NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peyuk Aku Papa!!

Eve masih berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terbuka. Posisi tersebut mulai terasa konyol setelah beberapa detik berlalu.

Lucien akhirnya bangkit dari kursinya.

Kaki kursi bergeser pelan ketika pria itu berdiri tegak di balik meja. Dengan tubuhnya yang jauh lebih tinggi, Lucien kini menatap Eve dari atas.

"Papa?" ulangnya dengan nada tenang. "Kau merindukanku?"

Eve mengangguk kecil.

"Kalau begitu, tunjukkan, Aveline." Sudut bibirnya kembali terangkat sedikit. "Seberapa besar kau merindukanku?"

Eve membeku.

'Dia serius?'

Harga dirinya sebagai perempuan dengan mental tiga puluh tahun langsung terasa diinjak-injak. Dia menatap Lucien dari bawah, kemudian mendengus kecil dalam hati.

'Dasar iblis. Gue juga sebenarnya gak kangen sama lu wlekk.'

Masalahnya, Eve tidak punya banyak pilihan. Dia sudah terlanjur menggunakan kartu Papa, Ave kangen Papa. Kalau sekarang dia mundur, seluruh aktingnya akan terlihat mencurigakan.

'Oke. Demi kelangsungan hidup.'

Eve menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, dengan tubuh kecilnya, dia maju dan langsung memeluk salah satu kaki Lucien menggunakan kedua tangannya. Bahkan seluruh tubuhnya ikut menempel pada kaki pria tersebut seolah takut benda yang sedang dipeluknya akan kabur.

Vins yang melihat tindakan mendadak itu langsung terkejut.

"Nona?!" serunya refleks.

Matanya sudah terpejam rapat. Kedua tangannya mengunci kaki Lucien sekuat tenaga. Sembari menahan malu yang mulai merayap ke wajahnya.

'Ayolah, Lucien. Luluh sedikit kek. Masa begini aja gak bisa?'

Lucien menundukkan kepala.

Tatapannya jatuh pada anak kecil yang kini memeluk kakinya erat-erat.

Beberapa detik dia hanya diam.

Kemudian salah satu kakinya perlahan terangkat, Eve langsung merasakan perubahan posisi tersebut.

Tubuhnya ikut bergeser sedikit.

"Hentikan, Aveline."

Eve membuka satu mata.

'Gagal?'

Lucien menggoyangkan kakinya sedikit, berusaha melepaskan tangan kecil yang melingkar di sana. Eve justru mempererat pelukannya.

"Dak mawu," protesnya dengan suara cadel. "Ape mawu cama Papa."

Vins menatap keduanya dengan wajah yang semakin sulit dijelaskan.

"Aveline."

"Dak."

"Lepas."

"Dak mawu."

Lucien mengembuskan napas kasar. Dia menggoyangkan kakinya beberapa kali dengan harapan anak tersebut menyerah, tetapi Eve malah memeluk lebih erat.

Vins buru-buru mendekat setengah langkah.

"Nona, sebaiknya Anda melepaskan Yang Mulia dulu," katanya hati-hati. "Nanti-"

"Dak! pin diyam epe bicalana cama papa!"

Eve menolak dengan suara lebih keras.

Vins berhenti, dia menghela napas.

Lucien menatap kaki yang masih dipeluk Eve, lalu menatap langit-langit sebentar. Kesabarannya mulai habis.

"Lepas!"

Bentakan tersebut membuat Eve terdiam sejenak, namun dia tidak berniat melepaskan tangannya.

'Kalau ini gak berhasil, selanjutnya strategi kedua.'

Kalau bertingkah manis tidak berhasil, ada satu jurus lain yang hampir selalu berhasil dalam novel dengan ayah dingin.

Eve menarik napas, lalu wajahnya berkerut dan bibirnya mulai bergetar.

"WAAAAAA!"

Tangis keras pecah di ruang kerja. Eve menangis sekeras yang bisa dia lakukan. Air mata segera memenuhi sudut matanya, sementara tangannya masih melingkar di kaki Lucien.

"WAAAA! Papa jaat!"

Vins langsung panik.

'Ya tuhan! nona-"

Dia tahu satu hal dengan sangat baik, Lucien tidak tahan dengan suara berisik. Namun Eve sudah terlanjur menangis. Vins sempat ingin membujuknya, tetapi ketika melihat wajah Lucien, dia justru mengurungkan niat.

Duke Valois itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh kemampuan berpikirnya. Tatapannya bergerak dari Eve ke Vins, lalu kembali kepada Eve.

