NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaringan Bawah Tanah

Suara ketukan sepatu pantofel berhak keras memantul teratur di sepanjang koridor bawah tanah gedung parkir bertingkat di kawasan distrik komersial pusat kota. Lampu neon redup berwarna kuning pucat menggantung di langit-langit beton yang lembap, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di atas dinding semen kasar.

Di ujung koridor tersebut, sebuah pintu besi berat berwarna abu-abu terbuka sedikit, memancarkan secercah cahaya putih terang dari dalam ruangan. Di balik pintu itu, sebuah meja rapat bundar besar dikelilingi oleh lima orang pria berjas rapi yang wajahnya tertutup oleh keremangan sudut ruangan. Suasana di dalam ruangan sangat tegang; tidak ada suara selain deru halus pendingin ruangan dan denting ringan cincin emas yang diketuk-ketukan di atas permukaan meja marmer hitam oleh seseorang di kursi utama.

"Kita kecolongan," suara berat seorang pria paruh baya berambut perak yang duduk di kursi kepala meja memecah keheningan. Namanya Viktor Tan, seorang tokoh bayangan yang mengendalikan separuh jaringan logistik ilegal dan keuangan gelap di kota ini. Ia melirik tajam ke arah layar laptop di hadapannya yang menampilkan salinan dokumen audit rahasia milik yayasan Bina Bangsa yang telah bocor. "Kolonel Surya ternyata benar-benar tidak berguna. Hanya karena ulah cerobohnya berurusan dengan seorang anak SMA miskin, seluruh arsip transaksi kita selama tiga tahun terakhir hampir terseret ke meja penyidik federal."

Seorang pria bertubuh kurus berkacamata di sisi kiri meja—yang merupakan konsultan hukum bayangan sindikat tersebut—mendorong kacamatanya ke atas sambil mendengus pelan.

"Tuan Viktor, laporan dari anak buah lapangan kita semalam justru jauh lebih aneh," ucap sang konsultan hukum dengan nada gelisah. "Tiga orang eksekutor profesional yang kita kirim untuk membereskan akuntan pembelot di distrik utara ditemukan terkapar pingsan di lorong gang dalam kondisi tulang rusuk retak tanpa ada tanda-tanda luka memar akibat benturan fisik konvensional. Laporan medis darurat menyebutkan ada gangguan gelombang kejut internal yang melumpuhkan sistem syaraf mereka seketika."

Viktor menyipitkan matanya, menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Alisnya berkerut dalam. "Gangguan gelombang kejut internal? Apa maksudmu? Apakah pihak kepolisian kota membentuk unit taktis rahasia baru?"

"Bukan, Tuan," jawab sang konsultan dengan suara bergetar kecil. "Saksi mata di tempat kejadian—si akuntan tua itu—bersumpah bahwa ia hanya melihat seorang remaja berseragam sekolah menengah melintas sebelum anak buah kita tiba-tiba terpental sendiri tanpa disentuh."

Suasana di ruang rapat bundar itu seketika mendadak hening. Beberapa pria berjas di sekeliling meja saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya. Di dunia hitam tempat mereka bergerak, kekuasaan diukur dari uang, senjata, dan pengaruh politik—bukan cerita mistis tentang anak sekolah yang bisa menjatuhkan orang dewasa tanpa menyentuh.

"Remaja sekolah...?" gumam Viktor pelan, nada suaranya menyiratkan keraguan yang bercampur dengan rasa penasaran yang berbahaya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. "Apakah anak itu adalah Rian? Siswa beasiswa dari SMA Bina Bangsa yang disebutkan dalam laporan Surya?"

"Benar, Tuan. Berdasarkan penelusuran digital anonim yang masuk ke sistem kita pagi ini, IP address sumber peretas yang membongkar data keuangan kita mengarah ke alamat jaringan publik di sekitar perpustakaan kota, dan anak itulah yang sering menghabiskan waktunya di sana," jelas sang konsultan sambil menyerahkan sebuah tablet portabel berisi profil singkat Rian.

Viktor mengambil tablet tersebut, menggeser layarnya perlahan. Matanya menatap foto pas foto Rian berlatar biru dengan seragam putih abu-abu—wajah seorang remaja tujuh belas tahun yang tampak biasa saja, tanpa latar belakang keluarga terpandang, tanpa catatan kriminal, dan hidup di rumah susun kumuh pinggiran kota.

