Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Jam menunjukkan pukul enam sore dan di jeda istirahat singkat itu, Aira berdiri di dekat sudut kulkas dapur, diam-diam menikmati manisan ceri yang segar dingin dengan wajah berbinar penuh kepuasan.
Dari balik kaca pengawasan, Lucas memperhatikan tingkah lucu calon istrinya itu dengan senyum tipis yang hangat.
Namun, kedamaian itu terusik ketika Rizal mendadak melintas dan menghentikan langkahnya di depan kulkas.
"Lho, Chef. Sejak kapan kulkas dapur kita penuh stok manisan ceri melimpah begini? Bukannya di menu kita tidak ada hidangan penutup yang pakai ceri sebanyak ini?" gumam Rizal garuk-garuk kepala penuh rasa penasaran.
Aira tersentak pelan, cepat-cepat menutup toples manisan ceri dan berbalik dengan wajah merona merah.
"Rizal! Kenapa kamu selalu kepo?! Ayo lanjut masak!" tegur Aira tegas dengan raut muka pura-pura galak.
"I-iya, Chef! Ampun!" sahut Rizal panik dan langsung melompat kembali ke depan kompornya.
Jam operasional restoran hotel sudah mendekati waktu tutup.
Suasana restoran mulai lengang, hanya tersisa beberapa tamu yang menyelesaikan makan malam mereka.
Tiba-tiba, pintu kaca restoran dibuka secara kasar. Sekelompok pria berbadan tegap dengan tato di lengan dan wajah sangar dimana preman suruhan Mila melangkah masuk dengan gaya angkuh.
PRANG!!
Salah satu preman sengaja menyenggol gelas air di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai, membuat beberapa pengunjung tersentak kaget.
"Mana pelayan di sini?! Lama sekali!" teriak si ketua preman dengan suara menggelegar, menepuk meja kayu dengan keras.
Staf pelayan dengan gemetar menghampiri meja mereka.
"M-maaf Pak, ada yang bisa kami bantu? Ini buku menunya."
"Tidak usah pakai buku menu!" potong sang preman kasar.
"Kami mau pesan mi! Tapi catat baik-baik syaratnya: mi ini dibuat tanpa tepung, dan tekstur mi-nya harus tidak kering dan tidak basah! Kalau tidak bisa buat, panggil Head Chef kalian keluar!"
Pesanan tidak masuk akal itu langsung diteruskan ke dapur melalui interkom.
Mendengar permintaan konyol yang jelas-jelas sengaja mencari keributan tersebut, emosi Lucas di ruang pengawasan seketika memuncak.
Urat di pelipisnya bertonjolan. Mengetahui ada bahaya yang mengintai Aira, Lucas berdiri dan hendak melangkah keluar untuk menghajar para preman itu sendiri.
Namun, Aira dengan cepat menahan lengan Lucas di pintu dapur. Ia menatap calon suaminya dengan tenang namun penuh ketegasan.
"Jangan, Pak Lucas. Kita turuti saja kemauan mereka." ucap Aira.
Mendengar perintah Aira untuk menuruti pesanan konyol itu, Rizal mengerutkan keningnya dalam-dalam. Wajahnya dipenuhi kebingungan tingkat tinggi.
"Tapi, Chef, mie apa di dunia ini yang dibuat tidak dari tepung? Kalau tidak pakai terigu atau beras, bahan dasarnya dari apa? Mana mungkin ada mi tanpa tepung, nanti hancur pas direbus!" protes Rizal dengan nada panik, sementara para koki lain turut mengangguk bingung.
Aira tidak panik sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, memancarkan aura seorang Head Chef master yang sangat menguasai keahliannya.
"Kalian semua tidak usah panik. Cukup duduk dan lihat aku memasak," ujar Aira tenang namun penuh wibawa.
Mendengar instruksi itu, Rizal, Arum, dan bahkan Lucas yang tadinya bersiap murka, memilih menurut.
Mereka mengambil kursi dan duduk mengelilingi area memasak utama, penasaran dengan trik apa yang akan dikeluarkan oleh sang Head Chef.
Aira melangkah ke arah chiller, mengambil beberapa ekor cumi-cumi segar berukuran besar.
Dengan gerakan pisau yang sangat cepat, rapi, dan terampil, ia membersihkan isi perut cumi.
"Pertama, kita ambil bagian daging tubuh cumi yang tebal dan putih bersih," jelas Aira sambil memperlihatkan bahan utamanya ke hadapan para staf yang menonton.
"Pastikan tinta dan kulit arinya terbuang bersih agar tampilannya sempurna."
Setelah daging cumi bersih tanpa sisa, Aira meletakkannya di atas cutting board kayu.
Menggunakan pisau dapur yang tajam bak silet, ia mulai mengiris tipis-tipis daging cumi tersebut secara memanjang dengan presisi tingkat tinggi—membuat lembaran-lembaran tipis menyerupai helai mi pipih berukuran seragam.
"Bahan dasarnya bukan tepung, melainkan protein murni dari seafood. Tekstur kenyal alami cumi adalah kunci utamanya," lanjut Aira sambil terus mengiris dengan tenang.
Setelah irisan mi cumi selesai terkumpul dalam mangkuk besar, Aira menyiapkannya ke atas meja kompor.
Ia mendidihkan air kaldu bening dengan sedikit garam laut, minyak bawang putih, dan irisan jahe segar untuk memberikan aroma harum sekaligus menghilangkan bau amis.
Begitu air mendidih sempurna, Aira memasukkan helai-helai mi cumi tersebut.
