Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 : Istriku, Nyonya Salvatore.
Celine melirik jam dinding yang jarumnya telah menunjuk tepat pukul lima pagi. Cahaya fajar mulai menyelinap samar di balik tirai jendela tebal, namun ruangan itu masih tetap temaram. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tangannya terulur perlahan menempel di dada bidang Damian yang keras dan kokoh, menahan tubuh pria itu agar tak mendekat lagi. Matanya menatap Damian lekat-lekat, napasnya masih memburu namun kini terselip keteguhan yang lembut.
"Aku..." suaranya terdengar pelan namun jelas, "Aku ingin tahu keadaan ibuku sekarang."
Damian terdiam sejenak. Senyum jahilnya perlahan sirna, digantikan tatapan yang kembali tenang dan tak terbaca. Namun ia tak menolak. Perlahan ia berdiri, menjauhkan tubuhnya sedikit dari Celine. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu menekan satu nomor dengan gerakan cepat.
Tak lama, sambungan tersambung. Suara Luca terdengar tegas dan hormat dari seberang sana.
"Don?"
"Berikan laporan terbaru tentang kondisi ibunya Nyonya Salvatore." ucap Damian singkat, tanpa basa-basi.
"Baik, Don." jawab Luca segera. "Operasi berjalan lancar dan aman. Tidak ada kendala sedikit pun. Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Kondisinya stabil dan dalam pengawasan dokter terbaik sepanjang waktu."
Tut.
Damian mematikan sambungan telepon begitu saja tanpa menambahkan sepatah kata pun. Ia melirik Celine sekilas, lalu melempar ponsel itu sembarangan ke atas permukaan ranjang hingga memantul pelan di dekat lutut wanita itu. Tatapannya kembali menajam, dingin, dan penuh ketidaksabaran.
"Ibumu aman." ucapnya datar, lalu melangkah maju mendekat kembali ke tepi ranjang, menatap Celine seakan wanita itu baru saja membuang waktu berharganya. "Jadi? Masih ada yang ingin kau tanyakan? Atau kau sengaja membuang waktuku, Nyonya Salvatore?"
Celine memalingkan wajahnya ke samping, pipinya kembali memerah. Namun tangan Damian sudah terulur cepat, mencengkeram tegas dagunya, memutar kembali wajah Celine hingga terpaksa menatap lurus ke manik mata gelapnya yang mendominasi.
"Panggil namaku." perintahnya rendah, tak bisa dibantah sedikit pun. "Damian."
"Apa?" Celine mengerjap bingung, napasnya tercekat. "Tapi—"
Belum sempat kata‑kata lain keluar dari bibirnya, Damian sudah mencondongkan tubuhnya dan menyambar bibirnya, mendesak, menuntut sepenuhnya. Tak ada ruang untuk bertanya, tak ada jeda untuk berdebat. Tangan bebasnya melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya menempel rapat hingga tak ada celah sedikit pun di antara mereka.
Celine terkejut sejenak, namun cepat terhanyut. Kekakuan di bahunya perlahan luruh, matanya terpejam pasrah. Di antara ciuman yang menuntut itu, bibirnya bergetar pelan, akhirnya menyerah sepenuhnya.
"Damian..." desahnya tertahan di bibir pria itu.
"Bagus..." bisik Damian parau, bibirnya tak menjauh sedikit pun dari bibir Celine. "Panggil seperti itu."
Ia menjauhkan sedikit wajahnya, mengusapkan ibu jarinya di sudut bibir Celine yang memerah.
"Lain kali jangan berani menahanku, atau aku akan bertindak lebih jauh dari ini."
Ia perlahan menjauhkan tubuhnya, menarik selimut naik perlahan menutupi perut Celine, seolah tak ada hal berat yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Tidurlah sebentar lagi," ucapnya rendah, suaranya kembali tenang dan datar. "Nanti pelayan akan datang memanggilmu untuk sarapan."
Perlahan ia berdiri dan berbalik, namun gerakannya tertahan saat suara keras Celine memanggil.
"Kau mau kemana lagi?!"
Damian berdiri diam memunggungi wanita itu, bibirnya tersenyum miring. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap Celine yang masih menatapnya penuh tanya.
"Aku masih ada sedikit urusan pekerjaan yang harus diselesaikan," jawabnya tenang. "Tapi tenang... nanti aku akan kembali dan menemanimu sarapan."
