Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawancara
Hari ini, Ino yang mau mengantar istrinya bertemu dengan kepala rumah sakit. Meskipun nanti saat wawancara, Cia sendiri yang berhadapan dengan kepala rumah sakit tersebut. Cia datang membawa surat pemberitahuan sekaligus undangan wawancara tersebut.
Tiga puluh menit Cia ada di ruangan kepala rumah sakit. Didalam ruangan selain wawancara buat bekerja juga memberitahukan Cia tentang mengikuti seleksi perwira karier selain membahas gajinya. Meskipun umur masih muda dua puluh tiga tahun, namun Cia tidak berminat untuk mengikuti seleksi tersebut.
Besok hari Cia resmi menjadi pegawai kontrak di rumah sakit angkatan laut. Cia tidak menyangka bahwa Mersi juga sudah bekerja di rumah sakit tersebut sebagai ahli gisi sesuai bidang ilmunya. Jadi tugasnya di pantry.
"Bagaimana sayang?"
"Mas... Ternyata Mersi juga kerja disini. Di rumah sakit ini. Adek ngak tahu, kalau saja adek tahu, adek ngak mau kerja disini."
"Kenapa??"
"Dia kasar mas."
"Kalau dia berani kasari kamu sayang. Mas akan proses dia."
Cia sudah lanjut ke perusahaannya. Karena hari ini perusahaan akan mengekspor dua kontainer yang berisis ikan. Jadi Cia hanya menurunkan suaminya di kantor intel dan Cia lanjut ke kantor yang lain.
"Max bisa berbicara."
"Siap komandan."
"Tadi Cia baru diterima di apotek rumah sakit. Dan dia menyesal keterima disana, saat melihat istri kamu. Kamu pasti mengerti kenapa Cia istriku tidak mau bekerja disana." Max hanya tertunduk.
"Siap, tahu komandan."
"Aku mau Cia kerja di kesatuan ini, biar dekat dengan saya. Jadi tolong.... Beri penjelasan yang baik buat istri kamu. Dan tentu kamunya juga harus menempatkan diri kamu dengan baik jika bertemu Cia istri saya. Agar istrimu tidak cemburu dan marah kepadamu."
Ino memberi peringatan kepada Max dan istrinya agar tidak mencelakai istrinya. Peringatan ini, bukan main - main bagi Max. Dia juga tidak mau Mersi mamanya Arnold anaknya mengganggu kenyamanan dari Cia.
Max masih memikirkan perkataan komandan intelnya tadi. Dia akui, bahwa selama ini dia tidak bisa memberikan apa yang Mersi inginkan, yaitu perasaan cinta yang tulus. Karena selama ini, Max hanya mencintai sosok Gracia Anastasya perempuan yang dia pacari sejak masih duduk di bangku sekolah kelas sepuluh. Mereka berpisah karena Max yang egois dan tidak dewasa. Hawa napsu menutupi akal sehatnya. Hasil dari egois adalah Arnold anak laki - laki yang lahir karena berdasarkan hawa napsu.
Max masih menatap anak laki - lakinya yang mirip dengan dia. Baru setahun dia ada di kota ini, semenjak dia lahir. Setelah dia umur dua tahun baru dia dibawa ke Biak. Arnold berjalan kearahnya sambil memanggil papa. Max memeluk anaknya itu dan memohon maaf. Aksi Max ini dilihat oleh mamanya.
"Ini darah daging kamu. Meskipun kamu belum bisa mencintai mamanya, kamu harus menyayangi buah hati kamu."
"Iya ma."
"Dan mama minta, belajar untuk mencintai mamanya juga. Meskipun itu susah. Lupakan Cia, dia sudah bahagia bersama suaminya sekarang." Max hanya menangis.
Max dan mamanya berani berbicara seperti ini, karena Mersi masih di rumah sakit. Jam sembilan malam baru dia pulang. Meskipun sifatnya berbeda jauh dari Cia, namun orangtua Max mencoba untuk memahami anak mantunya ini.
"Iya ma, Max akan berusaha."
"Kamu berbuat dan kamu harus bertanggung jawab."
