NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : DUA PRIA DAN SATU BAYI YANG BIKIN STRES

...BAB 6...

...DUA PRIA DAN SATU BAYI YANG BIKIN STRES...

Mobil sport hitam milik Berry berhenti di depan kantor polisi.

Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Berry turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Reyga yang masih menggendong bayi laki-laki itu.

Anehnya, sejak mereka meninggalkan lokasi penculikan, bayi tersebut tidak mau lepas dari Reyga.

Begitu Reyga mencoba menyerahkannya kepada Berry, bayi itu langsung menangis.

"Kenapa dia begini?" Berry mengeluh.

Reyga mengangkat bahu. "Mungkin dia suka sama gue."

"Jangan geer."

"Faktanya begitu."

Berry mendengus.

Mereka masuk ke kantor polisi dan segera menceritakan kejadian yang mereka lihat.

Seorang petugas datang menghampiri. "Jadi kalian menemukan bayi ini setelah mengejar tiga orang yang diduga penculik?"

"Iya, Pak," jawab Reyga.

"Dan kalian tidak tahu siapa orang tua bayi ini?"

"Tidak."

"Nama bayi?"

Reyga dan Berry saling pandang.

Kemudian keduanya menggeleng. "Belum tahu, Pak."

Petugas itu memeriksa pakaian bayi, tas kecil, botol susu, serta beberapa barang yang ditemukan di sekitar lokasi.

Tidak ada kartu identitas. Tidak ada nama. Tidak ada alamat.

Bahkan tidak ada secarik kertas yang bisa menunjukkan siapa bayi tersebut.

"Baik. Bayi ini akan kami data sebagai korban penculikan yang belum diketahui identitasnya."

Berry mengangguk lega. "Kalau begitu kami bisa pulang, Pak?"

Petugas itu justru mengangkat wajah. "Belum."

Berry langsung mengernyit. "Belum?"

"Kalian berdua adalah saksi utama. Kami membutuhkan keterangan lengkap. Selain itu, bayi ini belum bisa langsung dipindahkan ke tempat penampungan sebelum pemeriksaan medis dan koordinasi dengan dinas terkait selesai."

Reyga mengerutkan kening. "Jadi?"

"Untuk sementara, bayi ini harus tetap bersama kalian."

Berry langsung melongo. "HAH?"

Reyga ikut terkejut. "Kenapa harus kami?"

"Karena kalian yang menemukan dan menyelamatkannya. Kami juga perlu memastikan kondisi bayi ini aman sampai petugas dari bagian perlindungan anak datang."

Berry menunjuk dirinya sendiri. "Pak, saya bahkan nggak tahu cara gendong bayi!"

Petugas itu tersenyum tipis. "Makanya jangan digendong sembarangan."

Berry terdiam.

Reyga menatap bayi yang masih nyaman berada di pelukannya. "Berapa lama kami harus menjaganya Pak?"

"Setidaknya sampai pagi. Setelah pemeriksaan medis dan petugas terkait datang, baru kami bisa menentukan langkah berikutnya."

Berry memijat pelipis. "Pagi?"

"Iya."

Berry menghela napas panjang. "Mampus."

Reyga menoleh. "Kenapa?"

"Karena gue nggak punya pengalaman mengurus bayi."

Reyga menatapnya datar. "Gue juga."

Mereka saling pandang. Kemudian sama-sama menghela napas.

Sekitar satu jam kemudian, mereka kembali ke apartemen Berry.

Reyga masih menggendong bayi. Berry membuka pintu apartemennya sambil membawa tas kecil bayi.

Begitu masuk, mereka berdiri di tengah ruang tamu.

Diam.

Bayi itu juga diam.

Untuk beberapa detik semuanya terasa tenang.

Berry tersenyum lega. "Kayaknya nggak sesulit yang gue bayangkan."

Reyga mengangguk. "Iya."

Bayi itu tiba-tiba membuka mulut. Kemudian...

"WAAAAAA!" Tangisannya meledak.

Berry langsung terlonjak. "ASTAGA!"

Reyga hampir menjatuhkan bayi karena kaget.

"Jangan panik!"

"Lo yang jangan panik!"

