Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 — Pesanan Seratus Juta
Pesanan itu muncul di Forum Kubus pada malam ketika Tri akhirnya berniat tidur sebelum pukul dua.
Judulnya sangat sederhana.
Butuh Mecha tempur A. Bayar 100.000.000 kredit.
Tri yang sudah setengah menutup mata langsung duduk.
Hendra, di kursi langganannya, membuka satu mata. “Jangan bilang ada bahaya.”
“Lebih buruk.”
“Apa?”
“Uang.”
Hendra langsung bangun.
Di layar Kom, akun anonim meminta rancangan dan pembuatan Mecha tempur tingkat A untuk Prajurit berat. Syaratnya panjang, kaku, dan ditulis oleh orang yang jelas terbiasa berlatih sampai sendi sendiri memohon ampun.
Daya tahan tinggi.
Serangan lurus.
Keseimbangan tidak runtuh saat menerima hantaman samping.
Biaya tidak masalah selama hasil bisa dipakai masuk seleksi utama.
Catatan terakhir membuat Tri tersenyum.
Biaya tidak masalah adalah kalimat paling indah yang bisa ditulis orang asing.
ID pemesan:
TanpaMundur.
Hendra membaca dari belakang bahunya. “Itu pasti perangkap.”
“Semua uang besar perangkap.”
“Lalu?”
“Tinggal pastikan kita yang mengambil umpan.”
Tri masuk memakai akun MelaratTanpaMecha.
Balasannya pendek:
Bisa. Deposit 60%. Spesifikasi tubuh, kebiasaan bertarung, batas cedera lama, dan rekaman latihan. Tidak menerima permintaan tampilan keren tanpa fungsi.
Jawaban datang sepuluh menit kemudian.
TanpaMundur:
Setuju.
Transfer masuk:
60.000.000 kredit.
Hendra menatap layar seperti melihat bencana turun dengan jas rapi.
“Orang itu benar-benar gila.”
Tri menghitung dalam kepala.
Material rangka.
Kristal energi.
Sambungan beban.
Sistem peredam.
Sewa ruang kerja.
Biaya tutup mulut.
Makanan selama tiga hari tanpa tidur.
“Tidak,” katanya. “Dia hanya sangat butuh menang.”
Rekaman latihan tiba sebelum subuh.
Tri menontonnya tiga kali.
Prajurit dalam video bertubuh tinggi, geraknya berat tetapi disiplin. Tidak liar seperti Renjana yang belum ia kenal. Tidak licin seperti TepiBaratKarang. Orang ini memukul lurus, menahan lurus, jatuh pun mencoba bangkit lurus. Masalahnya, Mecha latihannya selalu kalah saat lawan menyerang dari sisi kiri bawah. Pinggangnya lambat. Lututnya menanggung terlalu banyak beban.
“Bagas,” gumam Hendra yang ikut menonton.
Tri menoleh.
“Lo kenal?”
“Murid A tingkat dari planet tak bernama juga. Bagas. Keras kepala, latihan paling pagi, pulang paling malam. Tidak banyak bicara. Orangnya... lurus.”
“Lurus berarti mudah patah.”
“Atau susah dibelokkan.”
Tri menatap video lagi.
Pelanggan seperti ini bagus.
Tidak meminta sayap indah.
Tidak meminta warna mahal.
Hanya meminta tubuh kedua yang bisa menahan caranya hidup.
Tiga malam berikutnya, Tri tinggal di ruang kerja Bengkel Hitam yang disewa melalui Bang Salim. Ia tidak memakai ruang utama. Terlalu banyak mata. Ia memilih ruang kecil di lantai kerja dua, pintunya berderit, kipasnya batuk-batuk, tetapi meja hidroliknya lurus.
Bagas tidak pernah datang.
Semua komunikasi lewat Forum Kubus, semua pembayaran lewat perantara, semua ukuran tubuh dikirim dalam data terenkripsi. Tri tidak ingin melihat wajah pemesan. Pemesan juga tampaknya tidak ingin memaksa.
Bagus.
Anonim membuat harga tetap sehat.
Rancangan pertama terlalu mahal.
Tri menghapusnya.
Rancangan kedua terlalu berat.
Ia membuangnya.
Rancangan ketiga membuatnya berhenti menggigit pensil logam.
Rangka utama tidak perlu menebal di seluruh dada. Bagas butuh menahan hantaman samping, bukan menjadi dinding. Pusat beban harus turun setengah ruas ke pinggul. Lutut kiri perlu sambungan ganda yang bekerja seperti per kecil, bukan pelat keras. Lengan kanan harus punya jalur tenaga lurus, tetapi bahu kirinya perlu ruang putar untuk menutup titik buta.
Jelek?
Lumayan.
Tidak sejelek gambar forum pertamanya.
Itu mungkin kegagalan estetika.
Tri memberi nama sementara:
Punggung Batu.
Hendra melihat sketsa itu saat datang membawa makanan. “Ini lebih bagus dari desain forum.”
Tri mengerutkan dahi. “Sial.”
“Kau sedih karena desainmu tidak jelek?”
“Identitas visual penting.”
“Orang normal menyebutnya rasa seni.”