"Iya ma."
Malam ini, Max berusaha membangun komunikasi yang baik denga Mersi, mereka menikah sampai saat ini, Max tidak perna menyentuh Mersi dengan cinta kalaupun dia mau meluapkan hasratnya dia akan menggunakan pengaman dan hanya menggunakan tubuh Mersi sebagai sarana dia agar keinginan birahinya terpenuhi. Kemudian dia tidur cuek dengan apa yang di alami oleh Mersi istrinya. Karena memang tidak ada cinta di antara mereka.
Mersi merasa heran dengan sikap Max, namun dia berusaha menikmati apa yang sedang Max berikan. Namun lagi - lagi Max belum bisa memberikan yang terbaik kepada Mersi istrinya. Mersi kecewa namun dia berusaha tabah, karena mamanya sudah menasehatinya untuk menjadi istri yang sabar.
"Maafkan saya."
"Kamu pasti belum bisa melupakan Cia, kamu mancapai puncak, karena menghayal tubuh saya adalah tubuh Cia. Jujur Max."
"Kamu berlebihan Mersi. Ayo tidur saya kelelahan."
Max tidak tahu, bahwa sikapnya ini, membuat Mersi sangat membenci Cia sahabatnya.
Pagi jam delapan Cia sudah berada di tempat kerja. Tadi dia diantar oleh Ino suaminya menggunakan motor. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, banyak mata memandang ke arah mereka. Karena menurut tetangga di kompleks ini, Ino dan Cia adalah pasangan serasi.
"Pamer kemesraan sama suami, namun masih berharap suami orang." Cia menatap ke arah Mersi sahabatnya yang sedang membagi sarapan pagi pasien. Namun dia cuek dan berjalan menuju ruangannya. Satu minggu, satu bulan sampai lima bulan Cia bekerja sikap Mersi masih sama saja. Dia belum berubah, masih berpikir Cia adalag perebut suami orang. Sampai dia membangun cerita di kelangan pegawai rumah sakit. Cia mau melapor kepada suaminya Kapten Martinus Revelino Rehata, namun dia tahan.
"Pelakor........."
"Pelakor??? Maksud kamu saya."
"Iya kamu yang membuat suami saya cuek kepada saya."
"Mungkin mba perlu koreksi diri mba, kenapa suami mba bisa cuek..... Coba deh." Untung Ino cepat datang menjemput istrinya, sehingga dia bisa menghalangi tangan Mersi yang hendak menyentuh pipi merah ranum istrinya Gracia Anastasya. Akibat kata - katanya tadi.
"Sekali lagi saya melihat atau mendengar bahwa tangan kamu menyentuh tubuh istri saya. Kamu saya tuntut." Mersi sudah ketakutan keringat dingin mendengar suara Ino. Saat ini Ino sangat tegas, dengan tatapannya tajamnya.
Mersi kaget, dia melihat bagaimana seorang suami membela istrinya. Ino sudah memeluk tubuh istrinya.
"Sayang, lihat mas kalau dia tindas kamu lewat kata - kata nya atau mau secara fisik telepon mas. Ingat mas ngak mau kamu terluka."
Pertikaian antara Mersi dan Cia sampai ke telinga Max dengan cepat dia kesana, dan melihat istrinya sedang di tegur oleh Ino, komandannya. Dia langsung memohon maaf dan menarik tubuh istrinya menjauh dari pasangan suami istri itu juga orang - orang yang menonton.
"Kalau kamu mau diberhentikan dari pekerjaan ini. Silahkan membuat kekacauan." Max masih menarik tangan istrinya. Menuju kendaraan mereka untuk pulang.
"Ini semua karena kamu." Mersi berbicara sangat pelan dalam keadaan menangis. Dia menyalahkan Max atas apa yang terjadi saat ini.
"Saya sudah katakan kamu untuk jangan mencari masalah dengan Cia, istrinya komandan intel."
"Saya begini karena kamu, andai saja kamu bisa memberi satu persen perhatianmu yang dari seratus persen itu. Namun kenyataan, kamu masih belum bisa move on dari Cia."