Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Bayangan Masa Lalu
Arya Pradipta pertama kali masuk ke rumah Khiu saat Keira berumur delapan tahun.
Waktu itu hujan deras. Papa Hendra pulang membawa anak laki-laki kurus dengan seragam sekolah basah dan tas yang dipeluk erat. Di belakang mereka, Pak Bambang Pradipta berdiri di teras, wajahnya letih seperti orang yang baru kehilangan separuh hidup.
Mama Arya meninggal sebulan sebelumnya.
Pak Bambang bekerja di dinas kota dan sering pulang malam. Papa Hendra, sopir yang sudah lama dipercaya keluarga Pradipta, akhirnya membawa Arya ke rumah setiap sepulang sekolah. Awalnya hanya untuk makan dan menunggu ayahnya. Lama-lama, satu piring nasi menjadi dua, satu meja belajar menjadi milik bersama, dan satu rumah kecil di Tangerang Selatan menjadi tempat Arya bisa bernapas tanpa ditanya apakah ia sudah kuat.
Keira kecil tidak mengerti duka. Ia hanya tahu Mas Arya tidak banyak bicara, matanya panjang dan tenang, dan kalau diberi ayam goreng bagian paha, ia selalu memotong sedikit untuk Keira.
Sejak itu, Keira memutuskan Mas Arya adalah orang baik.
Masalahnya, orang baik itu kemudian mendapat tugas paling berat di dunia: mengajari Keira matematika.
"Keira, kalau satu apel ditambah satu apel, jadi berapa?"
"Dua."
"Kalau x tambah x?"
Keira menatap buku dengan wajah serius. "Apel juga?"
Arya yang saat itu baru SMP menutup wajah dengan kedua tangan.
Mama Lina yang sedang menggoreng tempe tertawa dari dapur. "Sabar, Arya. Keira memang kalau angka suka tersesat."
Tersesat adalah kata halus.
Pernah satu soal pecahan dijelaskan Arya dua puluh kali. Keira tetap menjawab salah dengan percaya diri. Arya yang biasanya kalem akhirnya menunduk di meja, bahunya bergetar. Keira panik, mengira ia menangis.
"Mas Arya, jangan nangis. Aku ambilkan keripik pisang, ya?"
"Aku bukan nangis," gumam Arya.
"Tapi matamu merah."
"Karena otakku terbakar."
Keira berlari ke dapur mengambil satu toples keripik pisang, dua permen susu, dan segelas es sirup. Ia menaruh semuanya di depan Arya seperti sesajen permintaan maaf.
"Kalau aku pintar, nanti Mas Arya tidak usah sedih."
Arya menatapnya lama. Lalu ia mengambil permen susu dan membuka bungkusnya untuk Keira.
"Kamu tidak harus langsung pintar. Kamu cuma harus mau belajar."
Kalimat itu menempel di kepala Keira bertahun-tahun.
Arya tumbuh menjadi laki-laki yang membuat tetangga menoleh. Tinggi, rapi, nilai bagus, masuk universitas negeri favorit. Keira tumbuh menjadi gadis yang tetap bulat, tetap lambat memahami rumus, tetapi selalu tahu kapan Arya pulang, makanan apa yang ia suka, dan bagaimana membuatnya tertawa ketika Pak Bambang terlalu sibuk.
Saat Keira SMP, Arya mengajarinya membuat rangkuman. Saat Keira SMA, Arya menemaninya mendaftar bimbingan belajar. Ia pernah duduk tiga jam di warung es kelapa hanya untuk memastikan Keira mengerjakan latihan ujian sampai selesai.
"Kalau aku tidak masuk kampus bagus, Mama pasti kecewa," kata Keira suatu malam.
"Tante Lina tidak akan kecewa karena nilai," jawab Arya.
"Tapi aku kecewa."
Arya menatapnya, lalu menyodorkan buku. "Kalau begitu, belajar. Aku temani."
Begitulah cinta pertama Keira tumbuh. Tidak dramatis, tidak ada bunga, tidak ada janji. Hanya lampu belajar, suara hujan di genteng, semangkuk mie instan dibagi dua, dan Mas Arya yang selalu berkata ia bisa.
