Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu buatan ibu tiri : 06
“Tatiana!” hardik Yarash, suaranya terdengar menekan, menghindari membentak. Ia menurunkan Ardan ke lantai.
“Minta maaf sekarang juga!” sorot matanya mengeras, tak mengenal kata sanggahan.
Gadis remaja berkulit putih, rambut dikuncir tinggi, mencebik. Hatinya meradang, tetapi kaki tetap melangkah mendekat ke arah wanita berdiri tenang. Memandang biasa saja ke arahnya.
“Aku minta maaf,” ketusnya tidak ikhlas. Dia langsung memalingkan wajah.
Saniya menggeleng sangat samar, menghentikan Yarash yang berkeinginan kembali menegur putrinya.
Lirikan Saniya menelisik penampilan gadis cantik memakai seragam sekolah — rok kotak lebar selutut, kemeja putih polos dengan dasi berpita, Tatiana memiliki kemiripan dengan Yarash, terutama rambut tebal, bibir bagian bawah tipis.
“Hai … Tatiana,” sapanya dengan nada tidak dibuat-buat dekat, terkesan formal.
“Jangan sok akrab deh!” sahutnya secepat mungkin.
“Iya ih, ibu tili sok aklab.” Ardan mendekati sang kakak, jemari gempalnya hendak meraih tangan, tetapi langsung ditepis.
“Jangan deket-deket kamu! Nanti kesenggol dikit langsung nangis. Aku juga yang disalahin Papi. Dasar cengeng.” Tatiana melenggang pergi, berjalan dengan langkah menekan lantai. Dia menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Bibir Ardan sudah maju, air mata siap tumpah. “Aku tu ndak cengeng, cuma suka nangis aja. Ya kan, Pi?”
Bila Tatiana pemantik amarah, maka Ardan kebalikannya.
“Anak Papi hebat banget.” Yarash menggendong balitanya yang tidak suka memakai baju. Lewat tatapan mata, meminta maaf ke Saniya atas sikap Tatiana.
Saniya mengangguk seraya tersenyum, seakan hal biasa mendapatkan perlakuan kurang mengenakan seperti baru saja terjadi.
“Papi mau susu, manisnya dibanyakin!” Pelukan pada leher ayahnya dieratkan.
Suasana canggung berangsur-angsur mencair, para asisten rumah tangga kembali mengerjakan tugas mereka.
Suci, pengasuhnya Ardan, mencoba membujuk si kecil banyak maunya.
“Dek, sama Mbak —”
“Aku tu bukan Dek, tapi Abang-abang.” Punggung tangannya mengelap cairan bening yang keluar dari mata dan hidung, lalu ditempelkan ke kemeja ayahnya.
“Kamu kerjakan yang lain saja, Sus.” Yarash mengubah posisi putranya.
Melihat ingus dan air mata berlomba-lomba menghiasi wajah balita yang menahan tangis, Saniya mengambil tisu dari dalam tas, lalu menarik selembar dan diberikan ke suaminya.
Srooottt!
“Ih, asin.” Ardan terkekeh, baru saja menyedot masuk ingusnya.
Saniya mengulum senyum, tidak merasa jijik, tetapi tak pula memuji.
“Gak boleh disedot seperti itu, Ardan. Jorok,” tegur sang ayah.
“Nanti dicuci sampai belsih,” balas Ardan, kata jorok diartikan kotor olehnya.
“Kamu ini ya, selalu ada aja jawabannya.” Yarash menggelitik perut bulat, keras Ardan.
Dia tidak tahan geli, tetapi enggan meminta ayahnya menyudahi aksi gelitik, malah tertawa kencang.
“Mami, ayo Papi ajari buat susu terenak untuk Ardan.” Mata kirinya mengedip, mengode Saniya yang sejenak termangu.
Ardan langsung merespon, tangan kanan merangkul leher ayahnya, sementara tatapan tertuju pada ibu tiri.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Yarash untuk mengelap ingus sudah mencapai bibir atas putranya.
“Gak mau susu buatan ibu tili, gak enak,” katanya sambil menggelengkan kepala.
“Memangnya Ardan sudah pernah mencicipi susu buatan Tante?” Saniya membesarkan hati, belajar untuk berdamai dengan keadaan, menerima statusnya sebagai ibu tiri.
“Belum,” jawab balita yang 3 bulan lagi genap berumur empat tahun.
“Kalau gitu ayo kita cobain, biar kamu bisa kasih nilai yang adil,” ucap Yarash.
