MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ATURAN MAIN YANG JELAS
Mobil mewah milik Min Jae melaju perlahan meninggalkan tepi danau. Lampu jalan berderet memantul di kaca jendela, menciptakan garis cahaya yang kabur. Di dalam kabin hening, hanya terdengar suara halus mesin dan desir angin. Disya duduk diam, kedua tangannya saling genggam erat di pangkuan. Jantungnya berdegup kencang—apa yang baru saja disepakati terasa seperti mimpi yang terlalu besar bagi gadis biasa sepertinya.
Min Jae menyetir dengan tenang, wajahnya datar. Ia tahu sebelum melangkah lebih jauh, segala hal harus diperjelas sampai ke akarnya. Tak boleh ada salah paham, tak boleh ada harapan palsu. Hubungan ini murni berdasarkan kebutuhan, jadi landasannya harus kokoh dan tegas.
"Saya tahu kau pasti masih banyak bertanya di hati," ucap Min Jae tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya rendah namun terdengar jelas. "Sebelum kita mulai, saya akan jelaskan aturan mainnya satu per satu. Dengarkan baik-baik, pastikan kau mengerti setiap poinnya. Tak ada paksaan. Jika ada satu hal saja yang tak kau setujui, kita batalkan semuanya sekarang juga."
Disya menoleh perlahan menatap sisi wajahnya. Cahaya lampu jalan sesekali menyinari garis rahangnya yang tegas. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap.
"Saya mendengarkan baik-baik, Oppa. Silakan jelaskan semuanya," jawabnya pelan namun tegas.
Min Jae melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan sepi. "Pertama, pahami inti hubungan kita. Saya tak mencari kekasih, tak mencari istri, tak mencari teman hidup. Saya hanya butuh seseorang yang bisa saya temui saat lelah, ada di dekat saya saat sepi, dan mau melayani saya sesuai kebutuhan. Sebagai gantinya, saya tanggung seluruh hidupmu: kuliah, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga kebutuhan ibumu di Jeju. Ini murni timbal balik: saya berikan kenyamanan hidup, kau berikan waktu dan kehadiranmu saat saya butuh."
Disya menelan ludah. Kata-katanya lugas, tajam, tak memberi ruang berharap lebih. Namun itulah kenyataan yang ia butuhkan. Ia mengangguk pelan. "Saya mengerti. Saya berikan waktu dan diri saya, Oppa tanggung semuanya. Begitu saja."
"Benar," jawab Min Jae singkat. "Kedua, aturan paling penting yang tak boleh dilanggar: tak boleh melibatkan perasaan. Jangan pernah jatuh cinta pada saya. Jangan berharap saya akan melihatmu sebagai wanita yang dicintai. Saya pun akan menjaga diri demikian. Hubungan ini soal kesepakatan, bukan hati. Jika saya lihat kau mulai berharap lebih atau menyimpan perasaan, perjanjian ini berakhir saat itu juga."
Udara di dalam mobil terasa mendadak lebih dingin. Ada perih kecil di dada Disya, namun segera ia usir. Ia tahu posisinya, tahu apa yang dipilihnya. "Saya janji, Oppa. Saya akan menjaga hati sekuat tenaga, tak menaruh harapan yang salah."
"Ketiga," lanjut Min Jae, "kita tak boleh ikut campur urusan masing-masing. Apa pun soal pekerjaan, masa lalu, atau keputusan saya—itu sepenuhnya hak saya. Kau tak boleh bertanya, tak boleh cemburu, tak boleh melarang. Begitu juga sebaliknya: kau bebas menjalani hidup, tapi jangan harap saya ikut campur atau melindungimu dari masalah pribadimu. Kita hanya saling melengkapi saat sepakat, selebihnya kita adalah dua orang asing dengan jalan masing-masing."
