NovelToon NovelToon
Bima & Bopo Muda

Bima & Bopo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:362k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.

Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.

Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.

Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Pertunjukkan Hewan

Bruuuuk!

Bagas terjatuh di tanah. Lututnya menghantam sebuah batu hingga berdarah. Tangisannya pun pecah saat itu juga, merasakan sakit di kakinya karena terjatuh.

Bima dan Satrio yang ada di bawah segera menolong dan berusaha menenangkan. Sementara itu, Aka langsung turun dari atas pohon dan turut menenangkan saudara sepupunya yang menangis karena lututnya yang berdarah.

Tak tinggal diam, Aka segera mencari tanaman yang biasa untuk di jadikan obat luka. Tentu saja ia belajar hal itu dari Romonya yang cukup sering mengajaknya keluar dan masuk hutan.

"Sini, aku obatin dulu." Kata Aka yang kemudian menempelkan dedaunan yang sudah ia remas-remas hingga hancur dan mengeluarkan cairan.

"Sakit gak?" Tanya Aka setelah menempelkan obat di lutut Bagas.

"Enggak, Mas." Jawab Bagas dengan lirih. Isakannya masih terdengar meski ia sudah berhenti menangis.

"Ada yang luka lagi? Atau ada yang sakit?" Tanya Satrio sambil memeriksa tubuh Bagas yang lain.

"Gak ada, Kak. Cuma kakiku aja yang sakit." Jawab Bagas sambil mengusap air mata dan ingus yang keluar karena ia menangis dengan lengan bajunya.

"Mas Bagas jangan nangis lagi, ya. Ini Adek kasih rambutan lagi." Kata Bima sambil memberikan beberapa buah rambutan pada Bagas.

"Bagas bisa jalan, gak?" Tanya Satrio. Ia kemudian membantu Bagas berdiri dan mencoba untuk berjalan.

"Bisa. Tapi, pelan-pelan." Jawab Bagas yang mencoba berjalan pelan dengan terpincang-pincang.

"Kakiku yang ini sakit banget. Gak bisa jalan cepet-cepet." Kata Bagas sambil menunjuk pergelangan kakinya yang terasa nyeri untuk berjalan.

"Yaudah, ayo kita pulang aja. Kita jalan pelan-pelan." Ajak Aka.

"Tapi, nanti kalau kita di marah, gimana?" Tanya Satrio yang khawatir karena membawa Bagas pulang dalam keadaan pincang.

"Iya. Mama kalau marah, serem banget." Timpal Bagas.

"Sama, Bubu juga." Sahut Satrio.

"Mbun, apalagi. Kalo marah, kayak langsung berubah jadi Harimau." Kata Bima yang membuat tiga saudaranya terkekeh.

"Kita bawain buah yang banyak aja, biar Mbun, Te Ala sama Te Lia gak marah." Usul Aka yang di jawab anggukan setuju oleh saudara-saudaranya.

Aka kembali memanjat pohon rambutan hutan dan mengambil banyak buah rambutan sebelum mereka berjalan pulang. Mereka berempat, pun pulang dengan berjalan pelan sambil bergantian memapah Bagas.

"Mamas, kita ambil jeruk juga ya." Kata Bima saat mereka kembali melewati pohon jeruk.

Aka mengangguk setuju. Ia dan Bima kemudian kembali memanen buah jeruk, sementara Satrio menemani Bagas duduk di tempat yang teduh.

"Kok di hutan gak ada ular, ya?" Tanya Satrio.

"Gak ada. Ularnya gak gak bakal dateng kalau gak di panggil sama Mamas. Mereka takut di marahin Mamas." Jawab Bima.

"Mamas panggil dong, ularnya. Aku pingin lihat ular di hutan." Pinta Bagas.

"Emang kamu gak takut?" Tanya Aka.

"Kalo ularnya gigit, ya, aku takut. Kalo gak gigit, aku gak takut." Jawab Bagas.

