NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Matahari pagi yang biasanya menyapa dengan cahaya cerah kali ini tampak tertutup kabut tebal, seolah mencerminkan suasana mendesak yang melanda ruang rapat utama Grup Kirana. Wajah para direktur dan manajer terlihat pucat, berkas-berkas berserakan di atas meja panjang, dan layar proyektor menampilkan angka-angka merah yang membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas.

Kirana berdiri di ujung meja, tangannya menumpu pada pinggiran meja dengan erat. Ia berusaha tampil tenang, namun getaran halus di bahunya menunjukkan betapa beratnya tekanan yang sedang ia hadapi.

“Saya baru saja mendapatkan laporan resmi pagi ini,” ucapnya pelan namun jelas, suaranya terdengar berat namun tidak goyah. “Kesepakatan kerja sama pengadaan bahan baku senilai dua triliun rupiah yang kita tandatangani dengan Grup Bima Nusantara dua minggu lalu ternyata adalah jebakan yang dirancang dengan sangat cermat.”

Kabar itu langsung menimbulkan kegemparan di ruangan. Kesepakatan itu dianggap sebagai terobosan besar—setelah berbulan-bulan Bima menolak berurusan dengan mereka, tiba-tiba ia mengajukan tawaran yang tampak sangat menguntungkan: harga bahan baku di bawah pasaran, pembayaran bertahap, dan jaminan pasokan lancar selama lima tahun. Kirana sempat ragu, namun tim penasihat hukum dan ekonomi meyakinkannya bahwa dokumennya sah dan menguntungkan. Ternyata semuanya palsu.

“Klausul penting di halaman terakhir sengaja ditulis dengan istilah teknis yang menyesatkan,” lanjut Kirana sambil menunjuk layar. “Kita diwajibkan membayar uang muka sebesar 60 persen di muka, namun tidak ada jaminan ketersediaan barang. Dan yang terburuk—jika kita membatalkan kerja sama sebelum masa kontrak berakhir, kita harus membayar denda kerugian yang nilainya dua kali lipat dari uang muka itu. Uang muka itu sudah ditransfer ke rekening perusahaan cangkang kemarin sore, dan kini tidak bisa dilacak lagi.”

Salah satu direktur tua mengusap wajahnya dengan putus asa. “Dana itu adalah cadangan operasional kita untuk setahun ke depan. Jika kita harus membayar denda pula, perusahaan bisa bangkrut dalam waktu singkat. Dan media sudah mulai memberitakan bahwa kita gagal menepati janji pengiriman barang—reputasi yang dibangun ayahmu dan kamu selama bertahun-tahun bisa hancur seketika.”

Lukas yang duduk di samping Kirana merasakan dadanya sesak. Ia tahu ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa. Ini adalah serangan langsung dari Bima, yang menyadari bahwa penyelidikan mereka semakin dekat ke benang merah, lalu berusaha melumpuhkan mereka dengan cara yang paling menyakitkan: merampas kekuatan ekonomi dan kepercayaan publik sekaligus.

Rapat berakhir dengan keputusan darurat untuk mencari sumber dana tambahan dan menanggapi berita buruk di media. Namun semua orang tahu itu hanyalah solusi sementara. Bima telah menutup semua jalan keluar.

Sore itu, suasana di apartemen kembali hening dan suram. Kirana duduk di ruang kerja, menatap berkas kontrak yang kini tampak seperti lembaran jaring laba-laba yang memerangkap mereka. Ia tidak menangis, namun matanya tampak lelah luar biasa—seolah beban yang ia pikul selama ini akhirnya mencapai batas kekuatannya.

Lukas mendekat perlahan, meletakkan segelas air hangat di sampingnya. Ia tidak langsung bicara, hanya berdiri diam di samping wanita itu, memberi waktu agar ia bisa menenangkan diri. Setelah beberapa lama, Kirana menoleh padanya, senyum tipis namun pahit tersungging di bibirnya.

“Maafkan aku, Lukas. Aku berjanji akan melindungimu, tapi justru aku yang menyeretmu ke dalam kehancuran ini. Bima tahu persis bagaimana caranya melukai kita berdua sekaligus.”

Lukas menggeleng mantap, lalu duduk di hadapannya. “Kamu tidak menyeretku ke mana pun. Aku memilih berjalan bersamamu. Dan jangan lupa—kita tidak hanya memegang bukti kejahatan masa lalu. Kita juga memiliki pengetahuan tentang cara Bima bekerja, tentang jejak aset yang ia ambil secara ilegal. Bukankah itu artinya kita juga punya jalan keluar yang dia tidak sangka?”