Vins akhirnya memilih jalan yang menurutnya paling aman.

Dia menatap Lucien.

"Yang Mulia..." katanya hati-hati, "Nona Aveline tampaknya benar-benar merindukan Anda. Mungkin sebaiknya Anda menghabiskan sedikit waktu dengannya."

Tatapan Lucien langsung berpindah kepadanya.

"Aku sibuk."

Vins menelan ludah.

"Pekerjaanku banyak. Menghabiskan waktu dengan anak kecil hanya membuang-buang waktu."

Vins terdiam, mendengar jawaban tuannya, tentu Vins tahu hal tersebut dengan sangat baik.

Lucien kembali menatap Eve.

Tangisan Eve masih terdengar memenuhi ruangan. Meski sebagian dirinya sudah mulai merasa bersalah karena membuat suara sebesar itu, dia tetap bertahan.

'Gak boleh berhenti. Kalau berhenti sekarang, tamat harga diri gue.'

Lucien mengusap pelipisnya.

"Aveline."

Eve tidak menjawab.

"Lepaskan pelukanmu."

Eve menggeleng kuat-kuat. Lucien menarik napas panjang, lalu menatap anak kecil tersebut dengan wajah yang semakin gelap.

"Atau kedua tanganmu kupatahkan, Aveline!" bentaknya.

Tangisan Eve langsung tersendat, perkataan Duke membuat tubuh kecilnya menegang.

Vins menutup mata sebentar.

'Yang Mulia...'

Ancaman itu seharusnya tidak membuat keadaan lebih baik.

Eve semakin mengeraskan tangisnya. Suara isak yang semula terdengar dibuat-buat mulai memenuhi ruangan, sampai bahunya ikut naik turun dan hidungnya memerah. Dalam hati, dia sendiri sudah mulai kesal dengan situasi yang semakin jauh dari rencana.

Lucien berdiri kaku, wajahnya menegang setiap kali suara tangisan Eve meninggi.

"Aveline! Sekali lagi kau tidak menutup mulutmu, tanganmu akan kupatahkan!" bentaknya, urat kecil di pelipisnya tampak menegang.

Eve malah menangis semakin keras.

'Lu pikir gue bakal nyerah? Gak akan!'

Harga dirinya sebagai wanita dengan mental tiga puluh tahun sudah berantakan sejak dia memutuskan memakai jurus anak manja. Sekarang tinggal satu hal yang bisa dia pertahankan.

Vins yang berdiri di dekat pintu mulai terlihat semakin gelisah. Tatapannya berpindah dari Eve kepada Lucien, lalu kembali lagi kepada Eve.

'Yang Mulia, dia hanya seorang anak kecil.'

Dia menarik napas pelan.

"Nona Aveline..." Vins mencoba menyela dengan suara hati-hati, tetapi tangisan Eve menelan perkataannya.

Eve masih memeluk kaki Lucien erat-erat. Wajahnya tersembunyi di balik kain celana pria tersebut sehingga dia tidak perlu melihat ekspresi Duke yang semakin buruk. Tangannya bahkan mencengkeram kain dengan kuat seolah sedang berpegangan pada tiang penyelamat terakhir.

Lalu, di tengah tangisannya, sebuah ide yang bahkan membuat harga dirinya semakin jatuh muncul di kepalanya. Kalau Lucien tidak luluh karena tangisan, mungkin dia harus menyerang balik.

Eve mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Dengan suara cadel yang tersendat-sendat, dia berkata, "Kalau Papa dak mawu acu peyuk, patahkan caja kaki Papa, jangan tanan acu!"

Vins membeku.

Lucien juga berhenti bergerak. Eve sendiri baru menyadari perkataannya setelah kalimat tersebut keluar.

'Bodo amat ah.'

Vins perlahan menoleh kepada Lucien. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha keras menentukan apakah dia sebaiknya ikut campur atau pura-pura tidak mendengar.

Dalam hati, dia hanya bisa mengeluh.

Sementara Lucien menatap Eve tanpa berkata-kata. Wajahnya masih dingin. Seolah-olah otaknya sedang berusaha memahami bagaimana percakapan mereka bisa sampai pada titik seorang anak kecil mengancam akan mematahkan tangannya.

Eve kembali menundukkan wajahnya dan memeluk kaki Lucien lebih erat.

'Pokoknya jangan kalah.'

Tangisnya kembali terdengar.

"Huuaa... Papa jaat..." keluh Eve di sela isakan, lalu semakin erat menempel pada kaki pria tersebut.

