Area Dewasa
Sebagai putri kesayangan dari pengusaha kaya keluarga Alexander membuat hidup Sea Caroline Alexander menjadi begitu bebas dan liar. Tidak ada yang berani melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Karena kebebasan itu membuat Sea menjadi wanita nakal dan mesum. Setiap hari pekerjaannya hanya ke kampus dan bersenang-senang bersama sahabat prianya, seperti balapan liar dan club malam.
Melihat kebebasan Sea, membuat Jhon berinisiatif untuk menikahkan putrinya dengan anak sahabat lamanya, Seorang presedir tampan namun sangat polos.
Sea menolak keras pernikahan itu. Dia tidak suka dengan pria polos. Walaupun begitu Jhon tetap melangsungkan pernikahan itu.
Bagaimana dengan nasib pernikahan Sea? Akankah Sea akan mencintai presedir polos itu? Atau maukah suaminya menerima keadaan Sea sebagai wanita nakal dan liar?
.
.
.
Akan banyak kata-kata vulgar serta beberapa adegan dewasa dalam cerita ini. Bijaklah dalam membaca!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EbieMai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Cengeng
Matahari sudah berterik terang di atas langit, namun sepasang pengantin baru masih asik terlelap di atas ranjang, berkenala mendalami mimpi indah masing-masing. Mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah akibat malam pertama.
Dering ponsel mengusik mimpi indah Sea. Perlahan mata cantik itu terbuka, mengerjap-erjapkan bulu lentik itu untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamar. Sea merasakan benda berat sedang menimpah pinggang rampingnya. Matanya tertuju pada lengan kekar sedang memeluknya dengan erat. Wanita itu membalikkan badannya untuk melihat sang pelaku, sebuah senyuman terbit di bibirnya ketika ia sudah mengetahui pemilik lengan kekar itu. Yang tidak lain suaminya, Gavariel.
Semalam saja sok gak i**ngin gue sentuhan. Tapi kini lihatlah, dia sendiri menyentuh ku. Huh,,, dasar pria sok jual mahal.
Sea masih asik menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertidur. Seakan terpesona dengan sang suami, bahkan ia tidak menghiraukan deringan ponsel yang sejak tadi telah berbunyi,"Apa dia sangat lelah sampai tidur sepulas ini?"
"Tidak. Seharusnya gue yang lelah bukan dia." Sea masih menatap wajah itu. Jari lentiknya sudah menari di wajah Gava menelusuri setiap inci wajah tampan suaminya itu.
"Kau memang tampan, tapi sayang kau terlalu polos dan lugu. Kau tidak cocok menjadi suamiku, kau lebih cocok menjadi malaikat." Sea kembali mengingat malam pertama yang tidak sesuai dengan ekspetasinya. Malam pertama yang menjadi kenangan manis, berubah menjadi kenangan terburuk bagi seorang Sea.
Bagimana tidak buruk, semalam Sea gagal memperkosa Gava. Sebelum aksinya ia mulai, pria itu sudah gemetar ketakutan dan menangis histeris memanggil nama maminya.
Gava terus menangis, menangis seperti anak kecil yang meminta coklat kepada ibunya. Sea sampai di buat pusing mendengar tangisan pria itu. Sudah berbagai cara yang Sea lakukan agar suaminya itu berhenti menangis, mulai dari bujuk rayu sampai membungkam wajah sedih itu dengan bantal. Cukup kejam emang, tapi apalah daya wanita itu, ia tidak pernah mendapati pria cengeng seperti suaminya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Sea mulai frustasi mendengar tangisan suaminya itu. Sudah berjam-jam suaminya itu menangis, tapi tangisan itu belum berhenti juga. Ingin rasanya Sea melempar pria itu mars agar di makan para alien. Tapi Sea cukup sadar, mana kuat ia melempar pria itu, mengangkat tubuh kekar itu saja ia sudah tidak sanggup.
Otak cerdik Sea terus berputar-putar mencari cara agar pria itu kembali diam, sampai ia ingat pada sebuah film anak yang pernah ia tonton pada saat balita dulu.
Sea mendekat ke arah Gava. Duduk di atas ranjang di samping pria itu, Sea meminta maaf atas perlakuan yang ia lakukan kepada Gava dan Gava memaafkannya. Bukan main senangnya seorang Sea saat suaminya telah memaafkannya. Wanita itu membawa Gava kedalam pelukannya. Meletakan kepada pria itu di dadanya dan mengelus-elus lembut kepala suaminya.
Sudah 20 menit Sea melakukan hal itu. Berhasil...! Tangis Gava mulai mereda, walaupun masih terdengar isak-isakan kecil. Senangnya seorang Sea semakin bertambah, ternyata tidak sia-sia ia menonton film anak pada puluhan tahun dulu.
