NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vivi

Ketika Kamila Santoso pulang membawa kue ulang tahun pernikahan, ia tidak menyangka akan menemukan suaminya bersama perempuan lain di ranjang mereka sendiri. Tujuh tahun pengorbanan, harta yang dijual demi bisnis keluarga, dan semua hinaan yang ia telan runtuh dalam satu malam.
Kali ini Kamila tidak menangis dan tidak memohon. Ia mengumpulkan bukti, menuntut haknya, dan pergi dengan kepala tegak. Namun saat ayah sang selingkuhan, Gibran Beltran, muncul untuk meminta maaf, hidup Kamila berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Di antara perceraian, perebutan harta, keluarga mertua yang tamak, dan hati yang perlahan belajar percaya lagi, Kamila harus memilih: tetap menjadi korban masa lalu, atau merebut kembali martabatnya dengan cara yang membuat semua orang terdiam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Ajakan di Sofa

Maybach hitam masuk perlahan ke parkiran bawah tanah Residensial Los Encinos.

Sopir turun, memutari mobil, lalu membukakan pintu belakang.

Kamila keluar lebih dulu.

Gibran turun setelahnya.

Kamila berhenti, bingung. Ia memang bersikeras mengantar Kamila pulang, tetapi kenapa ikut turun? Apa ia punya properti lain di kompleks ini?

"Kamila, hari ini aku membawamu ke lelang. Kamu bahkan tidak mau mengundangku naik untuk minum kopi?"

Suara Gibran tenang.

Kamila merasa agak canggung.

Sudah terlalu malam untuk seorang pria naik ke rumah perempuan hanya demi kopi.

Ia hampir menolak, tetapi teringat anting zamrud yang diberikan Gibran. Setelah menerima hadiah seperti itu, mengusirnya di depan pintu terasa terlalu tidak sopan.

Kamila mengangguk.

Mereka berjalan bersama menuju lift.

Kamila meliriknya dari samping dan bibirnya melengkung tipis.

"Kamu lelah?"

"Tidak."

Suara Gibran berubah sangat lembut.

"Kamu berdiri lama sekali. Kakimu sakit?"

"Tidak terlalu."

Kamila menunduk ke arah sepatu haknya.

Pintu terbuka dan mereka masuk.

Di dalam kabin hanya terdengar dengung halus mesin. Kamila bersandar ke dinding dan menatap lantai, tenggelam dalam pikiran.

"Ada apa?" tanya Gibran.

Kamila mengangkat wajah.

"Di lelang tadi, aku merasa ada yang memperhatikan kita."

"Ya. Teman Valerie ada di sana."

Wajah Gibran tidak berubah.

Kamila terdiam, lalu tersenyum pahit.

"Kalau begitu dia pasti melihat kita."

"Tidak masalah. Cepat atau lambat Valerie akan tahu kamu asisten pribadiku."

"Kamu tidak khawatir dia membuat keributan?"

Lift menandai kedatangan mereka di lantai teratas.

Saat pintu terbuka, Kamila mencari kunci sambil mendengarnya bicara.

"Aku terlalu memanjakan Valerie sejak kecil. Dia mengira seluruh dunia harus berputar mengelilinginya. Sekarang dia bersama Maulana, dan pria itu punya niat buruk. Aku bisa melihatnya."

Kamila membuka pintu dan menepi agar Gibran masuk.

Gibran melangkah masuk dan menyapu ruang tamu dengan pandangan.

"Aku tidak memberinya rumah ini karena ingin tahu berapa lama Maulana sanggup berpura-pura."

Ia melepas jas.

Selama tahun-tahun pernikahan, Maulana selalu pulang, melepas jasnya, lalu menyodorkannya kepada Kamila agar ia gantungkan.

Melihat gerakan Gibran, Kamila mengambil jas itu dengan natural dan menggantungnya di rak.

"Kalau seorang pria mampu menghitung setiap rupiah untuk merugikan mantan istrinya," lanjut Gibran, "menurutmu seberapa tulus dia terhadap Valerie?"

Gibran memperhatikan gerakan Kamila.

Senyum tipis menyentuh bibirnya, dan matanya dipenuhi kelembutan yang sulit disembunyikan.

Kamila bertanya-tanya kenapa ia bertindak begitu alami.

Seolah Gibran adalah suaminya.

Jarinya mengerat pada kain.

Karena sudah terlanjur melakukannya, ia memaksa diri tetap tenang dan berpura-pura itu tidak berarti apa-apa.

