Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUKUNGAN ORANG TUA
"Bukan begitu, Sayang," jawab Duke Daren cepat, menoleh pada istrinya.
"Aku cuma mau memastikan putri kita tidak stres sendirian di dalam kamar," lanjut Duke Daren jujur.
Duke Daren lalu menggenggam kedua tangan Aura dan menatapnya dengan raut wajah yang berubah menjadi sedikit serius.
"Aura, Ayah mau tanya sekali lagi," ucap Duke Daren dengan suara pelan namun tegas.
"Ada apa, Ayah?" tanya Aura merapikan posisi berdirinya di samping sang Ayah.
"Soal Pangeran Luis... apa kamu benar-benar tidak terluka sedikit pun saat dia mendorongmu ke danau kemarin malam?" tanya Duke Daren dengan binar mata cemas yang tertahan.
"Jujur pada Ayah, Nak, kalau sampai ada luka memar di tubuhmu, Ayah tidak peduli dengan rencana tiga hari lagi itu. Ayah akan langsung seret pria bajingan itu ke depan pintu kediaman nya malam ini juga," tegas Duke Daren dengan napas menggebu.
Aura menatap ayahnya lurus-lurus, rasa sayang dan perlindungan yang luar biasa dari Duke Daren membuat jiwa Ester di dalamnya merasa sangat bersyukur.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Ayah," jawab Aura tenang, menyunggingkan senyum percaya diri.
"Luis tidak menyentuhku selain mendorongku ke air. Dan soal luka..." Aura menaikkan satu alisnya, matanya berkilat dingin.
"Luka di hatiku sudah digantikan dengan dendam, dan percaya padaku, Ayah, balasan yang akan kuberikan pada Luis jauh lebih menyakitkan daripada sekadar luka fisik," lanjut Aura penuh penekanan.
Duke Daren tertegun sejenak mendengar ucapan penuh dominasi dari putrinya. Dia lalu terkekeh bangga, menepuk bahu Aura pelan.
"Bagus! Itu baru anak Duke Daren Luminar!" seru Duke Daren puas.
"Ingat, Aura, kediaman Duke Luminar ada di belakangmu. Apapun yang terjadi di pesta ulang tahun Kaisar nanti, jangan pernah takut! Lakukan apapun yang kamu mau, biar sisa nya menjadi urusan Ayah! Bahkan kalau kamu mau langsung membunuh pria bajingan itu, lakukan!" ucap Duke Daren lagi.
"Kalaupun Kaisar Zane sampai marah besar karena rencanamu, Ayah yang akan berdiri paling depan untuk melindungi mu," sambung sang Duke tanpa ragu.
Duchess Clara berdiri dan mendekati suami serta putrinya, ikut memegang tangan Aura.
"Benar, Nak. Kami berdua akan selalu melindungi mu," ucap Duchess Clara lembut.
Aura menatap kedua orang tuanya bergantian, menyunggingkan senyum miringnya yang amat percaya diri.
"Terima kasih, Ayah, Ibu," ucap Aura, memeluk Ayah nya.
"Tapi kalian tidak perlu cemas. Kaisar Zane tidak akan marah padaku... justru beliau akan berterima kasih karena aku memberinya alasan emas untuk menyingkirkan Pangeran Luis," batin Aura tersenyum dingin.
Aura melepaskan pelukan tangannya dari leher Duke Daren, lalu kembali melangkah pelan ke arah meja riasnya.
Gadis itu meraih cangkir tehnya yang masih menyisakan kehangatan, sementara kedua orang tuanya masih berdiri menatapnya penuh rasa penasaran.
"Ngomong-ngomong soal Kaisar, apa Ayah dengar rumor kalau beliau sempat memanggil Luis ke ruang kerjanya tadi pagi?" tanya Aura santai, menyesap tehnya perlahan.
Duke Daren mendengus pelan mendengar nama itu, lalu melangkah mendekati meja rias dan menarik kursi tepat di sebelah Aura.
"Tentu saja Ayah dengar, berita di istana menyebar lebih cepat daripada angin," jawab Duke Daren sembari menggelengkan kepalanya.
