【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25- Menepi Di balik Matras dan Retak yang di Mulai
Hari-hari setelah pengumuman itu berjalan seperti mimpi buruk yang lambat. Kelas X IPA 2 yang tadinya terasa seperti tempat paling nyaman di dunia mendadak berubah jadi ruangan paling menyiksa buatku.
Setiap kali mataku tak sengaja menangkap pemandangan Riski yang duduk dekat meja Nara, atau saat mereka mengobrol santai sambil tertawa kecil, ada rasa perih yang merayap tajam di dada. Tapi aku memilih untuk tidak membuat keributan. Aku bukan tipe cowok yang suka ngamuk-ngamuk gak jelas atau bikin drama di kelas. Aku memilih jalan seorang atlet: menarik diri dan diam.
Bangku belakang kelas kini jadi benteng pertahananku sendiri. Kalau jam istirahat tiba, aku lebih memilih keluar kelas bareng Diko, nongkrong di pinggir lapangan silat, atau tidur-tiduran di pojok perpus ketimbang harus melihat pemandangan yang meremukkan hati di dalam kelas.
Nara... kalau saja saat itu kamu bisa mendengar suara batinku dari masa depan, aku ingin menceritakan betapa melelahkannya hari-hari itu:
“Kamu mungkin mengira aku bakal langsung bikin masalah atau nyari musuh waktu kamu milih Riski. Tapi enggak, Ra. Aku memilih menepi dalam diam.”
“Hafalan Asmaul Husna dan Surat Yasin yang kuperjuangkan bermalam-malam di atas sejadah tidak kubuang sia-sia. Walau kamu tidak memilihku saat itu, ayat-ayat suci itu tetap jadi penenang terbaik buat hatiku yang hancur lebur. Aku belajar menerima takdir pahit dengan kepala tegak.”
Di tengah masa-masa patah hati itu, pelarian terbaikku cuma satu: matras latihan silat.
Porsi latihan pemusatan bersama Mas Teguh dari jam tiga sore sampai jam enam sore mendadak berubah jadi ajang "penyiksaan diri yang menyenangkan". Setiap pukulan, tendangan tombak, dan bantingan yang kulakukan di atas matras kuluapkan dengan tenaga penuh.
Mas Teguh sempat heran melihat intensitas latihanku yang melonjak drastis dan cenderung tanpa kenal lelah.
"Wih, semangatmu luar biasa banget sebulan terakhir ini, Sat! Auranya udah aura juara tanding nasional nih!" puji Mas Teguh usai sesi sparing berat di aula bawah.
Aku cuma tersenyum tipis, menyeka peluh dan darah segar akibat gesekan bibir yang robek di sudut mulut. "Biar gak karatan, Mas. Targetku piala kejuaraan pelajar bulan depan," jawabku singkat.
Di luar latihan silat, hubungan Nara dan Riski di kelas ternyata tidak seindah bayangan orang-orang. Sebagai anak yang jago tebar pesona, Riski ternyata punya tabiat asli yang mulai kelihatan setelah mereka jadian. Cowok itu mulai sering caper ke cewek-cewek lain, gampang emosian kalau keinginannya tidak dituruti, dan cenderung meremehkan urusan akademik yang sangat diandalkan oleh Nara.
Nara yang perfeksionis, teliti, dan terbiasa dengan cowok yang konsisten (seperti perjuanganku dulu) mulai sering kedapatan murung di mejanya. Beberapa kali aku melihat mereka berdebat kecil di depan pintu kelas. Riski tampak acuh tak acuh, sementara Nara melipat tangan di dada dengan raut wajah kesal.
Diko yang duduk di sebelahku sering kali menggelengkan kepala melihat pemandangan itu.
"Kelihatan banget salah pilihnya si Maknar itu, Sat," bisik Diko sambil mengunyah kerupuk. "Baru sebulan jadian udah sering kelihatan bete gitu. Beda banget pas jaman dia deket sama lu dulu."
Aku cuma melirik sekilas ke arah meja Nara, lalu kembali menatap buku catatan di depanku tanpa berkomentar apa-apa. Rasa sakit itu memang belum sepenuhnya hilang, tapi sisa-sisa kepedulian yang dulu ada kini tertutup oleh tembok kekecewaan yang kokoh.
