Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Ardi hanya diam saja dan mengemas semua barang miliknya dengan dua koper besar ditangannya, bahkan beberapa tas diatasnya, selama dia bersama Rania dia bisa membeli barang yang bermerek dan mahal karena istrinya membelikannya untuk menunjang penampilannya.
Itu sebabnya dia bisa menyombongkan diri dengan semua fasilitas yang diberikan Rania dan tanpa sadar membuatnya terlena apalagi saat itu Rania begitu mencintainya
"Aku harus meminta maaf pada Rania tapi sebelumnya aku harus mencarikan keluarga ku tempat tinggal, jika mereka disini, Rania tidak akan pernah bisa memaafkan ku".
Dia sudah menghubungi temannya untuk mencarikan kontrakan keluarganya dan melihat keluar kamarnya untuk tahu apakah keluarganya sudah siap karena dia sudah mendapatkan tempat untuk mereka.
"Ayo, aku akan antar kalian ke kontrakan milik temanku, aku membayarnya sebulan, jangan sentuh apapun milik Rania dalam rumah, aku tidak mau dia semakin marah". Ucapnya berjalan lebih dulu tanpa menghiraukan mereka
Dia sudah memesan mobile online dan sebuah mobil barang yang akan mengangkut barang-barang keluarganya karena dia yakin ibu dan adiknya pasti memiliki banyak barang.
"Kamu tidak ikut kami?". Tanya sang ayah begitu mereka berhasil menyusul langkah Ardi yang kini tengah berada diteras rumah sambil melamun.
Ardi berbalik kemudian menatap mereka dengan perasaan campur aduk.
"Nanti aku menyusul, aku harus mendapatkan maaf dari Rania agar aku tidak diusir dari sini, setidaknya jika aku disini uang makan dan ongkos ku masih aman dan juga biaya kuliah Adel bisa terbayarkan karena aku harus membayar kontrakan kalian juga". Jawabnya dengan santai.
Sang ibu hanya bisa menghela nafas, dia tidak punya cara lain lagi untuk bertahan disini, jika dia tidak pergi Rania pasti akan memasukkannya kedalam penjara dan dia tidak mau itu.
"Kamu yakin bisa melunakkan perempuan sialan itu?".
Sang ibu kini menatap anaknya dengan penuh harap karena dia masih ingin tinggal dirumah mewah dan besar ini.
"Aku tidak tahu, tapi aku usahakan minimal aku yang bisa bertahan disini, biarkan kalian dirumah kontrakan itu, lagian ini semua salah ibu dan juga Adel yang selalu memperlakukan Rania tidak baik". Jawabnya pelan.
Dia memang mengetahui semuanya tapi dia memilih diam saja tidak membela sang istri karena tuntutan ibunya yang selalu mengatakan dirinya tidak boleh durhaka.
Sekarang dia menyesali segalanya, andai bisa dia mengulang waktu dia akan membela Rania walau hanya sekali saja agar istrinya itu tidak mengusirnya
Tapi nasi telah jadi bubur, dia sudah tidak bisa kembali lagi, dia hanya berdoa agar Rania bisa dia bujuk
"Kamu menyalahkan ibu soal ini?, harusnya kamu ngaca jika kamu tidak berbohong pada kami, ibu tidak akan memperlakukan Rania seperti itu, ibu pikir dia yang menumpang ternyata kamu yang tidak punya apapun". Sungut sang ibu tidak terima.
Dia mendelik tidak terima karena anaknya menyalahkan semuanya kepadanya padahal kenyataannya memang seperti itu.
"Sudahlah ibu pergi saja, ibu selalu membuatku pusing dan sekarang membuatkan aku masalah dengan Rania". Jawabnya pelan namun sangat kesal.
Dia bergegas mengambil barang-barang keluarganya dan membawanya naik ke mobil barang itu dan dia sendiri masuk kedalam mobil sewaan yang dia pesan bersamaan dengan mobil sewaannya, dia terpaksa memakai tabungannya untuk menyewa kontrakan itu karena dia harus membujuk Rania.
