"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan di jalur rel bawah tanah
Kegelapan di dalam terowongan MRT Jakarta terasa tidak wajar. Gemuruh yang terdengar bukan berasal dari kereta yang melaju, melainkan dari retakan dimensi yang terus menganga lebar di ujung rel bawah tanah. Udara terasa dingin menggigit, berbau ozon yang terbakar bercampur dengan aroma busuk khas energi Void. Di tengah-tengah rel yang dialiri distorsi magis, Reza—dengan mata ungu menyala dan tubuh yang telah diselimuti duri-duri hitam magis—tertawa histeris. Setiap kali ia merapalkan mantra dari sisa ingatan Gulungan Takdir Hitam, gelombang kejut hitam menyapu dinding terowongan, meretakkan beton dan memutus kabel-kabel utilitas kota.
"Lihat ini, Sylus Qinche! Gerbangnya sudah terbuka sepertiga! Sebentar lagi, planet ini akan runtuh ke dalam kehampaan!" raung Kaelen melalui mulut Reza.
Sylus Qinche, pria kelahiran 1996 yang biasanya memancarkan kemegahan magis, kini berdiri di jalur rel dengan kemeja hitam yang robek di bagian bahu. Tanpa jirah Obsidiannya, bentuk tubuhnya yang tegap dan berotot terlihat jelas, namun ia harus mengandalkan kekuatan fisik murninya. Belati intinya, satu-satunya sisa kekuatan Aether yang ia miliki, bergetar hebat di genggamannya, memancarkan pendaran merah redup yang seolah menolak mati di bawah hukum fisika Bumi.
"Evelyne, kita tidak punya waktu lagi," ucap Sylus, suaranya tetap tenang di tengah badai, meskipun napasnya mulai terasa berat. "Kita harus memisahkan kesadaran Kaelen dari tubuh manusia itu sebelum gerbangnya terbuka sempurna. Jika tubuh biologisnya hancur saat masih menyatu dengan Void, robekan ini tidak akan bisa ditutup.”
Evelyne Rochie melangkah ke samping Sylus. Cahaya ungu dari statusnya sebagai The Grand Catalyst berpendar dengan sangat terang, memantulkan bayangan mereka pada dinding terowongan yang basah. "Aku akan mengunci pergerakan energinya, Sylus. Tapi kau harus masuk ke dalam jarak dekat. Fisik manusia Reza tidak akan kuat menahan benturan langsung."
"Lakukan," jawab Sylus singkat.
Evelyne mengangkat kedua tangannya ke depan. Soul-Bind Amulet di dadanya memancarkan gelombang kejut ungu murni yang melesat lurus membelah kegelapan terowongan. Gelombang itu menabrak perisai kegelapan Reza, menciptakan suara dentuman keras yang menggetarkan fondasi stasiun bawah tanah.
"Argh! Gadis sialan!" Kaelen mengumpat saat energi Katalis Evelyne mulai melilit pergelangan tangan dan kaki Reza, memaksa duri-duri Void di tubuhnya menyusut secara paksa. Ikatan itu bertindak seperti jangkar yang memisahkan energi luar dari sistem saraf biologis manusia Reza.
Memanfaatkan celah itu, Sylus menerjang maju.
Tanpa sihir teleportasi atau kegerlapan bayangan, ia mengandalkan kecepatan kaki dan ketepatan insting bertarungnya. Ia berguling di bawah rel untuk menghindari sabetan tentakel hitam yang dilemparkan Kaelen, lalu melompat ke atas bahu Reza.
Dengan satu gerakan taktis yang terlatih dari ratusan tahun medan perang, Sylus mengunci leher Reza dari belakang menggunakan lengan kirinya, sementara tangan kanannya yang memegang belati inti menekan dahi Reza.
"Keluar dari tubuh ini, Kaelen!" raung Sylus.
Evelyne meningkatkan intensitas sihir Katalisnya, menyalurkan energi pemurni langsung melalui bumi ke dalam kaki Reza. Pertempuran itu kini menjadi perang traksi tiga arah: Kaelen yang mencoba bertahan di dalam wadahnya, Evelyne yang menariknya keluar dengan sihir Katalis, dan Sylus yang menekan titik kesadarannya dengan kekuatan fisik dan sisa Aether.