"Tenang aja, ularnya gak akan gigit, kan ada Mamas yang jagain kita. Semua hewan itu nurut sama Mamas." Ujar Bima dengan bangga.

"Yaudah, aku panggilin dulu." Kata Aka yang menuruti permintaan sepupunya untuk menghibur sepupunya itu.

Aka mulai memejamkan mata dengan tangan yang bersidekap dada. Sementara itu, bibirnya berkomat-kamit melafalkan bacaan dan sebelah kakinya ia ketuk-ketukkan pelan di tanah.

Tak berselang lama, terdengar suara elang yang terbang rendah di sekitar mereka. Aka membuka mata, kemudian ikut duduk bersama Satrio, Bagas dan Bima.

Satu-persatu hewan-hewan hutan mulai muncul. Tak hanya kobra dan sanca yang mendatangi mereka, namun ada berbagai jenis kera, rusa, berbagai macam burung dan beberapa binatang lain yang berdiri santai tak jauh dari mereka.

"Waah! Aka keren! Seru Satrio sambil memperhatikan hewan-hewan yang terus berdatangan.

"Di sini memangnya gak ada Harimau, Mas? Kata Mama, di hutan ini ada Harimau." Tanya bagas.

"Ada. Tapi kata Romo, gak boleh sembarangan panggil Belang." Jawab Aka yang menuruti pesan dari Romonya.

"Ini aja udah banyak hewan yang kita lihat. Rasanya kayak lagi di Kebun Binatang." Ujar Satrio.

Setelah puas melihat berbagai macam hewan di Hutan, empat orang bocah itu kembali melanjutkan perjalanan mereka keluar hutan.

"Bagas biar aku bonceng aja, Bima yang naik sepeda sendiri." Kata Satrio yang di jawab anggukan setuju oleh Aka dan Bima.

Setelah meletakkan buah-buahan yang mereka ambil di keranjang sepeda, mereka segera mengayuh sepeda kembali ke rumah.

...****************...

"Nah itu mereka, baru pada pulang. Dari mana aja, coba?" Cicit Mifta saat melihat keempat bocah laki-laki itu datang.

"Kalian berempat darimana? Main dari pagi, kok sampe siang gini baru pulang." Tanya Dipta.

"Main di Hutan, Yah." Jawab Satrio.

"Lihat nih, Pa. Kita bawa buah-buahan banyak." Kata Bagas.

"Kok sepi? Sena, Mbak Ara sama Nty Ncim, kemana?" Tanya Aka.

"Pada pergi sama ibu-ibu ke Kabupaten." Jawab Dipta.

"Kalian sih, mainnya lama banget. Jadi di tinggal jalan-jalan ke Kabupaten." Timpal Mifta.

"Kok Yayah sama Om Ita gak ikut?" Tanya Satrio.

"Lah, kalo pada pergi semua, kalian berempat di rumah mau sama siapa? Wong Pak Ade Juna sama Opa ke Kecamatan, gak ada di balai Desa." Jawab Dipta.

"Kung-kungku, kemana, Pa?" Tanya Bima. Meski ia yang paling sering meledek Arsha, namun, ia jugalah yang paling dekat dengan Arsha.

"Kung-kung ke Pabrik." Jawab Mifta.

"Kalian berempat apa bokongnya lengket sama jok sepeda? Kok gak ada yang turun dari sepeda." Cicit Dipta.

Mereka berempat hanya terdiam dan saling berpandangan. Menangkap sesuatu yang mencurigakan, dipta dan Mita pun menghampiri keempa bocah yang masih berada di atas sepeda itu.

"Bikin ulah apa lagi, kalian?" Tanya Mita.

"Gak bikin ulah apa-apa kok, Pa." Jawab Bima.

"Hayo, ngaku. Gak boleh bohong." Kata Dipta sambil menatap penuh selidik ke arah putra dan keponakannya.

