan untuk sementara waktu.