Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Salvatore
Suara mesin mobil mewah itu menderum halus melintasi jalanan kota yang masih basah oleh sisa-sisa air hujan. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kayu cendana yang mahal, suasana terasa begitu hening dan tenang.
Kiyora terdiam, mengingat keduanya baru saja menikah di hadapan pendeta dengan mengucapkan janji suci yang mengikat keduanya dalam ikatan yang tak pernah lepas. Tak pernah ada dalam bayangnya, jika hari ini ia menjadi pengantin Don Salvatore. Menggantikan cucu kakek angkatnya untuk menikahi sang Don. Pengantin pengganti atau ... pengantin terpilih?
"Haaah ... mobil mahal memang beda," gumamnya.
Kiyora duduk bersandar di jok kulit yang sangat empuk, masih dibungkus oleh jas hitam milik Salvatore yang berukuran jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Kedua matanya yang bulat berkedip-kedip, menatap samar pemandangan bangunan kota di balik kaca mobil yang gelap.
Kruk ... kruuuk ...
Sebuah suara nyaring yang sangat tidak elegan mendadak bergema dari dalam kabin mobil.
Kiyora seketika membelalakkan matanya. Wajah cantiknya memerah padam bagai kepiting rebus. Ia dengan cepat menekankan kedua tangannya ke atas perut, berusaha meredam gejolak lapar yang sudah tidak bisa diajak kompromi sejak pagi.
"Aduh, lambung sialan! Bisa-bisanya kamu nyanyi keroncong di depan penguasa mafia! Hilang sudah harga diriku, eh tidak ... hilang nyawaku!" batin Kiyora menjerit frustrasi. Ia melirik canggung ke arah pria di sampingnya lewat sudut mata.
Salvatore yang sejak tadi hanya diam menatap dokumen di tangannya, perlahan menoleh. Sepasang mata hitamnya yang dingin berkilat dengan sedikit kehangatan yang sangat samar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Salvatore meraih sebuah kotak kecil berwarna emas dari kompartemen di depan joknya, lalu menyodorkannya ke hadapan Kiyora.
Di dalam kotak itu, terhidang sebuah roti croissant mentega yang harum dan masih terasa hangat.
"Makan," ucap Salvatore singkat namun penuh penekanan.
Kiyora menatap roti beraroma lezat itu, lalu beralih menatap wajah tampan Salvatore dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan. Jemari mungilnya bergerak ragu-ragu, tidak langsung mengambil roti tersebut.
"E-Eh ... Om Mafia ...," cicit Kiyora pelan, memiringkan kepalanya. "Ini rotinya beneran boleh dimakan? Nda ada racunnya, kan? Nda ada sianida atau bubuk racun tikus yang bikin gadis malang ini langsung kehabisan nyawa dalam tiga detik?"
Sudut bibir Salvatore terangkat sangat tipis, nyaris tak terlihat. "Kalau aku berniat membunuhmu, aku tidak perlu repot-repot menggunakan racun di dalam roti manis."
"Ya kan siapa tahu!" sahut Kiyora heboh, sifat ekstrovertnya mulai kumat meski ia masih sedikit takut. "Soalnya di film-film mafia yang sering ku tonton, bos mafianya suka kasih makanan enak terus tahu-tahu korbannya kejang-kejang! Mana aku belum sempat nikmatin hidup jadi orang kaya lagi!"
"Makan, atau aku yang akan menyuapimu secara paksa?" tawar Salvatore dengan alis terangkat.
Mendengar ancaman itu, Kiyora dengan cepat menyambar roti tersebut. "Eh iya-iya, dimakan sendiri! Jangan galak-galak napa, nanti cepat tua loh, Om!"
"Yaa walau udah tua si," cicit Kiyora pelan.
Kiyora langsung menggigit roti mentega itu dengan lahap. Matanya berbinar-binar saat rasa manis dan gurih meleleh di dalam mulutnya. "Wah ... enak banget! Ini roti dari kayangan ya? Beda banget sama roti tawar kepingan di rumah Tante Rika yang udah mau kadaluarsa!"