Ia berjalan ke sofa, duduk, lalu menautkan tangan di atas lutut.

Gibran tidak langsung duduk.

Ia berdiri di tengah ruang tamu dan mengamati setiap detail tanpa tergesa.

"Kamu tinggal sendiri?"

"Ya."

Jari Kamila mengetuk pelan lututnya.

"Sejak perceraian."

Gibran menoleh kepadanya.

Cahaya kuning hangat melembutkan siluetnya.

Tatapannya menyusuri wajah Kamila, turun ke leher, lalu berhenti di pergelangan kakinya. Kamila masih mengenakan sepatu hak. Bentuk sepatu yang ramping membuat kakinya tampak semakin panjang.

"Lepas sepatumu," kata Gibran dengan suara sedikit lebih berat. "Kakimu tidak sakit?"

Kamila hampir tidak sempat bereaksi.

Gibran mendekat dan berlutut di depannya.

Seluruh tubuh Kamila menegang.

Ia memegang tumit sepatu kanan dan melepasnya dengan hati-hati. Lalu ia melakukan hal yang sama pada sepatu kiri.

Kaki telanjang Kamila menyentuh karpet.

Jari-jari kakinya menekuk refleks. Sentuhan Gibran di kulitnya mengirimkan getar halus.

"Pak Gibran..."

Suaranya menegang.

Gibran berdiri dan menatapnya dari atas.

"Di luar pekerjaan, jangan panggil aku Pak Gibran."

Sudut bibirnya terangkat.

"Barusan kamu mengambil jasku seolah itu hal paling wajar di dunia. Kenapa sekarang memperlakukanku seperti orang asing lagi?"

Wajah Kamila terbakar.

Ia menunduk, tidak sanggup menahan tatapannya.

Kamila mencoba bergerak untuk menciptakan jarak, tetapi Gibran berdiri tepat di depannya, lutut mereka nyaris bersentuhan. Ia tidak punya tempat untuk mundur.

"Aku buatkan kopi."

Ia hendak berdiri.

Gibran meletakkan tangan di bahunya.

Tekanannya tidak kuat, tetapi cukup membuat Kamila jatuh kembali ke sofa.

Gibran duduk di sampingnya dan menyandarkan satu lengan di punggung sofa di belakangnya, seolah setengah memeluknya.

Aromanya menyelubungi Kamila.

Kamila bergeser beberapa sentimeter dan menabrak lengan sofa.

Ia tidak bisa mundur lagi.

"Kamu takut kepadaku?" tanya Gibran.

Kamila menggeleng.

Ia menurunkan bulu mata dan menatap tangan yang saling bertaut.

Ia merasakan mata Gibran pada profil wajahnya. Tatapan itu tidak membakar, tetapi seperti lapisan panas tipis yang membuatnya kehilangan kendali atas tubuh sendiri.

"Kalau begitu, kenapa tidak menatapku?"

Kamila mengangkat kepala.

Gibran berusia empat puluh lima tahun. Garis halus di sudut matanya tidak mengurangi ketegasan tenang wajahnya. Justru garis itu memberi bobot dari semua hal yang pernah ia lalui.

"Aku tidak menghindar," kata Kamila, berusaha terdengar tenang. "Aku akan membuatkan kopi."

Saat ia mencoba bangkit lagi, Gibran menggenggam pergelangan tangannya.

Ibu jarinya mengusap kulit Kamila perlahan.

Jakunnya bergerak naik turun.

"Kalau minum kopi jam segini, aku tidak bisa tidur."

Jantung Kamila menghantam keras.

Ia ingin menarik tangan, tetapi menyadari jemarinya gemetar.

Itu bukan takut.

Itu adalah emosi yang bahkan tidak ingin ia akui kepada diri sendiri.

"Kalau begitu... kamu mau minum apa?"

Suaranya nyaris hanya bisikan.

Gibran tidak menjawab.

Ia menahan tatapan Kamila, lalu menyusuri alisnya, pangkal hidungnya, dan berhenti di bibirnya.

"Kamila."

Suaranya serak.

"Ya?"

"Kamu suka antingnya?"

"Suka. Tapi terlalu mahal."

"Tidak."

Gibran memotongnya.

Ia menggeser jari dari cuping telinga Kamila ke garis rahang, lalu mengangkat wajahnya agar menatap dirinya.

"Untukmu, tidak ada perhiasan yang terlalu mahal. Zamrud itu indah, tapi tidak sebanding denganmu."

Dalam dua puluh delapan tahun hidupnya, Kamila sudah mendengar banyak pujian.

