NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Perjalanan kembali dilanjutkan. Suasana di dalam mobil menjadi lebih tenang setelah percakapan mereka tentang perjodohan.

Sesekali Zilia masih menggerutu sendiri, membuat Davin hanya bisa tersenyum geli.

Beberapa kilometer kemudian, terdengar suara pelan dari perut Zilia.

Kruuuk...

Zilia langsung memegang perutnya sambil melirik ke arah Davin.

Davin menahan tawanya.

"Itu suara apa?"

"Bukan apa-apa."

"Oh ya?"

"Bukan."

Belum sempat Zilia menyangkal lagi, suara perutnya kembali berbunyi.

Kruuuk...

Kali ini Davin benar-benar tertawa.

"Perutmu sampai protes begitu, masih bilang bukan apa-apa?"

Wajah Zilia langsung memerah karena malu.

"Tadi buru-buru berangkat. Belum sempat sarapan."

Davin menggeleng pelan.

"Kamu ini. Kalau sakit maag gimana?"

"Kan masih kuat."

"Bandel."

Tak lama kemudian, Davin membelokkan mobil ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di pinggir jalan.

"Ayo turun."

Zilia menoleh bingung.

"Lho, kok berhenti?"

"Sarapan."

"Nggak usah, Kak. Nanti aja."

Davin langsung menatapnya dengan serius.

"Turun."

"Nggak lapar kok."

"Kamu mau Kakak percaya sama omonganmu atau sama suara perutmu tadi?"

Zilia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Ih... Kak Davin!"

Davin kembali tertawa.

"Ayo. Jangan bikin Kakak khawatir."

Akhirnya Zilia menurut.

Mereka masuk ke dalam rumah makan yang suasananya masih lengang karena memang masih pagi.

Seorang pelayan segera menghampiri.

"Selamat pagi, Pak. Silakan duduk."

Davin memilih meja yang berada di dekat jendela.

"Mau makan apa?"

"Apa aja."

"Nggak boleh apa aja."

"Hm... nasi uduk aja deh."

"Minumnya?"

"Es teh."

Davin langsung menggeleng.

"Pagi-pagi minum es?"

"Hehe..."

"Teh hangat."

"Iya, Bos."

"Nah, gitu."

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.

Aroma makanan yang masih hangat langsung membuat perut Zilia kembali berbunyi pelan.

Davin yang mendengarnya hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Silakan dimakan."

"Nggak usah disuruh juga bakal aku habisin."

Baru beberapa menit, piring Zilia sudah hampir kosong.

Davin yang sejak tadi memperhatikannya tak kuasa menahan senyum.

"Pelan-pelan makannya. Nggak ada yang rebut."

Zilia mendongak sambil masih mengunyah.

"Aku memang lapar."

"Itu baru jujur."

"Habis... dari tadi Kakak ngeledekin terus."

"Kalau nggak diledekin, bukan Zilia namanya."

Zilia mendengus pelan, tetapi bibirnya ikut tersenyum.

Untuk sesaat, beban yang sejak semalam memenuhi pikirannya seolah menghilang. Setidaknya, keberadaan Davin membuat perjalanan menuju rumah utama tidak terasa terlalu menegangkan.

Namun, Zilia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap kilometer yang ia tempuh saat ini sedang membawanya semakin dekat pada kenyataan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Usai sarapan, Davin dan Zilia kembali melanjutkan perjalanan.

Semakin dekat menuju kawasan elite tempat keluarga Pradana tinggal, jalanan berubah menjadi lebih lengang. Di kanan dan kiri hanya terlihat deretan pepohonan rindang serta rumah-rumah mewah yang berdiri berjauhan.

Zilia hanya memandangi pemandangan di luar jendela tanpa berkata apa pun.

Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi memperlambat laju.

Sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi berdiri di hadapan mereka. Begitu mobil mendekat, gerbang itu terbuka secara otomatis.

Mobil pun memasuki halaman yang sangat luas.

Di sisi kanan terbentang taman bunga yang tertata rapi dengan air mancur di bagian tengah. Sementara di sisi kiri berdiri garasi yang dipenuhi mobil-mobil mewah.

Tak jauh di depan, sebuah mansion bergaya klasik modern berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi yang menopang bangunan tiga lantai itu.