"Dia nangis!"

"Gue tahu!"

"Terus kenapa lo teriak?"

"Karena dia teriak duluan!"

Tangisan bayi semakin keras. Reyga mulai berjalan mondar-mandir.

"Kenapa dia nangis lagi?"

Berry mengangkat tangan. "Mana gue tahu?"

"Dia lapar?"

"Mungkin."

"Susunya?"

Berry mengambil botol susu. "Masih kosong."

Reyga menatapnya tajam. "Terus?"

"Terus apa?"

"BELI SUSU-LAH!"

Berry terdiam. "Oh My God."

"Lo pikir bayi hidup dari udara?" bentak Reyga.

Berry langsung mengambil kunci mobil. "Oke. Gue yang beli."

"Jangan lama-lama!" teriak Reyga.

Ia baru hendak membuka pintu ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Berry berhenti dan menoleh. "Eh, duitnya mana?"

Reyga yang masih menggendong bayi menatapnya bingung. "Duit apa?"

"Ya duit buat beli susu, popok, sama perlengkapan bayi ini sekalian."

Reyga terdiam. Kemudian ia memasukkan tangan ke saku celananya.

Kosong.

Ia memeriksa saku jaket.

Juga kosong.

Reyga menghela napas. "Gue nggak punya uang."

Berry mengernyit. "Hah?"

"Fasilitas gue masih dibekukan bokap."

Berry langsung teringat masalah Reyga.

Sejak menolak mengambil alih urusan perusahaan ayahnya, semua fasilitas yang biasa diberikan kepada Reyga dihentikan. Kartu, rekening yang biasa ia gunakan, bahkan akses terhadap beberapa fasilitas pribadi miliknya dibatasi.

Yang tersisa hanya motor balap kesayangannya.

Berry mengusap wajah. "Jadi..."

"Gue cuma punya motor."

Berry menatapnya datar. "Motor lo mau dijual buat beli susu?"

Reyga langsung mendelik. "Jangan macam-macam."

Berry tertawa kecil. "Terus gimana?"

Reyga mengangkat bahu. "Lo aja yang bayar."

Berry menunjuk dirinya sendiri. "Gue?"

"Iya."

"Kenapa mesti gue?"

"Karena lo yang punya uang."

Berry terdiam beberapa detik. Kemudian ia menghela napas panjang. "Ya udah."

Ia memasukkan tangan ke saku, mengambil dompet, lalu berjalan keluar. "Kalau begini terus, bayi ini belum sehari tinggal sama kita, gue sudah bangkrut."

Reyga tersenyum tipis. "Anggap aja investasi."

Berry berhenti di ambang pintu. "Investasi apaan?"

"Investasi persahabatan."

Berry mendengus. "Persahabatan macam apa yang bikin gue keluar duit?"

"Persahabatan sama bayi."

Berry menggeleng-gelengkan kepala. "Gue nyesel kenal sama lo."

Ia akhirnya pergi sambil mengomel.

Reyga kembali menatap bayi yang masih berada di pelukannya. Tangisan bayi mulai mereda.

"Lo lihat sendiri, kan?" gumamnya. "Teman gue pelit."

Bayi itu malah mengeluarkan suara kecil seperti tertawa. Reyga mengangkat alis.

"Eh ketawa. Jangan ikut-ikutan." Reyga ikut tertawa melihat bayi itu ceria.

*****

Waktu berjalan terasa lama. Berry belum juga kembali dari setengah jam lalu.

Reyga kembali menatap bayi. Bayi itu mulai tidak nyaman di gendongan Reyga dan mulai menangis lagi.

"Hei... tenanglah."

Tidak berhasil. Reyga mencoba menggoyangkan tubuh bayi perlahan.

"Jangan nangis, ya." Tapi tangisan itu justru semakin kencang. Reyga mulai panik.

"Please jangan nangis lagi!"

Bayi itu terus menangis. Reyga menutup mata. Frustasi.

"Astaga... gue lebih sanggup menghadapi sepuluh orang di arena balap daripada satu bayi."

Beberapa menit kemudian. Berry masuk ke apartemen dengan membawa beberapa kantong belanja di kedua tangannya.