"Pangeran sialan itu dipanggil karena Kaisar mulai mencurigai soal kematian palsu mu, tapi dasar Luis pandai bersilat lidah, dia berhasil meyakinkan Kaisar kalau kamu bunuh diri akibat stres," lanjut sang Duke berdecak sebal.
Aura terkekeh pelan mendengar penjelasan ayahnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.
"Biarkan saja dia merasa menang sekarang, Ayah," ucap Aura tenang, meletakkan cangkirnya kembali di atas meja.
"Makin tinggi Luis menancapkan kebohongannya di depan Kaisar, makin telak pula kejatuhannya nanti di hadapan semua bangsawan," lanjut Aura penuh percaya diri.
Duchess Clara yang ikut mendekat dan berdiri di belakang putri mereka tersenyum lebar.
"Ibu suka caramu berpikir, Aura," puji Duchess Clara sambil merapikan helai rambut cokelat putrinya.
"Tapi, apa kamu sudah punya rencana pasti untuk mempermalukan mereka di acara ulang tahun Kaisar nanti? Acaranya tinggal dua hari lagi, loh," lanjut sang Duchess mengingatkan.
Aura berbalik menghadap kedua orang tuanya, menatap mereka dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
"Tentu saja, Ibu. Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong," jawab Aura sambil tersenyum misterius.
"Besok malam, saat gaun pesananku tiba, aku akan mulai menyusun langkah pertama untuk memastikan Luis dan Elisabeth tidak bisa berkutik," lanjut Aura dengan suara pelan namun terdengar sangat meyakinkan.
Duke Daren mengangguk-anggukan kepala, raut wajahnya terlihat sangat puas melihat kecerdasan dan ketenangan yang ditunjukkan oleh putrinya.
"Baguslah kalau begitu," ucap Duke Daren menepuk meja pelan.
"Kalau butuh bantuan prajurit atau akses masuk rahasia ke area istana, katakan saja pada Ayah. Ayah akan siapkan semuanya tanpa sepengetahuan Kaisar atau pengawal istana," lanjut sang Duke menawarkan bantuan penuh.
Aura menggelengkan kepalanya perlahan, menolak tawaran itu dengan senyuman santai.
"Tidak perlu, Ayah, kalau kita menggunakan prajurit kediaman kita terlalu mencolok, justru akan membuat Luis waspada," jawab Aura bijak.
"Biarkan aku bergerak sendiri, aku ingin melihat ekspresi wajah mereka saat menyadari aku masih hidup dan datang menagih nyawa," lanjut Aura dengan sorot mata dingin yang membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Duchess Clara merinding sesaat, namun wanita paruh baya itu justru merangkul bahu putrinya dengan bangga.
"Putri kita benar-benar sudah berubah, Daren," bisik Duchess Clara pada suaminya dengan nada kagum.
"Iya, Sayang, dia jauh lebih hebat dari yang kita bayangkan," jawab Duke Daren tersenyum lebar.
Suasana hangat dan penuh dukungan itu seketika mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti kamar Aura sejak pagi tadi.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Pangeran Luis yang megah, suasana justru berbanding terbalik dengan kediaman Duke Luminar.
Luis baru saja kembali dari istana setelah memenuhi panggilan Kaisar Zane pagi tadi, langkah kakinya tampak terburu-buru saat memasuki ruang tamu utamanya.
"Pangeran! Anda sudah pulang!" ucap Elisabeth yang sudah datang berkunjung dan menunggu di sana sejak tadi, wanita itu langsung menyambut Luis dengan senyuman manisnya.
Luis menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk dengan kasar, napasnya sedikit memburu saking kesalnya.
Elisabeth yang melihat perubahan ekspresi di wajah tunangannya langsung mengerutkan kening, rasa cemas tiba-tiba merayap di dadanya.
"Ada apa, Pangeran? Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa Kaisar memarahi mu?" tanya Elisabeth panik, langsung duduk di sebelah Luis dan mengusap lengannya pelan.
Luis menoleh menatap Elisabeth, lalu mendengus kesal sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.
"Kaisar tidak memarahiku secara langsung, tapi nada bicaranya tadi pagi benar-benar membuatku muak!" gerutu Luis dengan geram.
Glek
Elisabeth menelan ludahnya pelan, mencoba menenangkan dirinya.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