Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Qin Shang, giliranmu!”
“Cepat naik dan uji akar spiritualmu!”
Wali kelas mereka, Mo Yuan, memanggil nama Qin Shang.
Qin Shang menatap Mo Yuan yang rambutnya telah memutih, berdiri di samping seorang wanita cantik berbalut pakaian kuno. Aura wanita itu begitu anggun, dingin, dan seolah tak tersentuh.
Pandangannya kemudian beralih ke seekor piton bersayap emas raksasa dengan jengger emas di kepalanya yang melingkar di belakang wanita tersebut. Hingga saat ini, semua yang terjadi masih terasa begitu sulit dipercaya.
Dulu, Qin Shang adalah murid SMA No. 3 Beicheng. Namun, ia sudah putus sekolah sejak kelas satu.
Kali ini, kelas lamanya mengadakan acara perpisahan kelulusan kelas tiga SMA dan mengundangnya sebagai mantan teman sekelas. Malam itu semua orang minum cukup banyak.
Siapa sangka, setelah sadar dari mabuk, mereka justru mendapati diri berada di puncak Gunung Tianyuan. Di sanalah Mo Yuan menyuruh mereka menjalani sesuatu yang disebut sebagai tes akar spiritual.
Menurut Mo Yuan, nilai akademis mereka terlalu buruk. Jika tetap hidup di dunia biasa, masa depan mereka hanya akan menjadi budak dunia kerja. Karena itu, lebih baik ikut dengannya ke Dunia Xuanwu untuk menempuh jalan kultivasi menjadi seorang abadi.
Awalnya, tak seorang pun mempercayainya. Mereka mengira semua ini hanya sebuah lelucon.
Namun, ketika seekor piton bersayap emas sepanjang hampir dua puluh meter terbang dari kaki gunung hingga ke puncak, seluruh pemahaman mereka tentang dunia langsung runtuh.
Ini benar-benar dunia kultivasi!
“Tubuhku di Bumi sudah lama mengidap penyakit lapar aneh itu. Kalau ini memang dunia Kuktivasi, mungkin misteri tubuhku akhirnya bisa terungkap.”
Qin Shang bergumam dalam hati.
“Qin Shang, cepat! Jadi dites atau tidak? Kalau nggak, biar aku dulu!”
Ye Han, pemuda berambut pirang yang terkenal di kelas, berteriak dari barisan paling belakang.
Qin Shang menepis segala pikiran yang berkecamuk di benaknya, lalu melangkah maju dan meletakkan telapak tangannya di atas alas berbentuk segi lima yang berada di hadapan wanita berpakaian kuno itu.
Seketika, salah satu sudut alas segi lima tersebut memancarkan cahaya hijau redup.
“Bagus! Berikutnya!”
seru Mo Yuan.
Qin Shang menyingkir ke samping. Lu Chen, sahabat sekaligus teman masa kecilnya yang telah lebih dulu menjalani tes, segera menghampirinya.
“Qin Shang, punyamu juga menyala! Berarti kamu juga punya akar spiritual! Kita bisa jadi kultivator! Hahaha! Keren banget! Siapa sangka si Mo Pengulit itu benar-benar membawa kita ke Dunia Xuanwu buat berkultivasi. Gila, rasanya masih kayak mimpi! Coba cubit aku. Aku pengin tahu ini mimpi atau bukan!”
Lengan Lu Chen bahkan sudah dicubit hingga memar, tetapi ia tetap sulit mempercayai kenyataan di hadapannya.
Qin Shang tersenyum tipis. “Aku yakin ini bukan mimpi. Soalnya kalau benar cuma mimpi, aku nggak mungkin ada di tempat seperti ini.”
Seperti biasa, ia mengusap liontin batu giok berwarna ambar yang tergantung di lehernya. Di dalam liontin itu terdapat sebuah kepompong ulat sutra.
Di dalam kepompong tersebut bersemayam seekor serangga yang menjadi sumber seluruh keanehan pada tubuh Qin Shang.