"Pastikan Rania bisa menerima kamu kembali, selama kalian belum berpisah, kamu harus mendapatkan salah satu hartanya, jangan lembek". Sungut sang ibu.
Santoso hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya sedangkan Adelia hanya meratapi nasibnya yang harus pergi dari rumah mewah itu dan kehilangan mobilnya sendiri.
Dia Tidka tahu bagaimana caranya nanti dirinya dikampus, dia pasti akan menjadi bahan olok-olok oleh temannya karena mengaku orang kaya padahal ternyata kakaknya tidak punya apapun
Ardi hanya diam dan mendengar kan apa perkataan ibunya, dia sudah lelah berbicara dengan ibunya itu, dia mengambil handphonenya dan mengetikkan pesan kepada sang istri untuk membujuknya, dia harus bisa mempertahankan Rania bagaimanapun caranya.
Sedangkan Rania yang kini selesai melakukan operasi darurat selama tiga jam hanya bisa menghela nafasnya, dadanya terasa sesak bukan karena pekerjaan tapi karena luka yang terlalu dalam yang ditimbulkan oleh suami dan juga keluarganya.
"Aku bodoh sekali bisa jatuh cinta pada lelaki seperti itu, aku pikir lelaki yang begitu mencintai keluarganya adalah lelaki yang bisa mencintai dan menghargai nya karena ibunya juga adalah seorang perempuan tapi nyatanya aku selalu terasingkan dan tidak pernah dibela sekalipun dan hanya dimanfaatkan".
Airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga, dia memegang dadanya karena berdenyut hebat.
Pengorbanannya selama ini hanya sia-sia semata, padahal dia menyayangi mereka dengan sangat tulus.
"Kalian akan pergi dari hidupku tanpa membawa apapun, aku janji itu".
Dia berjalan gontai kedalam ruangannya dan akan tidur, kepalanya dan tubuhnya sudah sangat lelah, karena operasi yang baru saja dia lakukan.
"Dokter tidak pulang?". Tanya sang suster begitu melihatnya berjalan menuju ruangannya setelah membersihkan diri.
"Aku akan istirahat ditempat istirahat dokter dulu, kepalaku sangat sakit dan khawatir jika harus berkendara subuh seperti ini". Ucapnya dengan pelan.
Sang suster menatap sendu sang dokter, andai ada dokter lain yang bisa mereka hubungi pasti mereka tidak akan menghubungi dokter Rania karena dia baru pulang dan mungkin baru sampai dirumah saat mereka menelponnya.
Melihat tatapan bersalah suster kepadanya, dia mengulas senyum menenangkan.
"Tidak apa suster, itu tugas kita sebagai dokter, jangan bersedih seperti itu, kalian istirahatlah kalian juga tak kalah lelah dariku".
Sang suster mengangguk tersenyum, mereka beruntung memiliki dokter yang memiliki dedikasi tinggi untuk rumah sakit dan pasien itu.
" Bagaimana keadaan rumahku sekarang, apa para benalu itu sudah pergi?". Tanyanya dalam hati.
Dia kembali merebahkan tubuhnya yang sangat lelah, walau begitu dia tetap memikirkan rumahnya, dia takut jika Ardi dan keluarganya mengambil banyak barang dan menjauh seenak jidat mereka.
"Jika mereka berani melakukannya, aku pastikan mereka akan membusuk dipenjara.
Sedangkan keluarga Ardi yang sudah sampai dikontrakkan yang dipilih Ardi hanya mendengus kesal, kontrakan sederhana dengan tiga kamar itu membuat sang ibu jengkel setengah mati.
"Ardi ini apa-apa an, masa memberikan kita tempat tinggal seperti ini sih". Kesalnya sambil mengurus barang-barang mereka.
"Iya nih Bu, kak Ardi sudah gila yah, masak kita tinggal ditempat kecil begini, beda banget dengan rumah Rania".
Santoso yang sudah jengah melihat tingkah keduanya kini menatap mereka dengan kesal
"Berhentilah mengeluh lebih baik kalian membersihkan barang kita dan merapikan nya, tidak ada gunanya kalian mengomel".
"Aku tidak akan membiarkan ini berlangsung lama".