Kata-kata itu membuat Kirana mengernyitkan dahi, mulai menyadari ada hal yang terlewatkan. Lukas segera mengambil berkas catatan yang ia susun sendiri selama beberapa hari terakhir—catatan tentang pola transaksi Grup Wijaya dulu, tentang cara pengalihan aset yang dilakukan Bima, serta aturan hukum yang berlaku saat itu.

“Bima menggunakan trik yang sama persis seperti saat ia mengambil alih perusahaan ayahku,” jelas Lukas dengan semangat yang kembali menyala. “Dia membuat perjanjian yang tampak sah, menyembunyikan klausul berbahaya, lalu memanfaatkan kepanikan korban untuk mengambil alih sisa aset dengan harga murah. Tapi kali ini dia lupa satu hal: dokumen pengalihan aset Grup Wijaya yang kita temukan membuktikan bahwa banyak lahan dan fasilitas yang kini dikuasai Bima sebenarnya belum sepenuhnya sah secara hukum. Karena tidak ada persetujuan pewaris sah—yaitu aku.”

Ia menunjuk pada bagian tertentu di berkas itu.

“Dan perjanjian bisnis ini? Bima mendirikan perusahaan cangkang yang seolah-olah berhak atas aset yang sebenarnya masih menjadi sengketa warisan. Secara hukum, setiap transaksi yang dilakukan atas nama aset yang statusnya belum jelas bisa dibatalkan. Bahkan kita bisa menuntut ganti rugi bukan hanya untuk kerugian perusahaanmu, tapi juga untuk pengembalian seluruh aset yang dirampas dari keluargaku.”

Kirana mulai tersadar, matanya perlahan berbinar kembali. Lukas benar—mereka selama ini hanya berfokus pada mencari bukti kejahatan, namun lupa bahwa bukti itu juga adalah senjata balasan yang bisa memutus jebakan yang dipasang Bima.

Malam itu mereka bekerja sama menyusun langkah-langkah taktis:

Membekukan proses denda: Mengajukan surat gugatan ke pengadilan bahwa kontrak tersebut didasarkan pada kepemilikan aset yang tidak sah, sehingga klausul denda tidak berlaku.

Membuka data sengketa: Mengungkapkan kepada notaris berwenang bahwa Lukas adalah pewaris sah Grup Wijaya, sehingga semua transaksi yang menyangkut aset tersebut harus ditunda hingga putusan hakim keluar.

Membalas di media: Menjelaskan kepada publik bahwa masalah ini bukan kegagalan Grup Kirana, melainkan upaya penipuan terorganisir yang menyasar kedua keluarga, lengkap dengan bukti awal yang bisa dibagikan tanpa membocorkan semua rahasia.

Mengajukan tuntutan balik: Menuntut Bima atas kerugian yang ditimbulkan akibat penggunaan aset milik orang lain secara ilegal.

Pagi berikutnya, saat berita tentang kerugian besar Grup Kirana mulai memuncak, pengumuman resmi disampaikan. Reaksi awal publik masih penuh keraguan, namun ketika nama Lukas Wijaya disebut sebagai pewaris sah yang baru ditemukan, dan bukti transaksi mencurigakan mulai disebarkan secara terbatas, suasana berubah cepat. Beberapa mitra bisnis yang tadinya berniat menarik dukungan justru mulai bertanya-tanya dan menahan langkah—mereka tidak berani berpihak pada Bima jika ternyata posisinya memang rapuh.

Bima yang mendengar kabar itu dari laporan bawahannya menggebrak meja kerja dengan keras. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh senyum palsu kini memerah padam karena amarah. Ia tidak menyangka bahwa anak yang dulu ia anggap tidak berdaya justru menjadi kunci yang bisa meruntuhkan kekuasaannya sendiri.

“Dia menggunakan pengetahuan tentang cara kerjaku untuk melawanku,” geramnya pelan. “Pintar sekali. Tapi dia lupa bahwa aku sudah terlalu lama berjalan di dunia ini untuk takut pada gugatan hukum semata.”

Namun di dalam hati, ia mulai merasakan getaran takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jebakan yang ia pasang untuk melumpuhkan musuh justru kini menjadi tali yang mengikat tangannya sendiri.

Sementara itu, di ruang kerja Grup Kirana, Lukas dan Kirana saling bertatapan dengan lega. Kerugian finansial belum sepenuhnya pulih, reputasi masih perlu dibangun kembali perlahan, namun yang terpenting—mereka tidak jatuh ke dalam lubang yang sama seperti korban Bima sebelumnya. Mereka berhasil bangkit, dan kini mereka tahu: selama mereka saling mendukung dan tidak melupakan kebenaran asal-usul mereka, tidak ada jebakan yang tak bisa mereka lewati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!