"Menarik..." bibir Viktor tiba-tiba terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin dan mengerikan. "Anak yatim piatu miskin tanpa pelindung tiba-tiba menguasai teknik peretasan tingkat militer dan mampu melumpuhkan preman profesional seorang diri. Kalau dia bukan pion dari faksi saingan kita di tingkat atas, berarti dia adalah mutasi tak terduga yang memegang kunci rahasia yang jauh lebih besar."

"Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Tuan Viktor? Apakah kita harus melenyapkannya secara permanen menggunakan unit khusus?" tanya salah seorang anak buah bertubuh kekar di sudut ruangan.

Viktor menggeleng pelan, melambaikan tangannya untuk menolak usulan tersebut. "Jangan terburu-buru bertindak bodoh seperti Surya. Musuh yang tidak terlihat jauh lebih berbahaya daripada musuh yang menyerang secara terbuka. Kirimkan seseorang untuk mendekatinya secara perlahan... kita cari tahu apa sebenarnya motivasi anak itu. Apakah dia bekerja untuk uang, kekuasaan, atau ada pihak lain di belakangnya yang sedang bermain catur di atas papan kita."

"Baik, Tuan! Kami akan segera melaksanakannya," jawab anak buah itu membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan ruang rapat bersama rekan-rekan lainnya.

Keesokan paginya, sinar matahari hangat bulan September menyinari lapangan upacara SMA Bina Bangsa. Suasana sekolah tampak jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Sejak jatuhnya pengaruh keluarga Surya di dewan penyantun, para siswa elit yang tadinya suka berbuat semena-mena kini tampak lebih berhati-hati dalam bersikap. Kelompok Bara dan Kevin bahkan memilih untuk tidak menampakkan batang hidung mereka di kantin utama, memilih menghabiskan waktu istirahat di dalam perpustakaan pribadi atau ruang klub komputer lantai tiga.

Rian melangkah masuk ke dalam kelas 11-B dengan membawa sebuah buku catatan bersampul tebal di tangannya. Begitu ia melewati ambang pintu, beberapa siswa di barisan depan spontan menoleh, memberikan sorot pandang yang bercampur antara rasa kagum, segan, dan penasaran yang mendalam. Tidak ada lagi bisik-bisik merendahkan atau ejekan tentang status beasiswanya; berita tentang bagaimana Rian berhasil membuat Direktur Utama Hartawan Kusuma turun tangan langsung telah mengubah status sosialnya di mata seluruh angkatan secara drastis.

Rian duduk di bangku pojok belakang tempat favoritnya. Ia meletakkan tasnya di samping kursi, lalu mengeluarkan laptop dan buku catatannya dengan tenang.

Di dalam tubuhnya, aliran energi Qi berputar sangat stabil, memberikan ketajaman mental yang luar biasa. Sejak malam tadi, sistem kultivator purba di dalam jiwanya telah membuka akses pelatihan tingkat ketiga—memungkinkan dirinya untuk merasakan fluktuasi medan elektromagnetik dan gelombang niat membunuh dari radius ratusan meter di sekitarnya.

Ting!

[ Peringatan Sistem: Mata Dewa Pengamat mendeteksi anomali gelombang komunikasi eksternal berenkripsi tinggi di sekitar perimeter luar sekolah. ] [ Analisis ancaman: Pengintaian terarah oleh entitas korporasi bayangan (Viktor Syndicate). ]

Teks transparan berwarna keemasan itu melintas sekilas di retinanya. Rian tidak menunjukkan perubahan ekspresi wajah sedikit pun. Ia hanya menatap layar laptopnya, mengetik beberapa baris kode pemrograman untuk menguji sistem keamanan server perpustakaan yayasan yang sedang ia perbarui atas permintaan Hartawan.

"Rian," sebuah suara lembut memanggil namanya dari samping meja.

Rian mendongak perlahan. Seorang siswi berambut panjang bergelombang dengan pita rambut biru rapi—Maya, ketua kelas 11-B yang terkenal cerdas dan netral—berdiri di samping bangkunya sambil membawa selembar formulir pendaftaran olimpiade sains tingkat nasional.

