NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 5, Apakah kamu pernah membahagiakan dirimu sendiri?

"Apa kamu tidak menolaknya?" tanya dokter perempuan itu menatap Anna.

Anna terdiam sesaat, ia mengangkat wajahnya perlahan lalu menatap dokter Raina.

"Bagaimana jika dia merasa tersinggung?" tanya Anna pada akhirnya.

Dokter psikiater itu menatap Anna tanpa sedikit pun menghakimi. Tatapannya tenang, selembut gerimis yang jatuh di tanah kering.

"Apa kamu sering mengkhawatirkan perasaan orang lain?"

Anna mengangguk pelan. "Iya."

"Kenapa?"

Anna mengusap kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat.

"Karena...aku ingin membuat orang-orang di sekitarku merasa bahagia."

Ruangan kembali sunyi.

Dokter Raina tidak langsung mencatat apa pun. Ia hanya memandang Anna beberapa saat, lalu bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan.

"Lalu... bagaimana denganmu?"

Anna berkedip. "Maksud dokter?"

"Siapa yang membuatmu bahagia?"

Pertanyaan itu meluncur pelan.

Namun rasanya seperti batu besar yang dijatuhkan tepat di tangan danau yang selama ini tampak tenang.

Anna terdiam.

Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dokter kembali bertanya. "Apakah kamu pernah membahagiakan dirimu sendiri?"

Seketika kepala Anna tertunduk. Tangannya yang saling menggenggam mulai bergetar kecil.

Ia membuka mulut, menutupnya kembali, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat.

"...aku...tidak tahu."

Air matanya jatuh tanpa aba-aba. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku melakukan sesuatu karena benar-benar menginginkannya."

Suara Anna mulai pecah.

"Sejak kecil...aku berusaha menjadi anak yang baik."

Dokter mengangguk pelan, memberi isyarat agar Anna melanjutkan.

"Ayahku selalu bilang kalau anak harus patuh. Jadi...aku belajar untuk tidak membantah. Kalau Ayah ingin nilai seratus, aku belajar lebih keras. Kalau Ayah ingin aku pulang sebelum magrib, aku pulang. Kalau Ayah marah...aku diam. Aku ingin membuat Ayah bahagia dan tidak mengecewakan Ayah."

Anna menarik napas dalam.

"Aku pikir...kalau aku terus menurut...mereka akan bahagia."

Ia tersenyum hambar. "Ternyata tidak pernah cukup."

Ruangan kembali dipenuhi kesunyian yang menyesakkan. "Waktu lulus SMA...aku diterima di Universitas Indonesia dengan beasiswa penuh."

Dokter mengangkat wajah dari buku catatannya.

"Itu pencapaian yang luar biasa, Anna."

Anna tersenyum tipis. "Semua orang bilang begitu."

"Lalu?" tanya dokter Raina menatap.

"Ayah ingin aku mengambil jurusan hukum."

"Tapi kamu tidak memilih itu."

Anna menggeleng pelan. "Tidak."

"Boleh tahu kenapa?"

"Karena..." Anna mengangkat wajahnya dan menatap dokter Raina. "...aku mencintai sastra."

Kalimat itu keluar lirih, seolah bahkan sekarang Anna masih takut mengakuinya.

"Aku suka menulis sejak kecil. Aku ingin menjadi penulis."

Air matanya kembali jatuh. "Itu pertama kalinya aku berbohong kepada Ayah. Aku diam-diam memilih jurusan sastra,"

Tangannya mengepal semakin erat.

"Ketika Ayah tahu..." suara Anna mulai bergetar. "... beliau sangat marah, dan itu pertama kalinya aku melihat Ayah semarah itu..."

Ruangan mendadak sunyi dan terasa semakin dingin.

...Anna sangat mengingat jelas ucapan ayahnya waktu itu, dan itu selalu terngiang sampai saat ini....

'Kalau kamu ambil jurusan begitu, kamu mau makan apa? Penulis itu bukan pekerjaan! Kamu cuma membuang masa depanmu!'