Napasnya sedikit terengah-engah.

Ia meletakkan semua barang di atas meja, lalu menatap Reyga yang masih sibuk menenangkan bayi.

"Kenapa dia masih nangis?" tanya Berry.

Reyga menatapnya kesal. "Karena lo kelamaan!"

Berry langsung membela diri. "Gue nggak kelamaan!"

"Hampir satu jam Lo bilang nggak kelamaan!"

"Ya karena gue bingung!"

Reyga mengernyit. "Bingung apa?"

Berry mulai mengeluarkan satu per satu isi kantong belanja.

"Lo tahu nggak ternyata susu bayi itu banyak banget mereknya?!"

Reyga terdiam.

"Ada yang buat usia nol sampai enam bulan, enam sampai dua belas bulan, ada yang untuk bayi alergi, ada yang untuk pencernaan sensitif..."

Berry mengangkat kedua tangannya.

"Gue berdiri hampir lima belas menit cuma buat baca tulisan di kaleng!"

Reyga menahan tawa. "Terus?"

"Belum selesai!" Berry mengeluarkan beberapa bungkus popok. "Pas mau beli popok, lebih parah lagi."

Reyga menatapnya penasaran. "Kenapa?"

"Ada ukuran S, M, L, XL. Terus ada berat badan segala."

Berry menggeleng-gelengkan kepala. "Gue bahkan nggak tahu bayi ini beratnya berapa kilo!"

Reyga tertawa sambil menahan perut. "Kenapa tadi nggak Lo bawa bayi sekalian."

"Lo pikir gue bisa bawa bayi masuk toko sambil pilih popok?"

"Kenapa nggak?"

"Bikin gue malu lo!"

Reyga tertawa semakin keras. "Jadi lo berdiri di depan rak popok sendirian?"

"Iya."

"Terus?"

"Terus gue tanyalah sama pegawainya."

Reyga langsung tertawa. "Lo tanya apa?"

Berry menirukan ekspresi seriusnya saat berada di toko.

"Gue bilang, 'Mbak, kalau bayi laki-laki umur sekitar sembilan bulan, tapi saya nggak tahu berat badannya, harus pakai popok ukuran apa?'"

Reyga langsung menutup mulut, berusaha menahan tawa.

"Terus pegawainya bilang apa?"

"Dia malah nanya, 'Berat bayinya berapa, Pak?'"

Berry menepuk dahinya. "Nah, itu masalahnya! Kalau gue tahu beratnya, gue nggak bakalan tanya!"

Reyga akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Terus, akhirnya lo beli ukuran apa?"

Berry mengangkat dua bungkus popok. "S dan M."

"Dua-duanya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Buat jaga-jagalah..."

Reyga menggeleng kepala.

"Kalau nggak muat? Ya pakai yang satunya lagi. Kalau kebesaran? Ya... dilipat."

Reyga menatapnya tidak percaya. "Lo kira popok celana?"

Berry mengabaikannya dan mengambil satu kaleng susu. "Yang penting gue sudah beli."

Reyga melihat kaleng tersebut. "Ini merek apa?"

Berry terdiam. "Nggak tahu."

"Lo beli karena apa?"

Berry mengangkat bahu. "Karena kalengnya bagus."

Reyga langsung memegang kening. "Berry..."

"Apa?"

"Itu susu bayi, bukan parfum."

Berry terkekeh. "Yang penting dia nggak nangis lagi karena lapar."

Setelah Berry mengatakan itu, bayi itu kembali menangis dan semakin keras. Keduanya langsung menoleh.

Berry menunjuk bayi. "Nah! Dia sudah lapar banget!"

Reyga mendesah. "Ya sudah, cepat bikinin susu."

Berry buru-buru mengambil botol. Namun baru beberapa detik kemudian ia kembali menatap Reyga.

"Eh..."

"Apa lagi?"

"Airnya berapa banyak?"

Reyga terdiam. Berry juga ikut terdiam. Keduanya saling pandang.

Bayi terus menangis. Reyga akhirnya menghela napas panjang.

"Kayaknya malam ini kita benar-benar harus belajar jadi pengasuh."

Bersambung...

Lanjutkaaaann gak nih reader?!