Dua puluh siswa yang dibawa Mo Yuan menyelesaikan tes akar spiritual satu per satu.
Tak seorang pun menjadi pengecualian. Alas penguji milik mereka semua memancarkan cahaya redup, hanya saja masing-masing memiliki warna yang berbeda.
Saat giliran Su Yao, sekretaris akademik kelas, suasana mendadak berubah. Salah satu sudut alat uji segi lima itu memancarkan cahaya biru yang jauh lebih terang daripada yang lain.
“Bagus! Su Yao, sangat bagus!”
Mo Yuan berseru penuh pujian.
Mendengar itu, para siswa yang telah menyelesaikan tes langsung merasa cemas.
“Pak Mo, kalau kami bagaimana? Apa kami juga dianggap punya akar spiritual?”
Gu Yang, sang ketua kelas, akhirnya tak kuasa menahan diri dan bertanya.
Mo Yuan menjawab datar, “Kenapa terburu-buru? Tunggu sampai semuanya selesai dites. Setelah itu baru akan kuberitahukan hasilnya.”
Mendengar jawaban itu, semua orang semakin gelisah.
Tak lama kemudian, tibalah giliran siswa terakhir, Ye Han, yang memiliki nilai akademis paling buruk di kelas.
Begitu telapak tangannya menyentuh alat uji, salah satu sudut alas segi lima itu memancarkan cahaya merah terang.
“Hahaha! Menyala! Terang banget! Sudah kubilang aku pasti punya masa depan! Gila, sekarang aku benar-benar luar biasa!”
Ye Han bersorak kegirangan.
Mo Yuan pun tampak terkejut. Sesaat kemudian, wajahnya dipenuhi kegembiraan.
Kini seluruh dua puluh siswa telah menyelesaikan tes.
Mo Yuan memberi hormat kepada guru perempuan itu sambil mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Qin Shang maupun yang lainnya.
Dengan penuh harap, ia memandang wanita tersebut.
Wanita itu mengeluarkan dua botol pil, lalu melemparkannya kepada Mo Yuan.
Mo Yuan kembali mengucapkan beberapa patah kata kepadanya. Wanita itu mengangguk pelan.
Setelah itu, Mo Yuan melangkah ke hadapan dua puluh siswa tersebut.
Seluruh pasang mata langsung tertuju kepadanya.
“Pak Mo, sebenarnya bagaimana hasilnya? Apa kami punya akar spiritual atau tidak?”
Gu Yang kembali bertanya.
“Kalian memang memiliki akar spiritual,” jawab Mo Yuan. “Namun, selain Su Yao dan Ye Han, delapan belas orang lainnya hanya memiliki akar spiritual lemah. Dengan bakat seperti itu, kalian tetap bisa berkultivasi, tetapi kemajuannya akan sangat lambat.”
“Pak Mo, kalau hanya sulit berarti masih ada harapan, kan? Bisakah mereka memberi kami kesempatan? Siapa tahu kami berhasil.”
Gu Yang buru-buru memohon.
Ye Han yang berambut pirang menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
“Ketua kelas, kata sulit itu cuma cara Pak Mo menghibur kalian. Namanya juga akar spiritual lemah. Sama saja seperti menyuruh orang bodoh belajar. Memangnya kamu masih berharap dia bisa dapat nilai bagus? Jangan terlalu banyak bermimpi.”
“Ye Han! Dasar bajingan!”
Gu Yang langsung naik pitam.
Tanpa pikir panjang, ia menerjang maju dan melayangkan tamparan keras ke wajah Ye Han.
Ye Han terpaku sesaat.
“Gu Yang! Beraninya kamu menamparku!”
“Memang sengaja kutampar!”
Begitu Gu Yang berteriak, beberapa teman sekelasnya langsung ikut menyerbu Ye Han.
Selama ini, Gu Yang adalah ketua kelas. Ditambah lagi keluarganya cukup berada, ia memiliki cukup banyak teman yang berpihak kepadanya.