Tanpa menunggu balasan, ia melangkah keluar. Pintu kamar tertutup perlahan, lembut namun pasti, menyisakan Celine sendirian di ruangan yang kini terasa hangat namun asing. Ia menatap pintu yang tertutup itu lama sekali, hatinya berdebar tak menentu.
"Apa yang aku pikirkan?" gumamnya sambil menepuk pelan kepalanya, "Baru semalam aku melihat Jason berselingkuh. Lalu sekarang? Sekarang aku harus hidup dengan iblis itu gara-gara hutang dua ratus juta untuk operasi ibu."
-
-
-
"Kak Damian!"
Suara Valentina menggema di seluruh ruang makan, memecah keheningan pagi itu di mansion Salvatore. Heels merahnya menghentak marmer, penuh amarah dan ketidaksukaan. Tangan kirinya mencengkeram erat tangan kecil anaknya, Leon, hingga si kecil tampak kesakitan dan wajahnya mengerut sedih.
"Mommy… sakit…" bisik Leon pelan, matanya berkaca‑kaca menatap ibunya yang tak lagi menoleh padanya.
Damian tidak bereaksi. Ia meneguk kopinya sekali, lalu meletakkannya dengan tenang. Matanya terangkat dingin, menatap adik perempuannya yang baru saja berhenti tidak jauh dari meja makan.
"Turunkan suaramu."
Suaranya rendah, tapi cukup membuat Valentina dan seluruh pelayan di ruangan itu membeku.
Valentina menahan napas. Dadanya masih naik turun menahan marah. "Jawab aku! Benar kau menikah diam-diam?! Dengan dia?!"
Ia menunjuk Celine yang duduk kaku di ujung meja. Kedua tangan Celine meremas serbet di pangkuannya karena tegang.
Damian bersandar di kursi dengan tenang. Tatapannya beralih dari Valentina ke Celine, lalu kembali ke adiknya.
"Ya." jawabnya singkat.
"Ya apa?!" Valentina hampir berteriak lagi.
"Ya, aku sudah menikah." Damian memotong. "Dan ya, dia istriku, Nyonya Salvatore."
Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Bahkan napas orang‑orang di sana terdengar tertahan.
Damian mengambil roti, mengoles selai dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jadi jaga mulutmu, Valen." lanjutnya datar, tanpa menoleh. "Apapun masalahmu denganku, jangan pernah mengangkat jari atau suaramu pada istriku. Baik di rumah ini, di depan anakmu, maupun di hadapan siapa pun."
Valentina ternganga, tak percaya kakaknya yang biasanya selalu mendukungnya kini berpihak pada wanita asing ini.
"Kak… tapi kau bahkan belum mengenalnya—"
"Valentina Russo."
Damian menoleh sekali. Tatapannya begitu gelap, begitu menekan, hingga kata‑kata Valentina seketika mati di kerongkongannya.
"Aku bilang duduk. Dan sarapan."
Leon yang sedari tadi diam menatap wajah ibunya yang merah padam, lalu menarik tangannya tak sabaran.
"Mom… Om Don marah. Duduk yuk…"
Valentina menatap kakaknya lama, lalu menatap Celine yang menunduk. Dengan enggan ia menarik kursi dengan kasar dan duduk.
Damian mendorong sepiring buah yang sudah dipotong kecil-kecil ke arah Celine. Gerakannya kecil, sederhana, namun semua orang yang hadir di ruangan itu melihatnya dengan jelas.
"Makan." perintahnya pelan.
Valentina mengambil garpu dengan kasar. Matanya masih menatap Celine dari ujung ke ujung. Penuh penilaian.
"Perkenalkan dirimu." kata Damian tiba-tiba.
Celine tersentak. "Apa?"
"Pada adikku." Damian menyandarkan punggung. "Karena dia akan sering ke sini."
Celine mengepalkan tangan di bawah meja.
"Saya Celine." suaranya bergetar. "Istri..."
Suara Celine tercekat di tenggorokan. Ia mengangkat wajahnya pelan, menatap Damian yang duduk bersandar dengan tenang. Satu tangan pria itu memegang cangkir kopi, satu tangan lagi tergeletak santai di atas meja.
Tapi matanya...
Manik mata hitam itu menatapnya lurus, tajam, dan menekan. Seolah kalau Celine salah menyebut satu suku kata saja, nyawanya bisa melayang detik itu juga.
"...Damian."
--
--
--
Bersambung...