NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Masa Lalu

Langit sore di atas kota perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan ketika Rian mendorong kaca pintu masuk perpustakaan pusat kota. Udara sejuk berpendingin ruangan langsung menyambut penciumannya, bercampur dengan aroma khas kertas tua dan lem penjilid buku yang menenangkan. Pengunjung perpustakaan tampak lengang; hanya ada segelintir orang yang duduk di balik meja baca panjang sambil menekuni lembaran-lembaran literatur tebal.

Rian melangkah tanpa suara menyusuri lorong rak buku nomor empat puluh dua, area khusus yang menyimpan arsip sejarah tata kota dan arsitektur klasik era kolonial. Matanya menyapu deretan punggung buku bersampul kulit imitasi yang tertata rapi, mencari referensi tambahan untuk proyek riset digital yang sedang ia kerjakan bersama pihak yayasan.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki seseorang yang mengenakan sepatu hak datar terdengar mendekat dari ujung lorong sebelah. Seorang gadis berambut sebahu dengan kacamata berbingkai tipis muncul dari balik rak, membawa tumpukan buku sejarah tebal di dalam pelukannya. Begitu melihat sosok Rian berdiri tenang di dekat rak arsip, gadis itu—Kirana—menghentikan langkahnya sejenak, lalu tersenyum lebar.

"Rian? Wah, kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini," sapa Kirana dengan nada riang, sengaja merendahkan volume suaranya agar tidak mengganggu ketenangan pengunjung lain. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan separuh tumpukan buku di tangannya ke atas meja baca terdekat. "Sudah hampir seminggu kau tidak terlihat mampir ke perpustakaan ini. Sibuk mengurus olimpiade sains di sekolah elitmu itu?"

Rian menoleh pelan, membalas senyuman Kirana dengan anggukan kepala yang sopan. "Tidak juga, Kirana. Hanya ada beberapa penyesuaian jadwal riset tambahan dan urusan administrasi kecil yang harus diselesaikan di sekolah."

Kirana mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Rian dengan tatapan menyelidik bercampur geli. "Urusan administrasi kecil? Rian, anak-anak di seluruh kota ini sedang membicarakan berita besar tentang runtuhnya sindikat kriminal pimpinan Viktor Tan, dan bagaimana sistem data digital korporasi yayasan sekolahmu mendadak membersihkan diri dari para petinggi korup. Dan kau menyebut semua itu sebagai urusan kecil?"

Rian tetap mempertahankan ekspresi wajah yang datar, mengambil sebuah buku tua bersampul usang dari rak di hadapannya lalu membalik-balik lembarnya perlahan. "Berita di media massa sering kali melebih-lebihkan realitas yang sebenarnya, Kirana. Apa yang runtuh karena dibangun di atas fondasi kebohongan pada akhirnya akan roboh dengan sendirinya, terlepas dari siapa pun yang kebetulan berada di dekatnya."

Kirana menggelengkan kepalanya pelan, kagum sekaligus gemas dengan cara pandang Rian yang selalu filosofis dan dingin. "Kau benar-benar tidak pernah berubah, ya? Selalu tenang, misterius, dan berbicara bagaikan seorang pengamat tua yang melihat dunia dari menara gading." Ia kemudian menghela napas pendek, ekspresi wajahnya sedikit melunak. "Omong-omong... terima kasih, Rian."

Rian menghentikan gerakan jarinya di atas halaman buku, lalu mendongak menatap Kirana dengan sebelah alis terangkat. "Terima kasih untuk apa?"

"Untuk semuanya," jawab Kirana tulus, menatap lurus ke dalam mata Rian. "Meskipun kau tidak pernah mengakuinya secara langsung, aku tahu bahwa kejatuhan kelompok-kelompok arogan yang sering menindas orang-orang lemah di luar sana tidak lepas dari andil pemikiranmu. Kehadiranmu membawa perubahan yang jauh lebih baik bagi lingkungan sekitar kita."

Rian menutup buku tua di tangannya, lalu menyimpannya kembali ke tempat semula di rak. Ia menatap Kirana dengan senyuman tipis yang hangat. "Manusia tidak perlu menjadi pahlawan yang mencuri perhatian publik untuk menegakkan keadilan, Kirana. Cukup pastikan bahwa di dalam prinsip hidupmu sendiri, kau tidak pernah berkompromi dengan kebohongan."

Sebelum Kirana sempat menanggapi kalimat bermakna itu, ponsel di dalam saku ransel Rian bergetar pelan. Rian merogoh ponsel tersebut dan melirik layar kecilnya. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal, namun menggunakan protokol enkripsi tingkat tinggi yang terhubung langsung dengan sistem keamanan privat Hartawan Kusuma.