Suatu sore menjelang jam pulang sekolah, saat sebagian besar anak sudah meninggalkan kelas, aku sedang membereskan buku-buku ke dalam tas ransel.
Tiba-tiba langkah kaki seseorang berhenti di samping mejaku. Aku mendongak. Nara berdiri di sana. Wajahnya kelihatan lelah, matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. Tidak ada lagi binar angkuh atau senyum galak khas Maknar yang tersisa.
"Satria..." panggil Nara pelan. Suaranya terdengar sangat hati-hati, seolah takut salah ucap.
Aku menghentikan tanganku yang memasukkan buku, lalu mendongak menatap matanya dengan tatapan tenang dan datar.
"Ada apa, Ra? Mau nanya soal materi silat?" tanyaku dingin, sengaja menjaga jarak.
Nara menelan ludah, meremas ujung rok abu-abunya. "Bisa kita ngobrol sebentar? Gak lama kok."
Aku menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Ngobrol soal apa lagi, Ra? Semua kan udah jelas. Kamu udah jadian sama Riski, dan aku juga lagi sibuk siapin kejuaraan silat."
Mendengar jawabanku yang blak-blakan, mata Nara berkaca-kaca. Ada getaran halus di bibirnya.
"Aku... aku cuma pengen ngomong makasih, Sat," bisik Nara lirih. "Makasih buat hafalan Asmaul Husna dan Surat Yasin yang dulu kamu perjuangkan. Walau... walau waktu itu aku milih jalan lain, aku tahu perjuanganmu tulus banget."
Aku menatap cewek di depanku ini dalam-dalam. Sisa rasa perih di dadaku tiba-tiba melunak, berganti dengan kelegaan yang tulus.
"Oh, itu," kataku tenang. "Gak perlu diungkit lagi, Ra. Hafalan itu bukan buat dipamerin atau ditagih ke orang yang salah. Hafalan itu bentuk tanggung jawabku sendiri di atas sejadah. Jadi, anggap aja lunas."
Nara menunduk, air matanya menetes pelan mengenai permukaan meja kayunya. "Kamu... kamu sebegitu marahnya ya sama aku, Sat?"
Nara... seandainya waktu itu aku punya keberanian untuk memelukmu dan membisikkan isi hatiku dari masa depan:
“Bukannya aku marah, Ra. Tapi aku sedang menyelamatkan kewarasan diriku sendiri. Kalau aku terus bertahan di dekatmu saat kamu sudah menjadi milik orang lain, aku cuma bakal menyiksa mentalku sendiri.”
“Roda waktu terus berputar. Pilihan yang kamu ambil hari itu adalah pelajaran buat kita berdua. Kamu berhak atas pilihanmu, dan aku berhak menata kembali kepingan hatiku di atas matras silat.”
"Bukannya marah, Ra," jawabku pelan, suaraku terdengar tulus tanpa ada benci sedikit pun. "Aku cuma pengen belajar ikhlas. Kamu udah milih jalanmu, dan aku juga lagi fokus ngebangun jalanku sendiri sebagai atlet."
Nara mendongak, menatap mataku lama sekali seolah mencari sisa-sisa perasaan yang dulu pernah kuberikan sepenuhnya buat dia. Tapi yang dia temukan cuma ketenangan dan kedewasaan baru yang terbentuk dari rasa patah hati.
"Sukses buat kejuaraan silatmu ya, Sat," ucap Nara pelan dengan suara bergetar.
"Makasih, Ra. Dan sukses juga buat hubunganmu sama Riski," balasku datar tapi sopan.
Nara membalikkan badan, berjalan pelan meninggalkan bangku belakang menuju pintu keluar kelas. Aku memandangi punggungnya yang perlahan menghilang di balik koridor.
Di sore hari itu, aku tahu babak pertama kisah kami sudah benar-benar tertutup rapat. Tapi di balik penutupan itu, aku bisa merasakan bahwa takdir belum selesai mempertemukan kami. Hubungan Nara dan Riski yang penuh retak perlahan-lahan mulai berjalan menuju jurang kehancurannya, dan saat itu tiba, aku akan berdiri di tempat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.