NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANGAT YANG MENYISA SISA

Rasa bersalah adalah beban yang paling berat dipikul saat malam tiba. Sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Bayangan Kaito yang berjalan sendirian menerobos gerimis tanpa payung—dengan baju basah kuyup demi melindungiku—terus berputar di kepala seperti rekaman pita kaset yang rusak.

Begitu matahari pagi menyelinap di antara celah gorden kamar, aku langsung bangkit dari tempat tidur.

Aku melangkah ke dapur, memotong sayuran, dan merebus kaldu gurih untuk membuat sup miso hangat. Ibu yang melihatku berjelajah di dapur pagi-pagi sekali hanya tersenyum mengerti. Ibu tahu betul, sejak kami masih berseragam sekolah dasar, sup Miso buatan rumah adalah "obat penyembuh" ampuh yang selalu kami nikmati berdua setiap kali salah satu dari kami merasa tidak enak badan.

Setelah memasukkannya ke dalam kotakan bento kedap udara yang tertutup rapat, aku membalut tubuhku dengan kardigan tebal, lalu berjalan kaki menyusuri gang kompleks rumah kami.

Rumah Kaito hanya berjarak lima bangunan dari rumahku. Setiap sudut jalanan ini menyimpan jejak kaki kami sewaktu kecil—tempat kami melompati genangan air, tempat Kaito mengajariku mengenali warna daun, dan bangku taman tempat Kaito pertama kali mengeja huruf bahasa isyarat dengan jemari kecilnya yang gemetar.

Aku mengetuk pintu pagar rumah Kaito dengan perasaan membuncah.

Pintu terbuka, memperlihatkan ibu Kaito yang mengenakan celemek memasak. Wajah wanita paruh baya itu langsung cerah begitu melihatku berdiri di depan pintu.

"Hana! Ya ampun, ayo masuk, Nak," sambut ibu Kaito hangat, jemarinya mengusap bahuku dengan penuh kasih sayang. Beliau tahu betul kondisi duniaku yang sunyi, sehingga beliau selalu berbicara dengan gerakan bibir yang sangat jelas dan perlahan agar aku bisa membacanya. "Kaito ada di kamarnya di lantai atas. Semalam dia pulang dengan pakaian basah kuyup dan batuk-batuk. Sekarang badannya agak demam."

Jantungku serasa merosot ke dasar perut. Kaito demam.

Aku membendung rasa cemas, mengangguk cepat, lalu berjalan perlahan menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Pintu kamar Kaito sedikit terbuka. Dengan hembusan napas panjang untuk menetralkan degupan jantungku, aku mendorong pintu itu pelan-pelan.

Kamar Kaito masih sama seperti dulu. Aroma khas buku tua, kayu pinus, dan wangi pelembut pakaian yang menenangkan langsung menyambut indra penciumanku. Di dinding kamar, masih tertempel papan buletin kayu yang dipenuhi foto-foto masa kecil kami—foto saat kami menaiki sepeda roda tiga, foto kelulusan SMP, hingga foto kami tertawa bersama di Festival Musim Panas dua tahun lalu.

Kaito sedang duduk di meja belajarnya yang mengarah ke jendela. Ia mengenakan sweater rajut abu-abu longgar. Bahunya tampak sedikit merosot, dan sesekali tubuhnya bergetar pelan karena batuk kecil.

Aku melangkah mendekat, lalu meletakkan bento di meja kecil dekat tempat tidurnya. Suara denting halus wadah makanan itu membuat Kaito menoleh terkejut.

Ia buru-buru memakai kacamatanya yang tergeletak di meja. Matanya yang agak kemerahan membelalak pelan begitu melihat keberadaanku di dalam kamarnya.

[Hana?] jemari Kaito bergerak pelan, menyuarakan rasa terkejutnya. [Kenapa kamu ke sini pagi-pagi sekali?]

Aku tidak menjawab lewat isyarat. Aku justru melangkah maju, meraih kursi kayu kecil dari sudut ruangan, lalu menariknya tepat ke sebelah kursi Kaito. Aku duduk di sampingnya—begitu dekat, hingga aku bisa merasakan hawa hangat yang terpancar dari tubuhnya yang sedang demam.

Aku membuka ikatan kain pembungkus bento, membuka tutupnya, lalu menyodorkan mangkuk sup hangat dari dalam kotak bento yang asapnya masih mengepul halus ke hadapannya.

[Aku membuatkan sup Miso hangat,] tanganku menari di udara dengan gerakan yang lembut dan penuh tekad. [Aku tahu kamu pasti sakit karena kehujanan semalam. Kamu harus menghabiskannya, Kaito. Ini perintah.]

