Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN SEMBILAN
Suasana di depan sekolah SMA Merah Putih nampak ramai oleh para siswa yang keluar dari sekolahnya setelah selesai melakukan kegiatan ekstra kulikuler. Dari sebuah warung yang letaknya dekat dengan SMA Merah Putih, terdengar suara memanggil-manggil Langit, ya itu adalah suara dari Allisya. "Kak Langit, Kak, aku disini" Ucap Allisya memanggil Langit
Langit mencari sumber suara yang memanggilnya tersebut, hingga akhirnya Langit sadar suara itu berasal dari sebuah warung. Tanpa menunggu lama, Langit segera menghampiri Allisya di warung tersebut. "Kirain kamu masih di dalam Sya" Ucap Langit.
"Habisnya kakak lama banget, temen aku udah pada pulang semua, ya udah aku ke depan aja, mau sms kakak aku lupa, pulsa aku abis , hehehehe" Ucap Allisya
"Ya udah ayo, kamu jadi nih mau ikut kakak ziarah? nggak apa-apa nih? Kalu nggak, aku anterin kamu dulu deh ya Sya" Ucap Langit.
"Ikut kak, nggak apa-apa kok tadi aku udah bilang sama papah, ya udah ayo kak biar nggak kesorean" Ucap Allisya sambil segera naik ke sepeda motor Langit dan langsung mengenakan helm di kepalanya.
”Udah Sya ? Pegangan ya " Ucap Langit.
Allisya langsung berpegangan merangkul pinggang Langit, dan Langitpun memacu sepeda motornya menuju ke makam ibu dan adik nya. Langit menjalankan sepeda motornya dengan kencang, sehingga Allisya pun semakin kencang berpegangan pada Langit. Ditengah perjalanan, tiba-tiba handphone milik Allisya terdengar berdering dari dalam tasnya.
"Kak, bisa berhenti sebentar nggak? Hp aku bunyi, sebentar ya kak" Pinta Allisya.
Langit pun menepikan sepeda motornya ke tempat parkir sebuah minimarket yang berada dipinggir jalan tersebut. Setelah sepeda motor berhenti , tanpa turun dari sepeda motor tersebut, Allisya pun mengeluarkan handphone dari tasnya, dan melihat panggilan tersebut. Ternyata itu adalah telepon masuk dari ayahnya Allisya.
"Bentar ya kak, Ayah aku telepon nih, biasa kak" Ucap Allisya.
"Iya Sya , nggak apa-apa kok, takutnya kan penting" Jawab Langit.
Allisya langsung melepaskan helm yang dikenakannya dan segera mengangkat panggilan pada handphone nya tersebut. "Halu, Assalammu alaikum ayah, iya Ayah maaf Allisya lupa ngabarin, tadi sih udah bilang ke bunda" Ucap Allisya dalam panggilan handphonenya.
"Memangnya ada acara apa Sya, tumben ekskul dari pagi sampe sore begini" Ucap Farhan, Ayah Allisya dalam panggilan telepon.
"nggak ada acara sih Yah, tapi ini aku pulangnya bareng kak Langit, kakak kelas aku yang tadi pagi berangkat bareng, kak Langit mau ziarah ke makam mamah sama adiknya dulu, aku mau ikut yah, nggak apa-apa kan yah?" Allisya berusaha menjelaskan kemana dia akan pergi kepada Ayahnya.
"Oh begitu, tapi nggak ada macem-macem kan sya, jangan macem-macem ya , kakak kelas kamunya gimana orangnya, nnggak ada niatan yang aneh-aneh kan ?" jawab Farhan yang mengerti tujuan Allisya
"nggak kok Yah, Insya Allah nggak macem-macem kok, heheh baik kok Yah, udah kayak ke kakak sendiri akunya Yah. Kak Langit juga kan adiknya udah meninggal sekarang nggak punya adik, keliatan banget anggep aku tuh kayak adiknya” jawab Allisya.
"Ayah bisa bicara sama kakak kelas kamu itu Sya? " Pinta Farhan.
Allisya melepaskan handphone dari telinga nya, dan mengetuk-ngetuk helm yang dikenakan oleh Langit yang masih tetap duduk didepan Allisya diatas sepeda motornya. Langit pun melepaskan helm yang dikenakannya, dan menanyakan kepada Allisya kenapa dia mengetuk helm nya. "Kenapa sya? Ada apa?" tanya Langit.
