NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 – Jake dan Sunoo Membuka Mata Jay

Malam itu, lapangan Darul Hikmah cukup sepi. Lampu kuning dari tiang masjid menerangi sebagian halaman. Rumput masih basah karena hujan sore tadi.

Jay duduk sendirian di pinggir lapangan, masih memakai sarung dan baju koko. Sebuah kitab terbuka di pangkuannya, tapi sejak tadi tidak ada satu halaman pun yang benar-benar dia baca.

Sejak Kiai Hasyim memintanya menjaga jarak dari Muthi'ah, Jay memang lebih sering menyendiri.

Bukan karena dia marah.

Dia cuma sedang berusaha memahami batas.

Kalau terlalu dekat, Muthi'ah bisa kembali jadi bahan omongan.

Kalau terlalu jauh...

Entah kenapa, Jay juga merasa bersalah.

Dari arah asrama putra, Jake dan Sunoo keluar membawa dua bungkus gorengan.

Jake menunjuk ke arah lapangan.

"Itu kan orangnya."

Sunoo menyipitkan mata.

"Siapa?"

"Siapa lagi? Jay."

Sunoo melihat Jay yang duduk sendirian.

"Sejak kapan lu jadi pengamat manusia?"

"Sejak teman gue kelihatan kayak orang habis kehilangan dompet."

Sunoo menahan tawa.

Mereka berdua akhirnya berjalan menghampiri Jay.

"Jay."

Jay menoleh.

"Ngapain kalian?"

"Duduk," jawab Sunoo santai. "Masa lu doang yang boleh bengong di lapangan?"

Sunoo langsung duduk di sampingnya. Jake ikut duduk sambil membuka bungkus gorengan.

Jay kembali melihat kitabnya.

Jake memperhatikan wajah Jay beberapa detik.

"Lu lagi mikirin Muthi'ah, ya?"

Tangan Jay berhenti membalik halaman.

"Enggak."

Jake langsung tertawa.

"Jawaban paling bohong yang pernah gue dengar."

Sunoo ikut terkekeh.

Jay menghela napas.

"Gue cuma lagi mikirin keadaan."

Jake menyodorkan gorengan.

"Keadaan yang namanya Muthi'ah?"

Jay mengambil gorengan itu tanpa menjawab.

Hening beberapa saat.

Lalu Jake bicara lebih serius.

"Jay, gue mau ngomong jujur. Jangan tersinggung."

Jay mengangguk.

"Ngomong aja."

"Lu tuh sejak disuruh jaga jarak sama Muthi'ah malah jadi terlalu jauh."

Jay menatap Jake.

"Maksudnya?"

"Lu sampai menghindar dari semua kegiatan yang ada hubungannya sama dia. Rapat Haflah lu serahkan ke Heeseung sama Jungwon. Lewat depan kelas putri aja sekarang muter jauh."

Jay diam.

"Lu pikir itu cara paling aman?" lanjut Jake.

"Iya."

Sunoo menggeleng pelan.

"Aman buat siapa?"

Jay tidak langsung menjawab.

Sunoo melanjutkan.

"Lu memang harus menjaga jarak. Itu benar. Tapi menjaga jarak bukan berarti menghilang."

Jay menunduk.

Jake mengambil satu gorengan.

"Apalagi setelah Muthi'ah habis kena fitnah. Dia dijauhi orang-orang, sempat tidak berani ikut Haflah, bahkan nilainya ikut turun. Sekarang dia baru mulai bangkit."

Jay menggenggam kitabnya sedikit lebih erat.

"Gue tahu."

"Nah, masalahnya," kata Jake, "dia mungkin tahu lu peduli. Tapi dia juga bisa berpikir lu menjauh karena lu sudah tidak peduli."

Jay langsung mengangkat kepala.

"Dia pernah bilang begitu?"

"Enggak," jawab Jake. "Tapi kalau gue jadi dia, gue juga bisa mikir begitu."

Sunoo mengangguk.

"Lu harus bedain antara menjaga batas dan membuat seseorang merasa ditinggalkan."

Jay terdiam.

Kalimat itu seperti kena tepat di kepalanya.

Beberapa detik kemudian, Jay berkata pelan,

"Terus gue harus gimana?"

Jake tersenyum.

"Nah. Akhirnya nanya juga."

Sunoo menyenggol bahu Jake.

"Jangan sok bijak."

Jake tertawa kecil.

"Gue serius."

Dia menatap Jay.

"Lu dan Muthi'ah sudah sepakat dari awal buat saling mengenal dengan adab, kan?"

Jay mengangguk.

"Berarti kesepakatan itu masih berlaku. Lu tidak perlu chat pribadi. Tidak perlu ketemu berdua. Tidak perlu melakukan hal yang bikin orang lain curiga."

Jake berhenti sebentar.

"Tapi lu tetap bisa menunjukkan kalau lu mendukung dia."

"Contohnya?"

"Contohnya, beasiswa."

Jay langsung terdiam.

Sunoo tersenyum.

"List beasiswa yang lu kasih lewat Heeseung itu sudah bagus."

Jay menatap mereka bergantian.

"Kalian tahu?"