Sebaliknya, Ye Han memang kerap menjadi sasaran ejekan dan perundungan.
Kini, setelah ucapannya memancing amarah semua orang, sedikitnya lima siswa laki-laki bergegas menghampiri untuk menghajarnya.
“Gu Yang! Apa yang sedang kalian lakukan?”
Bum!
Tiba-tiba Mo Yuan berdiri menghadang mereka.
Ia hanya mengangkat satu tangan dengan santai. Telapak tangannya bahkan belum menyentuh Gu Yang maupun lima siswa lainnya, tetapi keenam orang itu sudah terpental jauh ke belakang.
Qin Shang diam-diam tercengang.
Kemampuan Mo Yuan benar-benar berada di luar nalar.
Gu Yang sendiri juga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Setelah susah payah bangkit, ia segera memohon kepada Mo Yuan.
“Pak Mo, apa kami benar-benar tidak bisa berkultivasi? Kalau begitu... bisakah Bapak mengirim kami pulang?”
“Iya, Pak Mo! Aku mau pulang main game. Aku baru beli komputer baru, bahkan belum sempat merakitnya.”
“Aku juga. Ibuku pasti sudah nyuruh aku pulang makan.”
Mo Yuan menatap mereka dengan dingin.
“Pulang? Bukankah sebelum ini, saat kita masih di meja makan, aku sudah menjelaskan semuanya dengan sangat jelas? Aku bilang akan membawa kalian ke sebuah dunia yang dihuni manusia, iblis, siluman, dan para dewa. Perjalanan ini juga tidak memiliki jalan kembali. Bahkan aku meminta kalian mengangkat tangan untuk memilih sendiri apakah ingin ikut atau tidak. Dan kalian berdua puluh semuanya mengangkat tangan.”
Xu Wen, perwakilan kelas untuk mata pelajaran bahasa, nyaris menangis.
“Pak Mo, kami kira itu cuma kiasan! Kami pikir maksud Bapak, masyarakat itu seperti tempat berkumpulnya berbagai macam orang, ada yang seperti iblis, siluman, dan sebagainya. Kami mengira Bapak sedang mengibaratkan kalau kami akan memasuki dunia kerja dan menghadapi kerasnya kehidupan. Mana mungkin kami menyangka Bapak benar-benar membawa kami ke Dunia Xuanwu?”
“Kiasan? Metafora?” Mo Yuan mendengus. “Biasanya pelajaran bahasa saja kalian tidak pernah belajar sungguh-sungguh, sekarang malah dipakai untuk mencari alasan?”
Suaranya berubah berat.
“Hidup itu seperti permainan catur. Sekali bidak dijalankan, tak ada jalan untuk menariknya kembali. Terus terang saja, bahkan aku sendiri sudah tidak bisa kembali.”
“Lagipula, bukan berarti kalian sama sekali tidak bisa berkultivasi. Kalian masih bisa menempuh jalan yang dulu pernah kulalui untuk memasuki dunia kultivasi.”
Mendengar nada bicaranya berubah, mata Gu Yang kembali berbinar.
“Pak Mo, masih ada cara lain? Tolong cepat beri tahu kami!”
Mo Yuan mengangguk pelan.
“Kalian semua memang memiliki akar spiritual lemah. Namun, akar spiritual lemah bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk menapaki jalan menuju keabadian. Kalian masih bisa memasuki Dao melalui seni bela diri, kemudian memperkuat akar spiritual kalian.”
“Memasuki Dao melalui seni bela diri? Pak Mo, apa maksudnya?”
Semua orang menatap Mo Yuan dengan penuh harap.
Tanpa menjawab, Mo Yuan mengangkat satu tangan lalu menghantam ke arah sebuah batu besar yang berada lebih dari sepuluh meter di belakang mereka.
Bum!
Batu besar setinggi lebih dari satu meter itu seketika memperlihatkan bekas telapak tangan yang tercetak jelas tepat di bagian tengahnya.
“Lihat itu?”
“Itulah... Jalan Bela Diri.”