"Ini kak telepon dari Ayah aku, Ayah aku mau ngomong sama kakak" Jawab Allisya sambil memberikan handphone kepada Langit.
"Oh ya udah , sini sya "Ucap Langit menerima handphone Allisya.
"Halu , Assalammu alaikum om" Salam Langit kepada Ayah Allisa dalam panggilan teleponnya.
"Wa alaikum salam, ini Langit kaka kelas nya Allisya ya?" tanya Farhan.
"Iya om saya Langit, sebelum nya saya minta maaf ya om, Allisya jadi terlambat pulangnya soalnya dia mau ikut saya ziarah ke makam ibu sama adik saya om. Tadinya mau saya anterin Allisya pulang dulu tapi katanya Allisya mau ikut aja om" Langit menjelaskan kepada Farhan kemana dia mengajak Allisya.
"Iya nak Langit , tidak apa-apa , yang penting jangan terlalu malam ya anter Allisya nya, nggak enak sama tetangga. Terus om nitipin ya Allisya nya nak Langit, jangan berbuat macem-macem, om percaya kan keselamatan Allisya sama nak Langit" Farhan mengijinkan sambil berpesan kepada Langit.
"Iya om, setelah ziarah saya langsung anter Allisya kok, tapi paling nanti mampir sebentar buat nyari makan dulu, soalnya Allisya belum makan tadi disekolah abis ekskul om, insya Allah saya jaga amanah om, saya jaga Allisya sebagaimana saya jaga adik saya, kalau saja adik saya masih ada pasti seusia Allisya” Ucap Langit sambil menutup panggilan tersebut.
Langit menyerahkan handphone tersebut ke Allisya sambil dia berusaha menahan air mata yang menetes ke pipinya. Allisya yang melihat mata Langit berkaca-kaca sontak bingung ada apa gerangan dengan Langit. Apa yang ditangisinya, apakah karena ucapan Ayah nya di telepon tadi, atau karena hal lainnya yang tidak diketahui Allisya. Allisya mengeluarkan beberapa lembar tissu dari tasnya dan langsung mencoba membersihkan air mata yang menetes pada Langit sambil menanyakan apa sebabnya.
"Kak Langit, kakak kenapa? Ayah aku marahin kakak ya?" Tanya Allisya dengan bingungnya.
"nggak apa-apa sya, nnggak kok sya, ayah kamu cuma pesen aja jaga kamu, jangan terlalu malam kakak anter kamunya" Jawab Langit sambil berusaha untuk tersenyum.
"Terus, kok kakak tiba-tiba nangis?" Tanya Allisya yang masih penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Langit.
Langit hanya berusaha tersenyum kepada Allisya untuk menutupi arti air mata yang menetes membasahi pipinya itu. Langit mengisyaratkan kepada Allisya untuk mengenakan helm nya kembali. Allisya dan Langit kembali mengenakan helm nya masing-masing , Langit segera menghidupkan sepeda motor langsung memacunya untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
Selama perjalanan, tanpa sungkan Allisya berpegangan merangkul pinggang Langit dan menyenderkan kepalanya ke pundak Langit. Beberapa kali pegangan Allisya terlepas dari pinggang Langit, dan Langit perusaha membenarkan posisi tangan Allisya menggunakan tangan kiri nya, karena Langit tahu mungkin Allisya lelah setelah ekskul tadi disekolah sehingga sedikit mengantuk. Beberapa kali Langit memegang tangan Allisya menggunakan tangan kirinya dan tidak melepasnya.
Setelah tiba disebuah pemakaman umum, Langit yang awalnya ingin memarkirkan sepeda motornya di dekat pintu masuk ke pemakaman itu pun tidak jadi. Dia mengurungkan niatnya itu dikarenakan dekat pintu masuk banyak kendaraan pengantar jenazah yang akan dimakamkan terparkir disana. Akhirnya Langit menuju ke sebuah lapangan yang tidak terlalu jauh jaraknya dari pemakaman tersebut. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Langit dengan perlahan membangunkan Allisya yang telah tertidur di pundaknya.
"Sya, Sya , udah nyampe nih" Langit dengan perlahan membangunkan Allisya.
Allisya mulai terbangun, dia mulai melepas tangannya dari pinggang Langit dan menggunakan kedua tangan nya untuk menggosok kedua matanya yang masih sayu-sayu setelah terbangun dari tidurnya. Langit dan Allisya melepas helmnya masing – masing kemudian turun dari sepeda motor nya. Tanpa sungkan Langit memegang tangan Allisya menuntunnya menuju pemakaman.
Tidak jauh dari pintu masuk pemakaman, Langit terhenti didepan pedagang kembang dan air mawar. Langit membeli dua bungkus kembang tujuh rupa dan dua botol air mawar di pedagang tersebut. Sambil membawa plastik berisi kembang dan air mawar, Langit dan Allisya masuk ke pemakaman dan menyelusuri jalan kecil yang tidak beraturan diantara makam-makam disana. Sambil terus berjalan dan memegang tangan Allisya, Langit memusatkan pandangannya kepada sekumpulan orang yang sedang menguburkan jenazah dipemakaman tersebut.
Langit terbayang saat dirinya berada di posisi orang-orang tersebut, disaat dirinya masih berusia 5 tahun ikut menguburkan mendiang ibu dan adiknya yang masih berusia 3 tahun. Dimana saat itu dirinya yang masih kecil hanya bisa menangisi kehilangan ibu dan adiknya tanpa terlalu mengetahui proses pemakamannya.
Langit mengingat-ingat kembali kemasa itu, dimana dia digendong oleh ayahnya, saat beberapa keluarga dan warga membawa keranda jenazah . Dimana saat itu suasana sangat penuh dengan air mata kesedihan. Dia mengingat kembali , dia tidak bisa turun ke liang lahat untuk melihat ibu dan adiknya sesaat sebelum dimakamkan karena dirinya masih terlalu kecil, yang hanya bisa menangis dalam gendongan ayahnya.
Entah berapa kali Langit menghapus air mata dengan tangan nya, semakin Langit mengingat masa lalunya, semakin menetes air mata membasahi pipi Langit. Kaki Langit bagai terpasak di tanah tempatnya berdiri , sangat berat untuk melangkah dengan mata tetap menatap ke aras pemakaman jenazah tersebut. Allisya tiba-tiba terpaku menatap wajah Langit yang berkaca-kaca. Allisya perlahan-lahan menyadari apa yang ada di benak Langit, pastilah teringat kembali ke memori masa-masa disaat Langit kehilangan Ibu dan Adiknya untuk selamanya. Allisya berusaha dengan penuh ketulusan untuk menenangkan hati Langit, Allisya menggenggam tangan kanan Langit , dengan tersenyum Allisya menatap mata Langit dan memintanya untuk berhenti bersedih dan menggantinya dengan doa untuk ibu dan adiknya. Langit pun berusaha untuk berhenti bersedih dan menggantinya dengan sebuah senyuman.
Dengan perlahan, Langit berjalan kembali bersama Allisya, menyelusuri jalan setapak diantara makam-makam yang ada disana menuju ke makam Ibu dan Adiknya. Langkah Langit pun terhenti, begitu pula dengan Allisya yang berjalan di belakang Langit. Terhenti pada dua buah makam yang berdekatan dengan batu nisan bertuliskan nama Susi Kurniawati dan Bulan Nova Nugroho yang wafat pada tanggal yang sama 12 tahun yang lalu. Perlahan Langit merendahkan posisi tubuhnya, Langit mencium kedua batu nisan makam tersebut sambil berkata kepada Allisya.
"Ibu, ade, ini kakak dateng, Ibu sama ade di sana bahagia kan" ucap Langit smbil memeluk dan mencium batu nisan. "Sya, ini Ibu sama adenya kakak " lanjut Langit.
Dengan senyuman manis Allisya menatap Langit dan mengeluarkan buku yassin dari tas Langit. "Udah kak jangan sedih lagi , ibu sama ade nya kakak udah tenang kok disana , sekarang tinggal kakak yang doain dari sini " lembut tutur kata keluar dari mulut Allisya sambil memberikan buku Yassin kepada Langit.