Kaito menatap mangkuk sup di tangannya, lalu beralih menatap mataku. Keheningan yang tercipta di antara kami di dalam kamar sepi itu tidak lagi terasa mencekam seperti di stasiun semalam. Ada rasa nostalgia yang mengaliri udara perasaan familiar yang sudah menjadi bagian dari hidup kami selama belasan tahun.

Sudut bibir Kaito perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat tulus.

Ia mengambil sendok, lalu mencicipi kuah sup itu perlahan. Seulas napas lega berhembus dari bibirnya. Ia mengangkat jemarinya, [Rasanya masih sama seperti dulu. Enak sekali. Terima kasih, Hana.]

Rasa lega yang luar biasa menjalar di dalam dadaku. Aku tersenyum lebar, merasa seolah-olah Kaito yang dulu sahabat kecilku yang paling hangat telah kembali.

Aku duduk bersandar di kursi, memperhatikannya makan dengan lahap. Momen berduaan ini terasa begitu berharga dan intim. Tidak ada bising suara kota, tidak ada gangguan notifikasi ponsel, dan tidak ada sosok Haruto yang berdiri di antara kami. Hanya ada aku, Kaito, dan aroma sup hangat di pagi hari.

Aku meraih sejumput tisu, lalu dengan refleks mengulurkan tangan untuk menyapu tetesan kuah di sudut bibir Kaito.

Gerakanku terhenti sejenak saat jemariku menyentuh kulit pipinya yang hangat. Kaito pun mematung. Matanya menatap lurus ke dalam mataku dari balik lensa kacamatanya. Jarak wajah kami begitu dekat, hingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri di dalam manik matanya yang jernih.

Duniaku serasa berhenti berputar. Debaran halus di dadaku muncul kembali sebuah debaran yang sangat berbeda dari rasa berdebar saat aku bersanding dengan Haruto. Debaran ini tidak memicu kepanikan, melainkan membawa rasa aman dan damai yang begitu dalam.

Namun, saat aku hendak menarik tanganku kembali, mataku tidak sengaja menangkap tumpukan kertas yang berserakan di atas meja belajar Kaito tepat di samping laptopnya yang menyala.

Di bagian atas lembaran itu, tertulis judul berhuruf tebal: FORMULIR PENDAFTARAN PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA & BEASISWA INTERNASIONAL.

Di bawahnya, kolom-kolom data diri Kaito sudah terisi lengkap dengan tanda tangannya. Dan di bagian tujuan program, tertera nama sebuah universitas ternama di luar negeri dengan durasi pendidikan selama tiga tahun penuh.

Tanganku yang tadinya memegang tisu mendadak lemas dan terjatuh ke pangkuan.

Kaito menyadari arah pandanganku. Dengan gerakan tenang dan perlahan, ia merapikan lembaran-lembaran kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam map cokelat dan menutupnya rapat-rapat.

Aku menatap Kaito dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jemariku bergerak tremor di udara, memprotes dalam sunyi. [Tiga tahun, Kaito? Kamu benar-benar akan pergi sejauh itu?]

Kaito meletakkan mangkuk supnya yang sudah kosong. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat lembut tatapan seseorang yang sudah merelakan segalanya.

Jemarinya kembali menari di udara, membentuk gerakan isyarat yang begitu halus, indah, tetapi terasa sangat menghancurkan hatiku.

[Dunia ini sangat luas, Hana. Selama ini aku selalu berada di sisimu, menjaga duniaku yang kecil,] isyarat Kaito bergerak lambat, seolah mengeja setiap kata dengan kepasrahan. [Tapi sekarang... kamu sudah menemukan warnamu sendiri. Kamu sudah punya Haruto yang bisa membuatmu tersenyum lebar. Dan aku rasa... sudah saatnya aku juga berjalan menemukan duniaku sendiri.]

Aku menggelengkan kepala keras-keras. Air mata yang sejak tadi kubendung akhirnya menetes menembus pipiku. Aku ingin berteriak, ingin memohon padanya untuk tidak pergi, ingin mengatakan bahwa warna yang kubutuhkan sebenarnya adalah keberadaannya.

Namun, Kaito hanya mengulurkan tangannya yang hangat. Jemari tangannya mengusap air mata di pipiku dengan sangat lembut—sebuah sentuhan pamungkas yang menyadarkanku bahwa masa kecil kami telah benar-benar usai, dan jarak di antara kami kini sudah terlalu jauh untuk dilompati.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!