Jake tertawa.

"Jay, lu kira kami bodoh?"

Sunoo ikut tertawa.

"Apalagi Heeseung sempat cerita kalau ada seseorang yang minta dia memberikan informasi beasiswa kepada Zahra."

Jay mengusap wajahnya.

"Dia cerita ke kalian?"

"Enggak detail," jawab Sunoo. "Kami cuma tahu karena Heeseung memang cerita sedikit. Dan tulisan tangan lu juga gampang dikenali."

Jake menambahkan,

"Rapi, miring sedikit ke kanan, tabelnya terlalu lengkap. Siapa lagi yang bikin daftar beasiswa sampai ada deadline dan persyaratan segala?"

Jay akhirnya tersenyum malu.

"Jangan dibahas."

Jake tertawa.

"Tapi ada satu yang kurang."

"Apa?"

"Keberanian memberi kejelasan."

Jay mengerutkan kening.

Jake menjelaskan,

"Lu sudah membantu Muthi'ah, tapi dia tidak tahu pasti siapa yang mendukung dia. Lu bisa tetap anonim kalau memang itu yang paling aman. Tapi lewat Zahra atau Heeseung, lu bisa menyampaikan satu pesan sederhana."

"Pesan apa?"

Sunoo menjawab,

"Misalnya, 'Saya mendukung kamu mengejar kuliah. Tidak perlu terburu-buru soal apa pun. Fokus saja menyelesaikan sekolah dan mengejar cita-cita.'"

Jay diam.

"Itu saja?" tanyanya.

"Itu saja," kata Sunoo. "Tidak perlu romantis."

Jake mengangguk.

"Dan jangan bilang, 'Saya akan selalu menunggu kamu' atau semacamnya. Kalian masih dalam proses saling mengenal. Jangan bikin Muthi'ah merasa punya beban baru."

Jay mengangguk pelan.

"Iya. Gue ngerti."

Jake tersenyum.

"Nah, akhirnya otak lu nyala."

Jay langsung melempar ujung bungkus gorengan ke arah Jake.

"Berisik."

Sunoo tertawa.

"Tapi serius, Jay."

Jay kembali menatap lapangan.

Sunoo melanjutkan dengan suara lebih lembut.

"Muthi'ah sekarang lagi belajar berdiri lagi. Jangan sampai niat lu menjaga dia malah membuat dia merasa sendirian."

Jay terdiam cukup lama.

Dia mengingat wajah Muthi'ah ketika duduk di perpustakaan.

Mengingat bagaimana gadis itu dulu begitu percaya diri menjawab pertanyaan di kelas, lalu berubah diam setelah gosip menyebar.

Mengingat bagaimana dia pernah ingin mundur dari Haflah karena takut dilihat orang.

Jay menghela napas.

"Gue cuma tidak mau kehadiran gue malah bikin hidup dia lebih susah."

Jake menepuk bahunya.

"Justru itu. Makanya jangan hilang. Kalau lu benar-benar peduli, bantu dia dengan cara yang tidak menambah masalah."

Jay mengangguk.

"Gue peduli."

Sunoo tersenyum.

"Ya, kami tahu."

Jake berdiri sambil menepuk sarungnya.

"Dan satu lagi."

Jay menatapnya.

"Jangan sok kuat sendirian."

Jay mengernyit.

"Apaan?"

"Lu juga manusia. Kalau bingung, ngomong sama orang. Jangan tiap malam duduk di lapangan sambil pura-pura baca kitab."

Sunoo langsung tertawa.

Jay melihat kitab yang sejak tadi masih terbuka di halaman yang sama.

Dia ikut tertawa kecil.

"Ketahuan, ya?"

"Banget," jawab Jake.

Mereka bertiga akhirnya berdiri dan berjalan kembali menuju asrama.

Di tengah perjalanan, Jay berhenti sebentar.

Dia menatap ke arah gedung putri dari kejauhan.

Bukan untuk mencari Muthi'ah.

Bukan juga untuk mendekat.

Hanya sebentar.

Lalu dia berkata pelan,

"Besok gue bicara sama Heeseung."

Jake tersenyum.

"Nah. Itu baru Jay."

Jay mengangguk.

Malam itu dia sadar satu hal.

Dinding yang dia bangun untuk menjaga Muthi'ah ternyata terlalu tinggi.

Bukan berarti dinding itu harus dihancurkan.

Dia hanya perlu membuat sebuah pintu kecil.

Pintu untuk memberi kejelasan.

Bukan pintu untuk pacaran.

Bukan pintu untuk mendekat tanpa batas.

Tapi pintu untuk mengatakan:

"Aku masih mendukungmu. Kejar mimpimu dulu. Tidak perlu terburu-buru."

Dan untuk menyampaikan itu, Jay tahu siapa yang bisa dia percaya.

Heeseung dan Zahra.

Dua orang yang selama ini menjadi perantara paling aman di antara dirinya dan Muthi'ah.

Untuk pertama kalinya sejak diminta menjaga jarak, Jay merasa dia tidak harus memilih antara peduli atau menjaga adab.

Ternyata dia bisa melakukan keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!