Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Terlewat
Sementara itu, di sebuah kediaman yang luas yang ada di Kota Weiyang, Gao Rui nampak memandang pertemuan yang sedang terjadi. Tempat itu adalah kediaman Keluarga Guang. Salah satu keluarga paling berpengaruh di Kekaisaran Zhou sekaligus penghasil gandum terbesar di seluruh negeri.
Di sebuah aula megah, pertemuan antara Kelompok Harta Langit dan Keluarga Guang masih berlangsung. Di sisi kanan ruangan, Lan Suya duduk dengan tenang bersama beberapa tetua Harta Langit. Sementara di sisi berlawanan, Patriark Guang beserta para tetua keluarganya masih membahas berbagai rincian kerja sama.
Pembicaraan mengenai jalur distribusi, harga pembelian, gudang penyimpanan, hingga rencana perluasan perdagangan ke beberapa kota besar berlangsung dengan serius. Tidak satu pun keputusan diambil dengan tergesa-gesa. Semuanya dibahas dengan sangat rinci.
Sementara itu, di kursi yang berada sedikit di belakang Lan Suya, Gao Rui duduk dengan punggung tegak. Dari luar, wajahnya tampak tenang. Sesekali ia mengangguk ketika pembahasan beralih kepada hal-hal penting. Sesekali pula ia memperhatikan cara Lan Suya maupun Patriark Guang bernegosiasi.
Namun, hanya Gao Rui sendiri yang tahu isi hatinya saat ini. Ia sama sekali tidak tenang. Tanpa sadar, pandangannya beberapa kali melayang ke arah jendela.
Sinar matahari yang masuk ke dalam aula kini telah berubah menjadi jingga. Hari sudah beranjak sore. Namun, pertemuan itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan di balik lengan jubahnya.
"..."
Di luar, ia masih mempertahankan ekspresi tenang. Tetapi di dalam hati, perasaannya benar-benar gelisah.
"Paman Nuo..." gumamnya pelan.
Semakin lama waktu berlalu, rasa tidak enak di dalam hatinya justru semakin besar.
Sejak pagi, ia berharap pembicaraan antara Lan Suya dan Patriark Guang dapat segera selesai. Setidaknya, sebelum waktu makan siang tiba. Dengan begitu ia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke Penginapan Kayu Mawar. Atau paling tidak menemui Sha Nuo untuk meminta maaf secara langsung.
Namun harapan itu perlahan pupus. Satu pembahasan selesai dan pembahasan lain kembali dimulai. Kesepakatan mengenai hasil panen disusul pembicaraan mengenai jalur pengiriman. Setelah itu, mereka kembali membahas penyimpanan cadangan gandum.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa siang telah lewat. Lalu berubah menjadi sore. Gao Rui menundukkan pandangannya.
"Maaf..."
"Maaf, Paman Nuo..."
Suara itu hanya terdengar di dalam hatinya.
Ia benar-benar merasa bersalah. Bagaimanapun juga orang yang mengajaknya makan siang adalah Sha Nuo. Seseorang yang baru dikenalnya, tetapi telah memperlakukannya dengan begitu baik. Ia sendiri sudah mengiyakan ajakan itu. Namun sejak pagi tadi, ia sama sekali tidak sempat memberi kabar.
Ia membayangkan saat ini Sha Nuo sedang mencarinya untuk makan siang bersama. Kemudian duduk sendirian menunggunya. Menunggu cukup lama. Lalu mulai bertanya-tanya ke mana perginya dirinya.
Memikirkan kemungkinan itu membuat hati Gao Rui terasa semakin sesak.
"Paman Nuo pasti kebingungan..." gumamnya dalam hati.
"Ia orang baru di Kota Weiyang."
"Aku sudah berjanji akan mengajaknya ke rumah makan paling enak di kota ini..."
"Tanpa aku... ia mungkin tidak jadi pergi ke sana."
Gao Rui perlahan memejamkan matanya sesaat. Perasaan bersalah itu semakin besar.
Andai saja tadi pagi mereka sempat bertemu saat sarapan, setidaknya ia masih bisa menjelaskan semuanya. Namun sekarang, ia bahkan menghilang tanpa sepatah kata pun.
Semakin dipikirkan, semakin besar penyesalan yang memenuhi hati Gao Rui.
"Maafkan aku... Paman Nuo..."
...******...
Sementara itu, di tempat lain. Gedung Pertunjukan Weiyang masih dipenuhi gelak tawa para penonton.
"Hahaha!"
Suara tawa Sha Nuo kembali menggema memenuhi ruangan. Tubuh besarnya bahkan sampai sedikit membungkuk karena terlalu keras tertawa.
Di atas panggung, para pemain sandiwara sedang menampilkan adegan ketika seorang pendekar bodoh salah memasuki rumah seorang janda tua. Bukannya menyelamatkan orang, ia justru berulang kali menjadi sasaran pukulan sapu.
"Bagus! Bagus! Hahaha!"
