NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Kebohongan yang Terbongkar

Lima hari setelah Grup Adiwijaya menyatakan tidak pernah ada pertunangan resmi, Amara datang ke acara minum teh dengan sebuah sertifikat berbingkai emas.

Ia meletakkannya di meja pajangan sebuah klub privat di Kebayoran Baru, tepat di samping rangkaian bunga dan daftar tamu kehormatan. Di bagian atas tertulis nama Program Sekolah Awan, sebuah inisiatif pendidikan untuk daerah terpencil di Sulawesi.

“Saya tidak ingin membicarakan urusan pribadi,” kata Amara kepada beberapa sosialita yang bertanya tentang pernyataan Arka. “Lebih baik kita fokus pada anak-anak yang membutuhkan. Saya sudah mendampingi sekolah ini hampir dua tahun.”

Kamera ponsel langsung terangkat.

Tiara berdiri di sisinya dengan senyum tipis. Ia tidak ikut mengulang klaim dua tahun itu. Kehati-hatian tersebut tidak luput dari perhatian Anindya.

Anindya duduk dua meja dari mereka bersama Sisi. Di depannya ada salinan laporan publik Program Sekolah Awan, surat konfirmasi penyelenggara, dan riwayat unggahan Amara yang dikumpulkan secara legal selama lima hari terakhir.

“Pembayarannya masuk tiga hari lalu,” bisik Sisi. “Paket donatur acara, bukan pembiayaan sekolah. Sertifikatnya asli, klaimnya yang dipanjangkan.”

“Perpustakaan?”

“Dibangun yayasan lokal delapan bulan lalu. Laporan audit dan foto serah terima terbuka untuk umum. Nama Amara tidak ada.”

Anindya menutup berkas. “Kita tidak menuduh. Biarkan dia menjelaskan sendiri.”

Sisi menurunkan suara. “Kalau ini menyebar, nama program bisa ikut terseret.”

“Hubungi pengurus sebelum sesi dimulai. Pastikan mereka siap menjelaskan jenis sertifikat tanpa membuka data anak atau rekening pribadi donatur.”

“Sudah. Mereka setuju meluruskan hanya jika Amara membuat klaim yang tidak sesuai.”

“Dan semua unggahan kita tetap menautkan laporan resmi, bukan potongan video.”

Sisi memandang sertifikat berbingkai emas itu. “Anda masih melindungi acara yang dia pakai untuk berbohong.”

“Saya melindungi sekolahnya. Kalau publik mengira seluruh program palsu, yang kehilangan sumbangan bukan Amara.”

Anindya juga meminta panitia tidak menampilkan wajah siswa dalam materi respons. Foto serah terima perpustakaan boleh digunakan hanya dalam versi yang sudah disetujui yayasan desa. Ia ingin kebohongan Amara terbuka, tetapi tidak akan memakai anak-anak sebagai latar bagi perang pribadi.

Setelah konfirmasi terakhir masuk, Sisi mengunci layar tabletnya. “Semua sumber siap. Tidak ada dokumen internal, tidak ada akses ilegal.”

“Bagus. Kalau pertanyaan sederhana cukup, kita tidak membutuhkan jebakan.”

Ia juga meminta salinan rekaman acara disimpan utuh untuk mencegah potongan ucapan dipelintir kemudian.

Acara itu semula dimaksudkan sebagai pertemuan santai untuk menghubungkan penyandang dana dengan organisasi pendidikan. Namun sejak pernyataan Adiwijaya beredar, setiap ucapan Amara dibaca sebagai usaha mempertahankan tempat di lingkaran keluarga tersebut.

Ia mengetahuinya. Karena itu suaranya dibuat lebih lembut, lebih penuh pengabdian.

“Anak-anak di sana bahkan belum memiliki perpustakaan yang layak ketika saya pertama kali membantu,” katanya. “Saya mengikuti perkembangannya dari awal.”

Seorang tamu memuji kepeduliannya. Tamu lain bertanya apakah ia pernah berkunjung langsung.

“Jadwal penerbangan saya sangat padat,” jawab Amara. “Tapi saya selalu berkomunikasi dengan pengelola.”

Pembawa acara kemudian membuka sesi tanya jawab. Beberapa orang membahas mekanisme sumbangan dan laporan dampak. Anindya menunggu sampai mikrofon tiba di mejanya.

“Saya tertarik dengan perpustakaan yang tadi disebut,” ujarnya. “Karena Bu Amara mengikuti program itu sejak awal, mungkin beliau bisa menjelaskan apakah bangunan tersebut dikelola sekolah atau yayasan desa. Laporan publik menunjukkan serah terima dilakukan delapan bulan lalu, jadi model pembiayaan lanjutannya penting bagi calon donatur.”