“Rasa seni mahal dan tidak tahan pukulan.”
Hari keempat, Rakha mengirim pesan ke MelaratTanpaMecha.
MaestroRakha:
Kau menerima pesanan TanpaMundur?
Tri menatap layar.
MelaratTanpaMecha:
Kenapa?
MaestroRakha:
Karena orang itu bertanya padaku juga. Aku menolak. Seratus juta terlalu kecil untuk spesifikasi setinggi itu.
Tri melihat daftar biaya.
Total sementara sudah menyentuh 83 juta.
Ia mengetik:
Bisa cukup.
MaestroRakha:
Dengan bahan sampah?
MelaratTanpaMecha:
Dengan bahan yang tidak sombong.
Rakha tidak membalas selama satu menit.
Lalu:
Kau membuatku marah sekaligus penasaran.
Tri tersenyum.
Itu pujian teknis.
Pembuatan memakan tujuh hari.
Rangka masuk.
Sendi diuji.
Kristal energi dipasang.
Sistem peredam pinggang gagal dua kali, hampir menghancurkan meja hidrolik. Tri menghabiskan satu malam penuh membongkar ulang jalur tekan, lalu menemukan sumber masalah di tumit kiri yang selalu menerima data terlambat.
Ia memperbaikinya dengan komponen murah dari truk tambang Pasira.
Bang Salim melihat komponen itu dan hampir tersedak.
“Kau memasang bagian truk tambang ke Mecha tempur?”
“Truk tambang tidak boleh jatuh saat bawa batu dua puluh ton.”
“Itu bukan standar militer.”
“Standar militer mahal.”
“Kau akan membuatku cepat tua.”
“Kalau berhasil, Abang bisa menjual cerita.”
Uji akhir dilakukan di ruang tertutup.
Mecha Punggung Batu berdiri dengan warna abu gelap, dada agak kotak, pinggul rendah, kaki berat tetapi tidak lambat. Tidak keren. Tidak memalukan. Seperti pekerja kasar yang diam sampai perlu memukul.
Tri mengirim pesan:
Barang siap. Bayar sisa. Ambil lewat jalur ketiga. Jangan buka identitas.
Sisa 40.000.000 masuk.
Tri menatap total biaya akhir.
91.700.000.
Sisa kotor 8.300.000.
Belum termasuk makanan, sewa tambahan, dan dua alat yang terbakar.
Ia memegang dada.
Hendra duduk di lantai ruang kerja. “Kau kelihatan seperti kalah.”
“Seratus juta terdengar besar sampai bahan membuka mulut.”
“Masih untung.”
“Sedikit.”
“Delapan juta itu bukan sedikit.”
“Bagi orang yang belum melihat harga kristal, iya.”
Dua hari kemudian, lapangan latihan Damokles ramai.
Bagas membawa Mecha baru.
Tidak ada yang tahu dari mana ia mendapatkannya. Tidak ada lambang pembuat. Tidak ada tanda bengkel resmi. Warnanya abu gelap, bentuknya tidak menarik, tetapi saat Bagas masuk kokpit dan mulai bergerak, semua orang berhenti bicara.
Pukulan lurus pertamanya membuat target berat bergeser tiga meter.
Serangan samping dari simulator memukul pinggang kiri.
Biasanya Bagas akan goyah.
Kali ini Mecha itu turun setengah, lututnya menyerap beban, lalu tubuhnya kembali tegak seperti batu yang menolak didorong.
Pak Cakra yang kebetulan lewat berhenti.
Mira bersiul.
Hendra berdiri di samping Tri, pura-pura tidak mengenal apa pun.
Bagas keluar dari kokpit dengan mata terang.
“Siapa yang membuat ini?” tanya seorang murid.
Bagas menggeleng. “Tidak tahu. Forum anonim.”
“Mahal?”
Bagas tidak menjawab, tetapi wajahnya berkata cukup.
Sejak hari itu, Bagas bertanya kepada siapa pun yang tampak punya hubungan dengan Forum Kubus.
“Kau tahu MelaratTanpaMecha?”
“Pernah dengar pembuat Mecha abu ini?”
“Kalau bertemu, bilang saya ingin mengucapkan terima kasih.”
Di kantin lima, Bagas akhirnya bertanya kepada Tri.
Tri sedang membawa nampan berisi nasi termurah, sayur termurah, dan Cairan Gizi termurah yang rasanya seperti masa kecil buruk.
Bagas berdiri di depannya. “Tri, kau sering bersama Hendra dan Rakha. Kau tahu ID MelaratTanpaMecha?”
Hendra yang duduk tiga meja jauhnya langsung menunduk ke piring.
Tri menyesap Cairan Gizi murah.
Rasanya mengerikan.
Ekspresinya tidak berubah.
“Tidak kenal,” katanya.
Bagas tampak kecewa. “Kalau kau dengar sesuatu, beri tahu saya. Orang itu membuat Mecha yang cocok dengan saya.”
Tri mengangguk serius.
“Pasti.”
Ia berjalan melewati Bagas dengan nampan murah di tangan, saldo yang baru membengkak di akun tersembunyi, dan wajah orang yang benar-benar tidak pernah mendengar namanya sendiri.