Si Reyga dan Si Berry mulai kelabakan ngurus Bayi satu. Biar kapok sama sadar mereka, di kiranya ngurus anak itu gampang. Makanya jangan sok kecakepan jadi anak laki 🤣

Reader setia kalo udah baca, jangan lupa di like dan komentarnya ya 😂😂🥰 terimakasih sudah mampir 🤗❤️

1
Lisa
Selamat y utk Melda & Berry atas kelahiran putra pertamanya..sehat y utk debaynya juga utk Mamanya cpt pulih..
Lisa
Akhirnya mereka berpisah juga dgn Bintang..sedih banget nih..
Kam1la
Akhirnya sampai juga di Jakarta, semoga tidak ada masalah atau hal buruk lagi. nih, Melda bakalan lahiran y sebentar lagi... cewek pa cowok yah
Kam1la
Reyga dan Amelia sudah menganggap Alden sebagai anak kandung mereka, tapi Alden masih punya keluarga kandung. perpisahan ini hanya sementara, suatu waktu nanti bisa ada kesempatan untuk bertemu lagi. dan bagi mereka jika berat berpisah, segera buat anak sendiri....
Lisa
Sama Kak..aku juga sedih banget nih sampe nangis karena Amelia akan berpisah dgn Bintang..aplg Amelia yg sudah merawat Bintang..klo bisa mereka jgn berpisah Kak 🤭
Lisa: Ya bener banget Kak..misalnya Amel & Reyga menetap di Kalimantan kan mereka bisa dekat sama Alden.
total 2 replies
Lisa
Sama² Kak Kayla..kita juga seneng banget ngikutin ceritanya..semangat y Kak..ikut seneng nih Rafael udh ceria lg..tp klo nanti Amel dkk udh balik ke Jkt pasti dia sedih lg..
Lisa: Sama² Kak Kayla
total 2 replies
Kam1la
Reflesing ke mall mungkin bisa mengurangi kesedihan Rafael, itu hanya sementara saja. setelah mereka kembali ke Jakarta, Rafael akan kesepian lagi dan teringat Celine
✨Kayla Rane✨: semoga Rafael cepet ketemu jodohnya ka😆😆 kasian ganteng2 jomblo sendiri🤣
total 1 replies
Lisa
Benar Kak..tapi Amel & Reyga yg sudah merawat Alden jadi harus dipikirkan solusi yg terbaik.
Lisa
Aku juga ikut sedih Kak..Celine yg begitu baik diabaikan oleh Rafael..akhirnya sekrg tinggal penyesalan..
Kam1la
bersama keluarga adalah hal terbaik. Alden atau Bintang memang sebaiknya bersama Rafael... keluarga kandungannya.
Kam1la
Rafael merasa sedih mengenang masa bersama Celine. menyesal selalu di belakang letaknya.... sabar ya
Kam1la
Celine meninggalkan kenangan yang begitu mendalam. selamat jalan Celine... Rafael sangat terpukul. Alan pantas mendapatkan karma
✨Kayla Rane✨: bener ka 🤭
total 1 replies
Lisa
Selamat jln Celine..sedih banget Kak Celine berkorban utk Rafael pdhl Rafael slm ini g membalas perasaan cintanya..
Lisa: ya bener banget Kak..
total 2 replies
Kam1la
sedih banget aku mendengar kabar Celine pergi untuk selamanya. perjuangannya hanya sekali tapi memberikan pukulan yang berat setelah dia benar-benar pergi. selamat jalan Celine....
Lisa
Ya Kak..sedih banget nih koq Celine g tertolong 😭 selamat jalan Celine..bahagia di surga ya..y dgn cara spt ini Alan menyesal seumur hidupnya krn dia membunuh putrinya..
Kam1la
ambulans, cepat datang dong....Semoga Celine selamat, dia baik tidak seperti ayahnya
Lisa
Alan benar² kejam yg terakhir ini putrinya sendiri yg ditembak demi menguasai harta..y Tuhan selamatkan Celine..
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
buset. udah brp nyawa itu
Lisa
Moga masalah mereka cpt beres
Kam1la
semangat lanjut kak... semoga Diana ditemukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!