"Ada apa, Maya?" tanya Rian dengan nada ramah namun datar.

Maya tersenyum tipis, meletakkan formulir tersebut di atas meja Rian. "Pihak manajemen sekolah dan Pak Darma memintaku untuk menyerahkan formulir ini langsung kepadamu. Olimpiade Matematika dan Fisika tingkat regional akan diadakan bulan depan, dan sekolah ingin kau mewakili SMA Bina Bangsa sebagai peserta utama."

Beberapa siswa lain di sekitar bangku mereka langsung menoleh mendengar kata 'olimpiade nasional'. Di SMA Bina Bangsa, delegasi olimpiade sains biasanya diperebutkan dengan ketat oleh anak-anak dari keluarga elit yang mengikuti bimbingan belajar khusus bernilai puluhan juta rupiah. Mendengar nama Rian diajukan secara langsung oleh pihak sekolah tanpa melalui seleksi internal tentu menjadi kejutan tersendiri bagi seisi kelas.

Rian melirik formulir putih berlogo resmi kementerian pendidikan di depannya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Maya lekat-lekat sejenak.

"Apakah keikutsertaan ini wajib, Maya?" tanya Rian tenang.

Maya menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak wajib, Rian. Tapi Pak Darma bilang, kemampuan analisismu jauh melampaui kurikulum standar kelas sebelas. Beliau berharap kau mau mempertimbangkannya, bukan sekadar untuk nama baik sekolah, tapi juga karena hadiah beasiswa penelitian ilmiahnya cukup besar untuk mendukung keperluan kuliahmu nanti."

Rian merenung sejenak. Di satu sisi, ia tidak memiliki ketertarikan pada piala atau pengakuan seremonial semacam itu. Namun, di sisi lain, fasilitas laboratorium riset tingkat lanjut yang ditawarkan sebagai hadiah pemenang olimpiade tingkat nasional akan sangat berguna untuk mempercepat eksperimen penggabungan energi Qi spiritual dengan teknologi modern yang sedang ia kembangkan secara diam-diam di kamarnya.

"Baiklah, sampaikan kepada Pak Darma bahwa aku akan mengisi formulir ini dan menyerahkannya sendiri ke ruang guru nanti siang," jawab Rian akhirnya sambil tersenyum tipis.

Mata Maya berbinar cerah mendengar jawaban tersebut. Ia mengangguk antusias. "Terima kasih banyak, Rian! Aku yakin kau pasti akan membawa pulang medali emas untuk sekolah kita."

Setelah Maya kembali ke bangkunya, suasana kelas kembali berjalan normal seperti biasa hingga bel tanda jam istirahat berbunyi nyaring.

Pukul dua belas siang, ketika sebagian besar siswa berhamburan menuju kantin atau area lapangan terbuka, Rian berjalan seorang diri menuju taman belakang sekolah yang rindang oleh pepohonan besar berdaun lebat. Tempat itu sangat sunyi, dikelilingi pagar tembok tinggi yang berbatasan langsung dengan jalan raya luar kompleks perumahan elit.

Rian duduk di bangku kayu panjang di bawah naungan pohon trembesi, membuka sebotol air mineral yang ia bawa dari rumah. Ia tahu betul bahwa kehadirannya di sekolah hari ini tidak lagi luput dari pantauan kelompok sindikat bayangan yang dipimpin oleh Viktor Tan.

[ Peringatan Sistem: Pendeteksian radius spasial mendeteksi dua subjek manusia mendekati area perimeter luar pagar dengan kecepatan terukur. ] [ Niat subjek: Konfrontasi verbal / Investigasi terselubung. ]

Teks transparan itu melintas di retinanya, berkedip pelan dengan warna keemasan.

Rian meneguk air mineralnya perlahan, lalu meletakkan botol tersebut di samping bangku. Ia menoleh tenang ke arah bagian tembok pagar belakang yang tertutup semak-semak hias.

"Kalian tidak perlu bersembunyi di balik semak-semak itu," ucap Rian dengan suara jernih yang cukup keras untuk memecah keheningan taman belakang. "Udara siang ini cukup panas untuk berdiri lama di tempat pengap."

