Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
---
BAB 6: DI BAWAH ATAP YANG SAMA
Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya di rumah keluarga Wijaya.
Orang-orang sudah sibuk dengan urusan masing-masing sejak matahari belum benar-benar naik. Apalagi kejadian di meja makan tadi malam belum menemui titik temu, jadi suasana di seluruh rumah terasa mencekam, seperti ada beban besar yang belum dijatuhkan.
Setelah keributan itu, para sepupu Arka satu per satu pamit pulang. Tinggal Liana, Arka, Nyonya Darmi, dan Tuan Wijaya yang masih bertahan. Mereka masuk ke kamar masing-masing tanpa banyak bicara.
Arka anak tunggal. Begitu juga Liana.
Di mata publik, mereka adalah pasangan suami istri yang harmonis, mesra, dan saling mencintai. Foto mereka sering muncul di majalah bisnis dan acara amal Wijaya Group.
Tapi kenyataannya di dalam rumah ini berbeda.
Pagi ini Arka berangkat ke kantor cabang seperti biasa. Mobil hitamnya keluar dari garasi tepat pukul 07.10. Tidak ada sapaan, tidak ada sarapan bersama. Hanya suara mesin yang menderu pelan lalu menghilang di ujung jalan.
Tuan Wijaya menyusul lima belas menit kemudian menuju kantor pusat Wijaya Group. Jas abu-abunya rapi, langkahnya cepat, pikirannya sudah berada di ruang rapat.
Di dalam rumah, Liana ditinggal diam.
Ia berdiri di balkon kamar tamu yang kini menjadi kamarnya. Kamar utama yang dulu dipakai untuk tamu kehormatan, sekarang hanya milik Liana. Sejak perjanjian kontrak itu, mereka hidup layaknya orang asing di bawah satu atap.
Dari balkon, Liana bisa melihat taman belakang yang selalu dirawat tukang kebun. Mawar putih bermekaran, tapi tidak ada yang memetiknya. Tidak ada yang punya waktu untuk hal sekecil itu. Semua orang di rumah ini sibuk membangun kerajaan Wijaya, sampai lupa membangun kehangatan di dalamnya.
Mereka tinggal satu atap, tapi tidur di kamar berbeda.
Makan di meja yang sama, tapi tidak saling bertanya “bagaimana harimu”.
Berfoto bersama untuk publik, tapi pulang ke rumah seperti orang asing.
Bahkan saat tidak sengaja berpapasan di koridor, Arka hanya akan mengangguk singkat lalu berlalu. Seolah sapaan lebih dari itu akan membuat semuanya canggung.
Liana menarik napas panjang. Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela.
Gaun sutra biru muda yang ia pakai pagi ini dipilihkan oleh asisten pribadi. Cocok untuk makan siang dengan rekan bisnis Tuan Wijaya nanti. Wajahnya rapi, riasannya tipis, tapi matanya lelah. Tidak ada yang melihat lelah itu kecuali dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu. Pertanyaan itu tidak pernah dijawab.
Liana melangkah masuk kembali ke kamar. Di atas meja ada undangan makan malam dengan keluarga rekanan Wijaya Group minggu depan. Namanya dan nama Arka tertulis berdampingan, dicetak emas. Ia harus tersenyum di sana, mengangguk, berpura-pura bahwa rumah ini hangat. Padahal di dalam, dinginnya lebih menusuk dari AC di ruang rapat.
Teleponnya bergetar. Pesan dari asisten pribadi Arka mengingatkan jadwal foto untuk majalah minggu depan. Tema yang diminta: Keluarga Bahagia Wijaya.
Liana menatap layar itu lama. Jarinya berhenti di atas tombol balasan.
Ia ingin mengetik, “Maaf, kami tidak bahagia.”
Tapi yang ia kirim hanya, “Baik, saya siap pukul sepuluh.”
Pintu kamar diketuk pelan.
“Non Liana, sarapan sudah siap di ruang makan kecil,” suara Bibi Sumi terdengar dari luar.
Liana tahu, ruang makan kecil berarti hanya ia sendiri. Nyonya Darmi sudah bergabung dengan teman sosialitanya. Tuan Wijaya dan Arka sudah pergi. Setidaknya di sana tidak ada keheningan yang terlalu memalukan.
Langkahnya pelan menuju meja makan. Setiap langkah mengingatkannya pada jarak yang semakin melebar antara dirinya, suaminya, dan keluarga ini.
Pernikahan ini dibangun di atas kontrak, bukan janji. Dan kontrak bisa diperbarui, bisa juga diakhiri.
Tapi Liana belum tahu, apakah ia berani mengakhirinya.
Atau apakah ia masih berharap, suatu hari nanti, Arka akan kembali mengetuk pintu kamarnya bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai suami.
Di luar, matahari sudah tinggi.
Tapi di dalam rumah keluarga Wijaya, pagi itu masih terasa kelabu.
Bersambung...