Tidak ada yang membuatnya panas dari telinga sampai dada seperti kata-kata itu.

Ia ingin mengatakan sesuatu untuk memecah atmosfer berbahaya yang menumpuk di antara mereka, tetapi semua jawaban sopan dan kalimat menghindar mendadak tidak berguna.

Napasnya semakin cepat.

Di bawah cahaya hangat, wajah Gibran tampak semakin dalam. Di mata yang biasanya tenang itu, ada sesuatu yang terlalu mudah Kamila pahami.

Ia bukan gadis remaja yang polos.

Ia pernah menikah dan tahu arti tatapan seorang pria kepada seorang wanita.

Kamila berpikir untuk mendorongnya kuat-kuat.

Tubuhnya tidak menurut.

Ia bahkan tidak tahu apakah anggur di lelang membuat kepalanya kabur, atau ada alasan lain yang jauh lebih dalam dan belum berani ia akui.

Dari pergelangan kaki sampai telinga, dari ujung jari sampai rambut, setiap tempat yang pernah disentuh Gibran terasa panas.

Setelah perceraian, Kamila mengira usianya sudah melewati masa ketika tatapan atau sentuhan bisa membuatnya kacau.

Gibran hanya butuh beberapa menit untuk membuktikan betapa salahnya ia.

"Gibran..."

Itu pertama kalinya ia mengucapkan nama pria itu.

Suaranya keluar ringan dan lembut, seperti bulu yang melintas di dekat telinga.

Mata Gibran menggelap.

"Apa yang kamu inginkan dariku?"

Begitu pertanyaan itu keluar, Kamila melihat perubahan di mata Gibran.

Ketenangannya retak, membiarkan hasrat panas yang tersembunyi di bawahnya keluar.

Seluruh tubuh Kamila menegang.

"Apa yang kuinginkan?"

Gibran mengulang pertanyaan itu pelan dan menunduk.

Kamila melihat wajahnya mendekat sedikit demi sedikit. Ia merasakan napas hangat berjejak mint menyentuh bibirnya.

Kamila menutup mata karena insting.

Ciuman itu datang dengan kelembutan yang nyaris tertahan.

Gibran menangkap bibir bawahnya terlebih dahulu, lalu memperdalam ciuman perlahan.

Tanpa sadar Kamila mencengkeram bagian depan kemejanya. Buku-buku jarinya memucat karena tekanan.

Gibran meletakkan satu tangan di tengkuk Kamila dan menyelipkan jari ke rambutnya.

Ia menarik sedikit, mengundangnya menerima ciuman yang semakin dalam.

Lidahnya memisahkan bibir Kamila dan mencari lidahnya dengan ketegasan yang tidak lagi menerima penghindaran.

Kamila merasa seolah jiwanya dicabut.

Tubuhnya kehilangan tenaga dan tenggelam di sofa.

"Mmm..."

Erangan itu lolos sebelum bisa ia tahan.

Kamila menggigit bibir. Wajahnya begitu panas seperti terbakar.

"Aku tidak naik untuk kopi," gumam Gibran. "Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sisimu."

Napas Kamila kehilangan ritme.

"Aku ingin melihatmu memakai anting itu, tapi bukan karena zamrudnya indah."

Ia berhenti.

Tatapannya jatuh sepenuhnya pada bibir Kamila yang gemetar.

"Aku ingin melihatmu."

"Kamu..."

Ciuman lain menelan sisa kalimat itu.

Saat Gibran menciumnya lagi, Kamila berhenti berpikir.

Ia menekan kedua tangan ke dada Gibran dengan niat mendorongnya, tetapi tidak menemukan tenaga.

"Jangan mendorongku," bisik Gibran di dekat mulutnya. "Kamu tidak akan mampu."

Jari Kamila mengerat pada kain kemejanya.

Ia seharusnya menolak.

Untuk alasan yang tidak ia pahami, ia tidak melakukannya.

Kali ini ciuman itu terlalu lembut.

Ciuman itu mengingatkannya pada malam-malam yang ia tanggung sendirian. Hari-hari hujan ketika tidak ada yang memegang payung untuknya. Setiap penghinaan dan luka dari pernikahannya yang gagal.

Untuk sekali saja, ia ingin melepaskan kendali dan merasakan seseorang menciumnya seolah dirinya berharga.

Gibran menyadari tangan yang menempel di dadanya berhenti menolak dan mulai menggenggamnya.

Ia memperdalam ciuman dan perlahan membawanya masuk ke jaring yang sudah ia bentangkan.