Melihat rumah yang begitu besar, dada Zilia justru terasa sesak.

"Inikah... rumahku?" gumamnya lirih.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Davin mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Zilia.

"Sudah sampai."

Namun, Zilia tidak juga bergerak.

Tangannya justru saling menggenggam erat di atas pangkuannya.

"Ayo."

Zilia menggeleng pelan.

"Aku... belum siap."

Davin mengembuskan napas panjang.

"Zil, Om sudah menunggu sejak pagi."

"Aku takut."

Ucapan itu keluar begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.

Davin menatap sepupunya dengan lembut.

"Kamu nggak sendirian. Kakak ada di sini."

Zilia masih terdiam.

"Percayalah. Apa pun yang terjadi nanti, Kakak akan tetap di sampingmu."

Kalimat itu sedikit demi sedikit membuat keberanian Zilia tumbuh.

Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

"Baiklah..."

Dengan langkah yang masih terasa berat, Zilia akhirnya turun dari mobil.

Belum sempat ia melangkah jauh, belasan pelayan yang sudah berbaris rapi di depan pintu langsung membungkukkan badan.

"Selamat datang, Nona Besar."

"Selamat datang kembali, Nona."

Sapaan itu membuat Zilia tertegun.

Ia menoleh ke arah Davin.

"Kak... mereka menyambutku?"

Davin tersenyum.

"Karena memang beginilah seharusnya. Kamu adalah putri pertama keluarga Pradana."

Zilia hanya mengangguk pelan, meski masih merasa asing dengan semua perlakuan itu.

Davin kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Begitu kaki Zilia melangkah melewati pintu utama, matanya langsung menyapu seluruh ruangan.

Interior rumah itu begitu mewah. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, sementara tangga marmer yang melengkung menuju lantai dua menambah kesan elegan.

Namun, semua kemewahan itu sama sekali tidak membuat hati Zilia merasa nyaman.

Baginya, rumah itu terasa asing.

Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang justru terasa seperti tempat yang belum pernah ia kenal.

"Om..."

Suara Davin memecah keheningan.

Di ruang keluarga, seorang pria paruh baya yang sejak tadi duduk menunggu perlahan berdiri.

Tatapannya langsung tertuju pada Zilia.

Pria itu adalah Adrian Pradana.

Ayah kandung yang telah bertahun-tahun berpisah dengannya.

Beberapa detik, tak seorang pun mengucapkan sepatah kata.

Zilia berdiri mematung.

Tatapannya bertemu dengan pria yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

Davin menyenggol pelan lengan Zilia.

"Zil..."

Tak ada respons.

Ia kembali menyenggolnya.

"Salam dulu."

Zilia tetap diam.

Bibirnya seolah terkunci.

Berbagai perasaan bercampur menjadi satu—kecewa, marah, rindu, sekaligus canggung.

Melihat putrinya hanya berdiri tanpa bergerak, Adrian perlahan melangkah mendekat.

Sorot matanya yang biasanya tegas kini dipenuhi kerinduan.

Tanpa berkata apa-apa, ia membuka kedua lengannya, lalu memeluk Zilia dengan erat.

"Selamat datang... dan selamat kembali ke rumah ini, Putriku."

Tubuh Zilia menegang.

Kedua tangannya tetap berada di samping tubuhnya. Ia tidak membalas pelukan itu.

Tenggorokannya terasa tercekat.

Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, tetapi semuanya seolah tertahan di ujung lidah.

Matanya mulai memanas.

Sudah bertahun-tahun ia membayangkan pertemuan ini.

Namun ketika momen itu benar-benar terjadi, yang ia rasakan bukanlah kebahagiaan, melainkan kehampaan yang sulit dijelaskan.

Di sisi lain, Tuan Adrian memejamkan matanya sejenak.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia akhirnya bisa memeluk putri kandungnya lagi.

Meski ia sadar...

pelukan itu belum mampu mencairkan dinding tebal yang telah lama berdiri di antara mereka.

Beberapa saat, suasana di ruang keluarga itu dipenuhi keheningan.

Tuan Adrian perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat, seolah ingin menghapus rasa rindunya selama bertahun-tahun hanya dengan sekali tatap.

"Kamu... sudah besar."

Zilia tetap diam.

Tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun menunjukkan senyum.