"Kau tidak akan bisa... menyelamatkannya, Qinche!" teriak Kaelen. Namun, dengan satu hentakan energi gabungan dari teriakan Evelyne dan tekanan fisik Sylus, sebuah gumpalan asap hitam pekat berbentuk wajah gagak raksasa meledak keluar dari punggung Reza, terlempar langsung ke arah pusat pusaran gerbang dimensi di ujung terowongan.
Reza langsung terkulai lemas, pingsan sepenuhnya di atas rel dengan mata yang kembali normal, terbebas dari kutukan Void.
Namun, kemenangan itu berumur pendek. Gumpalan asap hitam Kaelen yang terlempar ke dalam gerbang justru menjadi bahan bakar terakhir yang memicu runtuhnya stabilitas dimensi. Pusaran di ujung terowongan melebar dua kali lipat, mulai menghisap udara, kerikil, dan bahkan potongan rel baja ke dalamnya.
"Panglima! Robekannya mulai runtuh ke dalam! Lakukan sekarang atau kita semua akan musnah!" suara Kieran berteriak panik melalui sisa frekuensi komunikasi sihir yang mulai terputus-putus.
Sylus menatap terowongan yang mulai runtuh. Ia menoleh ke arah Evelyne yang terduduk di lantai terowongan karena kelelahan setelah menguras energi Katalisnya. Sylus tahu apa yang harus ia lakukan. Ini adalah titik di mana keabadiannya harus berakhir.
Sylus berjalan mendekati pusat pusaran hitam yang berputar di atas tanah. Ia membalikkan belati intinya, mengarahkan ujung tajamnya ke bawah, tepat ke pusat inti retakan yang memancarkan pendaran ungu tua yang merusak.
"Sylus! Jangan!" teriak Evelyne, mencoba bangkit berdiri namun kakinya terlalu lemas. "Kieran bilang kau akan kehilangan segalanya! Kau akan menjadi manusia biasa!"
Sylus membalikkan badainya, memberikan satu senyuman tipis yang teramat tulus kepada Evelyne—senyuman yang belum pernah dilihat oleh satu pun prajurit di Kastil Obsidian. "Aku tidak kehilangan segalanya, Evelyne. Aku hanya menukar sesuatu yang membosankan dengan sesuatu yang berharga. Aku menukar keabadianku untuk masa depan bersamamu."
Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Sylus menghantamkan belati intinya jauh ke dalam pusat robekan dimensi.
CRACK!!!
Suara pecahan yang terdengar seperti kaca semesta yang pecah menggema di seluruh terowongan. Seketika, cahaya merah darah yang menjadi lambang kekuatan Aether Sylus Qinche meledak keluar dari tubuhnya, mengalir seluruhnya ke dalam retakan tanah untuk menjahit dimensi yang rusak.
Proses itu mendatangkan rasa sakit yang teramat luar biasa. Sylus berlutut di atas rel, tubuhnya menegang hebat. Ia bisa merasakan setiap serat sihir kuno yang telah menopang kehidupannya selama ratusan tahun ditarik keluar dari sumsum tulangnya secara paksa. Pembuluh darah di leher dan lengannya menonjol, berpendar merah terang sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi warna biru manusia biasa. Pendaran merah misterius di matanya memudar perlahan, menyisakan sepasang manik mata berwarna hitam kelam yang dalam, sewarna malam di Bumi. Rambut silver ash-nya sedikit menggelap di bagian akar.
Rasa sakit itu begitu hebat hingga Sylus mengeluarkan erangan rendah sebelum akhirnya ambruk ke atas lantai beton yang dingin, tepat saat pusaran Void di hadapannya menyusut menjadi titik kecil dan lenyap tanpa sisa, meninggalkan terowongan MRT dalam keheningan malam yang normal.
Gerbang telah tertutup. Bumi selamat. Dan Panglima Orde Bayangan telah tiada, digantikan oleh seorang pria biasa bernama Sylus Qinche.