Sha Nuo menepuk-nepuk pahanya sendiri. Entah mengapa, pikirannya tiba-tiba melayang kepada seseorang.
"Tuan Muda..."
Senyum lebar kembali muncul di wajahnya.
Di dalam benaknya, ia membayangkan Boqin Changing tiba-tiba melompat ke atas panggung. Dengan wajah datar seperti biasanya, tuan mudanya ikut mengenakan pakaian para pemain sandiwara, lalu mulai beradu akting dengan mereka.
"Hahaha!"
Sha Nuo langsung membayangkan Boqin Changing dengan wajah tanpa ekspresi mengucapkan dialog-dialog konyol.
Lalu para pemain lain panik karena tidak mampu mengikuti tingkah tuan muda mereka.
"Hahaha! Kalau benar-benar terjadi..."
"Itu pasti lucu sekali!"
Air mata kembali keluar dari sudut matanya. Ia terus tertawa tanpa memedulikan tatapan beberapa penonton di sekitarnya.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Tak lama kemudian, tabuhan genderang penutup terdengar memenuhi ruangan.
Dung!
Dung!
Dung!
Para pemain sandiwara membungkukkan badan memberi hormat kepada seluruh penonton. Tepuk tangan langsung bergemuruh.
"Bagus! Hebat!"
Sha Nuo ikut berdiri sambil bertepuk tangan paling keras.
"Hahaha! Pertunjukan yang luar biasa."
Dengan wajah yang masih dipenuhi senyum puas, ia pun perlahan berjalan keluar bersama para penonton lainnya.
Begitu keluar dari gedung pertunjukan, angin sore langsung menyambutnya. Langit telah berubah menjadi jingga tua.
"Hmm..."
Sha Nuo mengusap perutnya.
"Kenapa tiba-tiba terasa lapar..."
Baru saat itulah ia menyadari sesuatu.
"Ah... aku belum makan siang."
Ia menggaruk pipinya sambil melihat deretan kedai makan yang mulai ramai di sepanjang jalan.
"Kalau begitu cari tempat makan dulu..."
Baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya tiba-tiba membeku.
"..."
Wajah Sha Nuo perlahan berubah.
"Tunggu."
"Siang ini bukankah aku ada janji makan siang dengan Gao Rui?"
Ia perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya menembus langit yang kini mulai berubah semakin gelap.
"..."
"Sial."
Ia menepuk dahinya sendiri.
"Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu?"
Ekspresinya langsung berubah menjadi canggung. Di dalam benaknya, ia membayangkan Gao Rui sejak siang tadi duduk sendirian di aula Penginapan Kayu Mawar.
Bocah itu mungkin terus menunggunya. Karena sejak awal, mereka memang sepakat akan bertemu terlebih dahulu di penginapan sebelum pergi mencari rumah makan.
Sha Nuo menghela napas panjang.
"Ah... Rui'er pasti kecewa."
Ia masih mengingat jelas percakapan hangat mereka kemarin. Bocah itu begitu sopan dan begitu menghargai orang lain.
Tanpa sadar, Sha Nuo melihat dirinya sendiri di dalam diri Gao Rui. Mereka sama-sama pernah kehilangan keluarga. Sama-sama tumbuh sebagai yatim piatu. Hanya saja, di mata Sha Nuo, Gao Rui tetaplah seorang bocah yang jauh lebih muda darinya.
Ia kembali mengumpat pelan.
"Sial... Bocah yatim itu pasti sedang mencariku."
Tanpa berpikir panjang lagi, Sha Nuo langsung membalikkan badan.
"Aku harus kembali ke penginapan!"
Langkahnya menjadi jauh lebih cepat. Ia menyusuri satu jalan demi satu jalan. Berbelok melewati pasar, melewati rumah-rumah dagang, dan melewati gang-gang yang tadi siang ia lintasi.
Namun semakin lama ia berjalan, keningnya justru semakin berkerut.
"..."
"Penginapan Kayu Mawar... Di mana, ya?"
Ia berhenti di sebuah persimpangan jalan. Langit kini semakin gelap. Lampu-lampu lentera mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan.
Sha Nuo memandangi jalan di sebelah kanan. Kemudian menoleh ke jalan sebelah kiri.
"..."
Ia mengangkat kedua tangannya dengan wajah bingung.
"Jadi... ke kanan atau ke kiri?"
Tentu saja tidak ada seorang pun yang menjawab.
Suasana tetap sunyi. Sha Nuo menggaruk kepalanya beberapa kali.
"Hmm..."
Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya menunjuk ke arah kiri.
"Sepertinya... ke kiri."
Dengan keyakinan yang bahkan tidak sampai setengah, Sha Nuo segera melangkah ke jalan sebelah kiri.
"Hahaha... aku yakin ingatanku belum seburuk itu."
Namun, tanpa ia sadari sedikit pun, jalan yang dipilihnya justru membawa dirinya semakin jauh dari Penginapan Kayu Mawar.