NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:56.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipanggil teman baru : 22

Bungkus dupa tersentuh jari langsung ditarik keluar dan diletakkan di atas meja.

Galih berjongkok membuka pintu lemari paling bawah, mengambil lampu minyak yang tersimpan di sana.

Gerakan suaminya Hamima terlihat terlatih, seakan sudah tidak asing berada ditempat temaram minim cahaya seperti ini.

Lampu minyak dihidupkan, dan tiga lidi dupa dinyalakan. Kedua benda tersebut disimpan dalam nakas yang belum pernah diperiksa oleh Hamima.

Nyala api dari sumbu menciptakan bayangan tenang di dinding, lampu minyak diletakkan dilantai bersebelahan dengan tampah sesaji.

Aroma kayu gaharu, cengkeh mulai tercium. Asap dupa meliuk-liuk membumbung tinggi, dan si pembawa dupa sedang mengelilingi kamar membaui setiap sudut.

Galih membuka pintu di pojokan, lalu masuk ke kamar bayi yang terlihat lebih gelap sebab sedikit ventilasi terpasang di tembok tinggi.

Sepasang netra hitam pekat itu sama sekali tak bergetar, memandang kosong. Dupa digoyangkan agar nyala bara api terus membakar merambat ke bawah.

Tidak ada keanehan yang terjadi saat Galih berada ditempat gelap, sedang melakukan ritual entah apa maksudnya atau dari siapa ajaran itu.

Benda-benda tetap di tempatnya, suara aneh pun enggan berbunyi, sosok menyeramkan tidak muncul.

Namun, pada kamar berpenghuni — bayi yang tertidur pulas tiba-tiba membuka mata, melotot tajam menatap plafon.

Pujiara terduduk. Dia tidak menangis maupun merengek. Melainkan terdiam dengan mulut tertutup rapat. Kepalanya mendongak, seakan ada seseorang mengajaknya bercengkrama.

Sang ibu yang tadi sekuat tenaga menahan kantuk demi menunggu sesuatu atau mendengar suara aneh, dan berencana memergoki suaminya, kini tertidur pulas tanpa mengetahui kedua kaki putrinya menggantung di tepi tempat tidur.

Pujiara hendak turun, tinggi badannya yang masih pendek, membuat kakinya menggantung dengan siku bertumpu di kasur.

Bugh!

Bayi memakai baju tidur itu terjatuh, bokongnya menghantam lantai, tapi dia tidak menangis, langsung merangkak mencapai pintu.

Daun pintu yang tertutup rapat, pelan-pelan terbuka sendiri, dan Pujiara merangkak keluar.

Telapak tangan berlemak memukul lantai, lutut tertutup celana tidur gambar boneka beruang dihentakkan supaya langkahnya lebih cepat.

Terdengar grendel digeser, lalu pintu kayu terhempas tanpa menimbulkan suara. Terbuka sendiri.

Angin berkekuatan sedikit kencang masuk, menerpa rambut keriting Pujiara hingga bergoyang lembut.

Dari pintu belakang yang terbuka lebar, sosok lebih tua dari Ara, bertepuk tangan seolah menyemangati.

Sudut bibir Ara tertarik menyuguhkan senyum dengan mata berbinar cerah.

Ara terus maju, tidak tergoda berbelok arah maupun melihat ke sana kemari.

Sang teman yang sering datang, mengajak bermain — sabar menunggu. Tubuhnya lebih tinggi dari Ara, tetapi badannya kurus. Warna kulitnya pucat, rambut hitam lurus dibawah telinga.

Balita perempuan kurus itu memeluk boneka kain sarung, dia sudah lancar berjalan, melangkah mundur memberi ruang ke Ara yang baru saja keluar dari batas pintu.

Angin berhembus menggoyang dedaunan yang membayang di atas tanah tertimpa sinar rembulan.

Pakaian adiknya Guntur telah kotor, dia duduk sebentar di atas tanah, melihat ke pintu terbuka seolah jiwanya memanggil ibu dan kakaknya. Meminta pertolongan.

Balita mengenakan gaun putih terusan yang bagian dada terus turun hingga lutut terdapat noda merah kehitaman, menoleh ke belakang, kakinya sudah naik ke atas semen mengelilingi sumur.

“Bu, bu ….” panggilan itu lemah. Ara bimbang, tangannya melambai di udara malam hari.

“Ayo cini … main,” suaranya membujuk, merdu, bersahabat. Ia sudah bersandar di buis beton sumur setinggi dadanya.

