NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAJAH DI BALIK SENYUM.

Langkah gue berhenti mendadak. Jantung berdegup kencang sampai rasanya mau melompat keluar. Orang yang berdiri di depan gue itu—yang selalu tersenyum ramah, yang selalu ada saat gue butuh—bukan orang lain. Itu Sasa.

"Sa... lo?" gue mundur selangkah, suara nyaris hilang.

Sasa menunduk pelan, senyumnya yang biasanya cerah sekarang pudar sama sekali. "Gue tahu lo pasti kaget. Tapi dengerin gue dulu, Na..."

"Lo anak Valerian kan?" potong gue cepat, tangan mengepal erat di sisi tubuh. "Selama ini lo yang di belakang semua ini?"

Sasa mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Gue anak Valerian Kirana. Itu benar. Tapi gue nggak pernah mau menyakiti lo, Na. Percaya deh."

"Terus Callysta? Pesan-pesan itu? Semua pengawasan itu—siapa yang ngatur?"

"Dia yang menyuruh gue," Sasa suaranya pecah. "Ayah gue. Dia bilang... katanya keluarga lo sama keluarga Arka yang udah nyakiti keluarga kita dulu. Katanya gue harus masuk ke kehidupan lo, cari kelemahan, lalu hancurkan pelan-pelan."

Gue diam mematung. Semua kebaikan, semua tawa, semua saat dia membela gue—apakah semuanya pura-pura?

"Terus kenapa lo nggak lakukan?" tanya gue pelan, mata panas. "Kenapa lo tetap baik sama gue?"

Sasa melangkah mendekat sedikit, suaranya bergetar. "Karena gue sadar... lo bukan musuh gue. Lo teman gue yang tulus. Gue nggak bisa nyakiti lo, Na. Semakin lama bareng lo, semakin gue ngerasa bersalah banget. Ayah gue marah besar pas tahu gue nggak jalanin rencananya. Itulah kenapa Callysta dikirim—untuk memaksa gue nurut."

Jadi Callysta datang karena Sasa menolak? Itu artinya...

"Valerian tahu lo melawan dia?"

Sasa mengangguk pelan. "Dan sekarang gue takut. Dia bisa melakukan apa saja buat bikin gue kembali ke rencananya... atau hilangin gue sama sekali."

Tiba-tiba terdengar suara motor menderu kencang dari arah jalan utama. Dua motor hitam melambat di depan mereka, pengendaranya pakai helm tertutup, menatap tajam ke arah mereka.

"Na, lari!" Sasa menarik tangan gue.

Belum sempat bergerak, suara lain terdengar—deru motor yang gue kenal betul. Arka datang diikuti Raka dan Zian, memotong jalan kedua motor itu. Arka melompat turun duluan, langsung berdiri di depan gue, punggungnya tegak menahan.

"Mundur!" bentak Arka, suaranya dingin mengancam.

Pengendara motor itu saling pandang, seolah berkomunikasi tanpa suara, lalu tiba-tiba melaju pergi dengan cepat.

Arka langsung berbalik, memeriksa gue dari ujung kepala sampai kaki. "Lo nggak apa-apa? Mereka sentuh lo?"

"Nggak... gue nggak apa-apa," gue menatapnya, lalu ke arah Sasa yang masih berdiri tertunduk. "Arka... ini Sasa. Dia..."

"Gue tahu," potong Arka pelan. "Gue sudah curiga dari kemarin. Tapi gue nggak nyangka lo sendiri yang mau bicara duluan."

Sasa mengangkat wajah, terkejut. "Lo tahu?"

"Gue tahu siapa ayah lo," jawab Arka tenang. "Tapi gue juga tahu lo nggak pernah menyakiti Aluna. Itu sebabnya gue biarkan lo tetap di sisinya."

Mata Sasa melebar. "Lo... lo nggak benci gue?"

"Kenapa harus benci?" Arka menatapnya lurus. "Lo memilih benar. Dan itu jauh lebih berani daripada apa pun."

Sore itu kita bertiga duduk di bangku taman yang sepi. Sasa menceritakan semuanya—bagaimana Valerian membesarkannya dengan kebencian, bagaimana dia menyusun rencana balas dendam, dan bagaimana dia perlahan-lahan menyadari bahwa apa yang diajarkan ayahnya mungkin bukan kebenaran seutuhnya.

"Ayah gue bilang Ayah lo sama Daddy Arka yang mengkhianati dia," kata Sasa pelan. "Tapi kalau itu benar... kenapa mereka nggak pernah bicara buruk soal Valerian? Kenapa mereka selalu diam dan sedih kalau namanya disebut?"

Gue menatap Arka. "Mungkin kita harus cari tahu kebenaran yang sebenarnya. Bukan cuma dari satu sisi."

Arka mengangguk. "Besok kita bicara sama Ayah dan Bunda. Bersama-sama. Dan Sasa... kalau lo mau, ikut kita. Kehadiran lo bisa bikin mereka terbuka lebih banyak."

Sasa menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Gue mau. Gue mau tahu kebenaran yang sebenarnya."

Saat berpisah, Arka mengantar gue pulang. Di depan pintu, dia memegang tangan gue erat.

"Lo nggak takut sama Sasa?" tanyanya lembut.

"Gue takut dulu," jawab gue jujur. "Tapi sekarang gue yakin... dia teman kita. Dan dia butuh bantuan kita."

Arka tersenyum tipis, mengusap pipi gue pelan. "Lo baik banget, Aluna. Terlalu baik buat dunia yang keras ini."

"Kebersamaan kita yang bikin kita kuat, kan?" gue senyum balik.

Arka mengangguk, lalu menarik gue pelan ke pelukannya. "Iya. Kita hadapin semuanya bareng-bareng. Nggak ada yang sendirian."

Malam itu gue tidur dengan perasaan campur aduk. Ada kecemasan, tapi juga harapan. Sasa bukan musuh. Dan itu artinya kita punya sekutu di dalam—seseorang yang tahu cara berpikir Valerian.

Tapi di kejauhan, di tempat yang gelap, seseorang menatap layar ponselnya dengan wajah dingin. Sebuah pesan dikirim ke nomor yang sudah lama disimpan:

"Dia memilih mereka. Kalau begitu, biarkan dia melihat apa yang sesungguhnya terjadi."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!