Suasana di balik tembok pagar mendadak sunyi sesaat. Detik berikutnya, suara gesekan dedaunan terdengar, disusul oleh lompatan ringan dua orang pria berjas rapi berpakaian sipil yang melewati pagar tembok setinggi dua meter dengan mulus tanpa menimbulkan suara benturan keras.

Kedua pria itu berdiri di hadapan Rian dengan gestur tubuh yang sangat terlatih—bukan preman jalanan rendahan seperti yang dikirim oleh Surya tempo hari, melainkan agen profesional dari jaringan sindikat bawah tanah Viktor Tan. Pria yang berdiri di depan memiliki tatapan mata yang tajam, mengenakan kacamata hitam tipis, dan tersenyum ramah namun penuh ancaman terselubung.

"Wah, luar biasa..." ucap pria berkacamata hitam itu sambil bertepuk tangan pelan dua kali. "Anak buah Tuan Viktor memang tidak salah menilai. Indramu benar-benar setajam pisau bedah, Rian."

Rian tetap duduk dengan tenang di bangku kayu, melipat kedua tangannya di atas dada. Ia menatap kedua pria itu tanpa sedikit pun rasa takut di matanya.

"Kalian bekerja untuk Viktor Tan," ucap Rian datar, bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan mutlak yang langsung membuat senyum di wajah pria berkacamata itu sedikit memudar.

"Oh? Kau bahkan tahu siapa bos kami sebelum kami memperkenalkan diri?" pria itu mengangkat sebelah alisnya, merasa semakin terkejut dengan tingkat informasi yang dimiliki oleh seorang remaja SMA. Ia melangkah maju mendekati bangku Rian, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop hitam tebal berisi lambang segel emas eksklusif. "Kalau begitu, percakapan kita akan jauh lebih singkat. Tuan Viktor menghargai bakat luar biasa yang kau miliki, Rian. Alih-alih membuang waktu dan potensimu di sekolah miskin ini untuk menjadi pahlawan kesiangan, bagaimana kalau kau bergabung dengan jaringan kami? Semua fasilitas, perlindungan mutlak, dan dana tanpa batas akan menjadi milikmu."

Rian melirik amplop hitam bermaterai emas di tangan pria itu sekilas, lalu mendongak menatap lurus ke dalam mata sang agen di balik kacamata hitamnya. Sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya.

"Menjadi anjing peliharaan Viktor Tan dan membantu mencuci uang kotor dari jaringan ilegal?" jawab Rian dengan nada suara yang begitu tenang namun menusuk tajam. "Tawaran yang sangat menarik... sayangnya, aku tidak punya waktu untuk mengurus sampah masyarakat."

Wajah pria berkacamata hitam itu seketika mengeras. Senyuman ramahnya lenyap digantikan oleh sorot mata dingin penuh kemarahan.

"Kau menolak tawaran Tuan Viktor, anak muda?" ancam agen itu dengan suara rendah dan berat, melangkah lebih dekat hingga jarak mereka kurang dari satu meter. "Kau harus tahu bahwa di luar tembok sekolah ini, dunia tidak berjalan berdasarkan rumus matematika atau nilai ujian sekolah. Orang-orang yang menolak bekerja sama dengan kami biasanya tidak pernah berumur panjang."

Rian perlahan berdiri dari bangku kayunya. Tinggi badannya yang hampir menyamai sang agen membuat posisi mereka sejajar. Di dalam tubuh Rian, inti energi Qi berputar kencang, memancarkan tekanan aura spiritual tingkat menengah yang membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin dan berat secara drastis.

"Kalian bisa mencoba mengirim seluruh pasukan Viktor Tan ke hadapanku jika kalian ingin membuktikannya," bisik Rian tepat di dekat telinga agen tersebut dengan suara dingin yang mampu membekukan darah siapa saja yang mendengarnya. "Tapi ingat satu hal: jangan pernah menguji batas kesabaranku di tempat aku berpijak."

Sebelum agen profesional itu sempat bereaksi atau mencabut senjata tersembunyi di balik jasnya, Rian melangkah melewati mereka berdua begitu saja, meninggalkan taman belakang sekolah di bawah terik matahari siang yang menyengat, sementara kedua agen sindikat itu terpaku kaku di tempat tanpa mampu menggerakkan kaki mereka barang sedikit pun akibat tekanan energi Qi yang mengunci sekujur tubuh mereka.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!