Kamila tidak tahu kapan ia berbaring di atas bantal sofa.

Saat sadar, Gibran berada di atasnya, bertumpu dengan kedua lengan di sisi tubuhnya, mengurungnya dalam bayangannya.

Bibir pria itu meninggalkan mulutnya dan berpindah ke telinga. Lalu menyusuri rahang, turun ke leher.

Giginya menyentuh lembut kulit di atas tulang selangka dan meninggalkan tanda samar.

"Tidak... tunggu..."

Erangan kembali lolos dari Kamila.

Ia menggigit bibir. Pipinya merah sepenuhnya.

Gibran berhenti.

Mata Kamila basah, bibirnya bengkak karena ciuman, dan rambutnya tersebar di bahu. Ia tampak seperti bunga yang basah oleh hujan, berantakan sekaligus memukau.

Jakun Gibran bergerak.

"Kamu menangis?"

Ibu jarinya menyentuh sudut mata Kamila.

Kamila memalingkan wajah untuk menghindar.

"Tidak."

Gibran tertawa rendah.

Dalam tawa itu ada kelembutan dan hasrat yang tertahan terlalu lama.

Ia mengecup kelembapan di dekat mata Kamila. Lalu ujung hidungnya dan sudut bibirnya.

Kamila menutup mata, masih gemetar.

Gibran menahan tengkuknya dan memijat kulit halus itu dengan ibu jari. Ia mengangkat sedikit wajah Kamila.

Ciuman berikutnya lebih dalam.

Lidahnya membuka jalan di antara bibir Kamila dan masuk tanpa ragu.

Kamila mendengar dirinya mengeluarkan erangan kecil dan ingin bersembunyi karena malu.

Tetapi Gibran terlalu pandai mencium.

Ia tidak memberi Kamila ruang untuk memikirkan hal lain.

Tangan Kamila naik melewati dadanya, sampai ke bahu, lalu akhirnya melingkari leher Gibran.

Saat merasakan balasan itu, napas Gibran menjadi lebih berat.

Ia melingkarkan lengan satunya di pinggang Kamila dan menariknya keluar dari sudut sofa.

Kamila berakhir duduk di atas pangkuannya.

Posisi itu membuatnya kehilangan kendali dan lebih jelas merasakan setiap perubahan tubuh Gibran: dada yang kokoh, lengan yang menegang, dan panas yang menembus kemeja.

"Gibran..."

Suaranya pecah dan lembut.

"Aku di sini."

Gibran menggeser mulutnya sepanjang rahang Kamila dan terus turun.

"Bukankah kita... terlalu cepat?"

Suara Kamila bergetar.

Gibran menatapnya.

Emosi gelap bergerak di matanya.

Jakunnya bergerak beberapa kali saat ia mengusap bibir Kamila yang bengkak.

"Tidak."

Ia menciumnya lagi.

Ciuman itu jatuh tepat di mulut Kamila dan mengosongkan pikirannya sebelum mulai turun.

Kamila menengadahkan kepala dan menenggelamkan jari ke rambut hitam Gibran.

Saat Gibran sampai di tulang selangkanya, sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Kamu gemetar sekali."

Gibran berhenti. Suaranya serak.

Kamila membuka mata dan menemukan tatapan dalam pria itu.

Di pupil Gibran, ia melihat pantulan seorang perempuan berpipi merah, bibir bengkak, dan mata berkabut hasrat.

"Kamu yang mulai," gumam Kamila tanpa keyakinan. "Aku... sudah terlalu lama..."

Gibran menatap usahanya yang sia-sia untuk tetap tegar, dan matanya makin gelap.

Ia memeluk Kamila lebih erat.

"Ya. Aku yang mulai. Karena itu kamu tidak akan lari dariku."

Kamila akhirnya berhasil mendorongnya sedikit dan kembali duduk di sampingnya.

Baru saja ia duduk, lengan Gibran sudah melingkar seperti sulur dan menariknya ke dada, seolah takut ia benar-benar kabur.

"Kita ini apa sekarang?" tanya Kamila pelan.

Gibran tiba-tiba melepaskannya dan berdiri.

Kamila menatapnya, bingung.

Pria itu merapikan kemeja yang sudah ia kusutkan dan membenahi mansetnya dengan hati-hati.

Lalu ia berlutut di hadapan Kamila.

Gibran mengambil tangannya dan mengecup punggungnya lembut, seolah sedang menggenggam harta paling berharga di dunia.

"Kamila, aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!