[ Pesan: "Tuan Rian, maaf mengganggu waktu senggang Anda. Direktur Hartawan ingin mengundang Anda secara pribadi untuk secangkir teh di ruang kerjanya malam ini pukul delapan. Ada dokumen penting terkait arsip sejarah yayasan lama yang ingin beliau tunjukkan kepada Anda." ]

Rian membaca pesan itu sekilas, lalu mengetik balasan singkat: [ 'Baik, saya akan datang tepat waktu.' ]

Ia mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku.

"Ada pesan mendesak lagi dari urusan pekerjaanmu?" tanya Kirana penasaran melihat gestur Rian.

"Ya, ada undangan singkat untuk membahas beberapa arsip lama," jawab Rian jujur namun tetap menjaga kerahasiaan detailnya. Ia melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya. "Hari sudah semakin petang, Kirana. Aku harus pamit pulang terlebih dahulu sebelum perpustakaan ini tutup."

Kirana mengangguk maklum, meskipun ada secercah rasa enggan untuk mengakhiri percakapan mereka. "Baiklah, Rian. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah dengan semua tumpukan buku dan riset itu."

"Terima kasih, Kirana. Sampai jumpa di lain waktu," ucap Rian singkat, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari area perpustakaan.

Tepat pukul delapan malam, mobil sedan hitam mewah yang dikemudikan oleh pengawal pribadi Hartawan Kusuma berhenti dengan mulus di depan gedung utama yayasan Bina Bangsa. Rian turun dari mobil, merapikan jaket kasualnya, lalu melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang terbuka secara otomatis menyambut kedatangannya.

Di lantai sepuluh, suasana ruang kerja Direktur Utama tampak sangat tenang. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, menerangi meja kerja kayu jati tempat Hartawan Kusuma sedang duduk meneliti selembar dokumen kuno berkertas kekuningan.

Begitu mendengar suara ketukan pintu, Hartawan mendongak dan tersenyum ramah menyambut tamunya. "Silakan masuk, Rian. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu datang ke sini malam-malam begini."

Rian melangkah masuk dengan tenang, lalu duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja Hartawan. "Tidak masalah, Tuan Hartawan. Anda bilang ada dokumen penting terkait arsip sejarah yayasan lama yang ingin ditunjukkan?"

Hartawan menggeser lembaran kertas kuno di atas meja hingga tepat berada di hadapan Rian. Dokumen itu adalah akta pendirian yayasan asli dari tahun sembilan puluhan, yang di dalamnya mencantumkan nama-nama pendiri awal serta catatan pendanaan independen.

"Aku menemukan dokumen ini di brankas arsip rahasia yang selama ini ditutup rapat oleh kelompok Viktor Tan dan dewan pengurus lama," jelas Hartawan dengan nada serius namun tenang. "Di balik seluruh intrik korupsi dan perebutan kekuasaan yang baru saja kita selesaikan, ternyata yayasan ini didirikan di atas visi yang sangat mulia: memberikan akses pendidikan tinggi bagi anak-anak berprestasi tanpa memandang latar belakang sosial."

Rian membaca barisan kalimat di dalam akta kuno tersebut dengan teliti. Melalui Mata Dewa Pengamat, ia dapat merasakan sisa-sisa energi niat tulus dari para pendiri asli yang tertanam kuat pada serat kertas tua itu—sebuah kontras yang tajam dengan bagaimana kelompok korup sempat menyalahgunakannya selama bertahun-tahun.

"Visi yang sangat bagus, Tuan," komentar Rian tenang. "Sayangnya, niat baik sering kali disalahartikan oleh mereka yang hanya melihat institusi sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri."

Hartawan mengangguk setuju, menatap remaja di hadapannya dengan sorot mata penuh rasa hormat yang mendalam. "Dan berkat bantuanmulah, Rian, visi asli itu akhirnya bisa diselamatkan dari kehancuran total. Mulai minggu depan, setelah urusan administrasi ini selesai, aku ingin menunjukmu sebagai ketua kehormatan dewan penasihat siswa untuk program digitalisasi perpustakaan dan arsip sejarah yayasan."

Rian tersenyum tipis, menerima kehormatan itu dengan sikap yang tetap bersahaja. "Sebuah kehormatan, Tuan Hartawan. Saya akan memastikan bahwa arsip-arsip sejarah ini dikelola dengan transparansi penuh agar tidak ada lagi celah bagi pihak mana pun untuk memanipulasinya."

Setelah perbincangan malam yang produktif itu selesai, Rian pamit undur diri dan melangkah keluar dari gedung megah yayasan menuju halte bus malam. Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar sangat stabil, menyatu dengan ketenangan malam kota yang perlahan beristirahat.

Bagi Rian, setiap lembaran sejarah dan tantangan baru bukanlah beban, melainkan batu loncatan berikutnya dalam bentangan jalan panjang seorang kultivator yang merajut takdirnya sendiri di tengah dunia modern.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!