Adrian tersenyum tipis, meski senyum itu terasa pahit.

"Wajahmu sangat mirip dengan ibumu."

Mendengar kalimat itu, bulu kuduk Zilia seketika meremang.

Lagi-lagi, ia memilih bungkam.

Davin yang berdiri di samping mereka hanya bisa menghela napas pelan. Ia tahu, hubungan ayah dan anak itu tidak mungkin membaik hanya dalam hitungan menit.

"Om," panggil Davin hati-hati.

"Mungkin Zilia masih butuh waktu."

Tuan Adrian mengangguk pelan.

"Aku mengerti."

Ia kemudian mempersilakan Zilia duduk.

"Ayo, kita bicara."

Zilia melangkah perlahan menuju sofa, lalu duduk dengan posisi tegak. Jarak yang ia buat dengan Adrian seolah menjadi gambaran jarak di hati mereka.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan teh hangat dan beberapa makanan ringan.

"Silakan, Tuan."

"Terima kasih."

Pelayan itu mundur setelah meletakkan semuanya di atas meja.

Tuan Adrian kembali menatap putrinya.

"Bagaimana kabarmu selama ini?"

"Baik."

Jawabannya singkat.

"Kamu sehat?"

"Iya."

"Belajar lancar?"

"Iya."

Tak ada kalimat lain.

Semua jawaban Zilia terdengar datar dan seperlunya.

Adrian kembali mengembuskan napas panjang.

"Papa tahu kamu masih marah."

Zilia tersenyum tipis.

"Bukan marah."

"Lalu?"

"Kecewa."

Satu kata itu membuat ruangan kembali sunyi.

Tuan Adrian menundukkan kepalanya sejenak.

"Papa pantas menerima itu."

Zilia akhirnya menoleh.

"Papa tahu?"

"Tahu."

"Kalau tahu, kenapa baru sekarang mencari aku?"

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Papa memang terlambat."

"Terlambat?"

"Iya."

Tuan Adrian menatap putrinya dengan mata yang mulai memerah.

"Papa terlalu sibuk mengejar perusahaan, mengejar tanggung jawab, dan meyakinkan diri bahwa menitipkanmu kepada Bu Retno adalah keputusan terbaik."

"Tapi ternyata..."

Suara Tuan Adrian mulai bergetar.

"...Papa justru kehilangan masa kecilmu."

Zilia mengepalkan kedua tangannya.

"Kehilangan?"

Ia tertawa pelan, tetapi terdengar getir.

"Papa bukan kehilangan."

Tatapannya mulai berkaca-kaca.

"Papa yang melepaskannya."

Kalimat itu menghantam hati Adrian begitu keras.

Tak ada yang mampu ia bantah.

Karena semua yang dikatakan putrinya adalah kenyataan.

Melihat suasana semakin emosional, Davin buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Om, mungkin Zilia capek karena perjalanan jauh."

Adrian mengangguk pelan.

"Benar."

Ia berdiri dari duduknya.

"Kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu."

Zilia ikut berdiri.

"Aku mau pulang setelah selesai bicara."

Adrian tersenyum tipis.

"Tidak hari ini."

"Apa maksud Papa?"

"Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang."

"Tidak."

Jawaban Zilia terdengar tegas.

"Aku hanya datang untuk memenuhi permintaan Papa."

"Aku tidak berniat menetap."

Adrian tidak terlihat marah. Ia justru menatap putrinya dengan tenang.

"Kita tidak akan membahas itu sekarang."

"Tapi—"

"Kamarmu sudah disiapkan."

"Aku tidak akan tinggal."

"Kamu boleh membenciku."

Suara Adrian tetap tenang.

"Tapi izinkan Papa menebus semua kesalahan yang telah Papa lakukan."

Zilia terdiam.

Untuk sesaat, ia ingin kembali membantah.

Namun entah mengapa, melihat mata ayahnya yang dipenuhi penyesalan, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Di sudut ruangan, Davin hanya bisa memandang keduanya bergantian.

Ia tahu...

Pertemuan hari ini bukan akhir dari masalah.

Justru inilah awal dari pertarungan batin yang sesungguhnya antara seorang ayah yang ingin menebus masa lalunya dan seorang putri yang masih sulit membuka pintu maaf di dalam hatinya.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!