"Itu, Om, tadi Bagas jatuh dari pohon." Ujar Aka yang akhirnya berbicara.

"Astaghfirullah..." Lirih Dipta dan Mifta bersamaan.

"Terus, gimana? Ada yang luka?" Tanya Mifta yang langsung menghampiri putra sulungnya.

"Lututku berdarah, Pa. Tapi udah di obatin sama Mamas. Cuma kakiku ini sakit banget." Adu Bagas sambil menunjuk pergelangan kakinya yang mulai membengkak.

"Ya Allah, Ya Rabbi." Lirih Mifta yang kemudian menggendong Bagas dan membawanya duduk di teras rumah Aksa.

"Keseleo itu, Mif." Komentar Dipta yang turut memeriksa kaki keponakannya.

"Kok bis jatuh dari pohon?" Tanya Dipta.

"Iya, Dek bagas tadi ikut-ikutan Mamas manjat pohon rambutan yang besar banget, Yah. Abis itu kakinya kepleset dan jatuh." Kata Satrio yang menceritakan kronologi kejadian.

"Pohon rambutan yang mana, Mas?" Tanya Dipta yang tentu juga mengenali isi dari hutan itu yang belum banyak berubah.

"Pohon rambutan hutan yang paling besar itu, Om."Jawab Aka.

"Ya Allah. Kamu kok ya ikut-ikutan Mamasmu lho, Le? Itu, Pakde mau meluk batangnya aja susah, apa lagi kamu. Kalo Mamas sama Pak Ade Juna, beda. Mereka emang jagonya manjat. Wong tangan sama kakinya kayak nempel di pohon kok." Kata Dipta.

"Lama-lama nanti keluarga kita ini bisa bikin pabrik obat, lho. Biar stok obat sakit kepala sama jantungnya banyak." Kata Mifta sambil mengelus dada.

1
Gita Mitha Pertiwi
wah oleh2 merah delima ini
Lhia Alimin
lanjut la ceritanya
Santi
makasi kak oleh2 ya, double up, 🙏🙏pasti tahu lah mamas, bopomu kan bopo istimewa,
Munas Tuti
ayoo oleh2 apa yg yg dibawa Aka..
Santi
syukurlah ratunya baik, jadi ga terjadi masalah besar
Munas Tuti
belum tau ajaa walu kelas Aka klo anak remaja itu seorg bopo.. .alhamdulillah temens Aka kembali
Mulyani Asti
Alhamdulillah gak sampe kejadian kaya Arjuna dulu waktu acara kampus,untung nya nyai nya baik sama aka aku udah deg2 an padahal
Nur Wakidah
oleh2 dari Nyi Ratuuuuuu , , ,
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
Murti Puji Lestari
ya Allah.. irisan bawangnya sampai sini😭😭😭
amilia amel
kamu salah Ka kalo nanya sama romo-mu
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
Munas Tuti
sopo yoo sing nyeloi Aska mau bengii..
Rahmawati
oleh oleh nya apaan tuh
Rahmawati
pak wali kelas gk tau ya kalo aka itu calon bopo😂
Munas Tuti
Yaa Allah melas banget Arjuna...ikutan mrebes mili ikiii
Kristiana Subekti
up lagi thor 😁🤭
Atik Kiswati
sesuatu yg berbau mistis tu bagiku mengerikan.....gk bisa di nalar ama otak kt,hrs pake hati....kalau hatinya baik / bersih sih gpp tapi kalau hatinya jahat / kotor mlh tambah berabe.....
syora
kira kira oleh" apa ya
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh
ryriz: semuanya kan titisan... tp yg mewarisi batu panca warna milik bopo cokro manggala kan mamas aka...
total 1 replies
Cica Aretha
allhamduliah di kasih doble up..makasih thor ..semangattttt💪😍
TS
mas Aka dapet apa ya,,,,.semangat Thour Up yang banyak
Nuri 73749473729
alhamdulillah.... bs double2 up Thor semangat thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!