Pada usia delapan belas, Keira berhasil masuk universitas yang dulu terasa terlalu jauh. Mama Lina menangis. Papa Hendra membeli ayam bakar. Arya datang membawa tas laptop bekas yang masih bagus.
"Hadiah," katanya.
Keira memeluk tas itu seperti memeluk masa depan. Di dalam hati, ia menyimpan kalimat yang belum berani diucapkan: Mas Arya, nanti kalau aku sudah lebih pantas, bolehkah aku berdiri di sampingmu bukan sebagai adik?
Ia tidak pernah sempat bertanya.
Minggu pertama kuliah, Arya datang ke kampus Keira dengan seorang perempuan di sampingnya.
"Keira," katanya, senyum seperti biasa, "kenalkan, ini Nadia."
Nadia Pramesti cantik dengan cara yang membuat orang tidak perlu mencari sudut terbaik. Tubuhnya ramping, jilbabnya rapi, suaranya lembut. Ia menyapa Keira dengan ramah, tetapi genggaman tangannya di lengan Arya cukup jelas.
Pacar.
Kata itu tidak diucapkan Arya dengan kejam. Justru karena ia mengucapkannya dengan bahagia, Keira tidak punya tempat untuk marah.
"Oh." Keira tersenyum sampai pipinya sakit. "Halo, Kak Nadia."
Hari itu, Keira pulang naik angkot sambil memeluk tas laptop hadiah Arya. Jakarta panas, jalan macet, dan di kaca jendela ia melihat wajahnya sendiri yang bulat, merah, dan bodoh.
Beberapa minggu kemudian, Nadia menemuinya di kantin kampus. Tidak ada adegan menampar. Tidak ada kata kasar. Nadia hanya duduk, meletakkan ponsel di meja, lalu memutar rekaman suara Arya.
Suara Arya terdengar jelas.
Keira itu sudah seperti adik. Aku sayang, tapi bukan begitu.
Nadia mematikan rekaman. Wajahnya tampak bersalah, tetapi tetap tegas.
"Aku tidak mau kamu salah paham terus," katanya. "Arya baik pada semua orang yang dia anggap keluarga."
Keira ingin mengatakan bahwa sepuluh tahun tidak bisa diringkas menjadi "keluarga" semudah itu. Ia ingin bertanya apakah Nadia tahu siapa yang menunggu Arya saat ibunya meninggal, siapa yang membagi keripik pisang ketika ia pura-pura tidak menangis.
Tapi semua pertanyaan itu tidak berguna.
Karena Arya sudah menjawab.
Malam itu, Keira tidak makan. Besoknya juga hampir tidak makan. Mama Lina tidak memaksanya bicara, hanya menaruh sup di meja dan duduk di sampingnya. Papa Hendra berhenti menyebut nama Arya di rumah.
Dua bulan berikutnya, Keira turun hampir sepuluh kilo.
Tetangga memuji. Mereka bilang Keira makin cantik, makin berbentuk, makin pantas memakai baju kecil. Keira tersenyum setiap kali mendengarnya, padahal yang hilang bukan hanya lemak di tubuhnya. Ada sesuatu di dadanya yang ikut terkikis.
Ia masuk kelas taekwondo karena tidak mau lagi merasa tubuhnya hanya tempat orang menilai. Ia belajar sampai kaki memar, sampai tangannya pegal, sampai instruktur berkata tendangannya bagus. Di kampus, ia duduk di barisan depan, mencatat seperti orang kelaparan, dan untuk pertama kalinya mendapat nilai A di semua mata kuliah.
Ketika Arya menelepon untuk bertanya kenapa ia jarang datang ke rumah Pradipta, Keira menatap layar sampai panggilan itu mati.
Lalu ia menangis lima menit.
Setelah itu, ia mandi, makan nasi dengan telur dadar buatan Mama, dan membuka buku.
Tujuh tahun berlalu sejak hari itu. Keira kembali naik berat badan, kembali suka makan, kembali tertawa keras, tetapi ada satu pintu di dalam dirinya yang tidak pernah ia buka lagi.
Pintu itu bernama Arya.
Dan sekarang, pria yang ia kira tidak akan pernah ia temui lagi ternyata pulang ke Jakarta, membawa kabar cinta yang belum selesai seperti pisau yang lupa dicabut.