Ara menggeleng, menangis. Instingnya mengenali bahaya memperingati alam bawah sadar jika sedang berada ditempat tak aman.

Sang sahabat tiba-tiba merubah ekspresi — sepasang mata hitam membalik dan berubah menjadi putih. Urat-urat hitam menyembul di bawah kulit pipi merambat sampai leher.

Boneka kain sarung dilempar kedalam sumur, sedetik kemudian berbunyi air berkecipak.

Suara tangisan Ara melengking, namun dia tidak bergerak menjauh maupun mendekat. Tetap bertahan duduk di atas tanah.

***

Di dalam kamar keramat, Galih masih memutari kamar bayi. Dupa dalam genggaman sudah terbakar separuh.

Sementara itu, pada kamar yang ditempati oleh remaja laki-laki — asap putih keluar dari dalam lemari, meliuk-liuk memasuki raga yang tengah terlelap.

Tubuh Guntur mengejang, ia tersentak duduk di atas tilam. Sorot mata terbuka itu dingin, tajam, deru napasnya teratur.

Sepasang kaki menjejak lantai, seperti patung diberi nyawa — Guntur berjalan keluar kamar, terus melangkah ke belakang.

Pujiara sudah berdiri, berpegangan pada tepian buis cor-coran semen.

Dari dalam sumur — tangan berkulit pucat menarik jemari Ara.

Tumit kaki yang tadi menjejak lantai semen, kini terangkat dan Pujiara berjinjit. Badannya tertarik ke atas sampai siku sudah bertumpu di tepian buis.

Hiks hiks hiks …. “Bu, Bu ….”

Suaranya serak. Pujiara kesulitan bernapas karena dadanya menekan lingkaran keras.

Sang sahabat menyeringai kesenangan, bola mata putihnya berkilat. Dia menarik lebih kencang supaya dalam satu kali hentakan teman barunya terjatuh ke dalam sumur.

Arghhh!

Jeritan menggeram itu memantul di dalam sumur gelap, lalu terdengar tangisan kemarahan, dan sosoknya menghilang.

Guntur tepat waktu menarik badan adiknya sebelum terjatuh masuk ke dalam sumur.

“Mammas ….” Ara memeluk leher sang kakak yang sama sekali tidak merespon seperti biasa.

Dibawanya Ara masuk ke dalam rumah, lalu pintu tertutup dengan sendirinya.

Guntur masuk ke kamar ibunya, membaringkan Ara di atas tempat tidur, membiarkan wanita masih pulas tetap tertidur.

Raga tengah dikuasai sosok tak kasat mata itu berjalan keluar, lalu masuk ke kamar Guntur.

Bugh!

Tubuh Guntur melemas, jatuh di atas lantai dingin, wujud berasap putih sudah keluar dari raganya.

***

Duarr!

Suara ledakan tanpa adanya sesuatu meledak — mengejutkan beberapa orang yang duduk melingkar, mengelilingi bokor tembaga.

Sesaji di atas nampan terletak pada meja persegi, terjatuh dan isinya berserak.

Air dalam wadah kuning tembaga menyembur keluar, menciprat ke wajah-wajah dikuasai amarah.

“BEDEBAH!!!”

.

.

Bersambung.

1
sryharty
terus akhirnya kamu mau kaya lewat pesugihan gitu galih,dan menumbuhkan anak2 kamu,,gila gila
Eli Rahma
bagusss mima...
Eli Rahma
ternyata mima anak orkay...
Eli Rahma
ayo jawab bedebah...!!!
Eli Rahma
apa Desita yah..
Engkar Sukarsih
lanjut lagi dong kak cublik 🙏🙏🙏
Engkar Sukarsih
semangat terus Thor 🥰🥰🥰
Engkar Sukarsih
wah ceritanya masih banyak udang di balik bakwan nih 🤔🤔🤔🤔
Engkar Sukarsih
kampret kamu galih😠😠😠😠
Damn Nwtch
main tebak tebakan yuuuk
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa wanita di dlm foto itu Desita 🤔🤔😏
neni nuraeni
laah bersmbung lagi,,, lnjut laah kak🥺🥺
Deris Alrasyid
Jadi penasaran kk
Aprisya
semoga mima bisa memecahkan misteri ini
FiaNasa
siapa dia Mima jgn bikin penasaran dong
Betri Betmawati
dia siapa Mima jgn bikin penasaran deh ?
jgn setengah setengah gitu ngomong nya
jekey
siapa sih rosna kah atau siapa lg
lyani
janda direbutin lohh
mmh nengmuti
siapa dia itu Mima kasih tau sy🤭
mahira
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!