Ruangan menjadi lebih tenang.

Amara masih tersenyum. “Tentu dikelola sekolah.”

Salah satu pengurus Program Sekolah Awan yang duduk di baris depan mengangkat kepala.

Anindya melanjutkan dengan nada yang sama sopannya. “Menarik. Dalam laporan audit tertulis asetnya dikelola koperasi desa agar bisa dipakai tiga sekolah. Apakah ada perubahan setelah laporan itu?”

“Mungkin detail administratifnya berubah.”

“Bisa jadi. Lalu, dukungan dua tahun yang Anda sebut masuk pada komponen mana? Buku, honor pendamping, atau transportasi?”

Senyum Amara mulai kaku.

“Saya tidak menghafal semua angka.”

“Tidak perlu semua. Calon donatur hanya membutuhkan gambaran agar tidak membiayai pos yang sudah tertutup.”

Pengurus program akhirnya berdiri. “Maaf, izinkan saya meluruskan. Bu Amara membeli paket donatur pendukung untuk acara bulan ini. Kami sangat menghargai sumbangan tersebut, tetapi pendanaan dua tahun dan pembangunan perpustakaan berasal dari yayasan mitra kami.”

Bisik-bisik menyebar cepat.

Amara menoleh tajam. “Sertifikat saya dikeluarkan oleh program Anda.”

“Benar. Sertifikat itu menyatakan kontribusi pada acara bulan ini.”

“Saya tidak pernah bilang membangun perpustakaan sendirian.”

“Anda bilang mendampingi sejak awal,” sahut seorang tamu yang tadi merekam. “Mungkin kami salah memahami.”

Kalimat yang terdengar membantu itu justru membuat keadaan lebih buruk. Semua orang tahu siapa yang menciptakan kesalahpahaman.

Tiara mengambil mikrofon. “Yang terpenting, dana sudah masuk dan bisa digunakan. Barangkali ini kesempatan bagi Program Sekolah Awan memperbarui cara mereka menjelaskan jenis sertifikat.”

Pengurus itu tersenyum sopan. “Jenis dan tanggal kontribusi tercetak jelas di bawah nama donatur.”

Beberapa pasang mata turun ke bingkai emas. Amara rupanya sengaja menutup bagian bawah sertifikat dengan pita dekorasi.

Seorang staf membuka pita setelah meminta izin penyelenggara. Tanggal transfer tiga hari lalu terlihat di depan semua orang.

Wajah Amara kehilangan warna.

Anindya menyerahkan mikrofon tanpa menambah satu kata pun. Ia tidak perlu menyebut apartemen, talak, Merapi, atau Arka. Kebohongan itu runtuh karena tanggalnya sendiri.

Saat acara berakhir, beberapa unggahan telah muncul di lingkaran sosial privat. Foto sertifikat tanpa pita dipasang berdampingan dengan cuplikan ucapan Amara tentang dua tahun pendampingan. Belum menjadi berita besar, tetapi cukup untuk membuat orang mempertanyakan citra yang ia jual.

Di koridor, Sisi berjalan bersama Anindya menuju pintu keluar.

“Akun anonim mereka mulai bertanya apakah Anda mendapat proyek karena hubungan pribadi dengan Pak Arkana,” katanya.

“Jangan hapus. Jawab hanya lewat laporan kepatuhan dan dokumen pengadaan yang bisa diakses publik.”

“Tanpa menyerang balik?”

“Fakta tadi sudah cukup. Kalau kita terlihat terlalu bersemangat, Amara bisa mengaku korban.”

Sisi mengangguk. “Sumber yang membocorkan jadwal dokumen internal juga mulai terlihat. Kami butuh dua hari untuk memastikan.”

“Pastikan bukti aksesnya utuh sebelum menyebut nama.”

Di ruang acara, Amara menatap punggung Anindya yang menjauh. Tiara berdiri di sampingnya, kali ini tanpa mencoba menghibur.

“Dia tahu tanggal transfer,” kata Amara.

“Tanggalnya ada di laporan publik.”

“Dia juga tahu soal perpustakaan.”

“Siapa pun yang membaca bisa tahu.”

Amara meremas pita emas yang tadi menutupi sertifikat. “Itu bukan kebetulan.”

Tiara memandang pintu yang baru tertutup. “Kalau begitu, berhenti meremehkannya.”

Amara menjatuhkan pita ke meja dan berkata melalui gigi yang rapat, “Cari siapa yang bekerja bersamanya. Saya ingin semua namanya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!