“Apa itu adil?” otaknya mulai kritis terhadap kata-kata baru didengar nya.
Yarash merangkul pundak Saniya tanpa meminta izin dulu, mendorong sedikit bertenaga agar wanita baru saja sah menjadi istrinya, melangkah bersama ke area dapur luas.
Saniya yang memberi pemahaman, mencari kalimat mudah dimengerti anak-anak, dan perumpamaan sederhana langsung dicontohkan.
“Adil itu, berbagi makanan dalam jumlah yang sama besarnya. Semisal sepotong roti dibagi dua. Atau seperti ini.” Saniya mengambil dua bungkus permen rasa buah-buahan dari dalam tasnya, lalu diberikan ke Yarash.
Yarash langsung paham, satu bungkus permen tadi dikasih ke Ardan yang matanya berbinar cerah.
“Paham, Nak?” tanya sosok ayah, begitu sabar menunggu jawaban putranya.
“Gak ngelti.” Ardan bergegas membuka bungkus permen yang bagian ujungnya dipilin. Gerakannya sangat cepat, dan ayahnya terlambat mengingatkan.
“Katanya tadi mau susu, kenapa permennya langsung dimakan?” tegur pria memiliki sorot mata teduh jika bercengkrama dengan putranya.
“Lupa.” Kaki Ardan berayun-ayun di meja minibar dapur.
Saniya berdiri dalam jarak aman, agar bisa menjaga Ardan jika sewaktu-waktu bergerak spontanitas. Meja pantry ini termasuk tinggi.
Yarash membawa termos air panas, lalu teko air dingin, botol susu, dan kaleng penyimpanan bubuk susu formula ke meja pantry.
“Ardan suka susu hangat dengan rasa sedikit manis. Takarannya tiga sendok, dan airnya jangan sampai penuh,” bisiknya seraya mengalihkan perhatian sang putra agar tidak mengetahui ilmu baru saja dibagi ke istrinya.
Saniya bertukar posisi dengan Yarash, terlebih dahulu dia mencuci tangan, lalu mengeringkan dengan handuk lembut.
“Papi, nanti lasa susunya pahit.” Lirikannya sangat tajam, menyaksikan wanita baru saja dikenalnya sedang memasukkan bubuk susu ke dalam botol.
“Kalau pahit, biar Papi yang minum. Setuju?” Tangan Yarash terkepal menyerupai tinju.
Ardan melakukan hal sama, lalu menumbuk punggung tangan besar ayahnya.
“Selesai!” Saniya memutar botol susu menggunakan kedua telapak tangannya.
“Sini aku cobain.” Dia sudah bersiap dengan kedua tangan terulur hendak meraih botol susu.
Namun, Saniya tidak langsung memberikan. “Ardan kan baru saja makan permen rasa jeruk, pasti lidahnya terasa asem. Sebaiknya minum air putih dulu biar bisa ngerasain manis susu buatan Tante.”
Senyum tipis tersungging di bibir pria memeluk putranya dari arah belakang. ‘Saya akui kamu cukup pintar.’
“Ndak mau. Aku gak suka ail putih,” ia mulai kesal.
“Kalau gak mau, biar Papi yang minum. Dari warnanya saja, terlihat sangat manis,” suaranya bersemangat, membuat putranya cemas.
“Sana ambilin ail mulah itu!” Jari telunjuk pendeknya menuding teko air.
“Air putih bukan air murah, Ardan. Akan tetapi, air paling sehat didunia. Dokter saja menyuruh kita banyak minum air putih supaya sehat, bisa makan manis tanpa takut sakit gigi, sakit perut,” kata Saniya memberi pemahaman.
“Benelan, Pi?” Ardan memalingkan muka ke samping, menuntut jawaban ayahnya, tidak langsung percaya penjelasan sang ibu.
“Bener. Makanya Papi sehat, karena suka minum air putih.”
“Aku mau minum ail mahal, Pi!” Dia berusaha melepaskan belitan tangan ayahnya, setelah berhasil, Ardan merangkak di meja pantry mendekati teko air.
Saniya menuang air ke dalam gelas dari bahan plastik, lalu memberikan ke balita duduk bersila, cuma memakai pampers.
Suara Ardan minum air terdengar nyaring. Sepasang orang dewasa saling melirik seraya melempar senyum.
Susu pun diberikan, dan langsung dicicipi anak kecil yang meyakini rasanya pasti tidak enak.
“Gimana, manis atau pahit rasanya?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...