Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 06
Cras!
Jleb!
Suara benturan pedang, tusukan tubuh, dan juga sabetan pedang terdengar saling beradu.
Darah menyiprat kemana-mana, nampak mengerikan. Tapi bagi Lucien, hal itu sangat menyenangkan. Apalagi saat dia berhasil menebas kepala milik pimpinan suku bar-bar.
"Siapa yang mau mengantarkan kepalanya padaku, kemari lah."
Perkataan Lucien begitu dingin. Sambil memegang kepala milik pimpinan suku bar-bar yang darahnya masih menetes.
Semua mata menatap ngeri ke arah Lucien. Wajah dan tanganya penuh dengan darah, yang mana bukan miliknya. Suku bar-bar yang masih tersisa, langsung berlutut di depannya.
"Kami mohon belas kasihan Anda Baginda Kaisar, pemilik benua Kallistar."
Suara mereka yang berbicara dengan serempak, terdengar menggema di hutan yang gelap nan rimbun itu. Tubuh mereka bergetar karena takut. Sang pemimpin sudah tak ada lagi, jika tidak menyerah dan berlutut memohon, maka nyawa mereka pun akan melayang dengan mudahnya.
Reputasi Lucien sebagai dewa kematian di medan perang dan juga tiran kejam, benar-benar bukan hanya omong kosong belaka. Semua itu dibuktikan dengan tindakannya saat ini.
"Norman urus sisa nya. Aku malas," ucap Lucien. Dia melemparkan potongan kepala itu ke suku Bar-Bar. Semua merinding saat melihat kepala itu menggelinding dengan mata yang membelalak.
Hia!
Lucien membalikkan tubuhnya, menaiki kuda yang dibawakan oleh salah satu prajuritnya, lalu segera meninggalkan medan perang.
Angin yang menerpa wajah kaisar berusia 27 tahun sama sekali tak terasa. Baginya angin hanyalah angin yang tak memiliki makna apapun. Ia menghentikan laju kudanya dan menengadahkan wajahnya ke langit yang luas.
"Kenapa rasanya begitu kosong? Apa yang aku cari sebenarnya? Apa benar hanya wanita itu, atau yang lain."
Kegundahan yang dirasakan ternyata membelenggu hatinya dalam kurun waktu yang sangat lama. Pencarian terhadap wanita yang ia temui malam itu dan yang selalu muncul dalam mimpinya, susah dihentikan. Tapi isi pikiran Lucien tetap lah ada di sana.
Sebenarnya pada malam itu, Lucien tak sepenuhnya hilang kesadaran. Dia masih bisa merasakan tangannya yang menyentuh kulit tubuh nan halus itu. Lucien juga mengingat bagaimana wanita itu mendessah nikmat di bawah kungkungannya.
Hanya saja, kesadarannya hilang setelah ambruk saat pelepasan hasratnya selesai memuncak.
"Sial!" umpat Lucien saat menyadari benda miliknya yang ada di bawah sana kembali berdenyut saat mengingat kejadian malam itu.
Selalu begini, hasrat Lucien naik setiap mengingat malam panas itu. Tangannya yang menyentuh setiap kulit tubuh wanita itu, seolah bisa dirasakannya sekarang. Seperti baru kemarin.
"Dimana kamu berada dan siapa kamu sebenarnya?"
Lucien merasa kacau dengan hati dan kepalanya. Dia yang biasanya bersikap tak acuh dengan orang lain, kini benar-benar terusik hanya karena satu wanita.
Sedangkan itu, meski di bawah langit yang sama dan menghidup udara yang sama namun tempat yang berbeda, seorang wanita dengan rambut keemasan tengah tertawa bersama dengan anak laki-laki yang memiliki rambut sama dengannya.
Wanita itu menggendong sang anak di belakang sambil memanggang roti.
"Untung kemampuan ku di kehidupan sebelumnya tak hanya soal otot saja. Waktu iseng yang kugunakan membuat roti, berguna juga di sini," gumamnya lirih.
"Idup cebelumnya, itu apa Ibu?"
Aaah
Catty menepuk keningnya perlahan. Dia lupa bahwa anaknya meski baru berusia 2 tahun itu cukup pintar.
"Gen itu, kenapa sangat kental sekali?" gumamnya lagi.
"Gen itu apa, Bu?"
Catty hanya tersenyum simpul, dia tak lagi bicara karena mungkin anaknya akan bertanya lagi.
"Leo, sekarang Leo turun dulu ya. Ibu mau memanggang roti."
"Iyah."
Catty menurunkan Leoric di ranjang. Dia mengusap lembut kepala putranya itu dan memandanginya untuk beberapa saat.
Catty tak menyangka, bahwa di kehidupannya kali ini, dia akan memiliki seorang anak. Jika dulu dia banyak memiliki anak buah, sekarang dia hanya punya satu anak yang ia lahirkan dari rahimnya.