Gava menonggak menampakkan wajah sedihnya kepada Sea. Entah mengapa Sea tidak sanggup melihat wajah menyedihkan itu. Uluh hatinya yang paling dalam ada rasa sakit yang tidak bisa ia mengerti.
Dengan wajah memelas, Gava meminta untuk di bacakan dongeng agar ia bisa tidur dan mau tidak mau Sea mengikuti kemauan suaminya. Ia kembali mengingat-ingat dongeng yang pernah di bacakan ayahnya pada saat ia kecil dulu. Setelah berhasil mengingat, Sea menceritakan kembali dongeng itu kepada suaminya.
Gava kembali meletakan kepalanya di atas dada Sea sambil mendengarkan dongeng yang di ceritakan oleh istrinya itu. Dekapan hangat dan elusan lembut membuat mata sayu itu perlahan menutup, Gava tertidur.
Di rasa suaminya telah tertidur, Sea meletakkan kepala Gava di bantal. Membenarkan posisi tidur suaminya lalu menyelimutinya.
Sekarang Sea mengerti, selain polos ternyata suaminya pria cengeng seperti anak kecil.
Sea menghela nafasnya, malam itu menjadi malam terburuk dalam hidupnya. Tubuhnya sudah lelah di tambah lagi ia harus mengurus suaminya yang super cengeng.
Deringan ponsel kembali terdengar membuat Sea kembali ke alam sadarnya."Ck,,, mengganggu saja."
Salah satu tangannya meraba nakas yang berada di samping tempat tidur, mencari benda pipih yang telah mengusik tidurnya.
Menempelkan benda pipih itu di telinganya. Mengangkat panggilan tanpa melihat nama pelaku yang telah mengganggunya, "Ada apa lu ganggu gue pagi-pagi buta begini."
"[Pagi apanya? ini sudah siang. Lu baru bangun eh? Apa malam pertama lu sangat melelahkan sampai lu baru bangun di jam segini? Sepertinya suami lu sangat ganas.]" Ucap Luke dari seberang telepon.
Ganas dari Hongkong, batin Sea.
"Langsung intinya. Gue masih ngantuk, ngelanjut tidur gue yang terganggu gara-gara lu." Jujur Sea. Dia memang masih mengantuk.
"[Kagak sabaran amat sih, lu. Bilang aja lu ingin melanjutin ***-*** ama suami.]
***-*** pala lu.
" Itu lu tahu. Ada apa lu hubungin gue, kalau nggak penting gue tutup nih."
"[Sabar dong sayang, jangan di tutup dulu. Ini sangat penting menyangkut hidup dan mati gue."]
"Ada apa sebenarnya? Apa lu ingin mati? Jika itu yang lu inginkan, maka gue orang pertama yang akan menggali kuburan lu." Ucap Sea dengan semangat.
"[Bangetan lu. Doa'in gue cepat mati.]"
" 1 menit dari sekarang."
"[Kagak sabaran amat sih, lu. Gue mau nanya, lu tau gak di mana balon kesayangan gue berada.]" Balon yang di maksud oleh Luke yaitu kond*m.
"Ck, lu mengganggu gue cuma untuk menanya balon sialan lu itu. Otak lu masig waras ha?" Bentak Sea, suaranya mampu membangunkan pria tampan yang berada di sampingnya itu.
Gava mengeryitkan dahi saat ia melihat istrinya sedang dalam mode kesal. Pria itu mendengarkan percapakan istrinya dengan orang yang tidak ia ketahui.
"[Lu hanya perlu memberitahu gue dimana balon kesayangan gue berada, ngak perlu membentak seperti itu. Rusak dendang telinga gue dengar suara cempreng lu. Lu kan tahu segalanya, pasti lu tau dong dimana kond*m gue berada.]"
"Diam sialan. Gue gak tahu dimana balon lu berada. Tanya Jo, kemarin dia memakai balon lu dan hanya dia yang tahu dimana letak balon kesayangan lu berada." Sea segera mematikan panggilan telepon tersebut. Meletakkan dengan kasar benda pipih yang menjadi korban kekesalannya.
"Pria gila sialan. Nanya kond*m ama gue. Dia kira gue paranormal apa. " Ucap Sea yang penuh dengan kekesalan.
"Kond*m?" Celetuk Gava.
Sea terkejut mendengar suara bariton suaminya. Menatap pria yang berada di sampingnya itu dengan tersenyum kikuk sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mengapa pria polos ini sudah bangun aja sih. Kepala ku mendadak pusing jadinya.
tapi endingnya sad😭