Disya menunduk. Perjanjian ini dingin, namun adil. "Baik Oppa. Saya tak akan bertanya hal yang bukan hak saya, dan tak akan mengganggu urusan pribadimu."
"Keempat, soal kerahasiaan," kata Min Jae lagi. "Dunia hiburan kejam. Nama saya Min Jae atau Zelo tak boleh tersangkut sama sekali denganmu. Di tempat umum, di depan siapa pun, kita pura-pura tak kenal. Jangan bercerita pada siapa pun, sekalipun sahabat terdekatmu, kecuali saya izinkan. Satu kesalahan kecil bisa hancurkan karir saya, dan bahayakanmu juga."
"Saya paham betul bahayanya, Oppa. Mulut saya akan tertutup rapat," janji Disya sungguh-sungguh.
"Kelima," tutup Min Jae, "mulai besok kau berhenti bekerja di kafe. Tak perlu lagi lelah berjalan kaki atau menunggu bus. Kau tinggal di tempat yang saya siapkan, fokus kuliah, dan bersiap saat saya panggil. Tak boleh menolak, kecuali ada hal darurat yang sangat mendesak."
Mobil berbelok masuk kawasan perumahan elit. Gedung apartemen tinggi menjulang megah, jauh berbeda dari tempat tinggal sederhana Disya. Pagar terbuka otomatis—tanda Min Jae sudah mengurus segalanya.
Mobil diparkir di lantai dasar. Mereka naik lift ke lantai dua puluh. Saat pintu terbuka, Min Jae membuka pintu unit di ujung lorong.
"Masuklah," katanya singkat.
Disya melangkah masuk perlahan, matanya terbelalak. Ruangan itu sangat luas, lebih besar dari rumahnya di Jeju sekalipun. Lantai marmer berkilau, jendela kaca besar menampakkan pemandangan kota Seoul yang berkelap-kelip. Ruang tamu nyaman, dapur lengkap, kamar tidur besar dengan kasur empuk, dan balkon pribadi. Semuanya siap pakai.
"Ini... tempat tinggal saya?" tanyanya berbisik, tak percaya tempat seindah ini sementara menjadi miliknya.
"Ya. Mulai sekarang kau tinggal di sini. Lebih aman, dekat kampus, dan jauh dari orang yang mungkin mengenal saya," jawab Min Jae meletakkan kunci di meja. "Besok asisten saya bantu pindahkan barangmu. Kau tak perlu repot."
Ia melangkah mendekat, menatap Disya lekat-lekat. "Ingat baik-baik semua yang saya katakan tadi. Tak ada cinta, tak ada janji, tak ada campur urusan. Kau menemani saya, saya menanggung hidupmu. Hanya itu. Jika siap, kita mulai besok. Jika ragu, katakan sekarang sebelum terlalu jauh."
Disya menatap balik. Ada ketegasan yang tak terbantahkan, namun tak ada ancaman. Ia teringat ibunya, tagihan kuliah, lelah berjuang sendiri. Ini pilihannya.
"Saya sudah siap, Oppa. Saya mengerti semua aturannya, dan akan menaatinya," ucapnya mantap.
Min Jae mengangguk pelan. "Bagus. Istirahatlah. Saya pulang dulu. Jika ada apa-apa, hubungi nomor yang sudah saya simpan di ponselmu."
Pria itu berbalik pergi. Pintu tertutup pelan, menyisakan Disya sendirian di ruangan mewah yang asing. Ia melangkah ke jendela besar, melihat mobil hitam itu perlahan menghilang di antara lampu kendaraan lain.
Disya duduk di tepi kasur empuk. Hatinya terasa kosong sekaligus lega. Pintu kehidupan nyaman terbuka lebar, namun di baliknya tak ada cinta—hanya aturan tegas dan perjanjian dingin. Mulai hari ini, ia bukan lagi gadis biasa yang berjuang sendiri, melainkan seseorang yang hidupnya disiapkan untuk menemani kesepian seorang idola ternama.