Salvatore hanya memperhatikan gadis di sampingnya yang makan dengan begitu bersemangat hingga ada sedikit remahan roti yang menempel di sudut bibirnya. Tatapan Salvatore terasa begitu lembut, kontras dengan reputasinya yang menakutkan di dunia bawah. Bagi Salvatore, melihat kebiasaan kecil ini sudah cukup untuk mengobati kerinduannya selama empat belas tahun.
"Makan pelan-pelan. Tidak ada yang akan merebutnya darimu," bisik Salvatore pelan, mengulurkan tangannya untuk mengusap remahan roti di sudut bibir Kiyora dengan ibu jarinya secara sangat lembut.
Perlakuan manis yang tiba-tiba itu membuat Kiyora membatu seketika. Pipi mulusnya merona merah. "Duh, ini Om-Om mafia pinter banget bikin baper! Padahal mukanya mirip papan kuburan tapi kelakuannya manis gini! Bisa-bisa upik abu ini kena serangan jantung sebelum sampai rumah!
"Om ... aku mau tanya deh," panggilnya dengan suara cempreng nan menggemaskan setelah menelan rotinya.
"Salvatore. Panggil namaku," potong Salvatore datar.
"Ehm ... Om Mafia aja deh! Lebih lokal tapi keren," tawar Kiyora nyengir. "Om Mafia ... tadi kenapa sebut nama Alaura? Kenapa Om Mafia begitu yakin kalau Kiyora ini Alaura? Padahal nama aku Kiyora Aleena loh."
"Karena kamu memang milikku yang hilang," jawab Salvatore tenang, matanya mengunci manik mata Kiyora. "Dan pergelangan tanganmu itu menyimpan bukti yang tidak bisa bohong."
Kiyora mengelus gelang perak berbandul merah di tangannya. "Tapi aku nda ingat apa-apa ...,"
"Suatu hari nanti kamu akan mengingat semuanya," kata Salvatore lembut. "Untuk saat ini, cukup ikuti aku dan biarkan aku melindungimu."
Salvatore membiarkan gadis muda itu mengoceh sepanjang sisa perjalanan, mendengarkan setiap celotehan cerianya yang menghidupkan kembali kabin mobil yang tadinya terasa dingin.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil SUV mewah itu memperlambat lajunya dan berbelok memasuki sebuah gerbang besi raksasa berukiran naga dan lambang klan mafia yang sangat megah. Mobil meluncur melewati pekarangan luas dengan pancuran air berarsitektur Eropa klasik, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama sebuah mansion megah bergaya gothic-modern.
Pengawal berjas hitam yang bertugas mengemudi dengan cepat turun dan membukakan pintu mobil untuk sang Don.
Salvatore melangkah keluar terlebih dahulu. Tubuh tegapnya berdiri kokoh di bawah naungan lampu-lampu mansion yang hangat. Pria itu kemudian mengulurkan tangan tegapnya ke dalam mobil, menyambut tangan mungil Kiyora dengan jemari yang terbuka penuh penghormatan.
Kiyora menatap uluran tangan itu sejenak, lalu tersenyum centil. Ia meletakkan tangan mungilnya di atas telapak tangan Salvatore. "Terima kasih, Om Mafia pengawal ekslusif yang sangat aw aw aw," bisiknya menggoda membuat Salvatore menyembunyikan senyumnya.
Namun, baru saja kaki mungil Kiyora menyentuh lantai marmer pelataran mansion, sebuah suara melengking dan bernada santai mendadak membahana dari arah pintu utama rumah, memecah keheningan malam!
"Ooo ... ini makanan pilanha Milo? Kok cantik kali?! Kemalen citu bilang kayak mucang, belbohong kau yah?!"
"Heuh? Kerdil?" gumam Kiyora syok melihat bocah menggemaskan itu yang tengah meliriknya tajam.
"APA? KELDIIIIIL? MILO ... KELDIIIIIIL?!"
"Eh?!"
______________________
Kerdil kata Alaura/Kiyora🤣🤣
gak sabar lihat salvatore di tinggal kabur sama kyora😂😂