Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan yang Teratur dan Janji di Bawah Hujan
Pelukan Kian yang begitu erat di tengah guyuran hujan membuat dada Maya bergemuruh hebat. Rasa hangat menyebar di balik dinginnya malam, namun pengakuan Kian justru menyalakan alarm bahaya di dalam kepala Maya.
Dia melepaskan segalanya? Perusahaannya? Masa depannya?
Maya menahan napasnya, lalu dengan perlahan mendorong dada Kian. Matanya menatap wajah pria yang basah kuyup itu dengan binar air mata yang berkilat.
"Kian... kamu gila?" bisik Maya, suaranya bergetar hebat. "Kamu membuang impianmu, kerja kerasmu bertahun-tahun... cuma untuk ini? Untuk saya?"
"Ini bukan cuma soal kamu, Maya. Ini soal hidupku!" Kian menggenggam jemari Maya yang dingin, menatapnya dengan ketulusan yang telanjang. "Aku baru sadar apa artinya hidup sejak kamu mengajariku cara melihat manusia, bukan sekadar data. Aku tidak bisa kembali ke dunia yang palsu itu."
Maya melepaskan genggaman itu perlahan. Di dalam hatinya, sebuah pengakuan besar meledak—ia mencintai Kian. Maya mencintai setiap detik perkembangan pria ini, mencintai ketulusannya yang tersembunyi di balik sikap kaku itu. Tapi justru karena rasa cinta itulah, Maya tidak bisa membiarkan Kian hancur.
"Masuklah dulu... kamu bisa sakit," bisik Maya seraya berbalik membelakangi Kian, menyembunyikan wajahnya yang sudah dipenuhi air mata.
Kian mengeringkan tubuhnya dengan handuk sederhana di ruang tamu kecil milik Maya. Suasana di rumah sewa itu hening, hanya ada suara denting cangkir teh hangat yang diletakkan Maya di atas meja kayu.
Namun, keheningan itu pecah seketika saat ponsel Kian yang tergeletak di meja menyala kencang. Sebuah notifikasi berita mendadak (breaking news) dari media bisnis papan atas muncul di layar, lengkap dengan foto wajah Kian dan Hani.
Maya yang berdiri di dekat meja membeku saat membaca judul berita tebal tersebut:
"RESMI: Pertunangan Megah Kian & Hani Pratama Mengukuhkan Aliansi Raksasa Startup dan Pratama Group!"
Kian tersentak. Ia langsung menyambar ponselnya dan membaca artikel tersebut dengan mata membelalak tak percaya.
Artikel itu menyebutkan bahwa malam ini, ibu Kian dan Pak Pratama telah secara resmi mengumumkan pertunangan mereka ke media nasional. Bahwa ketidakhadiran Kian di akhir acara adalah "kejutan simbolis" untuk mempersiapkan proyek rahasia bersama. Foto-foto Hani yang tersenyum anggun dipajang di seluruh portal media, lengkap dengan pernyataan pers dari ibu Kian: "Mereka saling mencintai sejak lama dan akan menikah akhir tahun ini."
"Ini... ini bohong!" Kian berdiri histeris, wajahnya pucat pasi. "Aku sudah menolaknya semalam! Ibuku... ibuku menjebakku!"
Maya berdiri kaku. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar hingga sesak. Berita itu disiarkan secara nasional, disaksikan jutaan pasang mata, dan didukung penuh oleh keluarga besar Kian.
"Kian..." suara Maya terdengar begitu jauh dan rapuh, seolah tenaganya telah habis. "Kamu lihat sekarang? Ini bukan lagi tentang apa yang kamu mau atau apa yang saya rasakan. Duniaku dan duniamu tidak pernah dirancang untuk bersatu."
"Maya, dengarkan aku! Ini konspirasi ibuku dan keluarga Hani! Aku akan buat klarifikasi media sekarang juga!" Kian merogoh saku jasnya dengan panik, hendak menelepon sekretarisnya.
"Dan menghancurkan sisa harga diri perusahaanmu?" potong Maya. Kali ini air mata Maya menetes deras, membakar pipinya. "Kalau kamu melakukan klarifikasi dan membantahnya, Pratama Group akan menghancurkanmu. Perusahaanmu akan bangkrut, ratusan karyawamu akan kehilangan pekerjaan, dan ibumu... ibumu tidak akan pernah memaafkanmu!"
"Aku tidak peduli, Maya! Aku cuma peduli sama kamu!" teriak Kian frustrasi, mencengkeram bahu Maya. "Katakan padaku... tolong katakan sejujurnya, Maya... apa kamu sama sekali tidak punya perasaan padaku? Apa semua sesi privat kita, semua tatapanmu... cuma sebatas tugas seorang guru?!"
Pertanyaan itu menghantam Maya tepat di ulu hati. Rahasia terbesarnya kini ditagih di depan mata.
Maya menatap mata Kian yang memerah penuh keputusasaan. Maya ingin sekali berteriak, ingin berhambur ke pelukan Kian dan mengaku bahwa ia mencintai pria itu melebihi dirinya sendiri. Tapi Maya tahu, jika ia jujur malam ini, Kian akan melepaskan segalanya dan membiarkan dirinya hancur bersama kehancuran kariernya.
Maya menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk melakukan kebohongan terbesar dalam hidupnya.
Ia menepis tangan Kian dari bahunya, lalu menatap Kian dengan pandangan dingin yang dipaksakan.
"Ya. Semua itu hanya tugas saya sebagai guru, Kian," ucap Maya datar, meski hatinya menjerit hancur berkeping-keping. "Saya bersikap hangat karena itu metode pengajaran saya. Jangan campur adukkan kebaikan profesional dengan perasaan asmara."
Kian tertegun. Langkahnya mundur satu tapak. "Kamu... bohong..."
"Selamat atas pertunanganmu dengan Hani," lanjut Maya, suaranya kini terdengar begitu tajam dan asing, membunuh setiap asa yang tersisa di dada Kian. "Dia wanita yang tepat untuk duniamu. Tolong keluar dari rumah saya, Kian. Sesi kita... benar-benar sudah berakhir."
Kian menatap Maya dalam-dalam, mencari kebohongan di mata wanita itu. Namun Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat di belakang punggung, mempertahankan tatapan dinginnya hingga Kian akhirnya tertunduk layu. Pria itu mengangguk pelan, dengan senyum paling hancur yang pernah Maya lihat.
"Terima kasih... atas pelajarannya, Bu Maya," bisik Kian parau.
Kian berbalik dan melangkah keluar menuju kegelapan malam yang dingin, meninggalkan pintu rumah yang perlahan tertutup.
Saat pintu terkunci rapat, tubuh Maya merosot ke lantai. Ia memeluk lututnya di balik pintu dan menangis sejadi-jadinya, meratapi cinta terlarang yang harus ia bunuh sendiri demi menyelamatkan pria yang paling ia kasihi.