Anna menunduk semakin dalam, ia menepuk pelan dadanya perlahan. Ada sensasi panas di sana.

"Kalimat itu terus terdengar... sampai sekarang. Ternyata benar, apa yang di katakan ayah benar..."

Dokter mengangguk pelan. "Lalu bagaimana perjalananmu setelah itu?"

Anna tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih mirip isakan.

"Aku tetap lulus."

"Dan aku benar-benar menjadi penulis skenario drama."

"Apa kamu bahagia?" tanya dokter Raina.

Anna terdiam beberapa detik.

"Awalnya...iya."

Matanya menerawang. "Rasanya sepertinya akhirnya aku bisa hidup sebagai diriku sendiri."

Namun senyum itu perlahan memudar. "Nyatanya dunia tidak seindah yang kubayangkan."

"Senior-seniorku sering meremehkanku."

Lalu Anna kembali kata-kata yang menekannya.

'Kamu masih baru.'

'Tulisanmu terlalu lembut.'

'Perempuan memang bawaannya pakai perasaan.'

'Kalau mentalmu selemah ini, mending pulang.'

Anna mengusap air matanya ketika ia mengingat sutradara yang awalnya memilih alur cerita yang ia tuliskan. Namun pada saat rapat di lakukan, salah satu senior penulis datang dan dengan halus ia mengatakan ingin membimbingnya. Yang lebih mengejutkan ternyata semua ide dan tulisan miliknya sepenuhnya di rubah, tapi Anna tidak bisa berkata tidak pada sutradara dan seniornya. Karena bagi Anna, protes adalah tanda jika dirinya tidak ingin dibimbing. Rasa takut itu telah tertanam sejak ia berbohong kepada ayahnya--- Ayah benar, jalan pilihanku salah. Untuk itu aku akan mengikuti semua apa yang di katakan orang yang lebih tua daripada aku.

"Setiap hari aku pulang sambil menangis. Tetapi besoknya aku tetap masuk kerja." Ucap Anna serak.

"Kenapa?" dokter Rania melipatkan tangan di atas meja.

"Karena aku takut mengecewakan." Jawabnya jujur.

"Siapa yang akan kecewa?"

Anna kembali diam.

"...semua orang."

Dokter Rania menarik napas pelan.

"Lalu apa setelahnya?"

"Aku resign, aku memutuskan untuk tidak menulis lagi..."

Ruangan kembali sunyi.

"Aku merasa gagal. Gagal menjadi anak, gagal menjadi penulis, dan pada akhirnya...aku memutuskan untuk menikah..."

Air mata kembali jatuh satu persatu.

"Orang tuaku marah setelah mendengar aku memutuskan untuk tidak menulis lagi...dan...ibuku memarahiku karena aku memutuskan menikah...."

Anna mengusap wajahnya.

"Aku bertemu dengan suamiku karena sama-sama saling membutuhkan, semua orang mengatakan aku sangat cocok dengannya....dia...mapan, punya pekerjaan tetap...dia...lebih dewasa dariku...dia punya rumah hingga akhirnya orang tuaku akhirnya mengizinkan kami menikah..."

Anna menghela napas. "...waktu itu....aku menikah tidak didasari cinta. Karena menurutku menikah adalah salah satu cara untuk..."

Anna menangis tertunduk tanpa suara.

"Apa kamu menyesal menikah dengannya?" tanya dokter Raina pelan.

Anna menghapus air matanya lalu kembali mengangkat wajahnya. Ia diam sesaat. Ia ingat pertama kali bertemu dengan Jeevan, saat itu Anna sedang berantakan. Karier yang gagal, tuntutan keluarga yang selalu mengatakan "Kapan menikah?Gak takut jadi perawan tua?"

"Aku...Mas Jeevan sangat baik, dia memperlakukan aku sebagaimana suami kepada istrinya...dia tidak pernah mengangkat tangan atau berkata tinggi...aku rasa...aku mencintainya..."

Dokter Raina diam, menandakan kalau dirinya ingin terus mendengarkan Anna.