Dua jam setelah pertempuran bawah tanah, suasana di dalam sebuah apartemen kecil yang disewa Evelyne di pinggiran Jakarta terasa sangat canggung. Reza yang masih pingsan telah diletakkan di sofa ruang tamu setelah dipastikan ingatan tentang sihirnya dihapus oleh sisa energi Katalis Evelyne.
Di sudut ruangan, Sylus duduk di atas kursi kayu kecil. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tidak ada lagi percikan listrik ungu, tidak ada lagi aura kegelapan yang bisa meruntuhkan ruangan. Saat ia mencoba memanggil belatinya, tidak ada yang terjadi. Ia benar-benar hanya seorang pria manusia berusia 30 tahun (jika dihitung dari tahun kelahirannya, 1996) tanpa kekuatan apa pun.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Evelyne, berjalan mendekat sambil membawa sebotol air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan luka di wajah Sylus.
"Aneh," jawab Sylus, suaranya kini terdengar lebih... manusiawi, tidak lagi memiliki gema supranatural yang mengintimidasi. "Tubuh ini terasa... berat. Dan ada sesuatu yang berbunyi di dalam perutku sejak satu jam lalu. Apakah ini yang kalian sebut sebagai rasa lapar?"
Evelyne tertawa kecil, meskipun matanya masih berkaca-kaca karena haru. Ia berlutut di depan Sylus, mengusap pipi pria itu dengan handuk basah. "Iya, itu namanya lapar. Di duniaku, kau harus makan tiga kali sehari agar tidak mati."
Masalah terbesar mereka bukan hanya soal biologi manusia baru Sylus. Luke masuk dari arah dapur dengan wajah yang sangat frustrasi, memegang beberapa lembar kertas yang ia temukan di meja.
"Panglima... maksud saya, Tuan Sylus," ucap Luke, masih kesulitan menyesuaikan panggilannya. "Saya baru saja memeriksa situasi finansial di dunia ini. Kita tidak memiliki apa yang mereka sebut sebagai 'KTP', kita tidak memiliki uang kertas lokal, dan emas dari Kastil Obsidian tidak bisa digunakan di toko swalayan bawah tanpa dokumen resmi. Kita... secara teknis adalah imigran gelap tanpa aset."
Sylus Qinche, sang mantan penguasa tertinggi yang mengomandani ribuan pasukan elit, kini harus menghadapi kenyataan paling kejam di Bumi: ia miskin dan tidak punya identitas resmi di Jakarta.
"Apakah kita bisa merebut salah satu gedung di luar sana untuk dijadikan markas?" tanya Sylus dengan wajah datar yang sangat serius.
"Tidak bisa, Sylus! Itu namanya kriminalitas di sini, dan kau akan ditangkap polisi!" sahut Evelyne sambil menepuk dahinya.
Keesokan paginya, realita kehidupan tanpa sihir benar-benar dimulai dengan penuh komedi.
Luke, ksatria paling gagah berani di Orde Bayangan, terpaksa keluar apartemen sejak subuh untuk mencari pekerjaan paruh waktu apa saja yang tidak membutuhkan kartu identitas resmi demi memberi makan tuannya. Berkat tubuhnya yang tinggi besar dan wajahnya yang kaku seperti robot, ia berhasil meyakinkan seorang pemilik toko grosir di pasar tradisional untuk mempekerjakannya sebagai kuli angkut beras.
"Demi kehormatan Orde..." gumam Luke dengan wajah super serius, sambil memanggul tiga karung beras berukuran 50 kilogram sekaligus di pundaknya, membuat para kuli pasar lainnya melongo ketakutan melihat kekuatan fisiknya yang tidak masuk akal.
Sementara itu, di dalam apartemen, Sylus sedang menghadapi musuh terbesarnya yang baru: sebuah kompor gas dua tungku di dapur.