Lucien menarik napas panjang melalui hidung.

Eve tidak melepaskan pelukannya. Justru kedua lengannya semakin erat mengunci kaki Lucien, seolah kalau dia lengah sedikit saja, Duke tersebut akan kabur dan meninggalkannya. Tangisnya masih terdengar sesenggukan, meskipun sebagian mulai terdengar seperti tangisan seorang anak yang sudah kelelahan mempertahankan aksinya.

Lucien menunduk dan menatap tangan kecil yang mencengkeram celananya. Rahangnya mengeras.

"Aveline, lepaskan," katanya sekali lagi, lebih rendah, tetapi jelas menahan kesabaran.

Eve menggeleng kuat-kuat.

"Dak mawu!"

Hidungnya mulai terasa tidak nyaman. Eve menarik napas melalui hidung, lalu mengusapnya dengan punggung tangan. Sayangnya, cairan bening mulai turun lagi. Dia mendengus kesal.

'Ah, sial. Nangis begini malah jadi ingusan.'

Eve melirik celana Lucien yang berada tepat di depan wajahnya.

Tatapannya berhenti beberapa detik.

Lalu sebuah ide kecil muncul, eve menyeringai pelan.

'Ya sudah.'

Dengan wajah masih basah oleh air mata, Eve mengusap hidungnya begitu saja pada kain celana Lucien.

Vins membeku, lalu matanya membesar.

"..."

Bahkan sebagai seorang ajudan yang sudah cukup lama mengenal Lucien, Vins tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang anak kecil sedang memeluk kaki Duke Valois sambil mengusap ingus di celananya.

Sementara Lucien merasakan sesuatu yang lembap mengenai pakaiannya.

Tubuhnya langsung menegang.

Tatapannya perlahan turun.

"Apa yang kau lakukan!"

Eve masih menempel erat pada kakinya, wajahnya polos seolah tidak baru saja melakukan penghinaan kecil yang mungkin tidak akan pernah berani dilakukan bangsawan mana pun.

Lucien menatap noda kecil di kain celananya, kemudian menatap Eve. Ekspresinya berubah menjadi sangat sulit dijelaskan.

Vins menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergerak sedikit.

Lucien langsung melirik tajam.

Vins buru-buru menegakkan wajah.

"Yang Mulia." katanya hati-hati, "sebaiknya Anda menyerah saja."

Tatapan Lucien berubah semakin dingin.

Namun Eve justru semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya kembali menempel pada kaki Lucien, seolah sudah menemukan tempat paling aman untuk melancarkan aksinya.

Lucien mengembuskan napas kasar.

Dia menatap langit-langit beberapa saat sebelum akhirnya menurunkan pandangan lagi.

"Baiklah," ucapnya dengan nada datar.

Lucien menatapnya dengan wajah lelah.

"Aku akan menghabiskan waktu bersamamu."

Mata Eve perlahan terbuka.

'Serius?'

Namun sebelum sempat merasa menang, Lucien langsung menambahkan, "Tapi tidak hari ini."

Eve berkedip.

Lucien menunjuk pintu dengan dagunya.

"Kembalilah ke kamar."

Tatapannya kemudian beralih kepada Vins.

"Vins, antar anak nakal ini kembali ke kamarnya."

Vins menundukkan kepala, tetapi sudut bibirnya hampir terangkat.

"Baik, Yang Mulia."

Eve masih memeluk kaki Lucien, dia mendongak perlahan.

'Gue menang kan?'

Meskipun caranya sangat memalukan, setidaknya dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Eve kemudian mengusap sisa air mata di pipinya dengan tangan kecil, lalu menatap Lucien dengan wajah puas.

"Papa janji," katanya cadel sambil menunjuk Lucien.

Lucien terdiam.

Tatapannya turun pada jari kecil yang menunjuk kepadanya.

"Aku sudah mengatakan akan melakukannya," jawabnya dingin.

Eve tersenyum kecil.

"Janji."

Vins segera berjongkok dan membuka kedua tangannya.

"Ayo, Nona. Mari kita kembali ke kamar sebelum Yang Mulia berubah pikiran."

Eve akhirnya melepaskan kaki Lucien dan berjalan menghampiri Vins. Sebelum keluar, dia sempat menoleh sekali lagi kepada Duke tersebut.

Tatapan mereka bertemu.

"Dadaa, Papa~"

Lucien tidak menjawab, tidak lama pintu akhirnya tertutup meninggalkan Lucien menunduk, memandang celananya beberapa detik.

"Merepotkan."

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!