"Perhatikan waktunya. Jangan terlalu lama direbus, atau proteinnya akan mengeras seperti karet," instruksi Aira tajam.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Aira segera mengangkat dan meniriskan mi cumi tersebut menggunakan saringan kawat.
Ia menyiramnya sebentar dengan air es untuk menghentikan proses pematangan, lalu menatanya di atas piring saji dengan hiasan minyak cabai merah dan taburan wijen sangrai yang harum menggugah selera.
Ia mengangkat piring tersebut dan menunjukkannya kepada semua orang yang ada di dapur.
Di atas piring putih bersih itu, tersaji hidangan menyerupai mi kenyal berkilau.
Teksturnya sangat pas—tidak kering karena tersiram minyak bumbu yang gurih, namun juga tidak basah berkuah karena sudah ditiriskan dengan sempurna.
Persis seperti definisi "tidak kering dan tidak basah" yang diminta oleh para preman tadi.
Rizal ternganga lebar. Matanya hampir keluar melihat kejeniusan Aira.
"Wah,ini gila! Mi cumi tanpa tepung. Teksturnya benar-benar mirip mi asli! Jenius banget, Chef!" puji Rizal kagum setengah mati.
Arum dan para staf ikut bertepuk tangan takjub. Sementara Lucas, dari balik tempat duduknya, menatap Aira dengan senyuman bangga yang amat dalam.
Calon istrinya ini bukan hanya cantik dan tangguh, tapi juga seorang seniman kuliner sejati.
"Sekarang," ucap Aira dengan senyum penuh percaya diri."
Sekarang kita sajikan mi ini ke meja mereka, dan lihat bagaimana mereka menelan omongan mereka sendiri."
Dengan langkah anggun dan kepala tegak, Aira berjalan sendiri membawa nampan berisi piring hidangan mi cumi spesial tersebut langsung menuju ke meja para preman.
Ia meletakkan piring itu tepat di hadapan ketua preman yang tadi membentak-bentak dengan angkuh.
"Silakan dinikmati pesanan khusus Anda: mi tanpa tepung, tidak kering dan tidak basah," ucap Aira tenang dengan senyum penuh percaya diri.
Para preman itu saling berpandangan dengan wajah sinis, bersiap melontarkan protes dan membuat keributan lanjutan.
Sang ketua preman langsung mengambil garpu, menusuk beberapa helai mi putih berkilau itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan niat mencemooh.
Namun, begitu kunyahan pertama menyentuh lidahnya, mata sang preman langsung membelalak lebar.
Gerakan mengunyahnya terhenti seketika. Rasanya gurih, kenyal pas, berpadu sempurna dengan minyak bawang dan aroma jahe yang menggugah selera.
"Eh?" gumam sang ketua preman terkejut. Ia mencobanya sekali lagi, lalu menoleh ke anak buahnya.
"Ini, enak sekali"
Anak buah di sampingnya ikut mencicipi, dan matanya langsung berbinar.
"Iya, bos! Ini enak sekali! Rasanya gurih banget!"
Mereka menatap Aira dengan takjub bercampur bingung.
Sang ketua preman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ini, apa? Mi tanpa tepung macam apa ini?" tanya preman itu dengan nada yang kini jauh lebih sopan, sama sekali kehilangan galaknya.
Aira tersenyum tipis melipat kedua tangan di dadanya.
"Itu adalah daging cumi segar murni yang diiris tipis dengan presisi tinggi tanpa setetes tepung pun, lalu direbus dalam waktu yang sangat pas sehingga teksturnya tidak kering dan tidak basah seperti permintaan Anda," jelas Aira lugas dan berwibawa.
Mendengar penjelasan itu, preman sangar tersebut mendadak ciut.
Ia menundukkan kepalanya, merasa bersalah sekaligus malu karena sudah berniat menjatuhkan wanita di hadapannya.
"Kami minta maaf, Chef" ucap sang preman jujur sambil menangkupkan tangan.
"Sejujurnya, kami tidak ngin cari masalah. Wanita bernama Mila yang membayar kami untuk mengacau di sini dan mengerjai Anda. Ini uang bayarannya, kami kembalikan." Ia meletakkan segepok uang di atas meja.
"Simpan saja uang itu. Pesanan kalian sudah saya buatkan dengan profesional. Makanlah sampai habis, setelah itu silakan tinggalkan tempat ini." ujar Aira.
Para preman itu mengangguk takzim. Sebelum beranjak pergi, sang ketua preman bahkan tersenyum canggung ke arah Aira.
"Besok kami datang lagi dan masak ini lagi ya, Chef! Enak banget sumpah!"
Mereka bertiga langsung berbalik dan melangkah keluar restoran, bahkan sempat melambaikan tangan canggung ke arah Aira sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kaca.
Kembali di area dapur utama, Rizal, Arum, dan Lucas yang sejak tadi mengintip dari balik pintu langsung mendekati sisa porsi mi cumi yang sengaja disisihkan Aira di atas meja dapur.
Rizal dengan penasaran langsung mengambil garpu dan mencicipinya.
Seketika itu juga, mata Rizal membelalak selebar-lebarnya.
"I-ini enak sekali! Demi apa, rasanya kenyal gurih seperti mi sungguhan, padahal ini murni cumi!" pekik Rizal takjub setengah mati, disusul oleh Arum yang ikut mencicipi dan mengangguk-angguk setuju memuji kejeniusan Aira.
Lucas berdiri di samping mereka, menatap Aira dengan sorot mata penuh kekaguman yang teramat dalam.
Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa bangganya sang CEO pada wanita luar biasa di hadapannya itu adalah wanita yang mampu mengubah ancaman musuh menjadi panggung pembuktian bakat emasnya.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu