Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sesampainya di rumah sakit, Sera sendiri yang langsung menangani kakaknya.
Segera membawa Sarah ke ruang UGD. Saat mulai membuka pakaian kakaknya, hati Sera hancur berkeping-keping. Kakinya terasa lemas tak sanggup berdiri, apalagi saat melihat kulit kaki kakaknya sudah banyak yang terkelupas akibat air panas tadi dan penuh luka mengerikan.
Dengan tangan bergetar hebat, Sera perlahan membuka pakaian kakaknya lebih jauh untuk melihat seluruh keadaan yang tersembunyi di sana.
Napasnya tercekat. Hampir sekujur tubuh kakaknya tertutup memar—bekas yang tampak sudah lama mengering, berwarna ungu gelap hingga cokelat tua, bukti siksaan yang dilakukan berulang kali, hari demi hari, tanpa henti.
Saat kain terakhir terlepas menyisakan pakaian dalam, Sera perlahan memutar tubuh kakaknya.
Di sana, di sepanjang punggung yang seharusnya mulus, tampak jelas bekas cambukan yang melintas menyilang—sebagian sudah menebal menjadi parut, sebagian lagi masih tampak merah meradang.
Air mata Sera meluncur deras membasahi pipi, sementara tangannya yang menggigil menyentuh setiap jengkal luka itu seolah tak percaya dengan pemandangannya.
Ketika ia memeriksa bagian kepala, dadanya semakin seperti diremas hingga hancur, melihat masih terselip butiran dan biji cabai yang menempel rumpil di rambut dan kulit kepala, menyisakan rasa perih yang tak terbayangkan.
Bukan itu saja. Bekas tamparan melingkar di pipi, rahang, hingga lengan. Tak ada satu inci pun kulit yang selamat.
Ada bekas luka bakar lama, ada lebam-lebam segar, seolah tubuh kakaknya dijadikan sasaran amarah tanpa belas kasihan selama bertahun-tahun.
Sera mengepalkan tangannya begitu erat hingga melukai dirinya sendiri. Amarah panas bercampur kesedihan yang tak bertepi meledak di dadanya.
"Aku bersumpah..." suaranya bergetar penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Siapa pun yang melakukan ini padanya... akan kubuat mereka semua menyesal pernah hidup didunia ini. Aku akan menghancurkan kalian semua sampai tak bersisa sehelai rambut pun!"
Ia menggenggam erat ujung sprei, matanya menatap sosok kakak kembarnya yang terbaring kaku.
"Setiap detik perih yang Kakak rasakan, aku berjanji kalian juga bakal merasakannya tanpa ada satu pun yang akan lolos."
Sera bersumpah pada dirinya sendiri, mereka semua akan membayar mahal atas kekejaman yang menimpa sang kakak.
_____
Perlahan Sarah mulai membuka mata setelah cukup lama terbaring tak sadarkan diri.
Begitu pandangannya mulai jelas, ia langsung disambut oleh wajah adiknya yang menatapnya dingin tanpa berkedip sedikit pun.
Mata Sarah perlahan berkaca-kaca, namun Sera tak bergerak sedikit pun. Ia tetap diam menatap kakaknya yang kini mulai meneteskan air mata.
"Katakan... siapa yang telah menyakiti Kakak?" tanya Sera dengan nada tegas.
Meskipun dia sudah menduga bahwa kakaknya tidak akan mau menceritakan apa pun.
"Aku... aku baik-baik saja..." jawab Sarah lemah yang berusaha kuat.
Benar saja, meski tubuhnya sudah tak lagi berbentuk penuh luka, ia masih berusaha melindungi suaminya.
Air mata Sera meluncur deras membasahi wajah yang sedari tadi coba tegar. Ia mengusapnya dengan kasar, lalu memalingkan wajah sejenak seolah tak sanggup melihat kakaknya.
"Pelet apa yang pria itu berikan pada Kakak, sampai Kakak hancur seperti ini, tapi Kakak masih saja bilang Kakak baik-baik saja?"
Bukannya menjawab, Sarah justru menangis tersedu-sedu menahan sesaknya selama ini.
Melihat sang Kakak, Sera tak lagi sanggup menahan diri. Tangisnya akhirnya pecah.
Wajah tegasnya seketika luluh. Ia segera merengkuh tubuh kakaknya lembut ke dalam pelukan hangatnya.
"Sudah... sudah... jangan bicara lagi... Kakak sudah aman sekarang..."
Bukannya diam, Sarah justru semakin terpukul sehingga suaranya terdengar sangat menyakitkan siapa pun yang berada didekatnya.
Sera membiarkan kakaknya menangis sepuasnya dalam pelukannya, menumpahkan segala ketakutan, kesedihan, hingga trauma berat yang dipendam selama lima tahun hidup bersama Adrian.
Tak lama kemudian, tubuh Sarah melemah dan ternyata dia sudah terlelap di dalam dekapan adiknya.
Sera menghela napas panjang. Ia tahu, sampai kapan pun Sarah takkan mau membuka mulut tentang semua yang terjadi pada dirinya sendiri.
Perlahan Sera membaringkan tubuh kakaknya di atas ranjang, lalu melangkah keluar ruangan.
Ia mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi seseorang.
"Halo, Dion? Kamu di mana?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Ada apa, Sera?"
"Dion... bolehkah kau menolongku?"
"Tentu saja. Apa itu?"
Dion ternyata adalah sahabat baiknya Sera.
"Aku mau minta tolong carikan aku orang yang bisa menyelidiki seseorang untukku."
"Tentu saja bisa. Tapi siapa yang mau kau selidiki?"
"Suami Kakakku, dan semua kehidupan Kakakku selama bersama pria itu. Beserta semua hal yang berkaitan dengan pria itu dan seluruh garis keluarganya. Aku ingin tahu semuanya, tanpa ada yang tertinggal. Nanti aku kirimkan datanya padamu."
"Baiklah, aku akan membantumu. Entah kenapa kau meminta sesuatu yang terdengar beda dari biasanya, tapi aku tahu ini pasti sangat penting bagimu."
"Terima kasih banyak, Dion."
"Sama-sama. Aku tutup dulu ya."
"Baik."
Sera kembali ke ruangan kakaknya, berdiri di ambang pintu menatap sosok Sarah yang terlelap. Tangannya mengepal erat.
Tidak sehelai rambut pun dari mereka yang akan kubiarkan lolos, batin Sera, diselimuti api dendam yang membara meluap-luap di dadanya.
_____
Keesokan harinya, Sera sudah berada di ruangannya setelah baru saja memeriksa keadaan kakaknya.
Sarah masih terlelap, tubuhnya kini demam tinggi—tanda bahwa fisik dan batinnya benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan beban yang dipikulnya selama ini.
Tok... tok... tok...
Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Dion melangkah masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat tebal.
"Ini semua data yang kau minta."
"Cepat juga kau mendapatkannya?"
"Tentu saja. Aku menghubungi salah satu temanku seorang detektif terbaik, dan dia langsung gercep mengerjakan semuanya," ujar Dion dengan gaya bangganya sembari mengedipkan sebelah mata.
Sera hanya tersenyum tipis, lalu meraih amplop itu.
"Terima kasih, Dion."
"Santai saja, Buk Dokter," jawab Dion sedikit bercanda.
Sera terlihat tak sabar ingin membuka amplop tersebut, namun tiba-tiba suara Dion membuat gerakannya terhenti.
"Sera..." Suara pria itu seketika berubah serius.
Sera mendongak melihat Dion.
"Apa pun nanti yang akan kau temukan di dalam itu, cobalah tenangkan hatimu. Dan kalau kau merasa belum siap, kau bisa menyimpan amplop itu dan cari waktu tepat untuk membacanya," nasehat Dion karena dia tahu pasti Sera tidak akan sanggup menerima kenyataan.
Mata Sera seketika memanas. "Kau sudah membacanya?"
"Sedikit. Aku sendiri tidak sanggup membacanya sampai habis. Yang pasti... jangan sampai kau biarkan kakakmu kembali ke tempat itu lagi."
Sera mencengkeram erat amplop di tangannya. "Kau tidak perlu khawatir, Dion. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kakakku kembali ke neraka itu lagi."
"Tapi..." Lanjut Sera.
"Tapi apa? Jangan bertindak nekat," Dion mulai cemas melihat sorot mata yang menyala di wajah Sera.
"Mereka harus membayar semuanya."
Dion pun menarik kursi di hadapan meja Sera dan duduk.
Ia sengaja tak pergi, ingin melihat bagaimana reaksi sahabatnya—siap menahan jika sewaktu-waktu Sera hilang kendali.
Dion tahu Sera bukanlah sosok lemah seperti Sarah; Sera adalah wanita tangguh yang menguasai ilmu bela diri.
Sehingga dia takut, kemarahan Sera akan membuatnya melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Terlebih lagi, yang dilawan bukan orang sembarangan—melainkan keponakan dari si dingin Sean Vergantara, penguasa besar dunia bisnis yang berpengaruh luas.
Tangan Sera mulai membuka amplop itu siap untuk membacanya.