Evelyne sedang mandi, jadi Sylus memutuskan untuk mencoba menyiapkan makanan secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas. Di atas kulkas, Mephisto bertengger dengan kepala tertunduk. Burung gagak itu tampak sangat depresi. Karena tingkat sihir di Bumi yang sangat rendah, Mephisto tidak bisa lagi menggunakan sihir terbang cepatnya. Setiap kali ia mencoba melompat dari atas lemari, ia justru mendarat dengan suara pluk yang menyedihkan di atas lantai, hanya bisa mengepakkan sayapnya seperti ayam negeri yang gemuk.
"Jangan melihatku seperti itu, Mephisto. Aku juga sedang mencoba memahami cara kerja kotak besi ini," tegur Sylus pada burungnya.
Sylus memutar kenop kompor gas dengan terlalu keras hingga mengeluarkan suara CEKLEK-BOOM kecil yang menyemburkan api biru yang besar. Sylus tersentak mundur, tangannya secara refleks mencari gagang pedang di punggungnya yang kini sudah kosong.
"Sialan, alat ini mencoba menyerangku," desis Sylus, menatap wajan teflon di atas kompor dengan pandangan penuh permusuhan seolah itu adalah perisai musuh.
Evelyne keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, hanya untuk menemukan dapur telah dipenuhi oleh asap hitam. Sylus berdiri di tengah asap dengan wajah yang coreng-morang oleh jelaga, memegang sebuah sudit kayu dengan posisi siap tempur, sementara sepotong telur mata sapi di dalam wajan telah berubah wujud menjadi arang hitam yang keras seperti batu Obsidian.
"Sylus! Apa yang kau lakukan pada dapurku?!" teriak Evelyne antara ingin marah dan ingin tertawa geli.
Sylus menatap telur gosong itu, lalu menatap Evelyne dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat angkuh namun terlihat konyol karena jelaga di pipinya. "Aku sedang mencoba melakukan eksekusi taktis pada bahan makanan ini. Namun tampaknya, elemen api di dunia ini tidak memiliki disiplin militer."
Mephisto dari atas kulkas mengeluarkan suara parau pendek yang terdengar seperti ejekan langsung untuk tuannya yang gagal memasak.
Evelyne hanya bisa menghela napas panjang, berjalan mendekati Sylus, lalu mengambil sudit dari tangannya. Ia mengambil tisu dan mulai menyeka jelaga di wajah tampan pria itu yang kini terlihat jauh lebih manusiawi dan menggemaskan. "Sini, biar aku yang ajarkan. Di dunia ini, kau tidak bisa memerintah api dengan auramu. Kau harus menggunakan perasaan... dan mengecilkan apinya."
Sylus menatap Evelyne yang mulai sibuk membersihkan wajan. Meskipun mereka kini berada di sebuah apartemen sempit yang bising oleh suara jalanan Jakarta, tanpa pelayan, tanpa kemegahan kastil, dan dengan Luke yang sedang mengangkat karung beras di pasar, Sylus merasakan sebuah kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun kehidupannya yang abadi.
Ia melingkarkan lengannya dari belakang tubuh Evelyne, mengecup bahu gadis itu dengan lembut di tengah kepulan asap dapur yang mulai menipis. "Ajarkan aku semuanya, Evelyne. Aku punya waktu seumur hidup manusia untuk belajar bersamamu.”
Namun, kedamaian pagi itu kembali terganggu saat pintu apartemen diketuk dengan kasar dari luar. Bukan oleh musuh dari Aetheria, melainkan oleh seorang ibu-ibu pemilik kos dengan daster motif batik yang membawa buku catatan merah besar.
"Permisi! Yang punya unit ini! Ini ada tiga orang laki-laki tambahan di dalam apartemen, airnya jadi boros! Bayar denda bulanan tambahan sekarang ya!" teriak suara cempreng dari balik pintu.
Sylus menatap pintu itu dengan tajam. "Siapa entitas dengan suara berfrekuensi tinggi itu, Evelyne? Apakah kita harus melenyapkannya?"
"Itu Ibu Kos, Sylus! Dan tidak, kita tidak bisa melenyapkannya atau kita akan diusir ke jalanan!" seru Evelyne panik, memulai petualangan baru mereka yang jauh lebih rumit daripada perang dimensi: bertahan hidup di kerasnya ibu kota.
Bersambung