"Hanya saja..." Anna kembali menunduk. "...Mas Jeevan... hubungan kami sangat hati-hati...aku menurutinya...karena bagiku...menikah adalah sepenuhnya mengabdikan diriku kepada suami dan keluarga suami..."

Anna Kemabli mengingat bagaimana sikap Jeevan yang kaku, dia pria yang tidak romantis, namun Jeevan selalu memberikan kebebasan padanya. Entah itu bertemu teman, melakukan apa yang Anna mau. Lalu Anna kembali mengingat perlakuan ibu mertuanya kepadanya. Beliau selalu menuntut Anna menjadi seorang istri sempurna, mengurus putranya dengan baik, mengurus rumah dengan baik. Bukan hanya ibu mertuanya, kedua orang tuanya pun ikut andil dalam hal ini.

Anna masih mengingat saat awal-awal menikah, ketika itu di rumah kedua orang tua suaminya ada acara keluarga memperingati kematian kakeknya Jeevan. Ibu mertuanya meminta Anna untuk membantu menyiapkan semuanya. Karena Anna ingin menjadi menantu yang baik ia datang, mengerjakan semuanya. Mulai dari memasak, menyiapkan, dan membereskan rumah itu bersama ibu mertuanya.

Semua keluarga Jeevan yang notabenenya adalah laki-laki semua, jadi pekerja itu dilakukan oleh dirinya dan sang ibu mertua. Semua orang mengagumi Anna. Semuanya menyanjung Anna karena selain pintar bisa berkuliah di universitas ternama dengan full beasiswa Anna pun seorang ibu rumah tangga yang cekatan.

Awalnya Anna menyukai sanjungan itu, ia senang akhirnya ia bisa di terima oleh keluarga suaminya.

Tapi....

"Aku pikir.... setelah menikah semuanya lebih mudah. Ternyata aku hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lain." Ucapnya jujur.

Air matanya mengalir semakin deras.

"Aku ingin menjadi menantu yang baik, ingin di terima baik oleh keluarga suamiku..."

Lagi-lagi Anna menekan dadanya yang terasa panas.

"Sampai suatu hari aku lupa siapa Anna."

Ruangan menjadi hening.

Dokter memandang perempuan di hadapannya dengan sorot mata penuh empati.

"Lalu bagaimana dengan suamimu?"

Anna mengembuskan napas. "Mas Jeevan...ia bukan orang jahat. Hanya saja...dia sulit mengungkapkan perasaannya. Dia selalu diam. Kalau ibunya berbicara, dia diam. Kalau aku menangis, dia akan mengatakan 'jangan terlalu di pikirkan. Mas kan sudah bilang sejak awal keluargaku sangat mengutamakan laki-laki, dan kamu jangan sekali-kali berusaha menjadi istri yang baik'."

Anna tersenyum getir. "Aku cuma ingin di dengar...aku cuma ingin seseorang berkata..."

Anna menelan ludahnya. "Anna...kamu pasti capek ya?"

 Suara Anna pecah di akhir kalimat. Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh sepenuhnya.

"Aku sudah terlalu lama hidup untuk memenuhi harapan orang lain. Tapi..."

Ia menatap dokter dengan mata merah yang dipenuhi kelelahan bertahun-tahun.

"...aku bahkan tidak tahu harapan untuk diriku sendiri."

Dokter menutup buku catatannya perlahan.

"Anna." Panggilnya.

Perempuan itu mengangkat wajah.

"Saya ingin kamu mengingat satu hal. Tidak semua yang patuh tumbuh menjadi orang yang bahagia. Tidak semua perempuan yang mengorbankan dirinya akan mendapatkan penghargaan." Katanya.

"...dan," dokter berhenti sejenak. "...kamu tidak dilahirkan untuk menghabiskan hidup hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain."

...🌼🌼🌼...

Hai, apa kabar???

Semoga hari ini berjalan dengan baik🫶

Tetap bahagia ya☺️

Jangan lupa like, komen, subscribe, vote dan follow ya. Dukung Yehppee 🫶

Jangan loncat-loncat bab, mohon bantuannya. Terima kasih 🫶

...BERSAMBUNG...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!