"Ibu sayang Leo."
"Leo jua cayan Ibu."
Kecupan kecil berlabuh di pipi Catty. Rasa sayang yang tak terbendung besarnya itu tak pernah disangka akan dimilikinya.
Hidupnya yang dulu keras, tanpa takut terhadap apapun kini berbeda. Catty memiliki ketakutan jika itu menyangkut putranya.
Malam itu, tiga tahun yang lalu, Catty berhasil lari. Dia membawa harta yang menempel pada tubuhnya. Perhiasan yanh berupa kalung, anting, gelang dan cincin, dijual ke pasar gelap. Ia juga membuat identitas lain. Rambut hitamnya juda diubah agar tak bisa ditemukan.
Catty berada di desa terpencil, dimana penduduknya hanya sekitar 300 orang. Di sana dia hidup dengan menjual roti.
Satu hal yang tak pernah ia duga, dirinya mengandung akibat kejadian malam itu.
Awalnya Catty mengingkari, dan dia berusaha untuk membuang bayi dalam kandungannya. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan seorang anak di tengah pelarian?
Begitulah pikiran Catty, namun seiring berkembangan janinnya, rasa cinta Catty tumbuh. Dia merawat kandungannya dan melahirkan dengan baik. Beruntung orang-orang di desa juga menerimanya.
"Catty, roti mu apakah sudah matang?"
"Ya Em, sebentar lagi. Masuklah. Kalau kau baik hati, bantu lah aku menatanya agar para pembeli bisa datang."
Emi, wanita berusia 30 tahunan itu selalu membantu Catty. Sejak pertama kali Catty datang, Emi sudah sangat menyambut. Terlebih saat tahu kalau Catty mengandung, Emi merawat Catty dengan baik.
Wanita muda yang sungguh sangat kasihan, begitulah anggapan Emi saat itu.
"Ughh, aku selaly berliur setial kali mencium aroma wangi dari roti-roti mu. Kau memang pembuat roti terbaik, Catty."
"Ibu, telbaik."
Emi tertawa renyah mendengar celoteh dari Leoric, dia mencubit gemas pipi bocah laki-laki itu, lalu membantu Catty memajang roti-roti yang sudah makan.
Dalam hitungan menit setelah roti-roti itu selesai dipajang, beberapa pembeli langsung datang menyerbu, dan roti buatan Catty lagi-lagi habis terjual.
"Kamu tak berniat menambah jumlahnya?" tanya Emi.
"Tidak Em, bagiku itu sudah cukup. Aku tak mau terlalu sibuk karena pasti akan menyita waktu ku bersama dengan Leo. Ah ya, ini roti mu. Aku beri kau gratis."
Di awal-awal, Emi selalu menolak. Tapi Catty akan memaksa wanita itu untuk menerima. Alhasil sekarang Emi langsung menerima pemberian Catty dengan senang hati.
"Kamu mau langsung belanja?"
"Iya."
"Kalau begitu, biarkan Leo bersama ku."
Catty menggeleng, dia tak ingin meninggalkan Leo. Hari ini entah mengapa Catty ingin selalu bersama dengan putranya.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, panggil Rodi jika butuh bantuan membawakan barang. Kau tahu kan dia bekerja di pasar."
"Iya Em, terimakasih."
Catty menggendong Leo, ia lalu bergegas ke pasar agar tam terlalu kesorean. Semua orang di pasar mengenal Catty, mereka juga langsung menyiapkan apa yang dibutuhkan Catty saat wanita muda itu datang.
"Cudah, Bu?"
"Sudah mari kita pulang."
"Yeeeh pulaaan."
Catty menggendong Leoric sambil membawa barang belanjaannya. Dua tangan itu penuh namun Catty sama sekali tak terlihat lelah.
"Aku masih tetap kuat, hahaha," ucap Catty lirih. Kali ini tak ada pertanyaan dari putranya, karena Leo ternyata tertidur di gendongannya.
Bruk!
"Oh maaf, saya tidak melihat Anda."
Mata Catty membulat sempurna saat melihat siapa sosok yang ditabraknya. Dia semakin kencang menggenggam barang bawannya. Kakinya mundur beberapa langkah.
"M-maaf Tuan. Saya tidak melihat."
Orang itu bergeming. Meski saat ini Catty menundukkan wajahnya, namun dia bisa merasakan tatapan tajam dari orang itu.
Catty bernafas lega saat pria itu melenggang pergi melewati dirinya. Dengan langkah yang cepat dan nyaris berlari, Catty segera kembali ke rumah.
"Kenapa dia di sini? Ah bukan itu. Kenapa aku harus bertemu kembali dengan Kaisar tiran itu?"
TBC